Jump to ratings and reviews
Rate this book

Tirani Demokrasi: Sebuah Selebaran

Rate this book
“Duduk sama rendah, berdiri lain-lain tingginya.” ‘PBB’, Taufiq Ismail.

Buku ini adalah peninggalan Sapardi yang paling tidak dikenal: Tirani Demokasi. Selebaran yang memberi peringatan. Seno Gumira Ajidarma, penulis

Di tangan Sapardi Djoko Damono kompleksitas demokrasi bisa disampaikan dengan ringan dan sederhana. Buku ini menunjukkan dia bukan hanya begawan sastra tapi juga seorang pemikir yang sangat peduli dengan masa depan bangsanya.

Iwan Esjepe,
Founder & CCO Ideasphere Transformation Bureau.

146 pages, Paperback

First published May 1, 2014

10 people are currently reading
43 people want to read

About the author

Sapardi Djoko Damono

122 books1,589 followers
Riwayat hidup
Masa mudanya dihabiskan di Surakarta. Pada masa ini ia sudah menulis sejumlah karya yang dikirimkan ke majalah-majalah. Kesukaannya menulis ini berkembang saat ia menempuh kuliah di bidang bahasa Inggris di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Sejak tahun 1974 ia mengajar di Fakultas Sastra (sekarang Fakultas Ilmu Budaya) Universitas Indonesia, namun kini telah pensiun. Ia pernah menjadi dekan di sana dan juga menjadi guru besar. Pada masa tersebut ia juga menjadi redaktur pada majalah "Horison", "Basis", dan "Kalam".

Sapardi Djoko Damono banyak menerima penghargaan. Pada tahun 1986 SDD mendapatkan anugerah SEA Write Award. Ia juga penerima penghargaan Achmad Bakrie pada tahun 2003. Ia adalah salah seorang pendiri Yayasan Lontar.

Karya-karya
Sajak-sajak SDD, begitu ia sering dijuluki, telah diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa. Sampai sekarang telah ada delapan kumpulan puisinya yang diterbitkan. Ia tidak saja menulis puisi, tetapi juga menerjemahkan berbagai karya asing, menulis esei, serta menulis sejumlah kolom/artikel di surat kabar, termasuk kolom sepak bola.

Beberapa puisinya sangat populer dan banyak orang yang mengenalinya, seperti Aku Ingin (sering kali dituliskan bait pertamanya pada undangan perkawinan), Hujan Bulan Juni, Pada Suatu Hari Nanti, Akulah si Telaga, dan Berjalan ke Barat di Waktu Pagi Hari. Kepopuleran puisi-puisi ini sebagian disebabkan musikalisasi terhadapnya. Yang terkenal terutama adalah oleh Reda Gaudiamo dan Tatyana (tergabung dalam duet "Dua Ibu"). Ananda Sukarlan pada tahun 2007 juga melakukan interpretasi atas beberapa karya SDD.

Berikut adalah karya-karya SDD (berupa kumpulan puisi), serta beberapa esei.

Kumpulan Puisi/Prosa

* "Duka-Mu Abadi", Bandung (1969)
* "Lelaki Tua dan Laut" (1973; terjemahan karya Ernest Hemingway)
* "Mata Pisau" (1974)
* "Sepilihan Sajak George Seferis" (1975; terjemahan karya George Seferis)
* "Puisi Klasik Cina" (1976; terjemahan)
* "Lirik Klasik Parsi" (1977; terjemahan)
* "Dongeng-dongeng Asia untuk Anak-anak" (1982, Pustaka Jaya)
* "Perahu Kertas" (1983)
* "Sihir Hujan" (1984; mendapat penghargaan Puisi Putera II di Malaysia)
* "Water Color Poems" (1986; translated by J.H. McGlynn)
* "Suddenly the night: the poetry of Sapardi Djoko Damono" (1988; translated by J.H. McGlynn)
* "Afrika yang Resah (1988; terjemahan)
* "Mendorong Jack Kuntikunti: Sepilihan Sajak dari Australia" (1991; antologi sajak Australia, dikerjakan bersama R:F: Brissenden dan David Broks)
* "Hujan Bulan Juni" (1994)
* "Black Magic Rain" (translated by Harry G Aveling)
* "Arloji" (1998)
* "Ayat-ayat Api" (2000)
* "Pengarang Telah Mati" (2001; kumpulan cerpen)
* "Mata Jendela" (2002)
* "Ada Berita Apa hari ini, Den Sastro?" (2002)
* "Membunuh Orang Gila" (2003; kumpulan cerpen)
* "Nona Koelit Koetjing :Antologi cerita pendek Indonesia periode awal (1870an - 1910an)" (2005; salah seorang penyusun)
* "Mantra Orang Jawa" (2005; puitisasi mantera tradisional Jawa dalam bahasa Indonesia)

Musikalisasi Puisi

Musikalisasi puisi karya SDD sebetulnya bukan karyanya sendiri, tetapi ia terlibat di dalamnya.

