Jump to ratings and reviews
Rate this book

Utarakan! Sepatu Saja Punya Hak, Apalagi Manusia

Rate this book
FISIP Universitas Dwipantara (Utara) akan mengadakan pemilihan ketua dan wakil ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM). Sebagai mahasiswa kurang pergaulan (ditambah lagi, kalau ngomong suka gagap), Joshua nggak peduli. Bodo amat soal urusan politik kampus! Pokoknya jangan sampai ayahnya, yang politisi kondang itu, menganggapnya bisa jadi penerus.

Namun, Joshua malah terseret ke urusan politik mahasiswa begitu mengenal Cara. Gadis ambisius ini bertekad jadi orang nomor dua di LEM FISIP Utara. Sayangnya, Cara telanjur jadi public enemy. Nggak akan ada yang memilihnya, kecuali dia memperbaiki citranya.

Joshua mau membantu Cara di balik layar, asal Cara juga membantunya cepat lulus dan terbebas dari ambisi sang ayah. Bagaikan sepatu kanan dan kiri, mereka saling melengkapi—walau saling bertolak belakang. Namun, langkah mereka ternyata jauh dari kata mulus. Lawan mereka bukan cuma paslon sebelah, tapi juga kampus. Karena di Utara, hak dan suara mereka terancam dibungkam.

296 pages, Paperback

Published July 30, 2025

3 people are currently reading
16 people want to read

About the author

Debora Danisa

2 books4 followers
Debora Danisa adalah penulis pemula kelahiran Juli 1994 yang mengandung komposisi:
- Ambivert
- Nokturnal
- Strong di luar, soft di dalam
- Overthinking malam-malam
- Banyak makan tapi tetap kurus
- Penggemar musik multigenre

Selain menulis cerita fiksi, sehari-hari ia dikejar deadline menulis berita faktual di media massa. Tak perlu mencarinya di berita-berita yang Anda baca. Cukup mampir ke akun Instagram-nya: @deboranulis

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (8%)
4 stars
9 (75%)
3 stars
2 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for Fikriah Azhari.
362 reviews148 followers
August 13, 2025
❝Kami menuntut keterbukaan informasi dan agar suara kami didengarkan! Sepatu saja punya hak! Sepatu saja punya suara! Apalagi kami, manusiaaa!❞

Boleh jadi Joshua memang adalah anak dari Gaius Julius Hanggono, kader partai Amanat Demokrasi (Adem) yang merupakan anggota Parlemen Nasional. Namun, tidak lantas membuat Joshua ingin menjadi penerus ayahnya. Sebab baginya, politisi adalah pekerjaan penuh dosa. Agar dapat segera terbebas dari ambisi sang ayah, Joshua bertekad ingin cepat lulus sehingga dapat hidup mandiri dan menentukan jalannya sendiri.

Demi hal tersebut, Joshua—yang kerap tergagap ketika berbicara—justru malah terlibat dalam politik kampus melalui pemilihan ketua dan wakil ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa (LEM). Sepanjang "pesta demokrasi" tersebut, Universitas Dwipantara semakin menunjukkan keberpihakannya, bahwa nyatanya, praktik politik, bahkan di tingkat universitas sekali pun, tak jauh beda dari hukum di masyarakat yang tumpul ke atas, tajam ke bawah.

Sama kayak Harga Teman, aku suka cara bertutur Debora Danisa yang terasa jenaka namun tetap tegas mengkritisi isu yang diangkatnya. Tidak luput pula berbagai singkatan yang kreatif banget serta plesetan dari hal-hal yang udah nggak asing lagi di keseharian kita, kayak Partai Harapan Pembangunan (PHP), Partai Panji Nasional (Panas), Partai Gagasan Populis (Gaspol), hingga Mike Air Dogan! Harus begitu dong, ya soalnya emang nggak terafiliasi dengan pihak manapun, kan? WKWKWK.

Aku suka banget dengan analogi sepatu yang diangkat penulis. Sepatu saja punya hak, sepatu saja punya suara. Sepatu dijadikan wajah dan gema dari gelombang perlawanan para mahasiswa dalam menentang Undang-undang Dwipantara.

