Ketika rakyat usai menentukan pilihannya di bilik suara, pesta Pilpres pun berakhir. Setumpuk pekerjaan rumah telah menanti pasangan terpilih. Tak ada lagi waktu untuk bersantai. Yang ada hanya kerja keras. Kalau perlu sampai bergadang. Apa saja PR buat Presiden di mata Benny Rachmadi? Dengan kocak nan cerdas Benny menggambarkannya dalam buku ini—yang awalnya merupakan kartun editorial untuk mingguan & harian Kontan.
Benny Rachmadi adalah seorang kartunis. Bersama dengan Muhammad Misrad, alumni Institut Kesenian Jakarta ini membuat strip komik Benny & Mice yang berisi tentang kriti-kritik sosial.
Sebenarnya saya sudah menyelasaikaln buku ini kemarin. Namun, karena terjadi beberapa kendala. Baru bisa sekarang, saya bisa menuliskan tinjauan terhadap buku ini.
Benny Rachmadi sudah bukan menjadi seorang nama asing bagi para penggemar kartunis. Kemampuannya dalam menggambar sudah tidak perlu untuk diragukan kembali, begitu juga dengan kekuataannya dalam membangun sebuah cerita yang lucu juga menjadi acungan jempol.
Melalui buku ini, kedua unsur tersebut coba untuk digabungkan dengan keadaan politik Indonesia yang serba sengkarut. Beberapa kartun mencoba untuk menyindir mengenai kejemuan pemilu yang sekadar formalitas tanpa menghasilkan kesejahteraan masyarakat, koruptor yang semakin menggurita, kelakuaan anggota dewan yang semakin buruk, dan kenaikan beberapa harga barang coba untuk sekadar menjadi renungan bagi kita semua tentang sebuah negara yanb sedang kita tempati.
Komik selalu menjadi media yang asyik untuk belajar politik. Tanpa sambutan ini dan itu, jargon anu dan anu, komik atau karikatur di buku ini mampu mengingatkan pembaca (dan juga sang presiden terpilih) tentang berat dan banyaknya tugas serta tantangan yang menanti di depan. Bagaimana mensejahterakan masyarakat, memerangi korupsi dan koruptor, mengkritisi kelakuaan anggota dewan yang kadang bikin geleng kepala, dan kenaikan beberapa harga barang kebutuhan pokok. Lewat gambar-gambar sederhana, lembar-lembar buku ini ampuh menyeret kembali ingatan kita pada riuh gempitanya situasi pasca Pemilu tahun 2014. Tetap menghibur sekaligus menyindir seperti biasa, politik memang tempatnya hiburan sekaligus sumber umpatan.
Komik strip ini jadi pengingat kejadian apa saja yang menemani pesta demokrasi tahun 2014. Memang hanya pengingat permukaannya saja, bukan alasan ada kejadian tersebut, tapi tetap saja ini pengingat singkat bagaimana media menggambarkan suatu kejadian di masa tersebut.
Tidak ada yang baru, beberapa permasalahannya juga terulang lagi belakangan ini.
Saya rasa, komik buatan Benny sudah sendirinya menjadi unik dengan tema-tema yang diangkat dalam komiknya.
Kali ini, mas Benny menyajikan tema yang masih hangat dan menyejukkan-atau malah menyulut peperangan?- di sekeliling kita. Ya, politik namanya.
Saya selalu suka dengan bagaimana Benny menyelipkan sindiran sekaligus pesan dalam tiap lembarnya, seolah menjadi reminder penting bahwa bangsa ini masih punya setumpuk PR yang harus diceklist-in satu-satu daripada ribut memfitnah atau menggonjang-ganjingan isu SARA.
Ingat, jangan sampai, presiden yang terpilih nantinya malah membuat rakyatnya lebih tolol dari Pattrick Star atau lebih miskin (baik moralnya ataupun hartanya) daripada antek-antek koruptor negeri ini.
Baru kepikiran buat bikin reviewnya buku ini setelah ngga sengaja liat buku ini di rak gramed minggu kemarin. Sebenernya sih saya beli buku ini berharapnya dapet bacaan ringan yang kocak gitu, ternyata bukunya lumayan berat. Kalau mengharapkan yang lucu kayak Tiga Manula atau Seratus Peristiwa ya jauh, haha. Yang satu bikin kening berkerut yang lain bikin perut berkerut (soalnya capek ketawa terus sampe sakit perut :p).
Bintangnya sih sebenernya 2.5, tapi 2 aja deh ya kali ini.
Komik terbaru dari mas Benny. Mengusung topik seksi di tahun 2014 : masa pemilihan umum, lebih khususnya lagi pemilihan presiden. Isi komik ini menjabarkan tugas-tugas apa saja yang akan dihadapi presiden terpilih kelak. Tiap topik disajikan secara simbolik dalam satu panel komik.
Komik karya Om Benny emang keren seperti biasanya. Yg ini ga terlalu bikin ngakak, tapi bikin senyum miris krn lebih banyak sindiran politik. Walau miris, tetep nyampe pesan2 sindirannya. Seharusnya bukuny Om Benny ini dibaca oleh pejabat negara :D