Apa artinya penonton yang tak tertawa saat seorang comic—stand-up comedian melontarkan joke? Itu berarti kariernya tamat! Itulah yang dialami Jamie. Dia merasa gagal. Gagal menghibur orang. Gagal berkarier sebagai pelawak. Juga gagal dalam urusan bercinta. Jamie memutuskan hengkang dari kota kelahirannya menuju Pulau Kalimantan. Ia bertekad melupakan stand-up comedy dan mencari pekerjaan yang layak. Namun, di atas kapal, Jamie justru ditodong untuk tampil oleh Fey dan Luka, pasangan yang sangat menyukai stand-up comedy. Nah, apa Jamie mesti menolak atau menerima todongan itu? Ikuti perjalanan titik balik hidup Jamie dalam mencari jati diri dan passion-nya.
Gaul (no 42, Oktober 2011) Dear Mama #3 (nulisbuku.com) Cerita dari Bukit Cinta (leutikaprio.com, 2012) When I Broke Up (leutikaprio.com, 2012) Story Magazine (no.34, Juni 2012) Ekspedisi Mencari Cewek Idaman (DivaPress, 2012) In The Name O(f)f Love (Chibi Publishing, 2012) Curhat Move On (Gradien, 2012) Story Magazine (no. 39, November 2012) Story Magazine (no. 41, Januari 2013) Curhat LDR (Gradien, 2013) Jendela Dua Mata (DeKa Publisher, 2013) Kawanku Magazine (no. 147, Maret 2013) Hai Magazine (23-31 Maret, 2013) Story Magazine (no. 47, Juli 2013)
“Kalau kau ingin mencari hal yang baru, hal yang belum pernah kau temui, jangan pernah pergi ke tempat yang kau bisa menempuh rumahmu selama tiga jam perjalanan. Karena kau pasti akan selalu memikirkan rumahmu. Lemparkan dirimu sejauh enam jam perjalanan, lalu kau akan merasakan… harusnya aku memang berada di rumah.”
Stand-up comedy.
Suatu bidang kesenian yang dulu banyak digeluti orang karena terlihat menjanjikan, kini sudah mulai ditinggalkan bahkan beberapa malah sudah benar-benar melupakan. Lalu apa jadinya dengan orang yang masih ingin bergelut di dalamnya? Diam saja? Terpaksa berpindah haluan? Atau tetap memaksakan diri untuk bertahan?
Terombang-ambing antara bertahan atau berpindah haluan. Itulah keadaan yang dihadapi oleh Jamie. Padahal, tadinya ia yakin bahwa ia akan menuai kesuksesan besar dibidang tersebut. Banyak hal telah ia korbankan –terutama kuliahnya, hanya demi untuk menuruti passion-nya yang ingin menjadi comic terkenal. Namun yang terjadi kini justru kebalikannya. Sama sekali tak sesuai dengan apa yang ia harapkan.
Cerita bermula dari kesekian kalinya ia ngebom –tidak mendapatkan tawa, ketika sedang melakukan stand-up comedy di depan puluhan orang di sebuah kafe. Padahal dulu, ketika stand-up comedy sedang ngetop-ngetopnya ia sering kali mendapatkan tawa. Bahkan, ia pun juga pernah membuat show bersama dengan beberapa comic lain yang hasilnya terbilang cukup sukses. Namun kini, bagaimana bisa terbilang sukses jika yang ia hadapi ketika diatas panggung adalah ngebom. Jamie merasa gagal. Ia pun bingung dimanakah letak kesalahannya, pada dirinyakah –yang tidak lagi lucu, atau pada para penonton –yang kini mulai tak acuh.
Dari situlah, ia kemudian membuat suatu keputusan besar. Kegagalan atas rencana besarnya membawanya pergi ke pulau seberang. Ia berniat untuk benar-benar berpindah haluan dan meninggalkan dunia stand-up comedy yang telah ia geluti selama ini. Namun, dalam perjalanannya ia bertemu dengan Fey dan Luka yang mana sangat menyukai stand-up comedy. Mengetahui bahwa Jamie adalah seorang comic, Fey pun menodongnya untuk tampil di panggung kecil dalam kapal yang sedang mereka tumpangi.
