Jakarta identik dengan kekerasan. Ada kekerasan negara yang sohor semacam peristiwa 1965, Malari 1974, penembak misterius, kerusuhan massal 1998. Atau kekerasan yang terjadi sehari-hari semisal perampokan, penodongan, pemerasan, pencopetan, pengeroyokan, tawuran. Buku ini menganalisa bagaimana kekerasan melingkupi berbagai wilayah Jakarta, dari yang paling aman sampai yang paling rawan, dari yang terkaya hingga yang termiskin, dari yang paling modern sampai yang paling tradisional. Termasuk menelusur berbagai kelompok yang dapat disamakan dengan mafia menata ruang, menyelami berbagai lingkungan politis dan merunut sampai ke realitas lapangan, sehingga terkuak kesenjangan antara keinginan umum, penggerak politis yang tersembunyi dan prilaku penduduk.
Tubuh Siti Hajar penuh luka, kulitnya melepuh bekas disiram air panas. Pahlawan devisa itu mendapat perlakuan sangat buruk di Malaysia, tempatnya bekerja. Salah satu contoh kekerasan domestik yang melibatkan pembantu rumah tangga. Banyak korban tapi tidak semuanya terdeteksi karena sengaja ditutup-tutupi.
Kekerasan bisa berarti perbuatan seseorang atau sekelompok orang yang menyebabkan cedera atau matinya orang lain atau menyebabkan kerusakan fisik atau barang orang lain, atau bisa juga berarti paksaan. Kekerasan bisa terjadi dimana saja dan kepada siapa saja. Orang dewasa, remaja, dan anak-anak bisa menjadi pelaku atau korban kekerasan.
Tidak hanya di lingkungan rumah tangga, kekerasan lebih sering terjadi di tempat-tempat umum. Jalan raya, angkutan umum, terminal, bisa menjadi contohnya. Mungkin Anda secara tidak sadar pernah menjadi korban. Misalnya, ketika sedang menumpang angkutan umum, lalu sejumlah pengamen dengan baju dekil dan nafas berbau alkohol, bernyanyi sekenanya dengan lirik dan pandangan yang mengintimidasi penumpang. Anda merasa takut lalu terpaksa memberikan recehan. Contoh lainnya: penodongan, pemalakan, dan penjambretan.
Kekerasan ditempat umum sering juga melibatkan orang dengan jumlah yang lebih banyak. Tawuran antar kampung dan tawuran antar pelajar bisa menjadi contoh konkritnya. Bersenjatakan batu, tongkat, dan senjata tajam mereka saling melukai atau bahkan saling membunuh. Pemicunya kadang-kadang sepele saja. Diawali dengan saling mengejek, emosi memuncak, tawuran pecah, dan korban pun berjatuhan. Namun kadang-kadang, tawuran terjadi hanya sebagai ritual tahunan belaka. Alasan yang sangat tidak logis untuk sebuah “kegiatan” yang berpotensi mencederai atau bahkan menghilangkan nyawa orang lain.
Preman dan Sejarahnya
Kekerasan sangat lumrah bila dihubungkan dengan preman. Kata “preman” ditujukan kepada orang yang sering melakukan tindakan kekerasan terhadap orang lain. Tapi ternyata, kata “preman” itu sudah mengalami perubahan konotasi di masa sekarang. Faktanya adalah istilah “preman” berasal dari kata Belanda vrijman (hal 213), yang berarti “orang bebas”. Di Batavia (sekarang Jakarta) pada awal abad ke XVII, kata preman digunakan untuk menunjuk kategori orang yang bukan pejabat VOC, tetapi melakukan negosiasi atas namanya. Kemudian pada abad ke XX, di kawasan perkebunan Sumatera bagian Utara, kata preman digunakan untuk menunjuk mandor dan pekerja harian yang bekerja tanpa kontrak kerja. Pada masa itu, mandor mempunyai reputasi membela buruh tani dari Jawa, Tionghoa, atau India atas perlakuan buruk para pemilik perkebunan. Hingga pada 1978, kata preman muncul untuk pertama kalinya dengan konotasi buruk atau kriminal di dalam sebuah serial roman detektif Ali Topan, Detektif Partikelir (Teguh Esa Adrai). Kemudian pada 1979, sebuah organisasi bernama Preman Sadar atau Prems didirikan dan hanya merekrut preman atau mantan narapidana, dengan usaha khusus dibidang “keamanan”. Tahun-tahun berikutnya, kata preman muncul secara tetap di media yang akhirnya menghilangkan konotasi yang pertama.
