Sekar Selalu ada kerinduan pada kembang srengenge. Sewaktu ada yang membawaku kembali pada masa indah itu, aku terlarut. Rasanya sulit di percaya, Tapi lalu aku harus pergi.
Ardiansyah Bunga kuning menyala itu muncul kembali. Untuk kedua kalinya. Tapi aku mendapat firasat buruk kali ini. Dan itu benar-benar terjadi!
Vairam Bunga matahari dari ibu akan selalu kujaga. Hidup dan mati ibu, juga hidupku, ada pada bunga matahari itu. Maka aku tak sanggup menghadapi semuanya ketika itu terjadi.
Maris Aku selalu senang memandangi sunflower, apalagi dalam foto-foto kiriman Mas Baskoro dari kansas. Tapi sayang,kemudian ada yang berbohong kepadaku.
Januari Tiba-tiba ada begitu banyak bunga matahari dalam hidupku. Aku tidak mengerti. Aku lalu memilih salah satunya, namun aku kehilangan semuanya.
Sekali lagi saya menemukan sebuah permata tersembunyi, dan saya merasa beruntung telah membacanya.
Segala yang ada di buku ini saya sukai. Kavernya--seperti biasa--menunjukkan kualitas 'mengikat pembaca pada pandangan pertama', perpaduan warna dan real pic bunga mataharinya juga kelopak di sekeliling yang berhubungan dengan cerita. Alurnya cepat, langsung selesai dalam dua setengah jam, tapi dengan kecepatan dan keringkasan itu ternyata mampu memuat beban emosi yang merindingkan punggung. Pemilihan nama, pemilihan tempat, pemilihan bunga matahari sebagai sentral juga saya sukai. Membacanya begitu menyenangkan.
Dan biasanya buku yang menjadi jodoh saya itu memiliki ini: satu, kesamaan ideologi. Dua, menambah pengetahuan tanpa paksaan. Buku ini berhasil membuat saya percaya semua yang ada di dalamnya. Saya sama sekali tidak mempertanyakan fakta di dalamnya, mengalir saja sampai buku ini habis. Dan akhirnya, saya harus merelakan ceritanya ditutup dengan tak terduga.
Satu saja, saya benci dengan Ardiansyah dan berharap orang semacam itu tidak pernah ada di kehidupan kita semua. Saya berusaha simpati padanya, tapi tak bisa. Yang ada malah saya ingin ia merasakan penderitaan Sekar dan Vairam gara-gara ulahnya yang egois. Meski akhirnya ia bertaubat juga.
Tapi semua sudah terlambat, Bung. Terlambat.
Menghindari spoiler karena terbawa cerita, saya merekomendasikan permata ini pada pembaca yang menyukai kisah manis-kelam-tragis-teduh, yang tak keberatan dengan teknik tell dan menyukai alur cepat. Saya pribadi merasa bahwa tiap tokohnya seolah bercerita di depan saya dengan semua telling itu. Deskripsi tokohnya minim, tapi saya bisa membayangkan lewat pemilihan namanya. Untuk yang senang kisah lincah metropolitan penuh dialog, rasanya akan berpotensi mengantuk, tapi dicoba saja. Siapa tahu jadi menyegarkan.
Suka sekali dengan judulnya, dan alasannya dipaparkan jelas di sini, bukan karena tren judul bahasa asing.
Belajar tentang, - Jangan terlalu terobsesi. Ga baik. Bisa mempengaruhi kesehatan mental. - Jangan menyematkan nilai diri kepada benda (kalau di buku ini ke bunga matahari). Kalau bendanya rusak atau hilang, jangan sampai mempengaruhi pandangan kita akan nilai diri yang berkurang atau bahkan hilang. - Cinta yang dipaksakan tidak berujung manis. - Jangan ganggu orang yang punya kesukaan sendiri.
Cerita yang sangat bagus menurutku, namun awal cerita cukup membosankan. Tapi diakhiri dengan penutup yang tidak terduga. Senang bisa membaca buku ini. Banyak pelajaran yang bisa di ambil dari sini.
Karena keegoisan seseroang, hal-hal menyakitkan terjadi pada orang-orang baik yang pantas bahagia. Ketika ibu dan anak sama-sama menderita akibat seseorang yang seharusnya mencintai mereka.
Long story short:
Sekar mencintai bunga matahari, memiliki impian untuk membangun kebun bunga matahari. Sekar dan Ardiansyah berteman saat kecil, selalu bermain bersama, dan suatu saat Ardiansyah pergi tanpa kabar.
Bertahun-tahun kemudian Sekar bertemu Niko, yang membantunya mewujudkan mimpinya membangun kebun bunga matahari. Saat impiannya terpenuhi, dan saat cinta itu muncul, datanglah Ardiansyah melamar Sekar yang langsung diterimanya.
Sekar tetap berhubungan dengan Niko, Ardiansyah marah dan menghancurkan kebun bunga mataharinya. Ardiansyah melarang Sekar berhubugan dengan segala hal yang menyangkut bunga matahari. Mereka menikah dan lahirlah seorang anak perempuan, Vairam.
Suatu saat Vairam ingin melihat bunga matahari. Ibunya, Sekar, meninggal saat mencarikannya. Vairam akhirnya merawat bunga matahari peninggalan Ibunya tersebut. Ardiansyah tidak sanggup lagi melihat Vairam, menyerahkannya pada Ayu, adik Sekar.
Vairam akhirnya membuat kebun bunga matahari dan membuka toko yang hanya menjual bunga matahari. Bertemu Januari yang disukainya tapi ternyata ia telah memiliki kekasih.
Ketika sekali lagi sebuah kebun bunga dihancurkan seseorang, kembali nasib seseorang berubah menjadi menyedihkan.