What do you think?


Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah? Kajian atas Konsep Ajaran dan Pemikiran
Sama halnya dengan Persatuan, perbedaan adalah suatu keniscayaan! Islam sangat menoleransi aneka perbedaan yang ada di kalangan pemeluknya. Penghargaan Islam terhadap perbedaan lahir dari keyakinan bahwa perbedaan bukanlah penghalangbagi terciptanya persatuan. Perbedaan tidak identik dengan perselisihan. Perbedaan baru menjadi persoalan serius jika disertai dengan fanatisme buta. Fanatisme semacam inilah yang kerap memicu terjadinya perpecahan.
Sunnah dan Syiah adalah dua aliran besar Islam yang lahir dari Islam yang satu. Sebagai dua saudara, masing-masing memiliki persamaan, juga perbedaan, dari mulai persoalan teologis sampai persoalan yang bersifat furu'iyah (rincian ajaran). Perbedaan keduanya lebih sering kita dengar ketimbang persamaannya. Betulkah demikian, bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu lebih besar daripada persamaannya sehingga mustahil untuk mendamaikannya?
Sunnah dan Syiah adalah dua aliran besar Islam yang lahir dari Islam yang satu. Sebagai dua saudara, masing-masing memiliki persamaan, juga perbedaan, dari mulai persoalan teologis sampai persoalan yang bersifat furu'iyah (rincian ajaran). Perbedaan keduanya lebih sering kita dengar ketimbang persamaannya. Betulkah demikian, bahwa perbedaan antara Sunnah dan Syiah itu lebih besar daripada persamaannya sehingga mustahil untuk mendamaikannya?
304 pages, Paperback
First published January 1, 2014
About the author
M. Quraish Shihab
85 books445 followersProf. Dr. Muhammad Quraish Shihab, MA adalah seorang cendekiawan muslim dalam ilmu-ilmu Al Qur’an dan mantan Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII(1998).
Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Orangtua Quraish Shihab adalah Bapak Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi. Quraish adalah putra ke-empat dari 12 bersaudara. Tiga kakaknya, Nur, Ali dan Umar serta dua adiknya, Wardah dan Alwi Shihab, juga lahir di Rappang. Tujuh adik lainnya yaitu Nina, Sida Nizar, Abdul Mutalib, Salwa dan adik kembar Ulfa dan Latifah, lahir di Kampung Buton.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.
Pada tahun 1958 Ia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al Azhar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz Al-Tasyri’i li Al-Qur’an Al-Karim.
Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, Ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang, Ia juga sempat melakukan beberapa penelitian; antara lain, penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).
Quraish Shihab menikah dengan Fatmawaty Assegaf pada 2 Februari 1975 di Solo. Mereka dikaruniai lima orang anak, Najelaa, Najwa, Nasywa, Ahmad dan Nahla. Najelaa menikah dengan Ahmad Fikri Assegaf dan memiliki tiga anak, Fathi, Nishrin dan Nihlah. Putri kedua, Najwa Shihab menikah dengan Ibrahim Syarief Assegaf dan memiliki dua orang anak, Izzat dan almarhumah Namiya. Putri ke tiga Nasywa, menikah dengan Muhammad Riza Alaydrus, dan memiliki dua orang putri, Naziha dan Nuha. Ahmad Shihab, satu-satunya anak laki-laki dari Quraish Shihab, menikah dengan Sidah Al Hadad.
Tahun 1980 , Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 Ia meraih doktornya dalam bidang ilmu-ilmu Al Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, Ia lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz ma`a martabat al-syaraf al-’ula).
Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, Ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashbih Al Qur’an Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989).
Quraish Shihab juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Saat ini, Quraish Shihab aktif menulis artikel, buku dan karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati. Salah satu karanya yang terkenal adalah Tafsir al-Mishbah, yaitu tafsir lengkap yang terdiri dari 15 volume dan telah diterbitkan sejak 2003.
Selain sebagai penulis, sehari-hari Quraish Shihab memimpin Pusat Studi al-Qur’an, lembaga non profit yang bertujuan untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat yang pluralistik dan menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Qur’an yang profesional.
