Jump to ratings and reviews
Rate this book

Raja dan Batu Langit: Cerpen Pilihan KOMPAS 2024

Rate this book
Yang mula-mula terasa saat membaca cerpen-cerpen Kompas ini adalah napas yang sama, yakni manusia mengukur luka. Luka pada tanah, pada tubuh, pada rumah, pada waktu. Lalu, berharap ada yang pulih. Barangkali sebab itu tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen ini kerap menoleh ke yang lebih besar daripada dirinya. Mereka itu seekor buaya penunggu muara, gunung yang dibalut mitos, negara yang bising, atau sejarah yang tak selesai. Kita melihat manusia menata yang rapuh dengan bahasa yang terbatas.

Membaca 17 cerpen ini kita seperti berjalan dalam pasar malam yang ramai, tiap sudut mengajukan suara, aroma, dan dentuman sendiri. Dari satu stan kita mencium asap sate; dari stan lain suara gamelan; di ujung, seorang anak menjual mainan plastik yang berderit, sementara tak jauh, seseorang membacakan ayat. Begitu juga dunia cerpen ini, gaya realisme yang pekat bersisian dengan realisme magis, absurditas bercampur dengan rilisisme, politik getir bersebalahan dengan humor pedesaan. Dengan demikian, 17 cerpen ini sebenarnya merepresentasikan spektrum pluralisme genre sastra Indonesia kontemporer, dari realisme sosial, realisme magis, lirisisme intim, satire-absurd, alegori politik, hingga tragedi eksistensial.

17 Cerpen Tersebut:
1. Lelucon Musim Hujan; A. Muttaqin
2. Mudik ke Kuburan; Agus Noor
3. Komando Malam Itu; Ahmadul Faqih Mahfudz
4. Rumah Telinga; AK Basuki
5. Musim Semi di Kisufim Road; Benny Arnas
6. Raja dan Batu Langit; Bre Redana
7. Bakiak-Bakiak Maksum; Hasan Al Banna
8. Pindah Rumah; Mashdar Zainal
9. Mata Celurit; Muna Masyari
10. Giri Tonhlangkir; Ni Wayan Wijayanti
11. Sepuluh Kejadian; Ranang Aji SP
12. Rahasia Teh Hangat Warung; Rizqi Turama
13. Bila Lelah; Sasti Gotama
14. Merebut Tanag; Supartika
15. TIga Kuburan; T. Agus Khaidir
16. Lara Lare; Tenni Purwanti
17. Yai; Windy Shelia Azhar

133 pages, Paperback

First published October 18, 2025

2 people are currently reading
7 people want to read

About the author

Bre Redana

26 books5 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
0 (0%)
4 stars
4 (57%)
3 stars
3 (42%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Teguh.
Author 10 books335 followers
October 26, 2025
Ketika minggu lalu mendapatkan buku ini dengan daftar nama cerpenis, saya justru tertarik dengan dua nama penulis baru--yang baru sekali itu muncul dan kemudian masuk dalam buku pilihan Kompas: Cerpen Giri Tohlangkir karya Ni Wayan Wijayanti dan Yai karya Windy Shelia Azhar. Sebab keduanya rasanya baru sekali ini masuk cerpen Kompas dan kemudian dipilih as terbaik.

Mengapa? Saya itu kadang berharap "gaya baru dan cara penceritaan baru" dari penulis baru. Ternyata dua nama ini malah bikin kaget sebab mengingatkan saya pada banyak cerpen Republika pada masanya. Terlalu bertendensi untuk memberi "pesan".

Cerpen yang menurut saya paling seru adalah cerpen AK Basuki Rumah Telinga. Entah kenapa saya suka dengan gaya dia menulis cerpen.

Yang paling mengagumkan adalah catatan juri dalam buku ini. Sebab disitir banyak nama dan buku yang "terasa tidak jamak". Misalkan menyebut kumpulan cerpen Yu Hua, Boy in the Twilight: Stories of the Hidden China, cerpen Han Kang yang menjadi bakal novel Vegetarian, juga---ini yang bikin saya kaget---menyebut nama Yan Ge (duuuuuh aku suka sama catatan jurinya). Yan Ge penulis perempuan yang cukup progresif dari China.

