APA YANG LEBIH GAWAT DARI DIJADIKAN KONTAK DARURAT TANPA IZIN?
NGGAK PUNYA UANG GAWAT DARURAT!
Indy bekerja sebagai funding officer, tipikal budak korporat ibu kota dengan goal finansial: ingin punya uang gawat darurat . Mirisnya, setiap mengumpulkan dana untuk keperluan darurat, ada saja kebutuhan yang tiba-tiba muncul. Bukan hanya kebutuhannya saja, tetapi juga seluruh anggota rumah: ayahnya, ibunya, dan terutama, adiknya yang pengangguran.
Untungnya, Indy punya sahabat sepenanggungan. Bayu, seorang staf IT yang sedang berjuang keras menabung untuk menikah. Tepatnya, untuk biaya pernikahan kakak perempuannya yang ditakutkan akan menjadi perawan tua.
Apakah mereka bisa keluar dari peliknya masalah finansial yang sering dihadapi generasi masa kini?
Indy sedang berusaha mengumpulkan dana darurat. Tapi, baru kekumpul sedikit, plafon kamar ambruk, hape rusak kepental sama orang lain, belum lagi adek nabrak mobil orang dan kudu bayar ganti rugi. Gimana mau uang dana darurat kekumpul, tiap hari aja udah darurat?
Uang Gawat Darurat bercerita tentang struggle-nya Indy mengumpulkan dana darurat—ditemani oleh Bayu, sahabat [jadi cinta] yang harus nabung untuk pernikahan kakaknya [soalnya ibunya mau pesta yang besar]. Dan menjelmalah Indy serta Bayu menjadi soon to be couple sandwich generation.
Berbeda dengan novel "sejenis" yang di mana kalau female/male lead-nya yang struggle secara ekonomi, tapi pasangannya tuh stabil. Kalau yang ini, keduanya sama-sama struggle. Yang justru selain melengkapi—tetapi juga menemaninya lebih terasa karena sama-sama merasakan.
Sebenarnya ada yang agak aneh menurutku adalah Indy kerjanya di perbankan, bahkan akrab banget tuh sama deposito klien. Tapi, malah Bayu yang kerja di IT yang ngasih tahu Indy soal investasi dan hati-hati sama kerjaan yang berpotensi cuan—tapi bodong. Padahal dari segi kerjaan harusnya Indy yang lebih aware soal keuangan, tapi ini malah Bayu.
Relasi Indy dan keluarganya yang awalnya aku anggap mereka adalah "beban"—terutama adeknya [tetap beban sih sampe akhir, tapi rada mending dikit]—mulai sedikit "melunak" kepada Indy. Ya, setidaknya ada closure dari orang tuanya kepada Indy agar nggak struggle sendirian lagi.
Kalau di Pay Sooner or Later, romansanya dikit banget, di sini malah lumayan tumpah tumpah, ya. Suka deh kalau Bayu udah cemburu gitu. Makanya jangan lagi beralasan takut persahabatan rusak karena menyimpan rasa, this is too cliche di trope friends to lovers. And finally Bayu took step ahead!
❝... gue bukan hanya mau jadi kontak darurat lo aja, ndy. gue juga kepengin jadi rencana jangka panjang lo.❞ - p. 205
Akhir kata, jika kamu sedang struggle mengumpulkan dana darurat untuk kehidupanmu yang selalu darurat, buku ini direkomendasikan.
kedua kalinya gue baca nopel Adrindia. Lagi2 tokohnya kerja berhubungan sama duit. tapi kali ini konfliknya tentang indy yang fokus ngumpulin uang buat dana darurat yang banyak eh malah pengeluaran boncos mulu. terus dia juga sebelas dua belas kek aluna. tapi nggak sehard kaluna. lumayan lah bikin konfliknya meningkat dan nggak datar2 banget. sayang percintaannya sama tetangganya itu lurus2 aja. nggak ada tantangannya malah lebih seru percintaan alia. gue suka sih bagian indy dideketin arsa buat dipinjemin duit doang. lagi2 nopel adrindia berasa relate sama hidup gue wkwkwkw
intinya nopel ini bagusss. enak dibaca sekali duduk. nggak tebel2 banget cuma 220 lebih dikit.
Cerita personal yang punya aroma menusuk hidung pembaca. Secara pribadi aku menemukan diriku dalam cerita ini. Tentang seorang gadis yang harus bertangungjawab akan finansial keluarga, dibangun dengan pelan dan diam-diam tampak nyata di depan mata.
Gaya penulisannya lincah, efektif menghanyutkan pembaca. Alurnya juga rapi, seperti habis dihilangkan kerutannya menggunakan alat pemanas. Karakter Indy dibangun dengan baik, perannya cukup memberi simpati, pembaca akan mudah menyukainya. Begitu pula Bayu, kelihatan sangat manis dan sosok yang memikat.
