1. Semangat Perang Salib masih ada sampai hari ini. Tahukah kamu bahwa awalnya perang ini diserukan hanya berdasar propaganda dan kesalahan informasi?
2. Siapakah Dinasti Ubaidiyah yang berkuasa di Mesir, yang menjadi salah satu sebab pemantik direbutnya Palestina oleh Pasukan Salib?
3. Kekuatan tempur Pasukan Salib yang berhasil merebut Palestina pada tahun 1099 sebenarnya tidaklah seberapa. Justru kaum muslimin memiliki kekuatan tempur lebih unggul, tetapi kenapa mereka bisa kalah?
4. Saat kondisi memprihatinkan ketika Pasukan Salib menguasai Palestina, masih ada kaum muslimin yang gigih berjuang. Siapakah mereka? Bagaimanakah generasi terbaik pada masa itu? Generasi yang dipimpin oleh Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, menaklukkan kembali Palestina dari tangan Pasukan Salib.
5. Mengapa bisa ada negara sebesar dan seberpengaruh Abbasiyah? Apa yang terjadi selama 500 tahun kepemimpinannya di muka bumi?
6. Siapakah Seljuk? Mengapa ia menjadi kesatria yang menyelamatkan Abbasiyah di saat-saat peliknya? Mengapa orang Turki yang tadinya menjadi ancaman Abbasiyah malah menjadi penyelamatnya?
7. Siapakah cucu Genghis Khan yang masuk Islam dan menjadi pejuang yang membela kaum muslimin? Apa yang ia lakukan untuk mengalahkan Hulagu Khan?
Upaya menyajikan sejarah Islam dengan penuturan yang segar khas anak muda oleh dua penulis yang juga masih muda. Syaf Muhammad Isa, beberapa karyanya sudah saya baca. Sementara, Edgar Hamas, saya belum pernah membaca karyanya, tetapi mengikuti konten-kontennya di akun media sosial.
Saya sempat salah baca judul saat mau order buku ini. Saya kira Lost Islamic History. Ternyata, victory. Jadi bisa diterka, buku ini bertutur tentang kekalahan-kekalahan yang pernah dialami oleh kaum muslimin, yang kemudian jadi cambuk untuk meraih kemenangan.
Buku dibagi jadi dua bagian: Palestina, ditulis oleh Syaf M. Isa, dan Baghdad ditulis oleh Edgar Hamas. Bagian pertama mengulas Perang Salib hingga takluknya Al-Quds oleh Kaum Kristen, tetapi kembali direbut oleh Kaum Muslim di bawah kepemimpinan Shalahuddin Al-Ayyubi. Bagian kedua mengulas peristiwa-peristiwa penting di masa Daulah Abbasiyah yang beribukota Baghdad, faktor-faktor penyebab kejatuhan daulah, serta tragedi pembantaian oleh Mongol.
Kedua bagian ditulis dengan PoV berbeda. Palestina ditulis dengan PoV orang ketiga, sedangkan Baghdad menggunakan PoV orang pertama. Efek PoV orang pertama, pembaca memang merasa dekat dengan hal yang diceritakan. Hanya saja menurut saya, perbedaan PoV ini membuat buku jadi seperti dua buku berbeda, tidak utuh. Atau, jangan-jangan memang maksud para penerbitannya seperti itu :D. Penyuntingan rasanya perlu lebih rapi lagi.