Puisi-puisi dalam manuskrip ini terkait kuat oleh suasana muram. Dengan gaya berkisah, manuskrip ini mengangkat nukilan hidup orang-orang biasa dalam peristiwa-peristiwa yang dideskripsikan secara jernih dan efektif sehingga menyingkap sisi ruhaniah setiap objek. Klenik, gosip, dan kekerasan berkait peran membentuk situasi horor yang samar-samar, dan situasi tersebut tampaknya berakar pada, serta menjadi bagian dari, sejarah. Konsistensi manuskrip ini melingkupi keajekan lokus kejadian, situasi, nada, dan stabilitas dalam mengeksplorasi materi. Penyisipan diksi bahasa daerah menjadi keunggulan yang berpotensi membawa pembaca masuk ke dalam kosmologi sekala-niskala orang Madura. Gaya wicara disiasati dengan teknik tuturan langsung yang berdiri sendiri, bunyi-bunyi kata, dan majas perbandingan, untuk mempertahankan bangunan puitika.
Dalam “Word of Mouth: Gossip and American Poetry”, Chad Bennett menulis bahwa, “gosip dan puisi lirik sama-sama bekerja dalam ketegangan antara yang privat dan yang publik.” “Puisi lirik,” katanya, adalah “privasi yang beredar di muka umum.” Artinya, ia lahir dari keinginan untuk menjaga rahasia, tapi juga sebaliknya, kebutuhan untuk didengar. Gosip pun demikian—lantaran ia hanya akan hidup ketika justru rahasia dibisikkan supaya menyebar.
Romzul Falah, dalam “Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon”, saya kira menulis di ruang ambang itu. Puisi pertama Romzul, yang diambilnya sebagai tajuk himpunan bersampul “unyu” ini, mengisyaratkan hal tersebut. Ia misalnya menulis: “Bertahun-tahun, dari keturunan ke keturunan, | para warga menyimpan cerita hantu di usuk dapur | dan menceritakannya ke anak-cucu | tujuh gari setelah sunatan | atau setelah suci haid pertama:”.
“Dapur”, kita tahu, adalah penanda pertama-tama yang menunjuk “ruang privat”. Saya kira, peletakan puisi ini, tidak hanya sebagai judul, melainkan juga sebagai puisi pembuka, adalah pilihan yang brilian. Puisi pertama “Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon”, secara konseptual memang mengonsepsikan bagaimana gosip pertama-tama, berangkat dari ruang “yang privat” kemudian merembes menuju wilayah “yang publik”. Yang publik itu, dalam puisi ini, dipenandai oleh “balai desa”. Dan kita akhirnya melihat keduanya—“dapur” sebagai wilayah “bisik” dan “balai desa” sebagai arena “publik”—jadi terasa tumpang tindih. Tapi mungkin demikianlah strategi puitik penyairnya.
Membaca “Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon”, saya juga teringat Robert Frost—tidak hanya karena dalam kuliahnya pada tahun 1956, ia menyebut “gossip exalt in poetry”, tetapi juga karena Frost—dalam sejumlah surat-suratnya—banyak menunjukkan ketertarikannya pada “aktualitas dan keintiman gosip”, dan lebih dari itu, bagaimana gosip, di mata Frost merupakan sumber yang layak bagi produksi puisi modern. “Keindahan dari gosip,” demikian kata Frost, “adalah bahwa gosip ialah keseluruhan dari kehidupan sehari-hari. Ia memiliki kilasan-kilasan wawasan, juga mengandung ketinggian imajinasi.”
Tentu saja, “Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon” bukanlah model pertama dari puisi modern Indonesia yang memanfaatkan gosip sebagai sumber produksinya. Puisi-puisi Dadang Ari Murtono, Inggit Putria Marga, bahkan banyak puisi lirik Indonesia lain, disadari atau tidak oleh pembacanya, mengandung skema gosip. Memanglah tiada puisi yang mampu berkilah dari kutukan keterpengaruhan, selagi penyairnya masih menulis di bawah matahari yang sama dengan penyair-penyair sebelumnya. Hal yang demikian, saya ingin tegaskan, tidak lantas menurunkan mutu puisi terkait.
Menilik bagaimana struktur puisi Romzul bekerja, gosip di sana agaknya juga difungsikan sebagai “modus sirkulasi ingatan”. Ia bukan alat penyampaian informasi, tetapi cara menjaga kontinuitas hidup. Dalam masyarakat yang tidak memiliki museum atau catatan resmi, gosip (memang dan acapkali) menggantikan arsip. Ia menjadi cara komunitas tertentu menulis sejarahnya sendiri. Gosip, kita tahu, juga menghubungkan masa lalu—baik masa lalu yang jauh maupun yang dekat—dan masa kini. Itulah mengapa barangkali, kita merasakan bahwa di dalam puisi Romzul, “gosip” itu tampak—meminjam catatan Dewan Juri Sayembara Manuskrip Puisi DKJ 2023—“berakar pada, serta menjadi bagian dari sejarah.”
Ada juga semacam kebebasan verbal di dalam gosip, yaitu yang berwujud: Kebebasan, kesenangan, dan kekuatan yang dimungkinkan dalam pembicaraan spekulatif tentang manusia. Kebebasan verbal ini, menjadi sumber daya yang penting, terutama sekali—dalam konteks ini—bagi mereka yang memiliki kendali relatif kecil atas nasib mereka sendiri, dan dengan demikian menyatakan kemungkinan-kemungkinan yang tertutup oleh realitas sosial karena misalnya, persis disebut Romzul, “Para warga terjangkit penyakit kuping | dan tak mendengar keajaiban, atau mungkin kutukan.”