Isinya? Cocok dengan kovernya. Indah tapi jenis yang bikin melankolis. Nuansanya dapet. (Ini malah bahas kovernya wakakaka... Maklum lah ya, karena kover juga memegang pernanan penting dalam menarik minatku terhadap sebuah buku.)
Baca buku ini bikin capek. Bayangin aja kudu nahan air mata supaya gak ngalir dan kalaupun akhirnya ngalir, harus usaha sedemikian mungkin supaya orang laen gak ngeliat kita nangis. Capek, jenderal! Belum lagi pake acara salah kostum (ini sih salah tempat ya, bukan kostum #plaak), bacanya di ruang tunggu Rumah Sakit. Busuk banget! Hahah... Eits, nggak, di Rumah Sakit cuma sempat baca beberapa puluh halaman kok, gak sampe selesai. Sisanya kubaca di rumah, yang tentunya... gak ada privasi juga, secara aku masih tinggal sama orangtua.
Ceritanya? Bagus. Yea, ga usah baca sampe sini juga tau kan, dari bintangnya? *digaplok khalayak* Kalau hanakotoba kemarin (kataku lhooo, kataku) target pembacanya remaja, menurutku yozakura ini target pembacanya Young-Adult ke atas. Layaknya film India, komplit lah, ramuannya, ada bumbu cintanya, sedihnya, dramanya, bahkan action dan nari-narinya (enelan atu ndak boong lho, cuma dikit ciii, tapi atu ndak boong) *digaplok penulis* Tidak semua kisah berakhir bahagia untuk semua yang terlibat di dalamnya, apalagi kalau bukan kisah dongeng. Dan yozakura, fiksi yang dirangkai dari petikan-petikan kisah nyata, juga jadi terasa lebih nyata karena poin itu. Makanya aku suka, karena aku bukan tipe yang lebih suka kisah yang agak realistis (bukan soal genre fantasi atau bukan, tapi ke soal poin yang kusebut tadi... pasti ada kehilangan, ada pencapaian, dst, ibarat perlombaan, gak mungkin juara 1,2,3,harapan 1,2,3 semuanya dipegang sama satu orang yang sama).
Aku sendiri memang ga pernah punya sahabat semacam Nina-Tenshi, tapi aku punya satu sosok yang tak tergantikan. Dan kalau rasanya lagi jauh sama sosok itu (bukan ngomong soal jarak ya, ini) kayanya tuh musnah dalam ketiadaan lebih bagus daripada hidup sendirian (idiiih, mulai lebay ni) Mungkin... itu kali ya, kehilangan yang dirasakan akibat kepergian sahabat? (bah, mulai mengira-ngira pula ini anak). Sudah lah, semoga semua yang terlibat di sini diberi kekuatan untuk bahagia dan melanjutkan hidup dengan penuh keikhlasan. ^_____^
PS: lupa mau nulis bagian yang ini: Sebetulnya setelah beli, bukan aku yang memerawani buku ini, tapi mama. Entah kenapa, mama yang biasanya bukan penyuka bacaan (atau aku aja yang ga pernah liat mama baca, selain alkitab dan resep?), tiba-tiba nanya, aku punya buku bagus apa. Maaf Ma! Ampun! Iya, iya, kadang-kadang mama baca kok, buku yang mama anggap menarik, kayak buku yang kira-kira judulnya "Kamu monyet atau babi" itu kan? XD Yang mama cari buku bahasa Indonesia tentunya, karena mama tak paham bahasa Inggris. Kebetulan belum lama, buku yozakura sama hanakotoba ini datang. Berhubung hanakotoba sedang kubaca, kukasih lah si yozakura ke mama. Memang sih mama gak sampe mewek (gak kaya anaknya yang cengeng ini), karena ada satu keyakinan mama yang membuat dia jadi wanita yang jarang meneteskan air mata :D Tapi keliatan kok, kalo sebenernya uda pingin nangis juga itu pasti bahahaha *ditendang mama* Saking menikmati novel ini, mama sampai lupa tidur, demi baca lebih banyak, dan protes di halaman akhir, karena kisahnya gak dilanjutkan, karena begini dan begitu XD *peluk2 mama tapi terus digebah, lalu pundung di pojokan* Udah ah, mo nambahin itu doang :P