Hari ini, semesta berkontemplasi Pemuda itu duduk di sebelah gadis kecil Dan semesta dengarkan Apa yang mereka harus katakan Tentang hujan Tentang mengapa langit berawan Tentang kesedihan Tentang analogi-analogi yang tidak masuk akal
Hari ini, semesta berkontemplasi Pemuda itu guratkan luka di hati gadis kecil Seiris saja Seujung jari saja Kecil saja Namun cukup untuk memperingatinya
Hari ini, semesta berkontemplasi Jangan menangis lagi
I read this with a bittersweet feeling for she used to be my favorite lil author growing up. Now that her readers and herself have become.... adults, another book is out, and she confirms her place as a favorite again among others. I did not expect the format would be like this, but I ended up enjoying it a lot. It's poetic, it's heartfelt, it's honest, it's..... beautiful.
Hoping that the next books won't need another (five? ten?) years gap in between!
Saya bisa memvisualisasikan latar-latar dalam cerita ini dengan jelas, dan entah mengapa cerita ini terasa sangat personal. Begitu sederhana dan jujur, saya secara tidak langsung juga jadi ikut mengenang masa lalu #yak #ikutgalau hahaha... Saya rasa patah hati sepertinya memang bersifat universal, atau setidak-tidaknya, cerita dalam buku ini benar-benar menampar saya dan cerita patah hati di masa lalu #yak #sekian #sayajadinumpangcurhat
Dear Kak Sri Izzati, maukah kakak membuat satu keping ini menjadi cerita berseri seperti cerita lupus atau tetralogi seperti karya andrea hirata Saya tak menyangka cerita ini seperti belum usai namun telah terakhiri
saya suka sama ceritanya, pola penceritaannya, apalagi cara membelokkan alur dan membawa pembaca ke berbagai sudut pandang yang sampai sekarang masih penasaran untuk menentukan karakter mana yang bertindak, berjalan atau berpikir dan secara keseluruhan diksinya memang beda dari yang lain. Saat membaca ini rasanya seperti membuka kilasan adegan-adegan dan beberapa memoriam (karena ada paragraf yang dicetak miring, dan juga ada puisi dengan halaman yang berbeda dari halaman lain) entah alur ini mau menjelaskan alur maju atau malah mundur, atau alur yang stagnan (nah lho, ngajeg atau gimana nih?)
tapi sejujurnya, saya membaca dari halaman terakhir ke awal seperti membaca halaman di komik-komik jepang/manga/graphic novel, dan masih berusaha mencari analogi yang tak masuk akal yang disuguhkan di sinopsis yang diberikan di belakang buku.
Tapi sejujurnya (lagi) saya menangkap semua kisah di dalam novel malah masih sebagai prolog, bukan karena ngga ada interaksinya malah, karena dengan konotasi bahasa yang tidak menggunakan kata-kata rumit, namun membawa efek kepada interaksi karakternya yang sangat dalem dan lebih membawa pembaca bagaimana jalan pikiran tokoh secara intrapersonal.Seolah-olah mereka dalam keadaan yang baik-baik saja beda lagi Saat mereka terlibat dalam konflik batinnya (intrapersonal) yang lebih-lebih diungkapkan lebih jelas dengan bahasa tetap santun (walau pengungkapan kata Ariana sedikit kasar dan masih berkesan childlish).
Klimaks dan antiklimaksnya juga masih membingungkan untuk dipikir malah saya masih bingung, selama saya membaca menunggu klimaks, ternyata malah tidak ada, malah 10 halaman awal yang saya pikir sebagai prolog malah sudah menjadi klimaks itu sendiri
Secara intrinsik cerita ini mengalami banyak "kebolongan" mungkin, malah karena dari luar biasanya sebuah alur dari Kakak, karena berhasil membawa saya untuk membaca sampai akhir, bagi saya alur bukanlah periode tanggal berjalan di atas waktu, malah bisa jadi bagaimana cerita mengakali waktu berjalan. Sangat sukses dengan sudut pandang kedua, tapi masih terlalu tinggi untuk dipahami secara awam
Saya tidak habis pikir bagaimana Ariana dengan mudahnya tak memberikan pengertian, atau tak memahami, atau terlalu mudah untuk tidak paham atas emosi yang diberikan dirinya sendiri atau .... narator(yang terbaca selalu beda tiap bab, dan apa mungkin itu jalan pikiran ariana sendiri atau semua tokoh yang ariana sebut, atau narator yang bercerita tentang K, atau Adrian yang membaca semua ini, nah lho?)