Ia dilahirkan di Rappang, pada tanggal 16 Februari 1944. Orangtua Quraish Shihab adalah Bapak Abdurrahman Shihab dan Ibu Asma Aburisyi. Quraish adalah putra ke-empat dari 12 bersaudara. Tiga kakaknya, Nur, Ali dan Umar serta dua adiknya, Wardah dan Alwi Shihab, juga lahir di Rappang. Tujuh adik lainnya yaitu Nina, Sida Nizar, Abdul Mutalib, Salwa dan adik kembar Ulfa dan Latifah, lahir di Kampung Buton.
Setelah menyelesaikan pendidikan dasarnya di Ujung Pandang, ia melanjutkan pendidikan tingkat menengah di Malang, yang ia lakukan sambil menyantri di Pondok Pesantren Darul-Hadits Al-Faqihiyyah.
Pada tahun 1958 Ia berangkat ke Kairo, Mesir, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar. Tahun 1967, dia meraih gelar Lc (S-1) pada fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir dan Hadits Universitas Al Azhar. Ia kemudian melanjutkan pendidikan di fakultas yang sama dan pada tahun 1969 meraih gelar MA untuk spesialisasi bidang Tafsir Al Qur’an dengan tesis berjudul Al-I’jaz Al-Tasyri’i li Al-Qur’an Al-Karim.
Sekembalinya ke Ujung Pandang, Quraish Shihab dipercaya untuk menjabat Wakil Rektor bidang Akademis dan Kemahasiswaan pada IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Selain itu, Ia juga diserahi jabatan-jabatan lain, baik di dalam lingkungan kampus seperti Koordinator Perguruan Tinggi Swasta Wilayah VII Indonesia Bagian Timur, maupun di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan mental. Selama di Ujung Pandang, Ia juga sempat melakukan beberapa penelitian; antara lain, penelitian dengan tema “Penerapan Kerukunan Hidup Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).
Quraish Shihab menikah dengan Fatmawaty Assegaf pada 2 Februari 1975 di Solo. Mereka dikaruniai lima orang anak, Najelaa, Najwa, Nasywa, Ahmad dan Nahla. Najelaa menikah dengan Ahmad Fikri Assegaf dan memiliki tiga anak, Fathi, Nishrin dan Nihlah. Putri kedua, Najwa Shihab menikah dengan Ibrahim Syarief Assegaf dan memiliki dua orang anak, Izzat dan almarhumah Namiya. Putri ke tiga Nasywa, menikah dengan Muhammad Riza Alaydrus, dan memiliki dua orang putri, Naziha dan Nuha. Ahmad Shihab, satu-satunya anak laki-laki dari Quraish Shihab, menikah dengan Sidah Al Hadad.
Tahun 1980 , Quraish Shihab kembali ke Kairo dan melanjutkan pendidikan di almamater lamanya. Tahun 1982 Ia meraih doktornya dalam bidang ilmu-ilmu Al Qur’an dengan disertasi yang berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, Ia lulus dengan yudisium Summa Cum Laude disertai penghargaan tingkat I (mumtaz ma`a martabat al-syaraf al-’ula).
Sekembalinya ke Indonesia, sejak 1984 Quraish Shihab ditugaskan di Fakultas Ushuluddin dan Fakultas Pasca Sarjana IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta. Selain itu, di luar kampus, Ia juga dipercayakan untuk menduduki berbagai jabatan. Antara lain: Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984); Anggota Lajnah Pentashbih Al Qur’an Departemen Agama (sejak 1989); Anggota Badan Pertimbangan Pendidikan Nasional (sejak 1989).
Quraish Shihab juga banyak terlibat dalam beberapa organisasi profesional; antara lain: Pengurus Perhimpunan Ilmu-Ilmu Syari`ah; Pengurus Konsorsium Ilmu-Ilmu Agama Departemen Pendidikan dan Kebudayaan; dan Asisten Ketua Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).
Saat ini, Quraish Shihab aktif menulis artikel, buku dan karya-karyanya diterbitkan oleh Penerbit Lentera Hati. Salah satu karanya yang terkenal adalah Tafsir al-Mishbah, yaitu tafsir lengkap yang terdiri dari 15 volume dan telah diterbitkan sejak 2003.
Selain sebagai penulis, sehari-hari Quraish Shihab memimpin Pusat Studi al-Qur’an, lembaga non profit yang bertujuan untuk membumikan al-Qur’an kepada masyarakat yang pluralistik dan menciptakan kader mufasir (ahli tafsir) al-Qur’an yang profesional.