Sebenarnya buku ini seram... karena aku rasa kondisi negara tuh tercerminkan walau di lingkup yang lebih sempit. Orasi rakyat (mahasiswa) yang nggak didengar, kaum atas (pejabat kampus) yang doyan resmiin aturan ketika rakyat sedang lengah, hingga pembungkaman dengan cara penghilangan seakan-akan yang diomongin nih bukan nyawa orang.

Oh jangan khawatir! Kalau kalian suka romance, ada romance tipis-tipis di novel ini, kok! Cuma memang porsinya nggak gede.

Serunya lagi, ada sisipan misteri terkait Es Wawan, sosok misterius yang bernasib "dihilangkan" setelah intens menyerukan kecaman terhadap kampus. Sebenarnya nggak plot twist amat dan menurutku cukup predictable. Namun, keberadaannya jadi salah satu nyawa penting dalam plot. Menyadarkan kita sekali lagi bahwa sejarah takkan pernah benar-benar mati, ia hanya menunggu kita lengah untuk bangkit kembali.

Setelah Metropop lalu kali ini Young Adult, kira-kira selanjutnya Debora Danisa nulis apa lagi, ya? Aku akan menanti karyanya selanjutnya!
Profile Image for aynsrtn.
505 reviews16 followers
September 4, 2025
“Lagi pula, politisi banyak dosanya. Mending cari profesi lain yang lebih berkah.” (p.27)

Membaca catatan penulis bahwa menulis buku ini saat gaung #ReformasiDikorupsi tahun 2019 dan ternyata—sedihnya—masih tetap sangat amat relate dengan keadaan negara sekarang (bahkan lebih menyesakkan).

Melalui Cara dan Joshua, aku sebagai pembaca diajak untuk membersamai mereka dalam mengutarakan aspirasi, menuntut transparansi, dan menguak kebobrokan Universitas Dwipantara yang disingkat Utara. Meskipun buku ini levelnya berada di level kampus, tapi semangat juangnya bisa diwarisi dalam menuntut hak atas keadilan.

Kami menuntut keterbukaan informasi dan suara kami didengarkan! Sepatu saja punya hak! Sepatu saja punya suara! Apalagi kami, manusiaaa! (p.166)

#

Karakter & Plot
Mengusung tema young-adult, buku ini tidak berfokus pada romansa namun sekalinya ada, teriak semua warga, haha. Di sini lebih menekankan pada perjuangan Cara yang dibantu oleh Joshua untuk mengusir para antek asing eh … maksudnya mengusir semua bala-bala rezim kampusnya. Karakter Cara yang vokal banget bagaikan microphone yang siap berteriak menyerukan ketidakadilan berduet maut dengan Joshua, sang amplifier yang memberikan gagasan dan ide-ide revolusioner. Combo Attack!

Karakter keduanya ini bukan karakter yang 100% mulus, green flag, tanpa cela, justru malah sangat realistis. Berontak khas anak muda, kadang suka ngegas dan nyolot, kalau berantem udah kelar deh karena sama-sama elemen air, batunya pun nggak dua. Namun, di balik ngeselinnya, mereka sangat manusia dan mahasiswa.

Karakter lainnya seperti Wawan dan Pak Muji turut meramaikan “suara” di buku ini. Mereka bagaikan penyeimbang bagi kedua tokoh sentral yang kadang masih gamang. Mungkin karena pengalaman mereka lebih banyak melanglang buana dalam bidang “pemberontakan” dibandingkan Cara dan Joshua.

Kreativitas & Comedy Top Notch
Berikut adalah temuan mind blowing yang pada buku ini:

1. Diet Nilai
Orang mah nilainya pengen tinggi, tapi ini ada satu anak, nilainya mau dikurusin karena nggak mau menjadi penerus bapaknya.