* Album "Hujan Bulan Juni" (1990) dari duet Reda dan Ari Malibu.
* Album "Hujan Dalam Komposisi" (1996) dari duet Reda dan Ari.
* Album "Gadis Kecil" dari duet Dua Ibu
* Album "Becoming Dew" (2007) dari duet Reda dan Ari Malibu
* satu lagu dari "Soundtrack Cinta dalam Sepotong Roti", berjudul Aku Ingin, diambil dari sajaknya dengan judul sama, digarap bersama Dwiki Dharmawan dan AGS Arya Dwipayana, dibawakan oleh Ratna Octaviani.

Ananda Sukarlan pada Tahun Baru 2008 juga mengadakan konser kantata "Ars Amatoria" yang berisi interpretasinya atas puisi-puisi SDD.

Buku

* "Sastra Lisan Indonesia" (1983), ditulis bersama Subagio Sastrowardoyo dan A. Kasim Achmad. Seri Bunga Rampai Sastra ASEAN.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
8 (29%)
4 stars
14 (51%)
3 stars
4 (14%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (3%)
Displaying 1 - 5 of 5 reviews
Profile Image for bojfischer.
99 reviews6 followers
January 13, 2018
Sapardi Djoko Damono menulis selebaran tentang gugatannya terhadap demokrasi. Selebaran itu diberi judul Tirani Demokrasi. Kalau anda mengira SDD sedang bermain kata-kata, anda terlalu gegabah. Akan tetapi kita memang patut bertanya bagaimana demokrasi bisa menjadi tirani? Barangkali anda punya kebingungan yang sama atau justru merasa takjub dengan judul selebaran itu. Untuk mengetahui demokrasi menjelma jadi tirani, pertama-tama, kita sebaiknya tidak meremehkan SDD sebagai orang yang sok tahu tentang demokrasi atau drama politik, baik nasional maupun internasional. Stereotip dangkal yang menyebut sastrawan tidak mungkin mampu menulis tentang sosial-politik sebaiknya disingkirkan. Begitu juga tidak perlu memasang kuda-kuda ideologi anda untuk bersiap berlari menjauhi segala macam pendapat SDD. Sebab hal-hal semacam itu malah membuat anda mendekat pada sikap anti-intelektualisme. Bersikap tidak mau tahu itu boleh, tapi menjadi semakin tahu itu lebih penting.

Selebaran berjumlah 120 halaman itu disusun layaknya sebuah film dokumenter. Mula-mula pembaca dihadapkan dengan cerita masa muda SDD mengantar ibunya mengikuti Pemilihan Umum pertama Republik ini tahun 1955. Tiba-tiba diajak melompat 60 tahun kemudian, setelah itu kembali lagi ke masa lalu. Sebagai tulisan penutup, SDD menyuguhkan kisah Akhir 2014 yang berisi harapan kepada seorang ‘Manusia Terpilih’. Buku ini memang ditulis sekitar tahun 2014, maka tidak mengherankan bila peristiwa politik kontemporer yang dipotret kebanyakan berkisar pada tahun-tahun itu.

Selanjutnya SDD memberikan komentarnya terkait konsep demokrasi. Menurutnya demokrasi, yang sudah diketahui banyak orang juga, merupakan istilah yang diimpor dari asing. Asing di sini bermakna tidak asli berasal atau muncul dari mulut bangsa Indonesia. Namun sebenarnya SDD menyadari bahwa bangsa Indonesia memiliki unsur-unsur dan nilai-nilai yang dinamakan sebagai demokrasi. Soal demokrasi, SDD sependapat dengan, seorang akademisi dan novelis sayap kiri, Raymond Williams yang menyebut bahwa demokrasi merupakan kata dengan makna kompleks. Agaknya dari Raymond Williams pula SDD terinspirasi mengatakan bahwa demokrasi merupakan istilah impor. Keduanya sama-sama sepakat bahwa demokrasi berarti kekuasaan rakyat.

Selain konsep demokrasi, SDD juga mengomentari peristiwa-peristiwa politik baik nasional maupun internasional. Mulai dari terbentuknya negara-bangsa, peristiwa Crimea, hingga perilaku politik para politisi dalam negeri. SDD terkesan bingung dengan ontran-ontran yang terjadi di Crimea sana. Pertanyaan lugu ditampilkan; mengapa Rusia dan Amerika Serikat ikut ribut soal masalah Crimea mau gabung Uni Eropa (Ukraina) atau Rusia? Menurutnya semua tidak lepas dari Perang Dingin baru. Perang Dingin antara dua blok besar ideologi atau negara tidak pernah selesai, melainkan tetap berjalan dengan gaya berbeda alias kalem/diam-diam. Kalau begitu istilah alternatifnya adalah Perang Beku, karena semakin dingin.

