Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ideas and Institutions: Developmentalism in Brazil and Argentina

Rate this book
In Ideas and Institutions, Kathryn Sikkink illuminates a key question in contemporary political economy: What power do ideas wield in the world of politics and policy? Sikkink traces the effects of one enormously influential set of ideas, developmentalism, on the two largest economies in Latin America, Brazil and Argentina. Introduced under the intellectual leadership of Raúl Prebisch at the U.N. Economic Commission for Latin America, developmentalism was embraced as national policy in many postwar developing economies. Drawing upon extensive archival research and interviews, Sikkink explores the adoption, implementation, and consolidation of the developmentalist model of economic policy in Brazil and Argentina in the 1950s and 1960s, focusing on the governments of Juscelino Kubitschek and Arturo Frondizi, respectively. In accounting for the initial decision to adopt developmentalist policies in Latin America and the persistence of the policy package in the region, she highlights the importance of political and economic ideas, the comparative effects of different national institutions, and the variable ability of political leaders to mobilize resources and support.

288 pages, Hardcover

First published June 1, 1991

24 people want to read

About the author

Kathryn Sikkink

15 books15 followers
Kathryn Sikkink is the Ryan Family Professor of Human Rights Policy at the Harvard Kennedy School of Government and the Carol K. Pforzheimer Professor at the Radcliffe Institute for Advanced Study.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
1 (16%)
4 stars
4 (66%)
3 stars
1 (16%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
January 30, 2025
Buku terbitan tahun 1991 ini merupakan olahan dari thesis doktoral Sikkink di Columbia University tahun 1988. Sikkink mengupas dan membandingkan keberlanjutan dan karakter developmentalisme di Argentina dan Brazil. Singkatnya Argentina merupakan bentuk developmentalisme yang zig-zag begitu ada pergantian rejim, sementara Brazil meski sama-sama mengalami rejim militer tetap menerapkan developmentalisme. Developmentalisme di kedua negara mengakar pada nasionalisme dan melihat politik ekonomi global sebagai ancaman. Namun keragaman developmentalisme dapat terlihat dari pemikiran Prebisch, Gunder Frank, hingga Cardoso. Salah satu faktor yang diidentifikasi oleh Sikking ada karakter dari koalisi development di kedua negara. Pergantian pemerintahan nasioanlistik, militer dan lefty yang pernah mewarnai meski dalam kurun waktu dan kedalaman yang berbeda. Sikkink memberikan komparasi yang mendalam dan terukur atas kedua kasus yang dipilihnya. Secara khusus, Sikkink di buku ini menempatka ide dalam ranah rationalistik (pendekatan Liberalisme) seperti Ideas and Foreign Policy: Beliefs, Institutions, and Political Change

Buku ini menjadi landasan penting untuk melihat perkembangan kebijakan pemerintah di Amerika Latin, Brazil terutama, pada awal abad ke-21 hingga kini. Istilah New-developmentalisme yang dapat dipahami sebagai hibrid antara ide-ide developmentalisme di tengah hegemoni norma pasar atau Neoliberalisme tidak bisa mengabaikan periode developmentalisme 'klasik' yang berkembang sejak pertengahan abad ke-20. Gagasan intervensi negara dalam pencapaian industrialisi untuk keluar dari ketergantungan sumber daya melalui peningkatan competitive advantage tak lepas dari dinamika koalisi domestik. Namun begitu, gagasan dan koalisi domestik tersebut tidak terlepas dari faktor negara lewat lembaga-lembaga di dalamnya. Ini adalah argumen Sikkink dalam mengisi celah akademik kajian Amerika Latin yang pada masa itu didominasi pendekatan sistemik (world system theory, dependencia dll) dan pendekatan sociatal.



Di lain hal, ceruk akademik yang ingin diisi dengan mengajukan ideas and bringing state back in karena overdominan kajian sistemik dan societal, pertanyaannya apakah komparasi tersebut malah justru terjebak dalam methodogi nationalism? yang membuat batas 'imajiner' negara seolah menebal dan mengabaikan linkage antara sistemik-negara-societal, yaitu transnasional. Hal ini saya ungkapkan karena kajian Sikkink seolah steril dari zetgeist zaman itu. Kehadiran rejim militer di Brazil dan Argentina bukan semata karakter regional Amerika Latin, namun tidak bisa dilepaskan dari Cold War mentality dan Politik Luar Negeri AS di kawasan. Bagaimana elit domestik dan aktor internasional berkelindan kepentingan seperti luput jadi sorotan yang membedakan soliditas koalisi penyokong developmentalisme di kedua negara itu.