Saya suka sih catatan juri. Kalau preferensi selera pribadi, saya mengelompokkan 17 cerpen ini dalam kelas A, B, dan C (dah mirip Tasya review kopi susu)

Kelompok A (tiga cerpen): Rumah Telinga, Raja dan Batu Langit, dan Pindah Rumah.

Kelompok B (delapan cerpen): Lelucon Musim Hujan, Mudik ke Kuburan, Komando Malam Itu, Sepuluh Kejadian, Rahasia Teh Hangat Warung Mang Aman, Bila Lelah, Merebut Tanah, Lara Lare

Kelompok C (enam cerpen): Musim Semi di Kisufim Road, Bakiak-Bakiak Maksum, Mata Celurit, Giri Tohlangkir, Tiga Kuburan Lain, Yai

Tentu ini penilaian pribadi saya.
Profile Image for Book Enthusiast.
23 reviews
November 10, 2025
Sekelumit jendela sastra Indonesia lewat kaleidoskop cerpen pilihan Kompas.

Membaca buku cerpen pilihan kompas adalah salah satu kegiatan favorit saya, sejak mulai meng-koleksi buku ini mulai terbitan pertamanya tahun 1992 ("Kado Istimewa") hingga edisi terakhir ini ("Raja dan Batu Langit"). Penulis-penulis berbakat datang dan pergi seiring waktu, beberapa di antaranya masih bertahaan hingga sekarang. Penulis senior beralih profesi dalam kariernya, sebagian sudah menghadap Yang Kuasa (Kuntowidjojo, Budi Darma,…just to name a few), dan segelintir masih setia hadir di setiap edisi cerpen Kompas. Dari sisi genre penulisan ada yang bergeser dan ada pula yang bertahan. Cerpen bernapas kritik sosial yang tajam favorit saya (seperti tulisan-tulisan Jujur Prananto) mulai berkurang dari tahun ke tahun, demikian juga gaya realisme-magis karya Seno Gumira. Cerpen beraroma lokal kedaerahan kecenderungannya bertambah, dan menurut saya pribadi ini baik, karena menghadirkan jendela perkenalan pada beragam budaya di Indonesia. Yang konsisten bertahan adalah warna mistis (khas Indonesia ?), dan konflik batin trauma masa lalu (dalam bentuk G30S seperti karya Martin Aleida, atau kerusuhan Mei 1998 dari banyak penulis).

Setiap tahun edisi cerpen pilihan Kompas membawa kekhasan dan warna masing-masing. Untuk edisi 2024 ini, ada beberapa cerpen yang menarik perhatian saya pribadi. Yang pertama adalah "Mudik ke Kuburan", karena struktur bahasanya yang menampilkan petikan-petikan puisi dalam ceritanya (puisi karya Joko Pinurbo, Sapardi Djoko Damono, Charil Anwar adalah beberapa yang saya kenali). Cerpen "Komando Malam Itu" adalah cerita ringan kehidupan pesantren, dengan twist di ending-nya yang membuat saya tercenung. Ini agak berlawanan dengan cerpen "Rumah Telinga", yang di awal saya kira ini adalah cerpen beraroma magis, tapi ternyata di akhir cerpen berubah menjadi datar. Yang terakhir adalah cerpen "Bakiak Makmun", tentang beban psikologis seseorang ketika menjalani perubahan pekerjaan dengan nilai-nilai berlawanan dari yang ia yakini.

Cerpen-cerpen yang lain, selain dari yang saya sebut di atas, juga menampilkan kekuatan masing-masing. Jika tidak, maka karya mereka tidak akan muncul di buku ini, kan? Setiap orang punya selera bacaan masing-masing, dan di buku ini ada banyak tema yang akan memuaskan selera yang berbeda setiap orang. Selamat membaca !
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.