Perihal dinamika politik dalam negeri, SDD pun melepaskan kritik pada istilah wakil rakyat dan model pemilihan umum saat ini yang banyak bermasalah. Para politisi yang mengaku sebagai wakil rakyat justru menyakiti rakyat. Kebanyakan dari mereka mementingkan dirinya sendiri ketimbang memikirkan kepentingan rakyat. Problem yang disampaikan SDD, sebenarnya sangat umum dan telah menjadi keresahan dari kita. SDD hanya menggarisbawahi permasalahan itu dan memanfaatkan nama besarnya untuk mengritik praktik kotor politisi-politisi tak bertanggung jawab itu.

Jika dirangkum dan dikumpulkan inti bahasan selebaran ini, maka hasilnya adalah sebagai berikut; keresahan makna demokrasi, perkembangan demokrasi dunia, Amerika Serikat sebagai negara yang gencar mengekspor demokrasi, dibalik agenda ekspor itu ternyata AS sedang menampilkan laku sebagai tiran, polemik kebudayaan, dan kisruhnya hubungan antara mayoritas dengan minoritas. SDD sedikit menyinggung masalah 65. Sama halnya dengan kawan-kawannya, argumen SDD bisa ditebak; tragedi 65 bukan kesalahan bangsa ini, tetapi andil dari politik global yang saat itu sedang terjadi Perang Dingin. Negara adidaya semacam Amerika Serikat itu terlibat dalam tragedi tahun 1965 itu. Hal itu sama halnya yang terjadi pada Crimea waktu lalu.

Sayangnya SDD tidak menampilkan analisis ekonomi-politik untuk membedah kemunculan tirani dalam demokrasi. Begitu juga untuk menjelaskan akar permasalahan konflik antara mayoritas dengan minoritas, misalnya peristiwa Crimea. Pada salah satu tulisan berjudul Bangsa: Mayoritas, Minoritas, SDD hanya menulis, “...adalah kaum minoritas di Ukraina dan sebagian merasa lebih aman kalau kembali ikut Rusia”. Benarkah sebagian itu merasa aman kalau kembali ikut Rusia? Padahal alasan Rusia menginginkan kembali Crimea sebab terdapat ladang minyak di sana. Arena perebutan kuasa atas sumberdaya politik dan ekonomi—yang menjadi tempat awal kemunculan konflik identitas tidak disinggung oleh SDD.

Sebenarnya istilah tirani demokrasi yang ditampilkan oleh SDD kepada sidang pembaca sangat membingungkan. Sayangnya SDD tidak membahas secara mendalam. Bab khusus mengenai tirani demokrasi memang ditampilkannya, tetapi upayanya menjelaskan konsep itu tidak memuaskan. Yang perlu digarisbawahi oleh para pembaca, buku ini adalah himpunan komentar SDD tentang demokrasi. Menurutnya demokrasi saat ini menjadi tirani. Konsep tirani merujuk pada sesuatu tata kelola masyarakat yang despot. Siapa saja tidak memiliki hak untuk menyuarakan haknya kecuali si pemimpin tiran itu sendiri.

Jika ditautkan dengan demokrasi maka demokrasi saat ini telah menjadi despot untuk mengelola masyarakat. Masyarakat yang hidup dalam situasi demokratis menjadi tiran bagi dirinya dan orang lain. SDD menulis tirani demokrasi saat berada di negara demokrasi. Kalau misalnya secara bodoh dimaknai, maka ia bisa saja menjadi tiran atau tidak bisa menerbitkan selebarannya karena menurut argumen mayoritas selebaran itu jelek. Tetapi selebaran itu berhasil terbit dan berusaha mengajak pembaca membebaskan pikirannya. Oh, mungkinkah masyarakat dengan pikiran bebas dan kritis itu menjadi tiran? Barangkali judul yang tepat untuk selebaran itu adalah Tirani di tengah Demokrasi atau Demokrasi Melahirkan Tirani.

Begitu pun secara sederhana kita bisa menyadari bahwa hari ini demokrasi telah menciptakan tirani yakni tirani mayoritas. Di antara mayoritas tersebut mengusung politik identitas atas nama demokrasi, padahal secara perlahan tindakan itu akan membunuh demokrasi. Misalnya aksi demonstrasi kelompok fasis yang menggunakan bungkus agama dan ras; islamofasis, christofasis, budhismofasis, white supremacists, dan sebagainya. Mereka-mereka ini memanfaatkan demokrasi sebagai tameng untuk melakukan tindakan anti-demokrasi salah satunya rasisme hingga tindakan pembersihan etnis.

