Michael punya segalanya: wajah tampan, pesona, dan kharisma yang membuatnya disukai banyak perempuan. Dan ia memperlakukan perempuan-perempuan itu sesukanya.
Di dalam hidupnya, Clara selalu mengutamakan sekolah dan ayahnya di atas segalanya. Tapi satu perlakuan memalukan dari Michael membuatnya memusuhi cowok itu dan ia pun berusaha menasehati sahabatnya untuk tidak mencintai cowok itu.
Sebuah taruhan iseng dari teman-temannya membuat Michael harus memenangkan hati Clara. Hanya saja ia tidak menyangka kalau cinta akan tumbuh di hatinya. Dan kebohongan Michael itu tidak hanya membuat Clara kehilangan sahabatnya, tapi juga cita-citanya. Jadi dengan terpaksa, Clara meninggalkan cowok itu.
Delapan tahun kemudian, mereka bertemu kembali dalam keadaan yang sudah jauh berbeda. Tapi cinta itu masih tersimpan di dalam hati Michael. Dan kali ini, ia tidak akan melepaskan Clara lagi sekalipun itu berarti ia harus mengaku sebagai orang lain hanya untuk bisa bersama gadis itu.
Wow, buku yang sangat tebal! Ketika pertama kali menerima kiriman buku ini, itu yang terlintas dalam benak saya. Saya buka-buka halamannya *sambil menghirup wangi kertas* dan melihat tulisannya, terus terang sedikit gentar karena tulisannya rapat-rapat pula. Bagaimana menyelesaikannya ini? Tapi ternyata, ceritanya asik. Malah saya tidak bisa berhenti baca kalau sudah mulai. Ini baca berhari-hari juga karena diselingi dengan melakukan tugas-tugas ibu rumah tangga (ngaduk semen, masang keramik, nambal genteng bocor) kalau baca terus, pasti selesai dalam dua hari, karena serunya cerita di novel ini.
Jadi nih, ceritanya tentang Michael dan Clara. Michael nih playboy kelas kakap. Dia ganteng, populer, dan disukai banyak cewek di sekolahnya. Pokoknya reputasinya sudah tersebar luas lah sebagai seorang playboy. Kelemahannya cuma satu, dia tidak mampu menolak permintaan cewek-cewek penggemarnya untuk menjadi pacar mereka. Makanya pacarnya banyak. Namun Michael juga tidak serius dengan mereka. Kepribadian cewek-cewek yang menjadi pacarnya (lalu berubah status menjadi mantan) itu sungguh negatif, makanya dia putusin lah mereka. Begitu terus, dia bergonta-ganti pasangan seperti ganti baju.
Adalah seorang Clara, juara umum, pastinya pintar, dan rajin. Dia tidak menyukai Michael karena kelakuannya tersebut. Suatu hari Clara membuat Michael kesal karena ikut campur dan memarahinya soal sifat keplayboyannya (ada ya istilah itu?) tanpa diduga-duga, Michael mencium pipi Clara dan membuat gadis itu marah. Namun karena Clara gadis yang sopan, dia tidak membalas Michael.
Suatu hari, salah seorang temannya, Reggie, menantangnya untuk mendekati Clara dan membuat gadis itu jatuh cinta padanya. Terlepas dari ketidaksetujuan Bob, sahabatnya, Michael yang tidak mau reputasinya diragukan, menyetujui dan mulai menjalankan aksinya. Lagipula Clara sudah membuatnya kesal dengan memarahinya soal membuat Sharon (salah satu mantannya) menangis. Padahal Clara nggak deket juga sama Sharon. Ah, kalau dipikir-pikir, memang Clara aja kepo ya?
Michael mulai mendekati Clara. Awalnya dia meminta maaf karena sudah mencium pipinya di koridor sekolah, dan meminta Clara untuk menjadi guru lesnya karena Michael sudah terancam tidak lulus sementara mereka sudah kelas 3 SMA. Clara yang baik hati dan tidak sombong pun mau memaafkan dan mau membantu Michael dalam pelajarannya. Tanpa curiga kalau itu semua hanya taktik Michael untuk bisa dekat dengan Clara dan memenangi taruhan dengan teman-temannya bahwa dia bisa membuat Clara jatuh cinta padanya.