Tema yang diangkat menarik yaitu tentang Finansial, uang gawat darurat. Tentunya konflik yang bergulir juga tak jauh dari hal itu. Awal-awal alurnya berjalan pelan, kemudian menanjak dengan kekuatan penuh, untungnya nggak membuat pembaca terjungkal. Karena sudut pandang orang ketiga yang bisa mengendalikan cerita, meski condong ke Indy. Aku suka dengan premisnya, dan ini termasuk selera bacaku. Drama keluarga, romansa tipis, paduan yang memikat.
Konfliknya kurang gereget, tokoh antagonisnya abu-abu. Aku berharap akan ada masalah besar yang akan menjegal jalan Indy. tapi rupanya itu tak terjadi Diakhiri dengan baik juga selesai dengan napas lega. Eksekusinya berhasil membuat pembaca mengira-ngira, walau tak terlalu mengejut-kan, tetap saja buku ini membuat pembaca berpikir keras akan apa yang terjadi.
Kalau hanya melihat judul dan membaca blurb saja, maka pertama kali yang akan terlintas dalam kepala adalah tentang pentingnya uang gawat darurat. Seseorang yang sudah lama menabung untuk sesuatu dan harus menghabiskan uang tersebut untuk sesuatu yang lain. Bahkan aku berpikir bahwa seseorang yang mengalami kesulitan finansial karena tak pernah memperhitungkan adanya pengeluaran darurat.
Tak sepenuhnya benar, tapi juga tak salah. Karena memang uang gawat darurat itu perlu. Dari karakter ini, pembaca belajar akan pentingnya punya uang gawat darurat. Yang lebih menonjol di sini justru cerita keluarga. Hubungan kakak-adik, juga ibu-anak. Bagian paling menarik saat membahas tentang pernikahan. Menikah itu bukan perlombaan, siapa cepat dia yang menang. Begitu pula soal memilih jodoh, bukan hanya asal mau. Pernikahan juga soal finansial, bukan karena siap dan mau, tapi harus dipikirkan matang-matang masa depan. Uang Gawat Darurat juga memberikan pesan bahwa orang yang tiba-tiba mendekati kita, pasti ada sesuatu yang diharapkan. Berhati-hati jangan sembarangan menerima uluran tangan seseorang. Masalah uang itu rumit, dunia bisa porak poranda karenanya, bukan hanya pertemanan saja, bahkan keluarga pun bisa terpecah belah karena uang mata pisau yang bisa membabat siapa saja itu bernama uang Indy yang harus bersitegang dengan Rika masalah uang, karena adiknya itu belum bekerja dan menjadi beban keluarga Begitu juga tokoh lain yang tak luput dari jeratan uang.
Novel romansa yang punya rasa buku pengembangan diri seputar finansial, dua dalam satu. Romansanya dapat, seputar finansial juga dapat. Menarik, tak hanya menyajikan kisah cinta yang dimulai darı pertemanan saja, tapi juga bagaimana mengolah keuangan. Setting cerita juga tak monoton, perkembangan karakternya juga baik Hampir tak memiliki lubang plot.
Satu hal, kehangatan keluarga dalam cerita ini akan sedikit mengingatkan pembaca pada diri sendiri. Intrik keluarga seperti perselisihan antar saudara, orang tua yang punya kesan tak adil terhadap anak-anaknya, hingga dibandingkan antar anak. Tentunya sangat dekat dikehidupan. Aku sendiri merasa tersentil, tak terasa aku menemukan diriku di sini. Memang konfliknya tak terlalu menyakitkan, tapi berhasil menyita perhatian. Jika pembaca ingin suatu cerita yang membuat kepala pusing, emosi meluap maka bukan dengan buku ini. Sebab, buku ini lebih berfokus agar pembaca memiliki manajemen keuangan yang baik. Menggunakan uang tepat, tidak boros dan jangan sekali-kali meminjamkan uang ke orang yang salah.
Aku paling suka dengan formula yang disajikan oleh penulis. Penulisannya juga lembut, apalagi dialognya yang enggak asal keluar dari mulut. Motifnya kuat, latar belakangnya juga. Apalagi interaksi yang ditimbulkan oleh Indy dan Bayu, menggemaskan. Sayangnya, akhirnya sedikit menggantung. Memang semua konflik terselesaikan. Indy dan Bayu ini tipe karakter yang gampang disukai. Mungkin juga novel ini sedikit mengingatkan dengan novel bertema serupa, tapi percayalah bahwa novel ini punya jalannya sendiri.
Gaji pas-pasan, jadi sandwich generation pula, boro-boro mau punya dana darurat, uang di rekening aja cuma numpang lewat, huft. Yep, itulah yang terjadi pada Indy, seorang budak korporat yang punya tujuan finansial yaitu punya uang gawat darurat. Indy selalu jadi kontak darurat apabila keluarganya membutuhkan sesuatu, secara hanya dia yang berpenghasilan tetap di rumah itu. Apalagi kalau tiba-tiba ada keadaan darurat kayak plafon rumah yang roboh, hal tak terduga seperti itu bikin Indy makin capek karena pengeluaran darurat dan membuat ia harus menekan kebutuhannya.
