3,5/5 stars
Membaca kisah perjalanan penulis ho(s)tel ini serasa mengunyah gado-gado, berbagai macam rasa. Para penulis rata-rata menulis dengan gaya kocak masing-masing. Yang sedikit mengganggu justru sampulnya yang terlihat 'seram', meski ketika dibuka terlihat gaya kocak gambarnya. Tapi tetesan air warna merah di bagian atas cover, seakan darah menetes-netes, belum lagi sosok rambut hitam panjang berbaju putih.... Ih, ga heran jika buku ini masuk satu deret dengan novel horor lokal di satu toko buku. Oya, gara-gara ini pula, kita-para joglosemar, penikmat kisah kismis jadi kepikiran membaca kisah horor urban legend lokal bareng-bareng. Saya sih, ayookk aja. :D