“Lagi pula, politisi banyak dosanya. Mending cari profesi lain yang lebih berkah.” (p.27)
Membaca catatan penulis bahwa menulis buku ini saat gaung #ReformasiDikorupsi tahun 2019 dan ternyata—sedihnya—masih tetap sangat amat relate dengan keadaan negara sekarang (bahkan lebih menyesakkan).
Melalui Cara dan Joshua, aku sebagai pembaca diajak untuk membersamai mereka dalam mengutarakan aspirasi, menuntut transparansi, dan menguak kebobrokan Universitas Dwipantara yang disingkat Utara. Meskipun buku ini levelnya berada di level kampus, tapi semangat juangnya bisa diwarisi dalam menuntut hak atas keadilan.
Kami menuntut keterbukaan informasi dan suara kami didengarkan! Sepatu saja punya hak! Sepatu saja punya suara! Apalagi kami, manusiaaa! (p.166)
#
Karakter & Plot
Mengusung tema young-adult, buku ini tidak berfokus pada romansa namun sekalinya ada, teriak semua warga, haha. Di sini lebih menekankan pada perjuangan Cara yang dibantu oleh Joshua untuk mengusir para antek asing eh … maksudnya mengusir semua bala-bala rezim kampusnya. Karakter Cara yang vokal banget bagaikan microphone yang siap berteriak menyerukan ketidakadilan berduet maut dengan Joshua, sang amplifier yang memberikan gagasan dan ide-ide revolusioner. Combo Attack!
Karakter keduanya ini bukan karakter yang 100% mulus, green flag, tanpa cela, justru malah sangat realistis. Berontak khas anak muda, kadang suka ngegas dan nyolot, kalau berantem udah kelar deh karena sama-sama elemen air, batunya pun nggak dua. Namun, di balik ngeselinnya, mereka sangat manusia dan mahasiswa.
Karakter lainnya seperti Wawan dan Pak Muji turut meramaikan “suara” di buku ini. Mereka bagaikan penyeimbang bagi kedua tokoh sentral yang kadang masih gamang. Mungkin karena pengalaman mereka lebih banyak melanglang buana dalam bidang “pemberontakan” dibandingkan Cara dan Joshua.
Kreativitas & Comedy Top Notch
Berikut adalah temuan mind blowing yang pada buku ini:
1. Diet Nilai
Orang mah nilainya pengen tinggi, tapi ini ada satu anak, nilainya mau dikurusin karena nggak mau menjadi penerus bapaknya.
2. Singkatan yang nggak pernah terpikirkan
- Kapal Ikan (Fish Ship atau dibaca FISIP)
- Sep1 (bukan dibaca Sep-One/SepWan, tapi Sep-atu)
- Kalem (Ketua LEM kalau di universe lain namanya BEM)
- Pilem (Pemilihan Ketua dan Wakil Ketua LEM)
- Lemper (Lembaga Perwakilan Mahasiswa)
- Adem (partai Amanat Demokrasi)
- Ben-Dera Mera-Puti (Barisan nama antek loyal Tiarani (yang Cara sebut Tirani soalnya mau nambah 1 periode)
- Sikadut (Sistem Informasi Akademik Digital Utara)
3. Narasi yang satir-sarkas namun dibalut dengan komedi
Menunggu sepinya jalan penghubung Jakarta-Bekasi ini agar dia bisa menyebrang sama seperti menunggu pelaku kejahatan kemanusiaan dijerat hukum di negeri ini. (p.5)
Rapat Evaluasi Kapal Ikan 2019 digelar di Vila Puncak Gemilang Cahaya Mengukir Cita Seindah Asa … (p.57)
4. Filosopi sepatu
Ini menurutku ide yang sangat kreatif. Scene di mana Cara berdemo dan hanya dengan segelintir orang karena sedang pandemi, tetapi dia meletakkan sepatu-sepatu temannya di sana sebagai tanda bahwa yang lain pun ikut mengutarakan. Ikut bersuara.
"Sepatu-sepatu ini bukan lambang bahwa kami ingin menginjak-injak martabat Utara. Justru ini adalah perlambang bahwa di sinilah tempat kami, anak Utara, berdiri! Karena begitu besar cinta kami pada Utara, kami rindu menapakkan alas kaki kami di sini! Oleh karenanya, jangan rusak almamater tercinta kami dengan aturan yang sewenang-wenang! (p.166)
#
Buku yang sangat relate dengan keadaan negara saat ini. Sesuai dengan judul bukunya, “Utarakan!”, jangan membiarkan diri ini dibungkam. Terima kasih kepada penulis yang sudah menuliskan buku ini. Greget dan semangatnya sungguh terasa. Panjang umur perjuangan.
Kutipan Favoritku:
Orang yang besar tak perlu menjelaskan dirinya besar. Begitu juga orang yang lapang dada, nggak perlu menjelaskan berkali-kali kalau dadanya lapang menerima kritik. Tinggal terima aja, nggak usah bolak-balik diafirmasi. (p.165)
"Soal kemampuan bicaramu yang payah, bicara fasih itu bukan syarat mutlak untuk menjadi pemimpin kok. Yang penting tidak sesat pikir." (p.198)