Kekerasan dalam Kerusuhan Massal Setelah 1965 di Jakarta
Setelah Soeharto dengan rejim Orde Baru berkuasa sejak 1966, ada banyak tindak kekerasan yang terjadi di tengah masyarakat. Tiga diantaranya yang paling mudah diingat adalah peristiwa Malari, Kerusuhan 27 Juli 1996, dan Mei 1998.
Malari atau Malapetaka Lima Belas Januari 1974 merupakan peristiwa kerusuhan yang berbau politis. Kerusuhan ini terjadi sebagai dampak dari penolakan mahasiswa atas kunjungan Perdana Menteri Jepang saat itu, Kakuei Tanaka, ke Jakarta. Kunjungan yang merupakan salah satu lawatannya ke Asia Tenggara juga ditolak dengan aksi unjuk rasa mahasiswa di Bangkok dan Manila. Tapi yang paling spektakuler adalah unjuk rasa penolakan di Indonesia yang akhirnya berujung pada kerusuhan. Dalam kerusuhan itu, mobil-mobil buatan Jepang dirusak, dibakar, dan dicemplungkan ke sungai Ciliwung. Tempat usaha seperti agen Astra, salah satu importir mobil Jepang, ikut diserbu dan dibakar.
Kerusuhan yang kedua adalah buntut dari penyerbuan sejumlah orang yang menganggap dirinya anggota resmi PDI ke markas besar PDI di Jalan Diponegoro, Menteng, pada tanggal 27 Juli 1996. Kerusuhan yang pada akhirnya meluas ke sejumlah tempat di daerah Menteng ini juga melibatkan militer. Ratusan orang ditangkap, puluhan gedung dan mobil dibakar. Masih ditambah dengan sejumlah orang yang hilang tanpa jejak.
Yang ketiga adalah kerusuhan yang lebih besar lagi. Huru-hara yang terjadi pada Mei 1998 ini mengejutkan penduduk Jakarta. Diawali dengan tewasnya enam mahasiswa Universitas Trisakti akibat ditembak aparat dalam aksi unjuk rasa besar-besaran pada tanggal 12 Mei 1998. Keesokan harinya, beberapa kerusuhan dan penjarahan terjadi di sejumlah pusat pertokoan sekitar Universitas Trisakti. Hari berikutnya, kerusuhan, penjarahan dan perusakan yang semakin besar terjadi kembali. Kerusuhan meluas hingga ke hampir seluruh sudut kota Jakarta, bahkan ke wilayah pinggiran seperti Tangerang, Bekasi, dan Depok. Aksi pembakaran gedung menghanguskan korban jiwa yang sangat banyak. Jumlah korban berbeda, bergantung pada sumber, antara tiga ratus dan lebih dari seribu korban.
Wilayah Kekerasan di Jakarta
Jerome Tadie, dalam buku “Wilayah Kekerasan di Jakarta”, memetakan wilayah kerusuhan yang berujung pada tindak kekerasan di Jakarta. Jerome mengadakan penelitian untuk menganalisa cara kekerasan membentuk struktur ruang, khususnya ruang kota. Kajiannya difokuskan pada tindak kekerasan yang terjadi di Jakarta. Di Indonesia secara umum, kekerasan terjadi dengan latar yang berbeda-beda. Misalnya, kekerasan antar etnik di Kalimantan pada 1997, kekerasan bermotif keagamaan di Maluku, atau kekerasan dalam kerangka gerakan separatis seperti yang terjadi di Aceh dan Papua.
Buku ini tidak bermaksud menyajikan contoh-contoh tindak kekerasan yang pernah terjadi sehingga bisa dicontoh lagi. Tapi salah satu tujuannya adalah untuk memberikan informasi bagaimana mengendalikan kota Jakarta agar terbebas atau setidak meminimalisir kejadian tindak kekerasan. Diantaranya lewat reformasi aparat keamanan yang cara kerjanya tidak populer, pemilahan Administratif untuk pengendalian wilayah, dan melaksanakan Gerakan Disiplin Nasional (GDN) untuk pengendalian diri.
Kekerasan selalu menimbulkan berbagai dampak yang saling berkaitan dengan rasa aman. Kekerasan terjadi karena ketidakbecusan dalam pengendalian kota. Ketidakbecusan ini meliputi upaya pemerintah kota dalam menangani, mengawasi, dan memerangi kebobrokan penyelenggara kota. Dengan adanya kekerasan, rasa aman ditengah masyarakat tidak akan tercipta. Rasa tidak aman pasti berpengaruh buruk pada kinerja masyarakat untuk berkreasi. Pengendalian diri penduduk kota, terutama pemerintah beserta seluruh aparatnya bisa menjadi langkah awal yang bisa dilakukan untuk mencegah kekerasan.