Tandus (1952) memiliki nilai sejarah penting dalam sastra Indonesia dan menempatkan S. Rukiah (19271996) sebagai perempuan pertama yang mendapat hadiah sastra dari Badan Musyawarah Kebudayaan Nasional 1952 di antara para pemenang lainnya yang didominasi penulis pria, yaitu Pramoedya Ananta Toer, Mochtar Lubis, dan Utuy Tatang Sontani.
S. Rukiah tajam melihat nasib-nasib manusia di tengah gelombang sejarah yang bergerak dan berderak. Sementara di sisi lain ia memiliki harapan besar atas sejarah yang tengah bergulung-gulung ini, pada saat yang sama ia juga menaruh simpatinya yang meluap-luap kepada berbagai watak yang harus tergulung
Untuk sajak-sajaknya aku tak bisa bilang banyak: aku suka! Tapi butuh beberapa kali baca ulang dan untuk dapat mengikuti gaya bersajak Rukiah. Tema-tema di sajak ini: revolusi, orang-orang pinggiran, dan cinta!
Tema-tema di sajak juga menjadi tema-tema utama dalam kumpulan cerpennya. Kisah-kisahnya rata-rata tentang rakyat miskin dengan latar penjajahan hingga pasca kemerdekaan. Kebanyakan cerpen dituturkan dengan gaya berkisah monolog dan tentu gaya berkisah seperti itu yang sangat kusukai! Kita lebih banyak disodorkan tentang isi pikiran dan perasaan tokohnya dibanding latar tempat dan keadaan.