First thing first, aku suka style penulis dalam menulis. Bukan satset dasdes jadi kalimat, tetapi kalimatnya tuh kaya dan padat tetapi mudah dipahami. Entah kenapa suka aja cara berceritanya. Lalu tema yang diangkat, aduh, ini sangat relate sekali dengan kehidupan. Ada dua konflik utama di buku ini, yaitu konflik keluarga yang berfokus dengan uang dan konflik percintaan yang dasarnya punya masalah yang sama. Konflik keluarga berfokus pada bagaimana hubungan Indy dengan Ibu, Bapak, dan Rika. Sebagai kakak tertua yang jadi sandaran keluarganya, tentunya Indy capek selalu dijadikan kontak darurat. Sebenarnya semua perasaan di keluarga ini sangatlah valid, toh setiap orang punya cerita dan perjuangannya masing-masing. Aku suka sekali closure antar-keluarga yang masuk akal seperti di novel ini. Bukan dibuat-buat layaknya fiksi dan drama, tetapi penggambarannya seperti ada di dunia nyata.
Lalu ada konflik percintaan antara Indy dan Bayu yang sudah berteman sejak SD, tetapi satu sama lain memendam perasaan yang sama. Aku suka sekali sifat Bayu yang selalu jadi pendengar bagi Indy mengeluarkan keunekannya. Kadang cekikikan gemes lihat tingkah mereka berdua yang saling suka tetapi tak sadar-sadar, apalagi si Indy haha.
Selain tentang uang, aku juga suka bagaimana topik pernikahan diangkat di novel ini. Sudah jadi topik umum lah ya, perempuan selalu dirong-rong untuk segera menikah dan katanya punya waktu kadaluwarsa. Aduh, bener-bener dah, apalagi baca bagian ibunya Alia dan Bayu, nyebut mulu bacanya buuuu.
Ada satu scene yang aku suka tuh sewaktu Indy dan Rika mengeluarkan unek-uneknya. Demi apa beneran nangis karena dua-duanya sama-sama capek dengan jungkir balik kehidupannya masing-masing. Dan ya, suka banget closure-nya kakak beradik ini. Sehat dan lancar rezekinya wahai kalian perempuan berdaya.
Sangat aku rekomendasikan untuk baca bukunya karena bagus dan sangat relate dengan kehidupan. Bisa untuk hiburan, bisa juga untuk refleksi kehidupan. Personal rate dariku 4.5☆.
Indy, memiliki prinsip bahwa hidup tidak hanya untuk bekerja keras, tetapi juga bekerja pintar.
Menurut artikel yg dibacanya, seseorang perlu menyiapkan dana darurat sebesar tiga sampai enam kali biaya pengeluara".
Dibuku ini tuh mengajarkan aku dan ngingetin aku betapa pentingnya kita itu harus punya yang namanya uang darurat. Dimana uang buat keperluan, tabungan buat diri sendiri dan uang darurat yg harus terpisah.
Indy, yang merupakan anak pertama. Dimana dia yg harus kuat, untuk membantu finansial keluarga, karna masa pandemi ayahnya jadi tidak kerja dan akhirnya membuka warung sama ibunya, dan adiknya yg masih menganggur. Padahal selama masa sekolah indy dan adiknya rika selalu dibandingkan sama orang² karena dia yg hanya dapat nilai pas pasan sedangkan adiknya yg berprestasi yg di gadang gadang punya masa depan yg cerah.
Indy mempunya sabahat bernama bayu yg selalu menjadi tempat curhat dan dirinya mengeluh kesah. Terkadang dimintai pendapat dan keputusan apa yg harus indy ambil.
Indy yg selalu dipusing dengan masalah keuangan darurat sedangkan bayu ini dia yg menabung untuk biaya pernikahan kakaknya alia yang harus segera menikah.
Disini diceritakan juga perempuan itu seperti ada kadar kadaluarsanya. Dimana jika diusia dewasa dan belum menikah mereka akan di cap perawan tua dan yg udah kelewat dewasa baru nikah mereka dapat omongan juga susah punya anak 😭😭
Setiap harinya indy selalu mendengar pertengkaran antara ibu dan kakaknya bayu yg bahas masalah pernikahan apalagi dari pihak laki²nya yg banyak nuntut ini dan itu.
Bagaimana cara indy dan bayu mengatasi masalah finansial mereka dan ditambah kisah romance yg tipis tipis tapi manis banget. Yuk baca lengkapnya dibukunya 🤗🤗🤗
Buku ini dibuka dengan kehidupan Indy, anak perempuan pertama yang 'bertugas' sebagai penyedia dana darurat di keluarganya.
Sebagai anak yang memiliki pekerjaan tetap, tugas itu secara tak langsung jatuh padanya setelah perubahan perekonomian keluarganya saat pandemi. Namun, Indy tetap memiliki mimpi sederhana: punya dana darurat, meski setiap kali berhasil menyisihkan sedikit dana dari pemasukannya, selalu ada kejadian tak terduga yang membuatnya merogoh kantongnya. Atap rumah roboh, hp rusak, hingga kebutuhan tak terduga dari adiknya yang pengangguran.