Di hari pertamanya les di rumah Clara, menemukan fakta-fakta emngejutkan tentang gadis itu. Clara sangat bertolak belakang dengannya. Gadis itu rajin, pintar, dan membiayai les piano sendiri dengan bekerja menyulam kaos. Sementara Michael pemalas, dan apa-apa tinggal minta ke ortu. Tanpa disadari, tumbuh perasaan kagum pada gadis itu.
Vanessa adalah sahabat Clara sejak kecil. Dia cantik, kaya, punya segalanya deh. Dia naksir Michael sejak SMP tapi tidak berani mendekati cowok itu. Hanya mengagumi dari jauh saja. Melihat Clara dan Michael makin dekat, dia cemburu. Namun Clara sudah berusaha agar Vanessa mau bergabung agar bisa dekat dengan Michael. Vanessa yang terlalu takut, menolak dan hanya bisa memendam perasaan marah dan cemburunya dalam hati.
Seiring waktu berjalan, dalam hati keduanya mulai tumbuh perasaan cinta. Namun karena belum pernah jatuh cinta (meski pun playboy, Michael juga belum pernah jatuh cinta) keduanya tidak mengetahui hal tersebut. Sementara Clara kan kerjaannya belajar aja, mana sempat jatuh cinta di tengah kesibukannya mencari uang untuk les piano? Yang mereka tahu, mereka selalu ingin bertemu dan merasa nyaman jika bersama. Namun kejadian demi kejadian menimpa Clara: ayahnya meninggal, Clara juga mengetahui soal taruhan itu, dan keganasan mantan Michael yang bernama Sharon terhadapnya, sehingga membuat keduanya harus berpisah. Clara dinyatakan meninggal, dan Michael membawa luka di hatinya ke luar negeri. Untuk melanjutkan studi dan berusaha melupakan masa lalunya.
Delapan tahun berlalu, rupanya tak membuat Michael melupakan Clara yang dicintainya dengan tulus. Michael masih berduka atas kematian Clara, dan tidak pernah lagi berkencan dengan gadis mana pun. Dia merasa jiwanya sudah terbawa Clara ke alam sana. Tak ada semangat menjadi playboy lagi, yang ada dalam benaknya hanyalah kerja, kerja, dan kerja.
Hingga suatu hari Michael melihat sosok yang sangat mirip Clara. Benarkah itu Clara? Tapi bukankah dia sudah meninggal? Kenapa mereka mirip sekali?
Wah, pokoknya dijamin nggak bisa naro buku ini sebelum kelar, deh! Makanya buat yang punya PR, kerjain dulu PR nya. Yang punya kerjaan, selesaikan dulu pekerjaannya. Karena novel ini akan menyedot perhatian dan waktumu.
Sangat direkomendasi untuk penyuka chiclit. Dan saya sudah lama tidak bereaksi saat membaca novel. Sementara saat baca ini saya sempat terkejut, ikutan sedih, pingin nangis juga. Lengkap deh. Jangan gentar dengan ketebalannya, sebab novel ini memberikan kepuasan setelah selesai membacanya. Jalinan ceritanya terangkai dengan manis, dan tak ada plot hole. Semua pertanyaan terjawab, semua permasalahan terpecahkan. Endingnya juga bikin saya narik napas lega, dan tanpa sadar saya tersenyum senang dengan akhir ceritanya.
Jempol untuk mbak penulisnya. Salut karena berhasil menerbitkan novel perdananya yang sungguh luar biasa ini. Kok bisa sih mbak, nulis novel setebal ini dengan cerita yang begitu indah? Itu kata-kata dapat dari mana? Hehehe... Sekali lagi, thank you for writing a good story dan ditunggu novel selanjutnya. Saya pasti akan berburu giveawaynya lagi *penganut gratisan garis keras*
Mohon jangan membaca kalau tidak mau membaca spoiler ya. :) Aku belum selesai membaca bukunya saat ini, setelah dua malam ditemani, aku belum selesai. Biasanya aku akan menganggap buku itu tidak menarik kalau masih menemaniku setiap malam sampai berhari-hari dan masih berstatus 'currently-reading', tetapi yang satu ini tidak! Kenapa?