Singkat cerita, Keseruan dalam novel ini akan mulai kita jumpai ketika Jamie memutuskan untuk pergi ke pulau seberang. Dimana kepergiannya itu justru menjadi awal dari perjalanan titik balik hidup Jamie. Pertemuannya dengan beberapa orang dalam ‘pelariannya’ tersebut justru membuat ia semakin sulit untuk berpindah haluan.
Unik, konyol dan sedikit absurd –tentu dalam artian yang baik.
Tiga kata tersebut cukup tepat untuk merepresentasikan isi dari cerita yang diangkat dalam novel ini. Poin plus utama berasal dari keunikan tema cerita yang diangkat. Penulis cukup cerdas dalam melihat dan memilih stand-up comedy untuk dijadikan dasar dari ide cerita. Meski mungkin disisi lain terkesan ‘segmented’, namun bukan berarti bagi orang yang tidak menyukai stand-up comedy akan kesulitan untuk menikmati jalan ceritanya. Justru sebaliknya, cerita yang dibawakan dengan ringan ini bisa dinikmati oleh siapapun.
Poin lainnya terletak pada pesan moral yang banyak disisipkan di dalamnya. Kegigihan dan kesolidaritasan –meski tersirat, ‘ditanamkan’ cukup kuat di sini. Selain itu, ada cukup banyak serangkaian kalimat yang dapat digunakan untuk memotivasi diri. Pada intinya, melalui novel ini Penulis mengajak para pembacanya untuk menyelami lika-liku kehidupan agar tidak mudah menyerah dalam menggapai cita-cita dan impian.
Membaca judul buku ini, yang sekilas terlintas dalam pikiran adalah sejenis buku humor yang akan membuat saya terpingkal-pingkal. Ya. Funny. Kosakata yang sangat menarik. Dalam dunia kita yang semakin ruwet, mendapati kelucuan untuk ditertawakan adalah sebuah mukjizat.
TIDAK LUCU LAGI
Jamie Dupont alias JD ingin menjadi pencipta mukjizat. Ia adalah seorang comic yang biasa manggung di Jukebox Scene, kafe milik sahabatnya, Beni. Tugas Jamie adalah menghibur para pengunjung dengan menampilkan stand up comedy.
Masalah mulai muncul ketika lawakan Jamie tidak lagi menghibur. Ia tidak mampu menggerakkan saraf tawa penontonnya. Jokes-nya garing dan hambar. Show yang digelar setiap malam hanya menuai kekecewaan, terutama bagi Jamie sendiri.
Apa penyebabnya? Ia sungguh tak mengerti. Berbagai materi sudah dieksplor. Latihan tak ketinggalan. Tetap saja tak mempan. Klimaksnya, ia memutuskan untuk hengkang dari kafe dan memulai kehidupan baru yang jauh dari panggung.....
Sejujurnya 3.5 bintang. Berisi petualangan Jamie dalam meraih cita-citanya di dunia stand-up comedy. Petualangan yang keren dan bikin semangat untuk ikut meraih cita-cita diri sendiri. Review lengkap ada di: http://melukisbianglala.wordpress.com...
Antagonis nya terlalu pesimis, kalau di ambil kesempatan untuk stand up comedy di kapal kayaknya bakal sukses, toh pertama manggung langsung rame, punya sahabat seperti beni sangat langka lohh
This entire review has been hidden because of spoilers.
Buku ini menceritakan tentang perjalanan seorang comic yang galau; mau mengikuti mimpinya sebagai comic tapi duitnya nggak jelas atau bekerja beneran yang sudah jelas duitnya namun tidak membuatnya bahagia?
Aku mendapati beberapa narasi dalam buku ini terkesan cringe. Mungkin karena ini cetakan tahun 2014, sehingga ketika aku membaca 6 tahun kemudian, gayanya menjadi kurang relevan dengan tren dan isu yang berkembang di tahun ini.
Saya akui, si penulis berhasil membangun kesan saya terhadap Jamie sebagai “pelawak yang kurang lucu”. Bisa dikatakan, saya nyaris tidak tertawa sama sekali sepanjang membaca novel yang sarat dengan guyonan khas stand-up comedy. Ini memang karena guyonannya susah dicerna, saya yang kelewat bebal, atau saya kelewat lemot? Padahal, saya juga sering menonton stand-up comedy di MetroTV. Ini kesengajaan penulis—untuk membuat agar Jamie benar-benar terlihat sebagai pelawak yang tidak lucu—atau tidak?