Setidaknya ia masih memiliki Bayu, tetangga sekaligus sahabatnya yang juga memiliki nasib serupa. Indy bisa curhat sepuasnya ke Bayu tanpa takut dihakimi, dan Bayu pun menemukan tempat aman untuk berbagi bebannya sendiri. Di tengah keuangan yang pas-pasan serta besarnya ekspektasi keluarga, Indy dan Bayu menjadi penopang semangat satu sama lain. Saling mendukung dan berbagi tawa.
Buku ini memang tipis, tapi penuh dengan persoalan yang meresahkan banyak orang: tentang dana darurat, prioritas hidup, omongan tetangga, pernikahan, penipuan sampai hutang.
Tapi tenang, romansa Bayu-Indy berhasil bikin cerita ini tetap punya sisi menggemaskan dan lucu. Serta rasa yang dibawa tokoh lain seperti Mama Bayu yang sukes bikin aku kesel, Fian yang layak untuk ditonjok berkali-kali. Oh ya si Arsa-arsa itu, kalau dengerin kata Taylor Swift sih, "I knew you were trouble when you walked in... 🎶"
Siapa sangka buku yang awalnya cuat aku senyum-senyum, dan salah tingak sendiri malah berakhir dengan aku meneteskan air mata. Kalau kalian lagi cari buku dengan tema yang cukup relate dengan kehidupan, tapi tetap ringan dan lengkap bumbu romansa, buku inilah jawabannya!
Sedikit cerita di balik layar, Uang Gawat Darurat ini cerita yang aku tulis berdekatan dengan Pay Sooner or Later. Ibarat PSOL selesai, aku langsung lanjut mengerjakan UGD ini. Artinya, sudah dari tahun 2023 juga. Perjalanan yang cukup panjang, ya? Tapi, itu sama sekali bukan masalah. Aku percaya setiap karya memang ada waktunya yang tepat.
Masih seputar keuangan, aku ingin angkat tema dana darurat. Di sini aku sama sekali bukan pakar finansial, ya. Masih dengan prinsip yang sama saat menulis PSOL kalau aku ingin menulis hal-hal yang seharusnya aku pahami dari dulu. Urusan uang memang pelik, ya?
Yang pasti aku ingin berterima kasih sebanyak-banyaknya untuk @gwp_id dan @elexmedia. Untuk Ci @hetih dan @jaedemoiselle yang selalu menyambut karya-karya yang aku tawarkan agar mendapatkan rumah. Untuk Mas @inidionrahman dan redaksi @elex.novels yang merealisasikan karya bisa mejeng di rak buku.
Bisa dikatakan, seperti di halaman ucapan terima kasih, Uang Gawat Darurat ini adalah surat permintaan maaf. Dan, terima kasih untuk yang tetap tinggal (tinggal dalam artian stay bukan pergi) saat aku berbuat buruk atau kesalahan. Juga untuk yang singgah dan mematri memori.
Selain itu, tentang uang yang menjadi akar masalah. Bisa membuat keluarga berseteru. Membuat teman menjadi asing. Tentang seseorang yang menjadi problematik bagi sudut pandang dan perspektif satu orang lainnya.
Semoga aku bisa menjadi lebih baik dan bisa memperbaiki kesalahan.
Semoga buku ini menemukan pembacanya dan diterima dengan baik. Buat teman-teman yang nantinya sudah baca dan ingin review, boleh banget langsung ajak collab buat postnya. Terima kasih!
Baca buku ini vibesnya bener-bener kayak lagi baca ‘Home Sweet Loan’ 😌
Indy, seorang funding officer, alias pekerja kantoran dalam rutinitas ‘budak korporat’.
Tujuan hidup Indy adalah punya uang darurat. Tapi tiap kali ia coba nabung, selalu ada kebutuhan mendadak, bukan hanya untuk dirinya, tapi kebutuhan keluarga (ayah-ibu, adik), bahkan beban adiknya yang pengangguran.
Ada juga tokoh sahabat, Bayu sebagai staf IT, yang bersama-sama menghadapi dilema keuangan. Dia berusaha menabung untuk pernikahan kakaknya.
Bayu ini, teman sejak sekolah Indy, sekaligus tetangga sebelah rumah, yang sejak dahulu kala sudah jadi sahabat senasib sepenanggungan. Paling ada saat Indy butuh. Meski sangat tidak bisa dipercaya, sahabatan cowok-cewek tidak pernah ada rasa, haha.
Yang aku suka dari novel ini, dia bukan cerita fantasi glamor gitu, tapi realistis banget. Menggambarkan struggle hidup anak muda di kota besar, dengan impian sederhana: stabilitas finansial dan ketenangan hati.
Banyak adegan yang rasanya relate banget dengan kehidupan kita sehari-hari. Apalagi anak sulung perempuan, yang ikut jadi ‘tulang punggung’ keuarga, ngerasain banget gimana ‘lelah’nya jadi Indy dan Bayu, bahkan untuk sekedar menyenangkan diri sendiri aja nggak bisa, ada aja kejadian dadakan yang bikin uang dana daruratnya harus kepake lagi dan lagi.
Ada romancenya, tipiisss tapi. Hehe. Tapi aku seneng sama karakter tokoh-tokoh yang disini, semuanya baik-baik.