Aku dulu seorang pecinta teenlit, bahkan hampir sebagian besar koleksi buku-bukuku selama beberapa tahun berasal dari genre itu, meski sekarang sudah berpindah haluan sangat jauh, tetapi genre yang satu itu masih membekas sampai sekarang. Harus kuakui, sudah beberapa waktu terakhir (berbulan-bulan), aku tidak membaca teenlit lagi. Beberapa cenderung tertebak dan bertele-tele menggemaskan. Sampai rasanya ingin menjitak tokoh-tokohnya karena begitu menyebalkan. :))
Nah, buku ini adalah buku pertama setelah beberapa buku fantasi dan roman chicklit yang kubaca dalam beberapa bulan terakhir, dan aku suka! :P Walau aku tidak tahu apakah buku ini termasuk dalam kategori teenlit. Oh, bukan berarti ceritanya tidak tertebak dan bertele-tele atau apa, tetapi tetap saja aku suka. Memang sepintas, saat membaca bab-bab awal, akan terlihat seperti sedang membaca sebuah literasi hasil dari sebuah FTV, tetapi makin kebelakang makin oke koq. Ada beberapa yang tidak masuk akal sih, misal, sifat Ibu Michael yang gaya berbicaranya seperti anak muda, atau Lucas (sepupu Clara) yang terkesan seperti bertahun-tahun terlalu dewasa. Maksudku, di bagian awal kisah, Lucas adalah seorang anak berusia 13 tahun. Dan anak berumur 13 tahun tidak membicarakan (menanyakan, tepatnya) soal perasaan kepada sepupu perempuannya dengan begitu gamblang, terutama karena dia lelaki. Kedua adik Michael pun sama anehnya seperti itu.
Frans itu dokter, tetapi sampai mendekati bagian akhir, aku bahkan tidak tahu berapa usianya hingga dia disebut terlalu tua bagi Clara. Mungkin sekitar 30an? Apa ini pernah disebut di bagian awal? Bagian awal, aku memang membaca cepat beberapa bagian. Karena banyak bagian memang diceritakan tanpa jelas apakah esensinya bagi cerita. Belum candaan dan dialog yang banyak. Memang sih, jadi jelas hubungan antar karakter, tetapi beberapa karakter hilang begitu saja akhirnya. Sayang sekali. Bahkan Sharon pun, sebetulnya aku ingin melihat pertemuannya dengan Clara/Michael di akhir bagian satu.
Pada awal bagian dua (setelah delapan tahun berlalu), hampir semua orang menanyakan tentang 'kewarasan' Michael selepas ditinggal Clara. Astaga. Kalau memang Michael berubah menjadi gila kerja atau sebagainya, apa ada yang berani menanyakan tentang perasaan, Clara atau semacamnya kepada seorang pria? Maksudku, seakrab apa sebuah hubungan persahabatan sampai pria dan pria akan selalu berbicara mengenai perasaan hampir setiap saat mereka bertemu? Rasanya aneh sekali. (Yah, bisa dibilang semua orang selalu berbicara tentang Clara di awal bagian dua ini). Lagipula, selama lima tahun Michael berada di luar negeri untuk kuliah, wajar dia tidak berpapasan dengan Clara, tapi selama tiga tahun sisanya? Mereka kan ada di dalam satu kota yang sama, masa pas sekali baru bertemu ditahun kedelapan?
Satu pertanyaan, sepertinya penulis menggunakan sudut pandang ketiga yang tahu segalanya. Am i rite? Aku tidak biasa membaca sebuah buku dengan PoV semacam ini, jadi rasanya aneh saat baca dan mengetahui kata hati Clara, lalu di paragraf berikutnya, tahu kata hati Michael, eh, beberapa paragraf berikutnya tahu kata hati Vanessa. Tidak biasa saja sih, tidak tahu apakah yang seperti itu wajar atau bagaimana.
Banyak pertanyaan buat sakit yang diderita oleh ayah Clara, dan juga apa yang diderita oleh Clara, apakah memang semudah itu kronologis dan birokrasi di dalam dunia kedokteran? Aku tidak terlalu tahu, dan mungkin ada yang bisa menjelaskan?