Ratings & Reviews
Friends & Following
Create a free account to discover what your friends think of this book!
Community Reviews
Displaying 1 - 6 of 6 reviews
December 13, 2014
Seandainya saja ente adalah seorang milanisti, akan sangat mudah dimaklumi kenapa ente membenci Internazionale dan menganggap interisti adalah orang-orang yang tersesat. Begitu pula sebaliknya. Aku aja bisa paham apalagi Anda semua, duhai pembaca nan budiman. Tingkat kefanatikan seseorang terhadap golongannya jika sudah mencapai taraf ekstrim seringnya memang tidak nalar. Apapun yang dilakukan pihak seberang akan dianggapnya sebagai sebuah kebejatan. Jika pun mereka yang di seberang itu aslinya tidaklah sebejat cap yang mereka berikan, mereka akan bersikeras, pihak seberang kebetulan sedang berpura-pura tidak bejat sahaja.
Tapi bagaimana aku bisa berpihak pada salah 1 dari mereka? Baik AC Milan maupun Internazionale, dewa beta, Roberto Baggio, pernah menjadi protagonista di 2 klub tersebut. Membenci salah 1-nya cuma akan membuatku dicap sebagai pemuja Roberto Baggio yang tidak kaffah, yang berusaha mengingkari bin berpaling dari jalan yang telah dilalui dan ditunjukkan oleh Mas Baggio yang kebetulan bukan temennya Darto Helm dan S. Diran itu.
Begitu juga dengan polemik di media sosial yang nggak ada habisnya tentang perseteruan Sunni-Syiah. Pendukung Sunni yang matanya sudah gelap akan selalu menganggap orang Syiah sebagai makhluk sesat yang perlu dibasmi, tukang ngibul yang hobi mengadu-domba. Itu wajar. Namanya juga orang gelap mata, tindak-tanduknya – ya seperti yang tadi ta’bilang – sering kali memang nggak masuk nalar.
Aku pernah ngobrol sama seorang adik kelasku. Dia cewek. Ketika status Blekberi Mesej-ku sedang menunjukkan bahwa aku sedang membaca buku tentang Syiah, dia langsung mempertanyakan aksiku itu. Tanpa perlu berpanjang-lebar menjabarkan omongannya, intinya dia lumayan heran, ngapain juga aku yang tampan ini baca-baca buku tentang Syiah? Toh setaunya dia, aku ini bermazhab Sunni Syafi’i, sepertinya jamaknya orang Endonesa yang beragama Islam lainnya.
Kujawab saja kalau aku memang sedang kepengen tau tentang Syiah, dari pendapat yang netral, bukan dari pendapat manusia yang sejak awal memang berniat mengajak orang lain untuk ikut memusuhi Syiah sebagaimana dia memusuhi mereka.
Lha, adik kelasku ini kontan heran. Apalagi yang perlu kupahami tentang Syiah? Toh Syiah memang sudah jelas sesat. Betapa percumanya aku membuang-buang waktu untuk mempelajari sebuah hal yang sudah terbukti kengawurannya.
Kutanya, dia selama ini belajar Syiah dari siapa, yang dijawabnya kalau dia mendapat segala informasi tentang Syiah dari pengajian-pengajian yang diikutinya, yang menerangkan betapa sesatnya Syiah.
Kutanya lagi, apa dia pernah mencoba kroscek, bertanya langsung, berusaha mengklarifikasi ke orang Syiah-nya langsung tentang segala informasi yang didengarnya?
Jawaban berikutnya cukup membuatku geli. Dia bilang, ngapain juga belajar sama yang sudah jelas sesat? Ngapain juga berusaha mengklarifikasi ke orang yang pastinya akan berbohong dan mengingkari fakta-fakta yang selama ini didengarnya? Sungguh itu sebuah perbuatan sia-sia. Kasarannya, maling mana ada yang mau ngaku.