“Sebenarnya apa yang kita butuhkan? Keinginan untuk hidup aman dengan dana darurat atau justru seseorang sebagai kontak darurat yang siap siaga membantu saat dibutuhkan?”
Uang Gawat Darurat menghadirkan cerita kompleks mengenai kehidupan sandwich generation yang serba sulit. Mereka tak hanya harus memikirkan kebutuhannya sendiri melainkan harus memikirkan keperluan orang tua dan adik-adiknya atau sebaliknya. Bagaimana mereka harus merelakan keinginan sendiri untuk membantu keperluan lain yang lebih krusial bahkan untuk menyisihkan dana darurat saja sangat sulit, begitulah realita yang harus dialami oleh Bayu dan Indy di dalam buku ini. Persahabatan mereka sudah terjalin cukup lama apalagi sebagai tetangga tentu saja memberikan ruang, kesempatan dan waktu bertemu lebih baik untuk keduanya. Kenyamanan yang terbangun antara Bayu maupun Indy membuat mereka dilema dan mempertanyakan apakah memang seperti ini sahabat dekat itu? Atau sebenarnya justru perasaan lebih dari sekedar teman mulai tumbuh?
Aku suka bagaimana konsep buku ini berkembang menjadi bahasan pokok yang mengikuti trend sebagai bahan edukasi untuk kita semua. Penulis memasukkan tipe penipuan keuangan terbaru lengkap dengan cara agar tidak mudah masuk perangkap. Penulis tidak hanya memasukkan unsur ekonomi, uang dan financual di dalamnya melainkan juga perihal memilih keputusan pernikahan. Akupun setuju, jika kita menikah hanya karena mengikuti standar sosial dan biar aman kalau ada yang nanya selamanya kita akan menyesal. Menikahlah ketika siap dan menemukan sosok pasangan yang memang sesuai, baik hati dan perilakunya. Buat apa menghabiskan sisa hidup dengan pasangan kasar dan suka main tangan? Pada akhirnya kita memilih berpisah. Kalian pikir menjadi janda juga tak akan menjadi bahan perbincangan? Menuruti kata orang hanya akan membuat kita semakin terpuruk dan kehilangan diri sendiri.
Penulis berhasil membangun kebersamaan Bayu dan Indy lebih menggemaskan, lucu dan penuh ambigu. Bayu adalah pria idaman, greenflag ijo royo-royo sementara Indy adalah sosok perempuan mandiri namun masih membutuhkan sosok pria yang mengerti dirinya. Dibandingkan dengan pria yang hanya manis di bibir penuh pujian, Indy tentu butuh pria dengan aksi nyata membantu kapanpun saat dibutuhkan. Semua kriteria itu jelas ada di Bayu, masalahnya ada pada diri mereka berdua. Apakah Bayu menaruh perasaan pada Indy, sebaliknya apakah Indy bersedia mengubah status sahabat menjadi cinta? Itulah hal seru yang kita tunggu-tunggu sebagai pembaca sepanjang menyelesaikan ceritanya.
Penulis menggabungkan beberapa unsur yang melebur menjadi kesatuan alur memuaskan untuk dibaca mulai dari sentuhan romance menggemaskan usia pekerja, edukasi finansial dan penipuan, bijak bermedia sosial, realita kehidupan sandwich generation yang pelik, pentingnya komunikasi antara orang tua dan saudara. Kita banyak berselisih karena kurang ngobrol aja sebenarnya sehingga menimbulkan asumsi berkepanjangan. Buku Uang Gawat Darurat cocok untukmu yang suka dengan buku humor romance dengan banyak sentuhan hal menarik di dalamnya. Penulis banyak memasukkan hal receh penuh komedi membuat alur cerita lebih fun diselesaikan. Dari semua masalah dan kesulitan yang terjadi untungnya Bayu punya Indy begitupun Indy yang punya Bayu untuk saling memberikan semangat.
Kisah Pelik Generasi Sandwich dan Kesulitan Memiliki Dana Darurat Uang Gawat Darurat memberikan gambaran menarik mengenai kisah pelik generasi sandwich dalam menjalani kehidupannya. Beban yang diterima tentu lebih banyak membuat kepala mereka seperti mengepul. Uang yang masuk cepat habis untuk kebutuhan tak terduga mengingat dana darurat yang seharusnya ada ternyata sulit dikumpulkan. Kita sebagai pembaca bisa merasakan kerisauan yang menjadi makanan sehari-hari Bayu dan Indy.
Edukasi Penipuan Online, Bahaya Paylater dan Konsekuensi Meminjamkan Uang Buku ini mengandung banyak edukasi menarik mengenai tren penipuan online yang marak terjadi semacam judi online. Pentingnya kita selalu waspada dengan saran maupun sesuatu yang terlihat mudah. Tak mungkin hal mudah tak menginginkan konsekuensi besar nantinya seperti memilih mengambil pinjaman paylater. Awalnya memang mudah namun bunga yang dibebankan sangat tinggi. Belum lagi ketika ada orang yang meminjam uang, tak semua orang amanah mengenai uang bahkan mereka rela mendekati target dengan tujuan tertentu. Agar selamat lebih baik tidak perlu meminjamkan uang.
