Japan is rightly regarded as one of the most technologically advanced countries in the world, yet the development and deployment of Internet technology in Japan has taken a different trajectory compared with Western nations. This is the first book to look at the specific dynamics of Japanese Internet use.
It examines the crucial questions: * how the Japanese are using the Internet: from the prevalence of access via portable devices, to the fashion culture of mobile phones * how Japan's "cute culture" has colonized cyberspace * the role of the Internet in different musical subcultures * how different men's and women's groups have embraced technology to highlight problems of harassment and bullying * the social, cultural and political impacts of the Internet on Japanese society * how marginalized groups in Japanese society - gay men, those living with AIDS, members of new religious groups and Japan's hereditary sub-caste, the Burakumin - are challenging the mainstream by using the Internet.
Examined from a variety of interdisciplinary perspectives, using a broad range of case-studies, this is an exciting and genuinely cutting-edge book which breaks new ground in Japanese studies and will be of value to anyone interested in Japanese culture, the Internet and cyberculture.
Buku ini merupakan bunga rampai yang secara keseluruhan mengkaji penggunaan internet di Jepang pada awal 2000-an, mulai dari secara umum hingga secara khusus yang meliputi berbagai kalangan: mahasiswa, penggemar musik (Noise dan Blues), perempuan, laki-laki, pengidap HIV/AIDS (ODHA), gay, politikus, Burakumin, nasionalis sayap kanan, sampai penganut agama atau aliran kepercayaan tertentu. Semuanya ada 15 bab, dengan satu bab di muka yang memberikan gambaran secara garis besar sedang selebihnya tercakup dalam 3 bagian:
I. Popular culture (5 bab) II. Gender and sexuality (4 bab) III. Politics and religion (5 bab)
Para kontributornya berasal dari negara-negara Barat seperti Amerika Serikat, Australia, Austria, Inggris, serta Jerman, dan tentunya dari Jepang sendiri.
Dari buku ini saya mengetahui bahwa pada awal 2000-an rupanya penggunaan internet di Jepang belum begitu luas, juga belum secanggih di negara maju lainnya. Kebanyakan pengguna internet pada waktu itu adalah anak muda. Pada umumnya mereka mengakses internet bukan melalui komputer rumah (personal computer) seperti di Amerika Serikat, melainkan ponsel. Dengan begitu, mereka bisa terhubung dengan dunia maya di mana saja dan kapan saja.
Ponsel keluaran Jepang juga dilengkapi dengan aneka fitur lucu. Orang bisa mengunduh karakter atau nada tertentu untuk menandakan pesan masuk dari tiap-tiap kontak. Beragam aksesori untuk mempercantik penampilan luar ponsel juga tidak kalah laris, dan peminatnya bukan hanya para gadis melainkan juga mas-mas.
Tren penggunaan ponsel ini terkait dengan budaya Jepang, khususnya di perkotaan, yang menghabiskan banyak waktu di kendaraan umum (commuting). Dari halaman 28: "In Japan, some products seem specifically aimed at individuals who spend many hours by themselves and want something portable to be used within tight personal space for leisure purposes." Sebelum ponsel marak, produk-produk lainnya yang dapat digunakan untuk mengatasi kebosanan selagi commuting sebut saja: Walkman, Game Boy, Tamagotchi, dan seterusnya. Mengintip Wikipedia, ponsel pertama sebenarnya bukan diciptakan oleh Jepang. Tapi kenapa penggunaan ponsel di Jepang tampak begitu masif dan unik? Sayangnya, kajian ini tidak memperbandingkannya dengan yang terjadi di negara-negara lain--khususnya yang memproduksi ponsel.
Menarik sebetulnya mengetahui bagaimana "budaya nunduk" ini bermula. Dalam bab "Japanese university students and e-mail" oleh Brian J. McVeigh dikatakan, "Cell phones 'make everyone busier' because people's sense of time is changing." Memang lebih sibuk, tapi sibuk yang enggak penting. Menurut hasil survei, para mahasiswa yang diteliti mengakui bahwa yang mereka bicarakan lewat internet adalah hal-hal yang remeh. Meski begitu, sebagian orang merasa positif dengan fenomena baru ini. Mereka jadi dimudahkan untuk menyampaikan perasaan atau mengekspresikan diri lewat cara yang memberikan privasi. Tapi toh selalu ada yang punya pendapat lain, dari halaman 29: "What good is all this information if you don't have the money to buy anything?"
Kajian-kajian dalam buku ini tentu saja tidak hanya memberikan informasi mengenai cara orang Jepang menggunakan internet pada waktu itu, tapi juga mengaitkannya dengan soal filsafat, budaya, dan sebagainya hal-hal yang tidak begitu saya mengerti (:v). Kajian internet sendiri ternyata bisa masuk ke bermacam-macam bidang ilmu: antropologi, ekonomi, komunikasi, linguistik, media, politik, psikologi, dan sosiologi. Buat saya sendiri, buku ini sudah serupa catatan sejarah saja.
Memang terlambat dua dekade untuk membaca buku ini. Tapi saya memang lagi ingin "mengenang" masa itu (#ehem), awal saya mengenal internet yang juga terjadi pada awal 2000-an. Uraian dalam buku ini memantik untuk memperbandingkan kenangan itu dengan keadaan di Jepang. Pada masa itu, di tempat saya, kebanyakan orang mesti ke warnet supaya bisa mengakses internet dengan tarif terjangkau. Soalnya, kalau pasang internet sendiri di rumah, harganya sama dengan biaya telepon-- terlalu mahal jadinya kalau keasyikan sampai berjam-jam. Di Jepang, rupanya pemakaian modem pribadi di rumah kurang populer karena alasan itu juga. Tapi, kalau Jepang bisa memproduksi ponsel sendiri, Indonesia paling-paling mengimpor sehingga yang lebih populer adalah warnet. Merek-merek impor yang terkenal pada waktu itu sebut saja: Ericsson, Motorola, Nokia, .... itu juga belum bisa dipakai untuk mengakses internet; bertukar pesan lewat SMS alih-alih e-mail.