Hal itu menjadi sangat relevan bila dikaitkan dengan pemerintahan di Brazil saat ini. Dari Cardoso hingga sekarang, antara market disipline yang menjadi resep neoliberal dan intervensi negara yang menjadi kunci developmentalisme tidak pernah menjadi sepenuhnya oposisional. Hibrid atau amalgam atau assemblage menjadi kelaziman di lapangan. Hal ini bukan semata faktor path dependence dan institutional memory, namun juga karena koalisi domestik tidak lagi sepenuh binary namun juga koalisi tersebut mengalami internasionalisasi atau aspek transnasional. Koalisi domestik pada saat ini akan sangat menantang bila diperlakukan melampaui batas negara.

Seperti contoh kasus Indonesia, koalisi kuasa tambang yang nampak mendominasi politik nasional Indonesia akan lebih menarik juga dalam relasinya terkait penurunan permintaan batu bara, dan juga perubahan norma internasional terkait green development. Alih rupa koalisi nasional karena pengaruh norma dan pergeseran koalisi internsional tersebut menjadikan koalisi tambang Indonesia bukan semata aktor terisolir tetapi memiliki relevansi internasionalnya. Singkatnya koalisi tambang sebagai aktor inter-mestik.

Simpulan saya argumen buku ini yang menyatakan bahwa Brazil lebih stabil dan berkelanjutan dalam menjalankan nuansa developmentalisme dibandingkan Argentina nampaknya beresonansi hingga saat ini. Dampak keberlanjutan itu, Argentina sepertinya lebih sulit keluar dari krisis hutang tahun 1980an dan ekonominya relatif tidak stabil dibandingkan Brazil.

Sedikit tambahan hal subyektif, saya pribadi tertarik atas buku ini lebih karena saya membaca naskah thesisnya sebelumnya. Di thesis yang diterbitkan pada tahun 1988, Sikkink menuliskan, "I started studying ideas, and I ended up studying individuals and institutions. My research on developmentalism in Argentina had convinced me that neither shared economic ideas nor shared economic inter­ests were an adequate basis for political coalitions. Disembodied ideas didn't waft through the air to have an abstract influence on political debates. Nor did I find clear evidence of particular classes serving uniformly as the carriers of particular ideas, as I had originally expected. The influence of new ideas was profoundly intertwined with the national historical and political context in each country. It was impossible to trace the influence of ideas unconnected from the politics of the period. Ideas were carried by specific individuals and institu­tions."

Yang perlu digarisbawahi dari statement Sikkink itu adalah perjalanan pemikiranya penuh lika-liku sebelum final tercetak dalam buku ini. Ia berangkat dari gagasan ideas does matter kemudian bekelindan dengan gagasan Bringing the State Back In. Sebagai pelajar tingkat doktoral, saya seolah bercermin dan berkata, "it's ok to be ababil, yang penting teruslah berproses. Semoga tidak lewat masa beasiswa :)" Loh curhat! hehehe

Selain itu, buku ini dibandingkan karya akademik Sikkink menjukkan change and continuity. Di sisi keberlanjutan, nampaknya Sikking tekun di judul utama, "ideas and institutions". Terlihat dari karya Sikkink usai buku doktoral ini yang berkutat pada persoalan norma dan hubungan internasional. Sikkink menanggalkan developmentalisme atau persoalan ekonomi politik dalam karya-karya selanjutnya. Hal ini bukanlah hal yang unik atau aneh, karena pergeseran atau keberlanjutan ketertarikan akademik adalah hal yang lazim. Hal itu cuma menegaskan, karir pasca-doktoral tidak sepenuhnya ditentukan dan dibatasi oleh topik thesisnya, namun oleh kemampuan menentukan aspek apa yang layak ditekuni dari thesis yang dikerjakan sebelumnya.
Displaying 1 of 1 review