Senang rasanya bahwa buku ini dapat menjadi bahan referensi dalam mengeksplor nilai lokal khususnya di Soppeng, SulSel. Terlebih jika buku ini nantinya bisa dibicarakan di forum yang lebih luas :)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Betapa berat rasanya ketika keinginan berbicara tak diikuti dengan kemampuan untuk mengatakan, yang ada hanya kebisuan.
Cukup kaget ternyata buku ini mengambil setting di Soppeng, kota yang cukup familiar buat saya, ini membuat ceritanya jadi lebih personal walaupun pemahamanku tentang bissu tidak ada sama sekali. Sebuah tulisan eksperimental yang mengangkat budaya lokal Sulawesi Selatan ini menceritakan pengalaman dan gejolak mental seorang bissu. Cerita tentang mimpi dalam mimpi dalam mimpi ini cukup intriguing dan sempat membuat saya bertanya-tanya yang mana yang real dan mana yang mimpi. Begitu pun dengan sosok narator di tiap-tiap cerita yang cukup membingungkan, hingga tiba di penghujung buku saya cukup terkesima dengan pengungkapan endingnya.
Menurut keyakinan saya, leluhur suku Bugis itu "ahead of their time". Di masa kini, di mana masyarakat memandang gender itu biner (pria dan wanita) justru orang Bugis di masa lalu telah memiliki sistem sosial yg kompleks dan inklusif terkait gender. Mereka mengenal lima kategori gender: Oroane (laki-laki), Makunrai (perempuan), Calalai, Calabai, dan Bissu.
Di masa lalu, Bissu bukan sekadar identitas, melainkan figur sakral, yaitu pemimpin ritual, penjaga harmoni, penghubung antara dunia manusia dengan dunia dewa. Mereka dihormati dan memiliki tempat dalam tatanan masyarakat Bugis.
Dalam salah satu bagian cerita, Seratus Tahun Kebisuan membuka luka yg acap kali disangkal: perburuan dan pemusnahan terhadap mereka yang dianggap “menyimpang” oleh tafsir agama yang dipersenjatai. Melalui kisah Operasi Mappatoba’ pada 1960-an, di mana pasukan DI/TII memburu para Bissu, memaksa mereka menjadi “laki-laki”, dan menjadikan kematian sebagai ganjaran bagi yg menolak tunduk. Kini, ketika konservatisme melingkupi kehidupan bermasyarakat di Indonesia (khususnya di tanah Bugis),Bissu nyaris tersingkir dari peran sosial yg dahulu begitu penting.
"Betapa berat rasanya ketika keinginan berbicara tak diikuti dengan kemampuan untuk mengatakan, yang ada hanya kebisuan."