Tentu saja aku gatel :twisted: Yang beginian perlu kuhajar sampai sujud-sujud dengan argumen-argumen yang kuyakin tidak akan bisa dibantahnya. Hal itu kulakukan. Dia kuceramahi, dan pada akhirnya kayaknya dia jadi betul-betul sujud. Dia tidaklah merespon argumen-argumenku secara langsung. Yang ada ya ngeles sana ngeles sini dan ujung-ujungnya dia malah pamit, katanya mau shalat ashar dulu :mrgreen:
Dan buku yang sedang kubaca waktu itu berjudul “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?: Kajian Atas Konsep dan Pemikiran” karangannya Quraish Shihab.
syiah
Buku ini betul-betul kampret! Isinya bagus. Sumprit! Buku ini memang tidak begitu tebal. Halamannya cuma berjumlah 303. Tapi dengan jumlah halaman yang cuma segitu itu, menurutku buku ini sudah cukup komprehensif menjelaskan bagian-bagian tentang Syiah yang selama ini sering disalah-salahkan oleh ustadz-ustadz amatiran, yang aku sendiri nggak yakin apa mereka-mereka itu tau bahwa Syiah itu sendiri terbagi lagi menjadi banyak kelompok: ada yang As-Sabaiyah, ada yang Al-Khaththabiyah, Al-Ghurabiyah, Al-Qaramithah, Ismailiyah Nizary, Ismailiyah Musta’ly, Az-Zaidiyah, Istna Asyariah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Masing-masing kelompok ini punya karakter yang beda 1 sama lain, persis kayak betapa berbedanya kelompok yang 1 dan yang lainnya dalam kategori Sunni. Pendeknya, tidaklah bisa jika Syiah itu dipukul rata bahwa mereka ngawur semuanya.
Lebih jauh lagi buku ini juga menjelaskan tentang Rukun Iman dan Rukun Islam-nya Syiah yang digosipkan beda dengan versinya Sunni (dan ternyata substansinya nggak ada beda!), lalu juga masalah imamah, masalah kitab suci yang lagi-lagi digosipkan beda (nyatanya juga nggak!), sikap mereka terhadap sahabat-sahabat Nabi (yang kata orang Sunni ngasal, orang Syiah hobi mencaci sahabat Nabi), tentang taqiyah yang menyebabkan orang Syiah dianggap sebagai juara ngapusi seantero bumi, sampai juga soal-soal rincian agama lainnya yang mencakup shalat, zakat, puasa, haji, nikah dan cerai, juga lainnya.
Dari buku ini juga aku membaca bahwa ulama-ulama jaman dulu, baik Sunni ataupun Syiah, ternyata belajar 1 sama lain. Beberapa keterangan di buku ini juga mencuplik pendapatnya ulama-ulama – ya yang jaman dulu, ya yang jaman sekarang – yang setelah membaca buku ini barulah aku tahu nama besar dan karya-karya mereka, misalnya aja beberapa nama jebul adalah dosen top dari Al Azhar macam Ahmad Muhammad ath-Thayyib atau Muhammad Imarah.
Arah buku ini sebenarnya, sih, sudah ketauan dari judulnya: ketimbang konsen ke perbedaan ajaran antara Sunni dan Syiah, buku ini lebih menekankan ke arah persamaannya. Lagi pun jika perbedaan itu memang ada, toh perbedaan itu tidak berada di level substansi dasar ajaran Islam, melainkan lebih ke cabang-cabangnya, yang mana kalau mau kita sadari antara NU dan Muhammadiyah di negeri ini pun juga masih saling berbeda di persoalan shalat subuh itu pakai qunut atau tidak atau juga di perkara yasinan dan tahlilan dalam rangka memperingati orang yang sudah meninggal.
Akhirul kalam, menurutku buku ini memang sangat layak baca, terutama buat yang kepengen tahu tentang Syiah dari sudut pandang yang berusaha netral. Tapi tentu saja sebaliknya pula. Buku ini tidak akan cocok buat mereka yang level kebutaan dan kebenciannya terhadap Syiah sudah sangat terpatri di sanubari. Untuk jenis yang terakhir ini, sudah seharusnya kita sangat memaklumi ketika mereka berkomentar, “Lha, itu yang ngarang bukunya sendiri aja juga orang Syiah. Jadi buat apa kita ikutan mbaca? Toh pasti isi buku itu ya kibul-kibulan ala mereka semua,” meskipun Pak Quraish sendiri sudah membantah kalau mazhabnya bukanlah Syiah. Tapi kembali, wajar saja ketika mereka kembali berucap, “Mana ada maling yang mau ngaku?” :mrgreen:
Tapi bagaimana aku bisa berpihak pada salah 1 dari mereka? Baik AC Milan maupun Internazionale, dewa beta, Roberto Baggio, pernah menjadi protagonista di 2 klub tersebut. Membenci salah 1-nya cuma akan membuatku dicap sebagai pemuja Roberto Baggio yang tidak kaffah, yang berusaha mengingkari bin berpaling dari jalan yang telah dilalui dan ditunjukkan oleh Mas Baggio yang kebetulan bukan temennya Darto Helm dan S. Diran itu.