Pemahaman Mengenai Pernikahan dan Pentingnya Tidak Mengikuti Standar Orang Lain Sebenarnya aku tidak berekspektasi apa-apa tentang nasihat pernikahan bisa muncul di dalam buku ini. Kemudian aku tersadar semuanya masih ada hubungannya dengan perekonomian dan modal yang dikumpulkan untuk menikah. Mengapa kita perlu menikah? Kamu harus bisa menjawab pertanyaan tersebut. Ketika alasannya hanya menuruti standar orang lain maka sebaiknya tidak dilanjutkan. Asal memilih pasangan menyeret kita masuk ke lembah neraka. Lebih baik terlambat dibandingkan menyesal seumur hidup. Apakah menikah terus tak cocok kemudian cerai semuanya akan selesai? Masalahnya tak semudah itu.
Point Menarik dan Unggul dari Buku: • Buku Uang Gawat Darurat memadukan unsur komedi romance yang menggemaskan dengan dua tokoh utama sama-sama sebagai sandwich generation. Mereka tak hanya harus berjuang mencukupi kebutuhannya sendiri melainkan juga kebutuhan keluarga. Kesulitan yang paling dirasakan adalah menyisihkan dana darurat sehingga ketika perlu apapun secara mendadak harus pakai uang gaji atau bonus dan tidak ada persiapan sebelumnya. Padahal sebagai manusia kita harus siap dana darurat untuk hal-hal tidak diinginkan agar tetap aman. • Penulis memasukkan banyak edukasi menarik di dalamnya mulai dari nasihat pernikahan dan memilih pasangan, edukasi penipuan jenis baru dan cara agar tidak masuk perangkap sampai dengan bijak bermedia sosial. Ketika ada yang terluka dan membutuhkan pertolongan hendaknya ditolong dulu jangan dikontenin buat tujuan viral belaka, • Penulis berhasil membangun kedekatan antara Bayu dan Indy sebagai sosok yang terjebak dalam persahabatan dan takut melangkah ke jenjang status selanjutnya. Konflik yang dihadapi keduanya juga cukup ringan hanya gejolak kebingungan di hati masing-masing dan jarak yang terbentang saat Indy pindah lokasi kerja. • Aku suka bagaimana cara penulis memasukkan unsur konflik yang sering terjadi pada masyarakat ekonomi kelas menengah ke bawah yang didominasi dengan penghasilan pas-pasan tanpa dana darurat. Mereka yang kekurangan dalam segi ekonomi sering berselisih paham apalagi sumbernya hanya ada pada satu orang. Untuk itu perlu sering bertanya kondisi pencari nafkah keluarga, orang tua tidak boleh pilih kasih dan banyak membangun komunikasi antar orang di dalam rumah. Orang tua yang memihak salah satu anak tentu memicu kecemburuan.
Tokoh, Alur dan Pengembangan Karakter Aku suka bagaimana semua tokoh dalam buku ini mengalami pengembangan karakter menuju arah lebih baik sepanjang alurnya. Bayu dan Indy tumbuh menjadi sosok yang lebih bertanggungjawab atas apa yang sudah dipilih, membuka pikiran untuk diskusi dan berdamai dengan keadaan. Tokoh Bayu dibuat serba tahu, memahami kondisi Indy dan juga sat set dalam memberikan aksi pertolongan. Sementara Indy adalah tokoh mandiri yang bisa menyelesaikan semua sendiri namun dia butuh sosok seperti Bayu yang langsung mengulurkan tangan tanpa janji manis dan pujian murahan. Orang tua Indy mulai memahami kesalahan mereka yang melibatkan Indy dalam setiap masalah keuangan keluarga apalagi mereka awalnya juga selalu membela Rika (adik Indy). Rika meskipun tak banyak dijelaskan nyatanya juga berkembang menjadi sosok yang mau berusaha dan tidak menyudutkan kakaknya. Alia (kakaknya Bayu) mulai membangun perasaan menghargai diri sendiri setelah putus dari pacar toxic Dia akhirnya paham semakin bertambah usia bukan berarti tak banyak kesempatan bertemu pasangan baik justru harus semakin pintar menentukan pilihan.
Penekanan Konflik dan Eksekusi Konsep Cerita Konflik utama yang dijabarkan adalah kesulitan tokoh mengumpulkan uang darurat sebagai generasi sandwich. Ditambah perasaan antara Bayu dan Indy yang bergejolak seiring banyaknya waktu dan pertemuan antara mereka. Baik Indy maupun Bayu sama-sama tak mengerti apa yang terjadi di antara mereka. Penulis mampu mengeksekusi cerita dengan rasa lebih nyata melalui penderitaan yang dialami keduanya sampai dengan kebahagiaan yang sepatutnya mereka dapatkan. Tak lupa juga banyak unsur humor yang lucu seperti PDKT buat ngutang wkwkwkw atau selingan humor receh lainnya.