2. Singkatan yang nggak pernah terpikirkan
- Kapal Ikan (Fish Ship atau dibaca FISIP)
- Sep1 (bukan dibaca Sep-One/SepWan, tapi Sep-atu)
- Kalem (Ketua LEM kalau di universe lain namanya BEM)
- Pilem (Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua LEM)
- Lemper (Lembaga Perwakilan Mahasiswa)
- Adem (partai Amanat Demokrasi)
- Ben-Dera Mera-Puti (Barisan nama antek loyal Tiarani (yang Cara sebut Tirani soalnya mau nambah 1 periode)
- Sikadut (Sistem Informasi Akademik Digital Utara)

3. Narasi yang satir-sarkas namun dibalut dengan komedi
Menunggu sepinya jalan penghubung Jakarta-Bekasi ini agar dia bisa menyebrang sama seperti menunggu pelaku kejahatan kemanusiaan dijerat hukum di negeri ini. (p.5)

Rapat Evaluasi Kapal Ikan 2019 digelar di Vila Puncak Gemilang Cahaya Mengukir Cita Seindah Asa … (p.57)

4. Filosopi sepatu
Ini menurutku ide yang sangat kreatif. Scene di mana Cara berdemo dan hanya dengan segelintir orang karena sedang pandemi, tetapi dia meletakkan sepatu-sepatu temannya di sana sebagai tanda bahwa yang lain pun ikut mengutarakan. Ikut bersuara.

"Sepatu-sepatu ini bukan lambang bahwa kami ingin menginjak-injak martabat Utara. Justru ini adalah perlambang bahwa di sinilah tempat kami, anak Utara, berdiri! Karena begitu besar cinta kami pada Utara, kami rindu menapakkan alas kaki kami di sini! Oleh karenanya, jangan rusak almamater tercinta kami dengan aturan yang sewenang-wenang! (p.166)

#

Buku yang sangat relate dengan keadaan negara saat ini. Sesuai dengan judul bukunya, “Utarakan!”, jangan membiarkan diri ini dibungkam. Terima kasih kepada penulis yang sudah menuliskan buku ini. Greget dan semangatnya sungguh terasa. Panjang umur perjuangan.


Kutipan Favoritku:

Orang yang besar tak perlu menjelaskan dirinya besar. Begitu juga orang yang lapang dada, nggak perlu menjelaskan berkali-kali kalau dadanya lapang menerima kritik. Tinggal terima aja, nggak usah bolak-balik diafirmasi. (p.165)

"Soal kemampuan bicaramu yang payah, bicara fasih itu bukan syarat mutlak untuk menjadi pemimpin kok. Yang penting tidak sesat pikir." (p.198)
Profile Image for arsamatoria.
53 reviews2 followers
October 10, 2025
“Selama undang-undangnya belum dicabut atau diperbaiki, cuma satu kata: LAWAN!”

Wah, aku benar-benar masuk ke dunia Joshua-Cara ketika baca buku ini. Buku ini mengemas drama politik di lingkup universitas dan mahasiswa secara cerdik dan lincah. I love witty storytelling dan buku ini salah satu contoh bacaan yang witty itu.

Ceritanya tentang Joshua, seorang anak politikus yang kelewat introverted dan selalu gugup saat harus berbicara dengan orang lain. Namun, di balik itu dia pintar dalam membaca situasi. Ayah Joshua punya ambisi untuk menjadikan Joshua penerusnya di dunia politik tapi Joshua tidak mau. Ada lagi Cara, mahasiswi Universitas Dwipantara yang aktif, idealis dan berambisi untuk jadi wakil ketua LEM FISIP. Jalan Cara untuk meraih cita-citanya tidak semulus itu. Mereka harus bekerja sama dan saling melengkapi untuk melawan permainan politik di kampus yang mengancam hak dan suara mereka.

Banyak banget hal yang aku sukai dari buku ini. First and foremost, aku enjoy dan cekikikan pas baca. Jalan ceritanya mudah diikuti. Dialog antar karakter dan penulisannya lucu, bikin aku lupa waktu. Buku ini seperti miniatur dunia politik sesungguhnya yang dikemas secara menghibur dan cocok buat pembaca yang bahkan awam politik. Jujur aku amazed karena isu-isu yang diangkat di sini sangat komplit dan relevan mulai dari urusan keluarga, pendidikan sampai politik:

1. Orang tua yang memaksa anak untuk mengikuti ambisi mereka,
2. Sosok perempuan tangguh yang harus jadi breadwinner untuk keluarga,
3. Power abuse,
4. Pihak oposisi,
5. Sosok misterius yang sering jadi simbol perlawanan,
6. Kesenjangan sosial, dilihat dari kehidupan Joshua dan Cara yang berbeda 180 derajat,
7. Akses pendidikan yang sulit,
8. Perlawanan rakyat “kecil” terhadap pihak yang berkuasa.