Begitu juga dengan polemik di media sosial yang nggak ada habisnya tentang perseteruan Sunni-Syiah. Pendukung Sunni yang matanya sudah gelap akan selalu menganggap orang Syiah sebagai makhluk sesat yang perlu dibasmi, tukang ngibul yang hobi mengadu-domba. Itu wajar. Namanya juga orang gelap mata, tindak-tanduknya – ya seperti yang tadi ta’bilang – sering kali memang nggak masuk nalar.
Aku pernah ngobrol sama seorang adik kelasku. Dia cewek. Ketika status Blekberi Mesej-ku sedang menunjukkan bahwa aku sedang membaca buku tentang Syiah, dia langsung mempertanyakan aksiku itu. Tanpa perlu berpanjang-lebar menjabarkan omongannya, intinya dia lumayan heran, ngapain juga aku yang tampan ini baca-baca buku tentang Syiah? Toh setaunya dia, aku ini bermazhab Sunni Syafi’i, sepertinya jamaknya orang Endonesa yang beragama Islam lainnya.
Kujawab saja kalau aku memang sedang kepengen tau tentang Syiah, dari pendapat yang netral, bukan dari pendapat manusia yang sejak awal memang berniat mengajak orang lain untuk ikut memusuhi Syiah sebagaimana dia memusuhi mereka.
Lha, adik kelasku ini kontan heran. Apalagi yang perlu kupahami tentang Syiah? Toh Syiah memang sudah jelas sesat. Betapa percumanya aku membuang-buang waktu untuk mempelajari sebuah hal yang sudah terbukti kengawurannya.
Kutanya, dia selama ini belajar Syiah dari siapa, yang dijawabnya kalau dia mendapat segala informasi tentang Syiah dari pengajian-pengajian yang diikutinya, yang menerangkan betapa sesatnya Syiah.
Kutanya lagi, apa dia pernah mencoba kroscek, bertanya langsung, berusaha mengklarifikasi ke orang Syiah-nya langsung tentang segala informasi yang didengarnya?
Jawaban berikutnya cukup membuatku geli. Dia bilang, ngapain juga belajar sama yang sudah jelas sesat? Ngapain juga berusaha mengklarifikasi ke orang yang pastinya akan berbohong dan mengingkari fakta-fakta yang selama ini didengarnya? Sungguh itu sebuah perbuatan sia-sia. Kasarannya, maling mana ada yang mau ngaku.
Tentu saja aku gatel :twisted: Yang beginian perlu kuhajar sampai sujud-sujud dengan argumen-argumen yang kuyakin tidak akan bisa dibantahnya. Hal itu kulakukan. Dia kuceramahi, dan pada akhirnya kayaknya dia jadi betul-betul sujud. Dia tidaklah merespon argumen-argumenku secara langsung. Yang ada ya ngeles sana ngeles sini dan ujung-ujungnya dia malah pamit, katanya mau shalat ashar dulu :mrgreen:
Dan buku yang sedang kubaca waktu itu berjudul “Sunnah Syiah Bergandengan Tangan! Mungkinkah?: Kajian Atas Konsep dan Pemikiran” karangannya Quraish Shihab.
syiah
Buku ini betul-betul kampret! Isinya bagus. Sumprit! Buku ini memang tidak begitu tebal. Halamannya cuma berjumlah 303. Tapi dengan jumlah halaman yang cuma segitu itu, menurutku buku ini sudah cukup komprehensif menjelaskan bagian-bagian tentang Syiah yang selama ini sering disalah-salahkan oleh ustadz-ustadz amatiran, yang aku sendiri nggak yakin apa mereka-mereka itu tau bahwa Syiah itu sendiri terbagi lagi menjadi banyak kelompok: ada yang As-Sabaiyah, ada yang Al-Khaththabiyah, Al-Ghurabiyah, Al-Qaramithah, Ismailiyah Nizary, Ismailiyah Musta’ly, Az-Zaidiyah, Istna Asyariah, dan masih banyak lagi yang lainnya. Masing-masing kelompok ini punya karakter yang beda 1 sama lain, persis kayak betapa berbedanya kelompok yang 1 dan yang lainnya dalam kategori Sunni. Pendeknya, tidaklah bisa jika Syiah itu dipukul rata bahwa mereka ngawur semuanya.
