Jump to ratings and reviews
Rate this book

Media & Kekuasaan: Televisi di Hari-hari Terakhir Presiden Soeharto

Rate this book
BAGAIMANA dinamika dan pergolakan yang terjadi di newsroom stasiun-stasiun televisi milik “Keluarga Cendana” dalam pemberitaan aksi-aksi demonstrasi mahasiswa yang sudah berlangsung tiga bulan, yang berakhir dengan lengser-nya Presiden Soeharto, Mei 1998? Jajaran redaksi Indosiar, RCTI, dan SCTV yang awalnya masih mencoba membela Soeharto lewat kebijakan pemberitaannya, akhirnya memberontak. Mereka pun ikut me­nyiarkan aksi­-aksi demonstrasi yang menyerang Sang Presiden. Ishadi SK mendeskripsikan dan menganalisis dengan cermat berbagai ketegangan yang terjadi di antara newsroom dan wakil pemilik di tiga stasiun itu, sampai akhirnya para wakil pemilik tidak mampu lagi mengendalikan isi pemberitaan. Artinya, Presiden Soeharto justru dijatuhkan oleh televisi-televisi yang berada di bawah kendalinya sendiri. Sebab, menurut Ishadi, tanpa ketiga televisi swasta itu reformasi mungkin tidak akan terjadi. Karya tulis ini disusun berdasar disertasi doktor pada Program Pascasarjana Universitas Indonesia.

286 pages, Paperback

First published March 24, 2014

2 people are currently reading
23 people want to read

About the author

Ishadi S.K.

4 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (27%)
4 stars
11 (37%)
3 stars
8 (27%)
2 stars
2 (6%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 9 of 9 reviews
Profile Image for May.
55 reviews3 followers
February 1, 2022
Sebagai catatan peristiwa, buku ini bagaikan ensiklopedia yang menceritakan secara rinci peristiwa lengsernya Soeharto pada 21 Mei 1998 dan latar belakang semua yang terjadi di dapur pertelevisian Indonesia. Ishadi SK berhasil menuliskan laporan peristiwa menjadi cerita mendebarkan dan lebih hebat dari fiksi sendiri.
Profile Image for Ame.
28 reviews
June 23, 2020
Sebagai orang yang tidak pernah merasakan Orde Baru dan hanya bisa mendengar serta membayangkan bagaimana Orde Baru itu, saya selalu ingin tahu seperti apa kondisi yang sebenarnya. Di luar dari apa yang buku sejarah di sekolah katakan, dan di luar dari sisi politik serta ekonomi, kali ini saya penasaran dengan dampak Orde Baru pada ranah pertelevisian. Itulah alasan mengapa saya membaca buku ini.

Buku ini nyaman dibaca untuk orang yang awam akan cara kerja media (khususnya berita) di televisi. Sejak awal penulis memberikan teori-teori dasar terlebih dahulu, tidak langsung lompat ke pokok permasalahan, sehingga orang awam seperti saya setidaknya punya gambaran bagaimana media televisi itu bekerja. Meskipun saya harus jujur, saya pribadi agak "lost" ketika penulis sudah membahas masalah ekonomi-- ini subjektif karena saya memang tidak paham bidang ilmu tersebut.

Di luar daripada itu, saya menikmati setiap proses ketika membaca buku ini.
Profile Image for Agung Wicaksono.
1,089 reviews17 followers
January 30, 2024
Memahami peran media pada zaman Orde Baru memang cukup menarik. Saat itu, televisi merupakan media massa yang menjadi favorit masyarakat. Sayangnya, saluran yang tersedia hanya TVRI dan berisi kegiatan-kegiatan positif pemerintah yang akhirnya jadi membosankan. Zaman pun berkembang dan masyarakat bisa mengakses saluran TV lain melalui parabola. Hal tersebut membuat khawatir pemerintah karena mereka tidak bisa mengendalikan saluran-saluran yang diakses masyarakat secara bebas. Lantas, pemerintah pun akhirnya menyetujui untuk mendirikan stasiun TV swasta pada 1989.

Stasiun pertama yang berdiri adalah RCTI, kemudian berlanjut SCTV, Indosiar, dan TPI. Orang-orang yang bisa mendirikan stasiun TV adalah mereka yang dekat dengan Suharto, jadi tak heran jika beberapa petingginya adalah anak-anak Suharto sendiri. Sikap pemerintah dalam mengendalikan TV swasta masih tetap kuat. Jadi, acara-acara yang akan ditampilkan pun sebelumnya harus mendapatkan izin Departemen Penerangan. Begitu juga dengan acara berita. Saat itu, TV swasta dilarang untuk membuat acara berita sendiri, sehingga mereka hanya menampilkan acara berita yang sebelumnya ditayangkan TVRI. Namun, seiring berjalannya waktu, mengetahui bahwa acara berita adalah tayangan yang menarik perhatian penonton dan bisa mendapatkan banyak pemasukan dari iklan, maka program berita mulai dibuat.

