Jump to ratings and reviews
Rate this book

Resensi Maniak: Esai dari Pagina ke Pagina

Rate this book
Resensi adalah penjaga silsilah bacaan agar setiap ingatan pembaca tak lekas menguap ditelan waktu. Seperti judul buku ini, Hernadi Tanzil adalah peresensi maniak. Bila diurut kembali, resensinya sudah berada di angka 429! Semua tercatat rapi berkat konsistensinya menulis di blog selama 17 tahun.

Buku ini hanyalah secuil dari ribuan pagina yang ia baca dan tulis sebagai resensi-esai. Terdapat 37 tulisan yang dipilih dan dibagi menjadi tiga bagian : Metabuku (buku tentang buku), Sastra Indonesia, dan Sastra Terjemahan.

Di tangan Tanzil, resensi tidak hanya jadi penjaga ingatan. Resensi-resensinya justru menjagi gerbang bagi pembaca untuk menuju bacaan lainnya.

228 pages, Paperback

First published February 1, 2026

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
3 (100%)
3 stars
0 (0%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 2 of 2 reviews
Profile Image for melmarian.
409 reviews137 followers
May 3, 2026
Sebelum era influencer buku seperti bookstagram/booktok/booktwt, informasi mengenai buku umumnya bisa ditemukan di media cetak (koran dan majalah) dan juga dalam blog, di mana peresensi bisa lebih leluasa menuliskan ulasan tanpa terbelenggu aturan-aturan kaku pemuatan di media cetak.

Hernadi Tanzil, atau kami di komunitas Blogger Buku Indonesia (BBI) akrab memanggilnya Rahib, adalah salah satu peresensi handal tersebut. Rahib sudah meresensi tak kurang dari 429 buku selama 17 tahun, di blognya http://bukuygkubaca.blogspot.com. Resensinya juga sering dimuat di media cetak.

Karena jam terbang yang tinggi inilah, menurutku, teman-teman yang ingin belajar meresensi buku bisa belajar melalui buku ini. Jangan lupa metode ATM (Amati, Tiru, Modifikasi) ya! Salah satu yang bisa dipelajari adalah bagaimana membuat hook kalimat pembuka dan penutup resensi. Salah satu favoritku misalnya kalimat penutup resensi "Para Jenderal Marah-Marah: Kumpulan Puisi Wiji Thukul dalam Pelarian" yang berbunyi:
"Tak mengherankan jika pemerintah begitu gemetar terhadap penyair kerempeng pun cadel itu. Di balik perawakannya yang ringkih, ia memiliki senjata berhulu ledak tinggi, yaitu kata-kata."

Sebenarnya ada satu buku panduan meresensi buku (juga dimuat dalam Resensi Maniak), yaitu Berguru pada Pesohor karya Muhidin M. Dahlan & Diana AV Sasa. Namun sayangnya buku tersebut hanya dicetak terbatas, dan lebih banyak membahas resensi buku nonfiksi. Tapi tak apalah, kalian bisa membaca resensinya (resensi buku panduan meresensi buku) dalam buku Resensi Maniak. 😅

Sebanyak 37 resensi buku (yang ditulis tahun 2005 hingga 2019) dimuat di dalam buku ini, dan sudah diedit agar lebih relevan dengan tahun kiwari. Sayangnya, aku masih menemui saltik di buku ini.

Dari 37 buku dalam Resensi Maniak, aku sudah membaca 12 buku, paling banyak di kategori Sastra Terjemahan (salah satunya buku favoritku Les Misérables terjemahan Anton Kurnia), dan ada beberapa buku yang masih dalam TBR.
Profile Image for Anwar Holid.
1 review3 followers
June 2, 2026
Buku ini disusun dalam tiga kategori utama, yaitu metabuku, sastra Indonesia, dan sastra terjemahan. "Metabuku" secara simpel merujuk pada karya yang subjek utamanya membahas tentang dunia buku, baik dari sisi dalam dan luar, misalnya tentang kolektor buku, kontributor kamus legendaris, pelarangan (sensor) buku, dan polemik sastra. Ketiga kategori tersebut tidak hanya mencerminkan keluasan minat sang penulis, tetapi juga membuka peluang bagi penerbitan kumpulan resensi dengan kategori lain di masa mendatang, misalnya agama, arsitektur, maupun sejarah. Pendekatan ini menunjukkan bahwa resensi dapat menjadi jembatan yang menghubungkan berbagai disiplin ilmu dan genre kepustakaan.

Secara pemaparan dan penyampaian, antologi ini menebalkan arti penting resensi sebagai bentuk pemikiran yang serius dan berdedikasi. Tanzil sama sekali tidak mengandalkan press release atau blurb yang sudah disediakan penerbit. Bagi pengulas buku yang malas dan tergesa-gesa, bahan-bahan tersebut sering cuma menghasilkan tulisan monoton, dangkal, dan membosankan. Di tangan Tanzil, resensi menjelma menjadi media informatif, selektif, dan kritis yang ditulis tanpa pamrih semata-mata demi kepentingan pembaca yang lebih luas dan mendukung ekosistem perbukuan secara keseluruhan.

Di era media sosial dan konten kreator, ketika pembaca disuguhi posting singkat yang kerap mengandung gimmick dan trivia, resensi panjang yang utuh terasa ketinggalan zaman. Tapi, persis esensi itu yang kini kerap hilang. Tanzil membuktikan bahwa meresensi secara berdedikasi merupakan bukti kesungguhan terhadap pemahaman, penghayatan, dan dinamika dunia buku. Dedikasi ini patut diteladani bahwa buku layak mendapat perhatian yang mendalam, teliti, dan penuh hormat.

Buku ini pantas menjadi referensi penting bagi pecinta buku dan praktisi literasi Indonesia. Resensi adalah tindakan mencintai dan merawat literasi. Tanzil mampu menghargai buku secara utuh: sebagai industri, produk dan sarana intelektual, dan artifak budaya. Ia adalah seorang pembaca dan pecinta buku sejati, dan resensinya turut berkontribusi dalam ekosistem buku Indonesia. Berkat dedikasi, produktivitas, dan kedalaman menelisik buku, Hernadi Tanzil layak disebut sebagai "sang pemulia buku."
Displaying 1 - 2 of 2 reviews