Susan George is a well-known political scientist and writer on global social justice, Third World poverty, underdevelopment and debt. She is a fellow and president of the board of the Transnational Institute in Amsterdam. She is a fierce critic of the present policies of the IMF, World Bank, and what she calls their "maldevelopment model". She similarly criticizes the structural reform policies of the Washington Consensus on Third World development. She is of U.S. birth but now resides in France, and has dual citizenship.
In January 2007 she received an honorary doctorate from Newcastle University in the UK and in early March the International Studies Association at its congress in Chicago presented her with its first award to an Outstanding Public Scholar.
Isu pangan mulai menjadi sesuatu yang membosankan untuk didengar. Kita mendengar permasalahan pangan dibahas setiap harinya di media-media publik, namun begitu isu ini belum juga tuntas. Nyatanya sejak merdeka hingga detik ini, Indonesia belum pernah swasembada pangan. Pemerintah bukannya tidak berusaha. Pada tahun 2015, pemerintahan Jokowi telah menahbiskan serangkaian program pertanian seperti RJIT, PUAP, GPPTT, dan lain-lainnya guna mendongkrak produksi pangan Indonesia. Berbagai pihak diterjunkan, mulai dari TNI hingga mahasiswa. Anggaran yang dikucurkan guna mensukseskan misi ini juga tidak main-main besarnya. Akhirnya setelah sekian usaha yang dilakukan, kita mulai berpikir, apa yang salah dengan usaha kita selama ini? Melalui buku Pangan, Dari Penindasan Sampai ke Ketahanan Pangan ini, Susan George, seorang peneliti sosial dan politik, menjawab pertanyaan-pertanyaan kita, khususnya sebagai warga negara Dunia Ketiga, seputar isu kekurangan pangan. Pada bagian pembuka, pembaca diajak mengenali hakikat pangan. Makanan adalah kekuasaan. Makanan adalah kebutuhan pokok mahluk hidup untuk bertahan hidup, menjadikan makanan sebagai bahan perebutan. Perebutan makanan di spesies lain tampak jelas, sedangkan di manusia modern tampak subtil dan dilakukan dengan cara-cara yang lebih kejam lagi. Selanjutnya pembaca diajak menelusuri asal mula lahirnya pertanian. Disinilah pertanyaan ‘kenapa kita tidak berburu seperlunya seperti spesies-spesies lain?’ terjawab. Pertanian tentu membuka peluang bagi manusia modern untuk hidup tidak serta merta untuk makan, namun dari sektor ini pula muncul permasalahan-permasalahan seperti kelaparan dunia, kesenjangan ekonomi dan sosial, emigrasi, perbudakan, kolonialisme, hingga degradasi lingkungan. Yang paling disoroti dalam buku ini adalah ironi kehidupan petani, yakni pekerja penghasil pangan yang justru kelaparan di tengah ladangnya sendiri. Di Indonesia, mayoritas penduduknya menggantungkan dirinya pada sektor pertanian. Nyatanya petani-petani Indonesia bekerja mati-matian demi panen yang melimpah, namun mereka masih kelaparan di musim paceklik. Lebih aneh lagi, banyaknya sumberdaya manusia yang mengelola SDA di Indonesia ternyata masih belum mampu mencukupi kebutuhan pangan nasional. Berbagai alasan sehubungan kekurangan pangan diajukan, dari membludaknya jumlah penduduk dunia, hingga degradasi lingkungan. Namun, penulis berargumen dengan menyertakan serentetan data dan analisis, bahwa ketamakan dan kekejian manusia-lah yang menjadi akar dari kekurangan makanan. Pada dasarnya jumlah makanan yang ada di bumi ini sudah mencukupi kebutuhan seluruh umat manusia. Sistem perekonomian dan pertanian dunia-lah yang perlu diubah. Food for Beginners. Pangan untuk Pemula. Demi keselarasan dengan judul, buku ini dilengkapi dengan ilustrasi-ilustrasi menarik di setiap lembarnya. Tampaknya satirisme adalah nuansa utama yang diusung oleh buku ini. Sindiran-sindiran, ironi, dan mirisnya dunia pangan tertuang tidak hanya dalam pemaparan data dan analisa, namun juga dalam ilustrasi-ilustrasinya. Terlepas dari hal tersebut, secara keseluruhan buku ini tetap mudah untuk dipahami, karena pokok bahasannya disusun secara sistematis dan menggunakan kata-kata yang sederhana. Topik bahasan dalam buku ini juga sangat lengkap, dari sejarah agrikultur, revolusi industri, monokulturisme, Neo-Malthusian, hingga Keluarga Berencana (KB). Hanya saja dalam beberapa bagian, buku ini terlalu banyak memaparkan data kuantitatif, sehingga memerlukan proses berpikir yang cukup lama. Kekurangan lain dalam buku ini adalah kesalahan penulisan di beberapa halaman. Pada akhirnya, buku ini berhasil meninggalkan perasaan gusar dalam diri pembaca. Pembaca tidak lagi dapat makan tanpa memikirkan tetes keringat pengorbanan dan kekejian yang mengantar makanan itu sampai tersaji di meja. Well, kalau begitu lebih baik nggak baca buku ini dong, daripada akhirnya merasa gusar dan kesal? Anda salah. “Semoga sukses. Jangan lupa makan teratur dan sebarkan gagasan dalam buku ini” Begitu pesan penulis. Ya, tampaknya sudah tiba waktu bagi kita untuk bekerja bahu membahu memperbaiki kebrobrokan sistem yang ada.
