Kegigihan Van der Hucht berhasil melahirkan pengusaha-pengusaha perkebunan teh di Priangan yang berasal dari satu keluarga besar, The Hunderian. Mereka itu adalah keluarga-keluarga Kerkhoven, Holle, dan Bosscha, yang semuanya bertali-temali karena ikatan darah.
Mereka adalah keluarga-keluarga kaya-raya yang muncul setelah pemerintah kolonial Belanda menerapkan kebijakan liberalisasi ekonomi. Diberlakukannya Undang-Undang Agraria pada 1870, yang mengubah Priangan menjadi daerah tambang "emas hijau", melahirkan keluarga-keluarga konglomerat pengusaha perkebunan teh yang kemudian dikenal sebagai Preanger planters.
Tak dapat dipungkiri, kaum elite pengusaha perkebunan memiliki andil besar pada pesatnya perkembangan kota Bandung, sampai kota itu dijuluki "Parijs van Java". Namun, kenapa kehadiran mereka justru berpengaruh buruk pada kehidupan kaum pribumi? Kenapa masyarakat Priangan mengalami kemandekan ekonomi justru setelah berkembangnya perusahaan-perusahaan perkebunan besar di daerah mereka?
Her Suganda mengupas pula soal interaksi yang tidak sepadan dan hubungan pelik antara kaum pendatang kulit putih dan penduduk pribumi, termasuk dalam hubungan "per-nyai-an" antara laki-laki kulit putih dan perempuan pribumi. Persoalan menjadi lebih rumit ketika dari hubungan itu lahir anak "Indo" berhidung mancung, berkulit putih, dan bermata biru, tetapi bernasib sama dengan sang ibu: Tak memiliki masa depan yang jelas....
Two groups of people whose business' arena has covered half of the Java Island, gathered in Bandung, West Java in 1896. The first group was the suikerplanters (sugar planters) from East Java and Central Java. The second one is Preanger planters- the tea planters from West Java. They shared a similarity: non-Indonesian native who sought and gained their fortune in the Indonesian land. Their success was gained by the end of enforced planting or what was called by cuulturstelsel (Cultivation system- Eng).
Those two groups tried to boast about their success. They wanted to be seen as a successful businessman. And their measurement was: the car! The sugar planters came with a car which was still be counted at that particular time. As the host, the Priangan planters also do the same. They showed the wealth they gained in the land of Dutch East Indies.
Her Suganda portrayed the journey of those notable Dutch families who migrated to Indonesia and become the tea lord in Priangan, West Java. The stories circle from the Hunderian, Holle, Kerkhoven, and Bosscha. Hella S Haasse also narrated her story Heren van de Thee , translated as the Tea Lords in English based on those Preanger Tea lords stories. In the last part of the book, Suganda also portrayed the life of Nyai that those white men's native female companion.
It's very insightful book one should read. Too bad that this book has no English translation.
Buku ini menjadi pembuka untuk mengenal lebih dalam lagi leluhur bangsa kita, khususnya yang tinggal di priangan. Mula dari kedatangan van der Hucht hingga nasib anak/cucu-ponakan/sepupunya yang tinggal dan becokol di daerah priangan.
Hal yang sangat berkesan adalah bagian P&T Landen. Sebuah perkebunan swasta (bukan teh saja secara umum) yang lebih banyak mendapati ketimpangan, seperti nasib pekebun yang hidup dengan sistem lahan sewaan (yang kadang diakal-akali biayanya seenaknya), hingga kepemilikannya yang kerap berubah-ubah. Saya baru tahu bahwa tanah sewaan itu hingga masa kemerdekaan masih jatuh ke tangan pengusaha swasta asal Inggris.
Ini bukan roman, ini buku sejarah yang dibawakan secara apik. Beruntung nya saya yang mencintai teh bisa mempelajari sejarahnya. Tidak hanya di Jawa Barat sih, tapi teh secara umum juga dipaparkan. Tentang Bandung, Sumedang, Garut, tempo dulu membuat saya membayangkan kondisinya. Bukan hanay sukanya saja, termasuk dukanya. Bagaimana rakyat pernah 'diperjual belikan'.
Mengupas sisi lain dari kolonial Belanda. Di balik keserekahan imperialisme, ternyata ada juga tokoh-tokoh pengusaha perkebunan dari Belanda yang tidak cuma pekerja keras dan pandai berbisnis, tapi juga pecinta alam dan filantropis yang membantu masyarakat sekitar dan membantu kemajuan ilmu pengetahuan.
Sa baru tahu ternyata para preanger planters di Priangan ini mempunyai ikatan tali keluarga antar pemilik perkebunan. Dalam buku ini diceritakan cukup ringkas perjalanan para Preanger Planters. yang paling menarik mengenai "nyai" di bagian akhir buku ini.
Beragam kisah dari para Preangerplanters, para pengusaha perkebunan di tanah Priangan yang ternyata punya andil bagi bangsa kita. Misalnya KAR Bosscha sang filantropis yang berjasa dalam pembangunan Kota Bandung, atau Holle yang gigih memperjuangkan kebudayaan dan kesusasteraan Sunda. Namun tentu saja ada dari mereka yang tetap punya sisi bejat kolonialis. Bahasan soal "nyai" di bagian akhirnya tentunya paling menarik buat saya. Silahkan tanya pada daun teh yang bergoyang.
mengingat judulnya "Kisah Para Preanger Planters", awalnya saya berfikir buku ini akan membahas para pionir perkebunan di Jawa Barat secara detail orang per orang, rupanya saya salah...
selain bahasan pelakunya kurang detail, ceritanya juga loncat-loncat... bahas Kerkhoeven, kemudian ngomongin Holle, loncat lagi ke Bosscha, yah seperti itulah...
pembahasan tentang KAR Bosscha yang agak lumayan...
andai saja terdapat juga infografis pohon keluarga kerkhoven di Buku Ini. lbh memudahkan saya memahami org Yg Mana dari keturunan Yg Mana. tetapi, saya mengakui Buku Ini sangat informative ttg sejarah perkebunan di Indonesia. banyak Hal Yg Baru saya ketahui setelah Membaca Buku Ini.