Penyelesaian Cerita dan Ekspektasi Pembaca Sejujurnya aku merasa ada yang kurang dari penyelesaian cerita meskipun tidak krusial. Jadi apakah Bayu dan Indy pada akhirnya punya uang darurat? Untungnya di bagian ending pembaca mendapatkan sentuhan manis dari Bayu dan Indy yang semakin nyata kapal asmaranya. Ternyata meskipun sudah tak banyak bersama bahkan berpisah jarak justru membuat keduanya berani mencoba ke jenjang lebih serius. Buku ini mampu memenuhi ekspektasiku melalui alur dan pengembangan yang mengesankan.
Seberapa Jauh Buku Ini Mencapai Tujuannya? Uang Gawat Darurat berhasil mencapai tujuannya sebesar 90% dari 100% mulai dari ide, konsep, konflik dan juga keunikan yang memancar dari masing-masing tokoh sudah seimbang. Buku ini mampu membawa keresahan kaum generasi sandwich yang bingung bagaimana cara mengumpulkan dana darurat ditambah masalah yang tiba-tiba datang (tentunya masalah yang berkaitan dengan pengeluaran). Dari buku ini aku ikutan sesak dan capek melihat Indy yang tiba-tiba plafonnya roboh, Hp rusak, motor adeknya nabrak mobil orang kaya dan masalah lain yang melelahkan. Penggambaran suasana dan sisi emosional dari masing-masing kejadian sangat nyata sehingga kita bisa masuk ke kehidupan tokoh lebih nyata.
Apa yang Kurang dari Buku? Sebenarnya ada satu hal yang menurutku justru kurang ditonjolkan bahkan menjadi judul utama buku yakni Uang Gawat Darurat. Dari awal pembuka cerita juga dijelaskan kalau tokoh Indy dan Bayu sulit menyisihkan uang darurat karena selalu ada kebutuhan mendadak. Indy harus mencukupi kebutuhan keluarga sementara Bayu harus menabung untuk pernikahan kakaknya. Nah, sepertinya tidak ada kejelasan lebih lanjut mengenai problem mereka atau memang masalah ini dibuat tak ada ujungnya? Aku menunggu ada tips untuk memiliki uang darurat ternyata tidak dijabarkan secara langsung karena mencakup beberapa aspek menyinggung mengingat kebutuhan setiap orang berbeda ditambah masalah prioritas. Meskipun tidak dijelaskan dan ditonjolkan secara gamblang aku masih mampu menemukan maksud yang ingin disampaikan penulis. Apalagi kegemasan Bayu dan Indy dari korban generasi sandwich cukup menghibur. Beberapa orang sulit menyisihkan uang bukan karena boros melainkan uangnya yang KURANG huhu (curhat dikit).
Pelajaran yang Diberikan dan Sasaran Pembaca Jangan bergantung sepenuhnya pada satu orang di dalam rumah, semua orang harus berdaya meskipun kecil dan tak seberapa ketika semuanya berusaha maka hasilnya akan cukup. Sebagian besar dari keluarga generasi sandwich tak memperhatikan kondisi tulang punggung utama keluarga bukannya memberikan semangat dan dukungan orang tua justru menyalahkannya atas semua kejadian yang ada. Baik kakak maupun adik sama-sama punya hak untuk menyuarakan lelah dan keinginan hatinya jadi jangan pilih kasih antara keduanya. Pentingnya membangun komunikasi untuk mengurangi asumsi yang tidak diinginkan antar keluarga. Sesekali kita memang harus tega untuk tidak menolong agar kebutuhan kita bisa tercapai. Pahami skala prioritas mana yang harus didulukan dan dibeli nanti saja saat ada uang lebih. Jangan gampang memberikan pinjaman pada orang lain, dengan uang orang bisa berubah wujud secepat kilat. Mereka bisa manis di awal saat meminjam uang dan berakhir menjadi sosok asing saat kita membutuhkan uang itu kembali. Selalu pantau informasi terbaru mengenai penipuan yang marak terjadi agar tidak masuk ke dalam lembah menyesatkan. Tak ada pekerjaan mudah yang menjanjikan bayaran besar apalagi syaratnya juga tak masuk akal. Buku ini cocok untukmu yang suka dengan tokoh generasi sandwich dengan sentuhan romance komedi yang menggemaskan. Ada banyak nasihat dan edukasi menarik yang bisa kamu temukan di dalamnya.
Novel ini begitu relate dengan kehidupan yang mungkin kita alami ataupun yang terjadi di sekitar kita.
Secara umum, novel ini mengangkat dua topik besar: 1.Topik finansial―sesuai judul bukunya―tentang uang gawat darurat. Indy―tokoh utama novel ini―merupakan seorang funding officer yang sedang berjuang agar bisa mempunyai tabungan untuk uang gawat darurat. Dilihat dari jenis pekerjaan dan cara bekerjanya yang memungkinkan dia mendapatkan bonus tahunan yang tidak bisa dibilang sedikit, harusnya hal ini bukanlah hal yang susah, ya. Namun, Indy merupakan tulang punggung utama keluarganya (ortunya buka warung makan yang sedang bangkit pasca pandemi, sedangkan adiknya masih berjuang mencari pekerjaan). Selain itu, ada-ada saja kejadian yang membuat tabungannya ludes seketika.