Lebih jauh lagi buku ini juga menjelaskan tentang Rukun Iman dan Rukun Islam-nya Syiah yang digosipkan beda dengan versinya Sunni (dan ternyata substansinya nggak ada beda!), lalu juga masalah imamah, masalah kitab suci yang lagi-lagi digosipkan beda (nyatanya juga nggak!), sikap mereka terhadap sahabat-sahabat Nabi (yang kata orang Sunni ngasal, orang Syiah hobi mencaci sahabat Nabi), tentang taqiyah yang menyebabkan orang Syiah dianggap sebagai juara ngapusi seantero bumi, sampai juga soal-soal rincian agama lainnya yang mencakup shalat, zakat, puasa, haji, nikah dan cerai, juga lainnya.
Dari buku ini juga aku membaca bahwa ulama-ulama jaman dulu, baik Sunni ataupun Syiah, ternyata belajar 1 sama lain. Beberapa keterangan di buku ini juga mencuplik pendapatnya ulama-ulama – ya yang jaman dulu, ya yang jaman sekarang – yang setelah membaca buku ini barulah aku tahu nama besar dan karya-karya mereka, misalnya aja beberapa nama jebul adalah dosen top dari Al Azhar macam Ahmad Muhammad ath-Thayyib atau Muhammad Imarah.
Arah buku ini sebenarnya, sih, sudah ketauan dari judulnya: ketimbang konsen ke perbedaan ajaran antara Sunni dan Syiah, buku ini lebih menekankan ke arah persamaannya. Lagi pun jika perbedaan itu memang ada, toh perbedaan itu tidak berada di level substansi dasar ajaran Islam, melainkan lebih ke cabang-cabangnya, yang mana kalau mau kita sadari antara NU dan Muhammadiyah di negeri ini pun juga masih saling berbeda di persoalan shalat subuh itu pakai qunut atau tidak atau juga di perkara yasinan dan tahlilan dalam rangka memperingati orang yang sudah meninggal.
Akhirul kalam, menurutku buku ini memang sangat layak baca, terutama buat yang kepengen tahu tentang Syiah dari sudut pandang yang berusaha netral. Tapi tentu saja sebaliknya pula. Buku ini tidak akan cocok buat mereka yang level kebutaan dan kebenciannya terhadap Syiah sudah sangat terpatri di sanubari. Untuk jenis yang terakhir ini, sudah seharusnya kita sangat memaklumi ketika mereka berkomentar, “Lha, itu yang ngarang bukunya sendiri aja juga orang Syiah. Jadi buat apa kita ikutan mbaca? Toh pasti isi buku itu ya kibul-kibulan ala mereka semua,” meskipun Pak Quraish sendiri sudah membantah kalau mazhabnya bukanlah Syiah. Tapi kembali, wajar saja ketika mereka kembali berucap, “Mana ada maling yang mau ngaku?” :mrgreen:
July 24, 2017
seseorang atau individu tak akan saling mengenal apabila bukan secara pendekatan untuk saling bertukar pendapat dan belajar dari perbedaan.
pengenalan dengan berdasar pendapat dari golongannya nya tidak akan ketemu titik terang dari permasalahan yang dibahas.
ego menjadikan pokok fundamental dari informasi negative yang diterimanya sehingga menolak ideologi lain selainnya tanpa memahaminya terlebih dahulu layaknya sifat dasar manusia yang paling absurd.
kaum merasa benar melahirkan fanatisme sampai akalpun tak menerimanya. tujuan dasar dari kepercayaan menjadi menyimpang dari sifat awal akan kebaikan.
buku ini menjelaskan akan persamaan tanpa menyudutkan pihak lain.
pengenalan dengan berdasar pendapat dari golongannya nya tidak akan ketemu titik terang dari permasalahan yang dibahas.
ego menjadikan pokok fundamental dari informasi negative yang diterimanya sehingga menolak ideologi lain selainnya tanpa memahaminya terlebih dahulu layaknya sifat dasar manusia yang paling absurd.
kaum merasa benar melahirkan fanatisme sampai akalpun tak menerimanya. tujuan dasar dari kepercayaan menjadi menyimpang dari sifat awal akan kebaikan.
buku ini menjelaskan akan persamaan tanpa menyudutkan pihak lain.