Out of sync with the "beginners" series & concept. Too wordy, too detailed. Not a simple intro to the topic. Not funny. Not really a graphic novel; instead, more of a lengthy polemic with some illustrations.
Ketika saya punya tabungan yang cukup untuk membeli indomi goreng telor di burjo selama 10 tahun itu namanya ketahanan pangan, tetapi ketika saya bisa memproduksi makanan sehat yang cukup untuk 10 tahun itu namanya kedaulatan pangan. Sekarang tau kan bedanya?
Berita mantapnya, sekarang ini saya tidak punya dua-duanya. Sebagai orang relijius, kita diajarkan untuk tidak meremehkan kuasa Tuhan untuk memenuhi kebutuhan makan kita esok hari.
Buku ini berisikan suatu hal tentang masalah pangan yang di kemas secara baik dan menarik oleh sang penulis. Yang menurut saya wajib di baca untuk memperoleh prespektif tentang pertanian yang sebeneranya terjadi di dunia. Dan buku ini sangat saya rekomendasi sebagai awal untuk memulai mendalami tentang permasalahan pangan yang sebenarnya terjadi.
"Some books, when written and published in the early 80’s, fade into the distant past without a trace whilst others have a habit of sticking around as something to wave at youngsters that dare to question things. Then there are the books like the Beginners series that, whilst containing some outdated references of predictions of what will happen in 2000, stand something of the test of time and prove useful to aged and new faces alike."
saya tidak membaca buku ini dalam versi bahasa Inggris tapi sudah diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. dan diterjemahkan pertama kali oleh KSPPM (Kelompok Studi Pengembangan Prakarsa Masyarkat) Siborong-Borong, Sumatera Utara tahun 1985.
mungkin kalau anda selesai membaca akan mengeleng-gelengkan kepala atau bahkan geram...karena begitu menguritanya tangan2 yang mempunyai uang, sampai pangan juga dikomersilkan... memang kata cukup tidak ada dalam kamus hidup mereka. kalau bisa terus menguasai dan menguasai. saya coba mengutip kalimat dari buku ini: "si kaya", orang2 atau negara2 "maju" yang menguasai lebih banyak pangan itu, justru lebih menghargai harkat binatang dari pada harkat seorang manusia miskin (lapar)
terus apa yang akan kita buat? Tanya besar akan mengelantung kembali di sela2 hidup yang semakin keras ini...akankah kita terus dijajah yang mungkin kali ini dengan pangan yang katanya negara kita negara agraris...?????
I found this book interesting it only took a day to read the only thing I thought was strange was that there was only a few brief mentions of the huge effect meat eating and other animal products have on these issues
Read this book after 15 odd years. While the data and examples are dated, Susan George does a brilliant job explaining capitalist food systems and the resulting disparity between rich and poor. Can't go wrong with a book with pictures...
5 bintang untuk kontennya saja. -2 karena pemilihan tipografi yang kurang tepat. Di versi terjemahan ini, font di bagian ilustrasi sulit dibaca padahal itu paragraf panjang, bukan sekedar percakapan pendek.