Hana terlalu banyak mengeluh, bahkan untuk hal-hal yang sepele. Ketika temannya--udah lupa namanya--membuat tulisan kondisi di sana di internet, dia malah menganggap itu sikap pamrih dan kurang sensitif. Lebih-lebih dia mengatakan bahwa hal tersebut tidak akan mengembalikan ibunya. Agak aneh kalau menurut saya. Padahal kalau berita bisa disebar lebih banyak, tidak menutup kemungkinan ada orang yang kebetulan ketemu atau kenal sama ibunya di pengungsian lain. Tapi, mungkin, mental Hana memang terguncang dengan musibah tersebut sehingga uring-uringan terus. Walau sebenarnya, mungkin, akan lebih menarik jika hana dan teman-teman mudanya ini lebih banyak terlibat dalam kegiatan sukarelawan atau gesit membantu kebutuhan orang-orang manula di pengungsian--bukan malah ngumpetin tisu toilet. :p
Ada satu adegan yang bikin saya ngikik, ketika Hana merasa bangga karena telah membantu proses kelahiran bayi. Padahal, kalau saya tidak salah--lupa lagi, Hana cuma bantu megangin si ibunya. Yang pontang-panting justru si temen cowoknya itu, mana dibentak-bentak lagi. :,)
Dan konflik bersama ibunya agak berlebihan. Hana terkesan terlalu memojokkan sang ibu, padahal setelah dijelaskan teman ibunya, justru ayahnya yang bermasalah. Tukang pukul, mabuk-mabukan, tapi kena Hana malah membenci ibunya? Dengan alasan ibunya terlalu bodoh karena mau menikah dengan ayahnya. Padahal akan Hana akan lebih mengesankan kalau jauh lebih peduli sama ibunya. Berusaha hidup lebih baik tanpa ayahnya, bukan malah memojokkan ibunya.
Terakhir soal pendidikan. Karena tidak sanggup kuliah, Hana memilih pasrah dengan nasib. Tidak berusaha mencari beasiswa atau apa gitu--tentunya sebelum ada bencana alam. Bukankah masih bisa diusahakan, bukannya malah menyalahkan ibunya lagi--yang katanya kurang mengerti dia. Pffft.
Selebihnya cukup, penggambaran tentang kondisi banjir dan tsunaminya sudah terasa.