Tak disangka, pendirian stasiun-stasun TV swasta yang niat awalnya untuk menambah hegemoni Orde Baru, malah secara perlahan yang membuat kekuasaan Orde Baru semakin goyah. Hal itu terjadi menjelang mundurnya Suharto pada Mei 1998. Demo-demo yang dilakukan mahasiswa semakin masif dan kerusuhan terjadi, membuat para penguasa panik dan harus segera mengendalikan penayangan berita yang menyudutkan Suharto. Bersyukur, para staf yang mengelola acara berita di TV swasta masih didominasi jurnalis yang bersikap kritis dan ingin melawan arus. Salah satu contohnya adalah Desi Anwar yang memakai pita hitam di acara berita "Seputar Indonesia" RCTI sebagai bentuk kepedulian atas meninggalnya mahasiswa Universitas Trisakti yang ditembak oleh aparat. Efeknya, para petinggi RCTI yang saat itu masih kerabat dekat Suharto merasa sikap tersebut telah melawan pemerintah.

Itulah sedikit cerita yang disajikan di buku ini. Sebab, masih banyak informasi menarik tentang latar belakang pendirian stasiun TV swasta Indonesia beserta dinamika orang-orang penting yang berperan di dalamnya.
Profile Image for Kevin.
18 reviews1 follower
April 8, 2023
Sebuah buku yang sangat menarik untuk dibaca satu bulan menjelang 25 tahun Peristiwa Mei 1998.

Buku Pak Ishadi ini memberikan insight yang cukup menarik, lengkap dengan analisis dan opini dari disertasinya yang kemudian dikemas ulang ke dalam buku ini. Pak Ishadi mungkin tidak punya segudang data yang tajam, tapi sekumpulan kutipan wawancara dengan sejumlah eksekutif dan jurnalis yang terlibat pada masa itu memberikan inside story yang berbeda dan sulit untuk dilihat hanya dari apa yang keluar dari layar televisi.

Agak menarik ketika struktur buku ini benar-benar tidak banyak dirombak, sehingga disajikan seperti layaknya karya ilmiah, hanya di-repackage agar bahasanya masuk ke dalam pemahaman masyarakat awam. Buat saya, mungkin akan lebih seru jika buku ini bisa memberikan insight yang lebih berurutan secara kronologis, atau lebih menonjolkan drama dan tarik ulur multidimensi dari sejumlah kepentingan dan relasi kuasa yang secara kompleks membentuk dan menciptakan produk berita televisi seperti yang terjadi pada Mei 1998 silam. Tapi saya juga tetap menikmati format disertasi yang seperti ini.

Sayangnya untuk proses editingnya masih banyak salah ketik atau ketidaksempurnaan teknis yang mengganggu (misalnya tabel yang tidak tertata rapi dan konsisten, grafik yang sulit terlihat, font yang berganti-ganti secara tidak teratur, penulisan nama stasiun televisi dan/atau lembaga yang inkonsisten atau salah, dsb.) Begitu pula masih ada beberapa poin dan argumen yang terasa seperti terulang-ulang karena memang bukunya masih berstruktur seperti karya ilmiah, tanpa melewati perombakan dan pengeditan yang hati-hati.

Tapi sejauh ini, saya bisa bilang buku ini layak untuk menjadi satu buku yang bisa memberikan sudut pandang Peristiwa Mei 1998 yang unik dan berbeda, dan layak masuk dalam koleksi jurnalis maupun media junkies. Saya rasa hanya Pak Ishadi dan segelintir sedikit saja yang bisa mewawancarai orang-orang sekaliber Peter Gontha, Ira Koesno, Chrys Kelana, Don Bosco Selamun, Desi Anwar, dan masih banyak lagi jurnalis senior lainnya.
13 reviews
January 23, 2021
Sebuah buku yang sangat bagus mengenai bagaimana 3 stasiun tv swasta (RCTI,SCTV dan Indosiar) yang awalnya mendapat ijin berdiri karena kedekatan pemilik modal dengan penguasa,malah menjadi senjata makan tuan terhadap penguasa itu sendiri di bulan mei 98. Yang menarik adalah peralihan orientasi jurnalisme pada ketiga stasiun tv tersebeut dari yang melegitimasi kekuasaan,menjadi men delegitimasi ,dikarenakan tuntutan rating dan audien share
Profile Image for Pangestu Putri W.
4 reviews10 followers
June 11, 2019
buku ini sangat membantu saya dalam penelitian untuk melihat perjalanan media, terutama di ruang berita televisi. Shoemaker dan Reese menjadi pedoman buku ini dalam merepresentasikan kejadian 98. SUKAK BGT PAK BAGUS BGT INI PENUTURANNYA TEGAS MAKASIH PAK!!
Profile Image for Inggirwan.
14 reviews
March 20, 2025
Buku yang sangat cocok digunakan sebagai referensi pembuatan karya tulis ilmiah dengan tema jurnalistik era Orde Baru. Bagi anak sejarah, mungkin penyusunan buku ini agak kurang kronologis, jadi perlu kecermatan dalam membacanya. Secara keseluruhan buku ini memiliki cukup banyak istilah asing, untungnya oleh penulis diberikan penjelasannya. Jika menyoroti hal-hal yang lebih detail, ada beberapa bagian yang salah ketik, baik kata maupun angka. Namun, jumlahnya tidak terlalu banyak.
Displaying 1 - 9 of 9 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.