Cerita ini seperti sebuah buku yang halaman lembar kosongnya masih belum terdeskripsikan meski serunya sudah tergambar dengan jelas kalau kita mau berprasangka
Bagi saya, cerita ini seperti puzzle yang belum jelas, atau seperti kertas putih kenyataan yang belum dilipat oleh lipatan klarifikasi-klarifikasi nyata, untuk menjadi bentuk yang jelas atau karena komunikasi dengan interaksi yang masih samar kepada naratornya sendiri karena menggunakan sudut pandang kedua tunggal.Naratornya siapa? Siapa? tidak tahulah saya, tidak ada yang menggamblangkan dengan jelas.Dan masih mengundang penasaran tanpa rasa misteri. Bahkan sampai akhir cerita yang akhirnya saya ingin menulis K sebagai narator malah bisa jadi dia bukan narator (karena dipengaruhi oleh tulisan bercetak miring tentang jalan pikir dan kehidupan Ariana) Atau naratornya itu Rafiqi. Tiba-tiba pada akhir cerita tahu-tahu sudah tertangkap scene dimana adanya organisasi. Sejujurnya saya suka pendeskripsiannya, namun rasanya cerita ini seperti cerita yang belum usai dan masih berada pada jeda
Satu Keping Masih belum utuh Ini masih belum lengkap serpihannya belum solid untuk menjadi satu keping
Semoga ada lanjutannya sebagai behind the scene (itu koin ya?)
Walaupun sudut pandang buku ini rumit, namun penyampaian isi dari buku sampai karena aku suka bahasa puitis yang digunakan Kak Izzati. Buku ini aku beli pas jaman SMA, habis acara bincang buku kemudian buku ini berkesempatan ditanda tangani langsung oleh Kak Izzati. Sempet aku taruh beberapa hari di atas meja kamar, sampai di titik ngerasai fase galaunya anak jaman SMA, langsung aku baca buku ini dan ternyata makin tambah galau hahaha.
Jujur, sudah selamaa itu nggak baca karyanya kak Izzati dan hamdalah kali ini baru bisa kekabul meluk buku ini secara fisik 😩🤏
Dan ya, overall aku rada bingung sama sudut pandang disini. Agak bingung sampai akhir alasan apa sih yang bikin K nolak? Terus kaya terasa loncat kesana kemari timelinenya jadi rada bingung. Tapi biarpun gitu, nggak bisa dipungkiri juga kalau puisi-puisi yang terselip dibuku ini bagus banget 🥺✨
This entire review has been hidden because of spoilers.
(Tapi cari softcopy cover buku ini aja gak dapet-dapet.)(EDIT: Cover udah dapet hasil minta penulis di ask.fm)
Mungkin, jika saya membaca buku ini setahun yang lalu, saya bisa memberikan 4 bintang.
I was that naive.
Bukan berarti buku terbarunya Sri Izzati ini terasa polos atau apa, tapi... tulisan-tulisan ini bisa ditemukan di blog penulis yang sering saya ikuti.
I wanted some surprises.
Tentang Ariana yang sedang patah hati, dan tulisan-tulisannya untuk K, yang bahkan pembaca tidak tahu nama lengkap K.
Tulisan-tulisan ini terasa personal, seperti yang saya sebutkan tadi, mungkin karena tulisan tersebut pernah dimuat di blog penulis, sehingga terasa bahwa penulis yang menuliskan itu, bukan Ariana.
Mungkin juga karena penulis pernah menyebutkan sedang patah hati.
Oops.
But we all have gotten our heart broken by some boy. A boy we truly love, but we. just. can't.
In my case, it's always because he doesn't like me the way I do.
In my case, it's always because there's this girl who's prettier, nicer, smarter than me.
In my case, it just doesn't work out.
In my case, hell, I'll just love him until we both graduate and he'll still know about it but won't make an effort to talk to me about it because it seems like he can't help it.
But he can.
In my case, maybe he actually likes me more than just friend, but he won't make any effort because maybe he thinks I'm not worth to fight for.
Do you know what I've been thinking these past years?
That he's not worth it.
He's not worth my time, my tears, my feeling... He. Is. Not.
A friend once asked me, "How do we know if he's worth it?"
"When he does the same thing to us," I replied.
And he didn't.
Ariana/Izzati, you'll be fine in the end. If it's not okay, then it's not the end. You may find someone new, you may feel scared, wondering if this one will end up badly--it's okay.
Even if it doesn't work out again, like in my case.
3/5
And there you are on your knees, begging for forgiveness, begging for me. Just like I always wanted, but I'm so sorry...
This entire review has been hidden because of spoilers.
Setelah sekian lama Izzati gak nulis buku, dari jaman masih KKPK. Akhirnya tahun ini nulis lagi. Kali ini temanya beda dari bukunya yang dulu-dulu, isinya tentang cinta dan patah hati gitu. Nggak kerasa ya, kita sudah tumbuh besar. Cepet bangeeeet euy :")
Gaya menulis Izzati menyenangkan, bahasanya ringan dan mudah dipahami. Yang aku suka dari buku ini dan gaya penulisannya adalah Izzati menulis bukan semata-mata untuk dibaca, tapi untuk mengutarakan rasa. Menceritakan apa yang ada dalam benaknya.
Untuk kita semua; jangan pernah berhenti membaca dan menulis ya! :)
Anggap saja aku gak paham tentang suatu hal bernama "cinta". Anggap saja aku gak minat akan cerita-cerita "cinta". Karena aku--meskipun suka dengan beberapa diksinya--kurang menikmati suguhan buku bersampul tosca ini. Isinya terlalu nyata dan biasa (atau cuma perasaanku?); ringan. Beberapa unsur intrinsik terasa agak kabur. Puisi-puisi yang nyempil di antara bab-babnya, aku lumayan suka. Paling suka dengan tutorial origami paper crane setelah epilog hehe :^)