March 25, 2019
Terlalu banyak typo, memang tidak membuat isi buku jadi berubah. Sebenarnya penerbit Lentera Hati punya editor ga ya? Hampir semua buku karya M. Quraish Shihab saya baca, dan di semua buku itu pasti ada typo yang jumlahnya cukup signifikan.
Isi bukunya sendiri buat saya sangat penting untuk memahami bahwa 1) Prof. M Quraish Shihab bukan seorang Syiah; 2) Tak kenal maka tak sayang, buku ini pas untuk pemula yang ingin mempelajari latar belakang Syiah, perkembangan dan ajarannya, seperti Syiah 101 lah; 3) Ada pihak-pihak yang memang sengaja memelihara konflik antara Sunni dan Syiah; 4) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, biar bermanfaat, jangan pake prejudice dan jangan mencari-cari kesalahan dari penulis, dari golongan yang berbeda, atau mencari pembenaran atas ide yang sudah tertanam.
Isi bukunya sendiri buat saya sangat penting untuk memahami bahwa 1) Prof. M Quraish Shihab bukan seorang Syiah; 2) Tak kenal maka tak sayang, buku ini pas untuk pemula yang ingin mempelajari latar belakang Syiah, perkembangan dan ajarannya, seperti Syiah 101 lah; 3) Ada pihak-pihak yang memang sengaja memelihara konflik antara Sunni dan Syiah; 4) Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu, biar bermanfaat, jangan pake prejudice dan jangan mencari-cari kesalahan dari penulis, dari golongan yang berbeda, atau mencari pembenaran atas ide yang sudah tertanam.
May 24, 2025
Buku ini berusaha menjembatani berbagai perbedaan antara sunnah dan syiah. Sisi persamaan lebih ditonjolkan . Jalan tengah dan toleransi sebagai nilai liberal adalah pesan utamanya.
Kalau dilihat pada masa sekarang ketika aqidah telah bercampur dengan politik dan kepentingan apakah semua utopia ini akan terwujud?
Kalau dilihat pada masa sekarang ketika aqidah telah bercampur dengan politik dan kepentingan apakah semua utopia ini akan terwujud?
October 21, 2015
Buku ini bagus! Sampai saat ini, buku ini yang cukup mencerahkan saya tentang siapa sunni dan siapa syiah.
Buku ini juga sempat heboh diperdebatkan dan ditolak oleh beberapa kelompok yang sangat keras menolak syiah hingga bahkan pengarangnya dianggap golongan syiah.
Silahkan dibaca, setuju atau tidak, itu terserah anda. Yang pasti, jangan menyebarkan syiar kebencian+kekerasan sebelum tahu betul siapa kaum tersebut.
Buku ini juga sempat heboh diperdebatkan dan ditolak oleh beberapa kelompok yang sangat keras menolak syiah hingga bahkan pengarangnya dianggap golongan syiah.
Silahkan dibaca, setuju atau tidak, itu terserah anda. Yang pasti, jangan menyebarkan syiar kebencian+kekerasan sebelum tahu betul siapa kaum tersebut.
May 31, 2016
Dari buku ini kita bs paham kenapa Syiah itu ada? Yg ternyata akarnya masalah politik dan perebutan hak jadi khalifah. That's it.
Banyak perbedaan dgn Sunni tp pada dasarnya rujukannya tetap Rasulullah. Di Syiah pun ada yg sesat, begitu halnya di Sunni.
All and all, berbuatlah adil sejak dalam pikiran seperti nasihat Kanjeng Pramoedya
Banyak perbedaan dgn Sunni tp pada dasarnya rujukannya tetap Rasulullah. Di Syiah pun ada yg sesat, begitu halnya di Sunni.
All and all, berbuatlah adil sejak dalam pikiran seperti nasihat Kanjeng Pramoedya
Displaying 1 - 6 of 6 reviews