Typonya cukup banyak, btw. Overall, aku suka karena dramanya dapet banget. Memang terkesan bertele-tele, lebay dan FTV-banget, tetapi aku suka dengan cara penulis menceritakan kisah Clara, meski memang ada yang aneh dan tak masuk akal. Terlepas dari itu semua, aku suka hubungan antara Clara dengan ayahnya, bukan dengan Michael ya, catat. Belum lagi ukuran font-nya kecil, itu sudah bikin semangat bacanya. :P Ah ya, Clara itu mary-sue tidak sih? Kurasa karena dia begitulah, semua cobaan dan masalah hidupnya datang. :3
Akan kutambahkan review-nya setelah selesai membaca malam ini, kalau memang ada yang perlu ditambahkan. :)
Sebenarnya rating buku ini tiga setengah. Tapi karena tidak ada opsi setengah di sini, dijadikan tiga saja deh :"))
Untuk tema sendiri, buku ini emang klise banget. Tapi somehow, buku ini membuatkan mendadak ingat temanku yang bad boy waktu SMA *lalu cari kontaknya lagi* *abaikan ini*
Penokohan sendiri ... aku rasa hampir semuanya sudah pas, kecuali untuk Clara sendiri. Gatau kenapa, sikap Clara saat 8 tahun semenjak kejadian 'itu' (silahkan baca bukunya kalo mau tahu kejadian 'itu' :p) too good too be true. Terlalu baik banget dan aku rasa di dunia nyata gak bakalan mungkin ada deh orang kayak Clara (atau aku aja yang gak pernah ketemu ya, wwww).
Oh iya, apa kabar dokter Frans ya setelah Clara bareng Michael? Kok rasanya tokoh ini gantung banget penyelesaiannya. Serasa tokoh utama sudah bahagia dan tokoh pendukung dari tokoh utama perempuan terlupakan begitu saja.
Untuk latar suasana, semuanya terdeskripsikan dengan baik. Bahkan bagaimana mindset orang kaya saat ke tempat yang menurut mereka gak selevel itu nyata banget. Sepertinya ada untungnya juga aku sejak kecil temenan sama orang kaya, hahaha.
Oh iya, boleh nanya gak kenapa semua nama tokoh di buku ini terasa kebarat-baratan banget? Meskipun mereka sekolah di sekolah internasional, tapi rasanya janggal saja kalo tokoh asli Indonesia tapi namanya barat banget. Mungkin untuk novel selanjutnya penulis bisa memilih nama berdasarkan latar belakang negara kelahirannya, bukan karena kerennya saja :)
Satu lagi, (tolong jangan benci review aku yang panjang bak kereta ini) tolong diperhatikan elipsis ya. ada banyak tanda elipsis yang gak sesuai dengan EYD. selain itu, ada beberapa kata yang nggak baku serta typo (typonya cuma tiga sih seingatku, tapi dua diantaranya bikin aku mikir agak lama biar bisa nyaman ini typo atau enggak).
Review lengkapnya di blog nanti ya. Aku minggu ini agak sibuk dan gak yakin bisa publish reviewku dengan detil tanpa typo yang bertebaran :"))
di awal-awal, semuanya serba tanggung; narasi, pengenalan tokoh, dialog...
saya gak sreg sama dialog Michael dan Bob yang ngomong "gue-elo" tapi ada kata "pisan" dan "atuh". terdengar aneh dan tanggung.
tapi semakin membaca lebih jauh, penulisannya semakin berkembang. dialog menjadi lebih enak dibaca, narasi juga tidak banyak kata masalahnya. iya, di awal-awal banyak banget itu kata masalahnya.
sayang, tidak halnya dengan tokoh-tokoh di novel ini. saya gak bisa relate sama Clara atau Michael atau siapapun.
tapi saya lumayan menikmati novel ini. ditunggu Silent Melody-nya, Kak Sab, kalo kita ketemu aku minta tandatangannya ya, sama kasih totebag BBI yang udah lama ada di aku. ^^
*kemudian pecut diri sendiri karena temen-temen BBI udah banyak yang nerbitin buku sementara diri ini masih bermalas-malasan--buka laptop cuma buat mandangin prompt request yang udah banyak di inbox tumblr*
Walaupun alur ceritanya mudah ditebak, tapi kisah cinta dalam novel ini menarik. Terutama karena penokohannya. Karakter-karakter dikembangkan dalam cerita secara rinci =)