Menghadapi kondisi ini, Indy berusaha memutar otaknya untuk bisa punya penghasilan tambahan. Ada beberapa peluang, tapi bagusnya dia selalu mengomunikasikannya dulu dengan Bayu, sahabat sekaligus tetangganya yang lebih melek urusan finansial.
Dalam menghadapi masalah finansial ini, kelihatan banget jatuh bangunnya Indy. Gimana perjuangannya, gimana stresnya, gimana overthinking-nya … semuanya. Ditambah lagi seluruh anggota keluarga menumpukan kebutuhan finansialnya kepada Indy, membuatnya sering emosi sendiri karena bahkan seperti tidak ada kata “terima kasih” yang dia terima.
2.Topik pernikahan. “Menikahkah setepatnya, bukan secepatnya.” Kira-kira begitulah yang saya bisa tangkap dari apa yang diceritakan dalam novel ini.
Bayu harus menabung sebagian besar gajinya untuk biaya pernikahan Alia, kakak perempuannya yang sudah berusia lebih dari 30 tahun. Di usia itu, mamanya terus-terusan memojokkannya untuk segera menikah karena nggak tahan sama omongan para tetangga. Hal ini kerap memicu pertengkaran Alia dan mamanya. Sampai-sampai Alia harus bertahan dengan calon suaminya yang sering bersikap kasar dan toksik.
Hal ini banyak banget terjadi di sekitar kita, kan. Gimana perempuan yang sudah berusia lebih dari 30 dan belum menikah sering dikatakan perawan tua, sudah kedaluwarsa, dsb. Mungkin orang bilang jual mahal, terlalu pilih-pilih, dsb tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi.
Dari novel ini, jadi belajar banget buat hati-hati kalau mau ngomong masalah sensitif tanpa tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena bisa saja itu membuat orang lain impulsif melakukan sesuatu yang akan disesali dalam jangka waktu lama atau bahkan seumur hidup.
Suka banget sama novel Mbak Adrin ini, lebih suka dibandingkan Ours dan Pay Sooner or Later. Novel ini tuh … ceritanya dekat banget dengan apa yang pernah dan sedang aku alami, juga yang terjadi di sekitarku.
Satu lagi sikap Indy yang aku setuju banget, yaitu untuk tidak mudah tergiur dengan yang namanya cicilan atau pay later dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan atau malah nggak pasti.
Kisah hidup Indy juga Bayu terasa sangat dekat dengan kehidupan masa kini. Semakin meningkatnya kebutuhan, terutama target dan tujuan hidup menjadikan masalah keuangan hal utama dan amat sensitif. Apalagi bila pribadi sendiri dijadikan kontak darurat oleh orang lain. Makin runyam. Tak ada hitam di atas putih. Bila bayarnya lancar, bikin keuangan tentram, tapi kalau bolong-bolong, atau lupa. Alamat boncos. - Dana darurat ini yang menjadikan Indy cukup panik. Hasil kerjanya lebih banyak mengalir untuk keluarga, terutama untuk bantu usaha ibunya. Juga pembayaran lainnya yang berhubungan dengan rumah. Sedangkan Indy sama sekali tidak memiliki dana tersebut. Masalah keluarganya, terutama adiknya yang belum dapat pekerjaan jadi bagian berat. Karena tetap dia yang jadi tumpuan. Bukan tidak ikhlas. Inginnya bisa gantian, sayangnya harapan masih jauh di ujung pandang. Saat hati, tubuh, juga pikiran yang lelah, rasa terima kasih atau nada kekhawatiran itu tak terucap. Membuat Indy merasa kian sendiri. Sosok Bayu pada akhirnya jadi support system untuk Indy. Ketika pekerjaan, masalah di rumah serta pengeluaran lainnya yang membuatnya pusing. Bayu selalu memberikan masukan yang baik. Terlepas mereka sama-sama muda. Berkeluh kesah setidaknya meringankan kegundahan. Di lain sisi, Isu pernikahan yang dialami perempuan dan terlalu diburu-buru hanya karena omongan orang dan segala macam hal yang bisa membuat malu keluarga karena mendekati kadaluwarsa begitu pelik. Padahal sejatinya menikah bukan ajang lomba. Kalau pada akhirnya malah bercerai. Gaya bercerita penulis selalu konsisten dan aku suka. Karakternya kuat, porsinya pas. Konflik di kantor, rumah juga rasa yang tak terungkapkan pun bikin greget manis. Penulis juga menyisipkan tips agar tidak mudah tertipu loker yang mudah menghasilkan uang hanya dengan join dan deposit di dalamnya. Walaupun tipis, tapi isinya padat lalu ditutup dengan moment yang manis sekali.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Niatnya bagus sih mau meningkatkan kepedulian terhadap literasi finansial. Tapi sayangnya ini hanya bumbu semata. Mayoritas cerita terpusat pada hubungan romansa dan derita sandwich generation.