Kak Debora Danisa sebagai penulis sangat piawai dalam menyatukan semua isu tersebut menjadi sebuah cerita yang ringan tapi hits every spot! Tepuk tangan buatmu, kak! Dari semua kehebatan beliau di atas, ada satu lagi yang bikin aku kagum: kelincahan penulis dalam permainan kata sehingga seru untuk dibaca. Misal, Joshua-Cara dijadikan “Suara”, cerita di balik judul buku “Utarakan”, arti dari “kapal ikan” dan masih banyak lagi yang aku tidak mau tuliskan di sini karena titik komedinya adalah saat pembaca menemukan permainan kata ini secara spontan.

Ada sedikit hint misteri dan romance di buku ini yang menambah kekompleksan jalan cerita. Pokoknya seru banget dan menarik untuk dibaca! Buku ini seperti mengingatkan aku kalau membaca tuh kegiatan hiburan dengan pelajaran dan manfaat yang segudang. I love this book so much, it’s a been a while since I read a great Indonesian book.
Profile Image for gq.
108 reviews
December 7, 2025
rate: 3,8/5

sebelumnya aku mau apresiasi slogan dan istilah2 yang dibuat di novel ini; Utarakan, Suara, Kotak Suara, BenDeraMeraPuti, dan yang ada di judul; Sepatu saja punya hak, apalagi manusia.

kalau diminta satu kata buat merangkum buku ini, aku akan pilih kata 'ricuh'. aku baca buku ini kayak ikut merasakan langsung kericuhan yang terjadi di Utara. seakan Utara itu bener2 ada dan aku lagi mengikuti perjalanan aksi tsb secara nyata. buku ini benar2 menarik aku ke dalam dunia Cara dan Utara (iya, joshuanya kurang tersorot). sebenernyaaa di awal aku kurang nyaman dengan nama Cara, iya sih klo Cara Delevigne kita bakal otomatis baca Cara sebagai Ka-ra, tapi itukan karena memang sepaket sama nama terakhirnya jadi pembaca gak bingung itu 'cara' (metode) atau 'Cara'. emang perbedaan penulisan nama tokoh diawali dengan kapital bikin kita lebih mudah mengidentifikasi apakah itu 'cara (metode)' atau Cara (nama orang), tapi awal-awal jujur ada kagoknya haha. btw Cara ini orangnya api banget, semangatnya meletup2, ngomongnya ngegas, even dialog pribadinya juga meledak-ledak. Cara tipe yang ngomong lebih dulu dan mikir belakangan. aku ngerasa Cara yang begitu agak naif. dibandingkan ngomong, kalau mau berpolitik kita harus pinter2 berstrategi juga, kan?. untungnya ada Joshua sebagai pemadam kebakarannya Cara. Joshua observant dan pinter dalam strategi, jenis pasangan sepatu yang tepat buat jadi 'timses' Cara.

SPOILER!
yang aku sayangkan dari buku ini:
1. gak ada momen dimana joshua berSUARA ke ayahnya. iya sih, ayahnya gak digambarkan yang bener2 mendikte semua pilihan joshua. tapi kedongkolan joshua tentang ayahnya yg ngatur2 terus-terusan dibahas, belum lagi ada momen dimana adik joshua bilang hidup joshua diatur ayahnya. sayang aja gitu gak ada momen dimana joshua speak up apa yang dia mau ke ayahnya.
2. maaaaaaf bgt tapi romance antara joshua dan cara terlalu maksa. fokus ceritanya emang bukan ke romance sih, jadi dr awal mrk dibangun buat jadi 'temen' diskusi, gak ada chemistry menuju ke arah 'romance'.
Profile Image for Satvika.
582 reviews43 followers
September 30, 2025
Novel YA yang isinya daging semua, seluk beluk politik kampus ditulis dengan menarik disini, mulai dari isu UU kampus yang isinya timpang dan rawan pemyalahgunaan, peran mahasiswa sebagai tonggak terdepan demokrasi dan isu sosial dan privilege.
Romance-nya tipis banget tapi tetep bikin kupu kupu terbang hahaha..
Overall buku ini recommended, tema-nya gak pasaran dan eksekusi-nya bagus!
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.