Bagi Danika, pulang ke Bandung berarti menghadapi kembali masa lalu kelam dan monster yang telah menghantuinya selama tujuh tahun.
Bagi Nanda, kehadiran Danika justru membuka luka lama—kesendirian, kerinduan, dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
Terang tak selalu menyatu dengan gelap, seperti hitam dan putih yang tak pernah berpadu. Namun, di antara keduanya, ada abu-abu yang menanti untuk diwarnai. Matahari memberi cahaya, pelangi membawa warna. Tak ada yang benar atau salah—hanya cinta yang dibutuhkan untuk menemukan kebahagiaan.
Cerita di buku ini sebenarnya bisa selesai tidak lebih dari 10 halaman, kalau dua bersaudara yaitu Danika dan Nanda ini mau duduk bareng berbicara dari hati ke hati—dan ibunya mau ngomong tanpa harus menunggu akhir kehidupannya. Tapi, kalau demikian nggak akan jadi satu buku dengan 288 halaman, haha.
Daripada kesan thriller-mystery, aku lebih mendapatkan sisi drama keluarga dalam buku ini. Kompleksitas hubungan antar saudara perempuan yang dibalut luka dan trauma masa lalu. Yang satu conflict avoider memilih kabur, yang satu menekan trauma dengan mencari perhatian pada hal lain.
3.5⭐️
Peringatan pembaca: mengandung adegan menyakiti diri sendiri yang digambarkan dengan jelas.
Kalau soal twist, nggak twist juga sih karena baik motif, penyelesaian akhir, serta "pelaku" pun sebenarnya udah terlihat. Tapi, lebih ke rollercoaster konflik dua bersaudara ini aja. Rasanya tuh pengen narik mereka buat duduk bareng seenggaknya 30 menit deh buat keluarin dah tuh unek-unek, terus saling peluk, dan bilang sayang ke satu sama lain. Greget banget.
Bumbu asmaranya minim tapi cukup jadi fondasi buat menambah "keruwetan" hubungan dua sisters ini. Definisi white lies, red lies sesuai judul yang dipilih pun sesuai dengan jalan cerita di buku ini. Pov-nya pun jelas. Aku dibawa untuk memahami perasaan dan ketakutan dua sisters ini.
Ps. aku penasaran kan ini ditulis oleh 2 orang, ya. Apakah penulis 1 menulis pov Danika, lalu penulis 2 menulis pov Nanda, atau malah rembugan bareng-bareng? Karena antar kedua pov ini match gitu, seperti kunci dan gembok.
Akhir kata, buku yang penuh intrik drama keluarga dengan balutan thriller-mystery yang cukup bisa aku nikmati.
White Lies, Red Lies | Shirley Du & Evelyne Tanugraha | Bhuana Ilmu Populer | 9786230422904 | 284 hlm
☘️Menceritakan tentang dua saudara kandung yang tumbuh terpisah bertahun-tahun, Danika dan Nanda. Mereka dipertemukan oleh takdir setelah tujuh tahun berpisah. Danika pulang ke kampung halamannya di Bandung karena merawat ibunya yang sakit. Baginya kepulangan ini berarti menghadapi kembali masa lalu kelam dan monster yang telah menghantuinya selama tujuh tahun. Sedangkan bagi Nanda, kehadiran Danika justru membuka luka lama, kesendirian, kerinduan dan pertanyaan yang tak kunjung terjawab.
☘️Novel ini bernuansa kelam, namun banyak insight yang bisa diambil apalagi tentang keterbukaan antar anggota keluarga. Selain menjaga hubungan dengan orang tua, penting banget untuk menjaga hubungan dengan saudara.
☘️Aku agak bingung mau kasih peringatan atau gak. Buku ini mengandung adegan menyakiti diri sendiri.
“Kamu sudah terlalu lama menahan semua luka sendirian. Harusnya, kamu belajar melepas semua jar of hurts yang kamu simpan itu, karena kamu juga perlu bahagia.”
#lintangbookreview White Lies, Red Lies | Sherly Du & Evelyn Tanugraha
Cinta dan benci adalah dua kutub yg saling berseberangan, namun saling terhubung. Ketika seseorang merasa sangat terluka atau dikhianati, rasa sayang yg mendalam dgn mudah bertransformasi menjadi kebencian yg tak terhingga.
Danika dan Nanda, dua saudari yg mengubur rasa sayang mereka krn dendam masa lalu yg sangat menyakitkan. Sebenarnya, bukan kebohongan.. namun kebenaran yg ditutupi (demi kebaikan) bertahun2 membuat ‘ledakan’ emosional yg tak terhindarkan.
Seluruh tokoh dlm novel ini punya karakter yg kuat dan saling terikat, menjadikan plotnya seru dan menegangkan. Sudut pandang orang pertama yg bergantian antara Danika dan Nanda jg memberikan dimensi yg menarik dari dua perspektif yg sangat berbeda: Danika yg dingin dan kaku, bak tanpa perasaan, kontras dgn Nanda yg berjiwa bebas namun menyimpan ketakutan mendalam.
Aku kagum dgn cara penulis menggambarkan ‘wujud’ trauma Danika, sehingga ia menyebut dirinya sendiri sbg monster. Mimpi-mimpi, halusinasi, keinginan kuat utk melukai diri, membuat aku merasa ngeri sekaligus kasihan. Begitupun dgn Nanda yg sulit menikmati hal2 menyenangkan seperti hujan krn akan membuat perasaannya terpuruk.
Aku merasa kurang di bagian puncak konfliknya, mungkin krn eksekusinya berjalan cepat. Tapi secara keseluruhan menurutku mantep sih.. drama keluarganya dapet bgt, ada romancenya jg yg jadi pemanis kisah suram kedua saudari ini.
Novel ini bervibes kelam, namun banyak insight yg bisa diambil, apalagi terkait keterbukaan antara anggota keluarga. Selain menjaga hubungan baik dgn orang tua, penting jg utk merawat tali persaudaraan. Kita semua saling menyayangi, hanya saja seringkali kurang berkomunikasi sehingga kasih sayang itu tdk terasa.
Novel lokal bergenre drama keluarga dgn bumbu thriller ini menawarkan pengalaman membaca yg tak terlupakan. Kombinasi antara konflik keluarga yg emosional dan elemen misteri yg menegangkan menciptakan cerita yg menarik dan tak boleh dilewatkan.