Ditulis dengan gaya mendongeng, pembahasan tentang demokrasi dilakukan melalui penampakan pengalaman-pengalaman SDD pada berbagai peristiwa politik. SDD membagikan pengalamannya sekaligus memberi komentar terhadap peristiwa-peristiwa politik tersebut. Selain itu membaca selebaran ini harus teliti dan siap melakukan tafsir ulang untuk memaknai maksud SDD. Buku ini masih memiliki banyak kekurangan. Sebagaimana yang ia akui sendiri dalam suratnya kepada Goenawan Mohamad, ia tidak jago menulis esai. Meski surat itu disampaikan saat SDD masih muda, menurut saya selebaran ini mengulang keresahan atas dirinya yang tidak jago menulis esai sewaktu muda. Selain itu selebaran yang memuat topik pembahasan sangat umum ini tidak padat secara teoritik. Maka tidak salah saya menyebutnya himpunan komentar SDD untuk demokrasi. Meskipun begitu, menyimak pandangan sastrawan terhadap demokrasi dan politik amatlah menarik.
Profile Image for Hestia Istiviani.
1,043 reviews1,973 followers
February 12, 2024
Waktu-waktu Pemilu + menonton Eksil dua kali memang sebuah kombinasi yang memantik berpikir kritis. Bagaimana kalau mencoba menutup masa kampanye dengan sebuah selebaran? 📄📄📣📣

Tirani Demokrasi sebenarnya diterbitkan pada 2014. Kumpulan tulisan Saprdi Djoko Darmono ini bukan berisi puisi seperti yang ku kenal. Melainkan esai-esai pendek tentang pengamatan SDD tentang kontestasi politik dan makna Demokrasi.

Diawali dengan Pemilu 1955, lalu mengkritisi bagaimana Demokrasi sebuah negara lebih sering didefinisikan suka-sukanya yang berkuasa ketika itu, hingga tertawa satir terhadap istilah Politik Dagang Sapi (serius, beliau merasa kasihan mengapa para Menteri dianalogikan seperti Sapi dan Caleg bak seekor Kucing).

Tidak hanya perkara Demokrasi yang ada di Indonesia. SDD juga membahas tipis-tipis Demokrasi yang “diakui” oleh Amerika Serikat dan bagaimana negara tsb “mengontrol” pergerakan negara-negara teri seperti Vietnam. Buatku, apa yang diutarakan oleh SDD tidak sepenuhnya hal baru. Apalagi jika sudah pernah membaca buku bertopik serupa. Hanya saja, aku takjub kalau naskah SDD dalam Tirani Demokrasi bisa aku nikmati.

Memang, SDD mencoba memberikan pandangan bahwa yang terjadi pada Pemilu 1955 dan 2014 rupanya tidak banyak berubah. Bahkan berisiko memunculkan tiran yang baru. Tapi dari Tirani Demokrasi inilah setidaknya aku punya pengetahuan kalau kita masih perlu banyak usaha agar Demokrasi bukan sekadar jargon & slogan. Jangan sampai Demokrasi cuma sekadar kedok untuk menghindari memilih kucing dalam karung atau dagang sapi.

“Kebebasan demikian sebenarnya adalah ‘kebebasan’ belaka sebab sebelumnya semua sudah ditentukan oleh Partai, yang sepenuhnya menentukan siapa yang bisa dipilih.” —hlmn. 91

Terima kasih @sastragpu sudah menerbitkan (ulang) tulisan-tulisan ini tepat pada saat yang paling genting dalam Demokrasi Indonesia.
24 reviews1 follower
April 14, 2025
Pembaca harus memahami dahulu situasi dan kondisi politik yang terjadi di Indonesia dan situasi sosial politik secara internasional untuk bisa memahami penuh isi dari buku ini. Di luar itu buku singkat ini cukup mudah dipahami dan dapat merangkum segala isu dan isi pikiran Sapardi dari hulu hingga hilirnya.
Profile Image for Kamala.
17 reviews
October 31, 2025
Menariknya buku ini adalah cara penyampaian SDD yang lugas dan penuh informasi. Pengalamannya mengikuti pemilu dari waktu ke waktu memberi sudut pandang yang personal dan reflektif, menjadikan tulisan bukan hanya esai politik, tetapi juga catatan kritis yang menyentil.
Profile Image for Aini.
5 reviews
December 2, 2025
Aku selalu suka gaya penulisan Pak Sapardi karena sederhana dan mudah dipahami, dan buku ini sangat informatif bagiku.
Displaying 1 - 5 of 5 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.