Jump to ratings and reviews
Rate this book

Kelir Slindet

Rate this book
Kelir Slindet adalah sebuah potret kelam masyarakat desa yang terjebak dalam budaya dan mentalitas kemiskinan struktural: budaya dan mentalitas "pasangan Saritem dan Sukirman" yang telah melanggengkan kemiskinan, kejumudan, kemaksiatan, dan kemudaratan yang berkelindan dari generasi ke generasi. Keberhasilan Kedung Darma Romansha merekonstruksi "realita" kelam tersebut hanya bisa dicapai oleh penulis yang (pernah) menjadi bagian dari dan merasakan secara langsung ritme kehidupan mereka; di samping tentu saja yang memiliki kualitas emosional yang begitu terjaga dalam proses kreatifnya. Saya merasakan Romansha sebagai penulis muda yang sangat potensial dan dapat memberikan warnanya pada peta sastra Indonesia.—Hery M. Saripudin Kepala Pusat Pengkajian dan Pengembangan Kebijakan Kawasan (P3K2) Asia Pasifik dan Afrika (Aspasaf), Kemlu, dan penikmat sastra.

Tidak banyak penulis novel sekaligus penyair, namun juga pemain teater yang tumbuh pasca generasi 80. Oleh karena itu, membaca karya Kedung Darma ini akan mendapatkan personalitas berceritanya yang tidak lepas dari latar belakangnya. Sebuah karya yang patut dibaca.—Garin Nugroho Sineas

Sebuah karya yang lahir dari perjalanan mata yang tidak hanya melihat. Rasa yang dalam, muncul dari tiap lembar kehidupan di sebuah kota kecil, yang penuh dengan kegetiran. Kita seolah dibawa ke sebuah dunia yang KITA sendiri, pembaca, yang mengalaminya.—Teuku Rifnu Wikana Aktor Film

Kedung Darma Romasha memang liar dan tengah menderita dendam. Dendam seorang santri pada tanah kelahirannya yang sangat ia cintai. Ia kerasukan, dan novel Kelir Slindet inilah yang menjadi saksinya.—Joni Ariadinata Sastrawan, Redaktur majalah sastra Horison dan ketua umum Jurnal Cerpen Indonesia

252 pages, Paperback

First published March 1, 2014

5 people are currently reading
80 people want to read

About the author

Kedung Darma Romansha

8 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
22 (19%)
4 stars
33 (29%)
3 stars
50 (44%)
2 stars
7 (6%)
1 star
1 (<1%)
Displaying 1 - 30 of 37 reviews
Profile Image for Nurina Widiani.
Author 2 books15 followers
October 28, 2017
Baca novel ini bikin geregetan. Melihat perubahan Safitri dari gadis lugu nan malu-malu, menjadi wanita yang dengan tabah menelan segala kasak-kusuk yang dilontarkan padanya. Mengingat usianya yg baru 14 thn, membuatnya terasa makin miris. Banyak cemooh sosial dalam novel ini, sayangnya aku sedikit lemah mengingat para tokohnya yg banyak dan sedikit kesulitan mencerna hubungan satu dan yg lainnya.
Narasi dan deskripsinya begitu detail, walau sering terjadi pengulangan pada deskripsi semacam: bau keringat, parfum murah, gincu tebal, dll.
Lumayan kesal dgn tokoh² di desa yg menggunjingkan Safitri, juga pada Saritem yg selaluuuuuu marah² dan melampiaskan semua pada Safitri. Namun, mungkin itu sebabnya mengapa aku jadi jatuh iba pada Safitri, karena seluruh desa seolah tak menyukainya.
Profile Image for Cep Subhan KM.
343 reviews26 followers
December 11, 2020
I read its new unexpurgated edition (2020) and I think to some extent it is a good novel. Its narration is filled by important detail. A changing narration style is done smoothly. The story is an interesting one especially because of the way it is depicted.

Some readers called it as an open ended novel and it is an inappropriate one since an open ended novel has finished with any part of its construction but has an incomplete ending, while this novel is unfinished in both of its construction and its ending. I think the novel is part of dwilogy with "Telembuk" but not in the same sense with our common understanding of a dwilogy: Kelir Slindet and Telembuk are a novel divided into two parts, you can read and understand Telembuk without reading Kelir Slindet but you cannot read and understand Kelir Slindet without Telembuk.

You could read my review here
Profile Image for Amal Bastian.
115 reviews4 followers
January 26, 2017
Diakali dengan ending tanpa klimaks dan menyuruh pembacanya mencari sendiri satu jawaban dari pertanyaan yang menggantung dalam cerita. Kedung mengajak pembaca agar masuk ke remang malam Indramayu, bersama paras ayu nan menggoda, gemerlap lampu panggung di ujung jalan, lamat suara tarling dangdut bersahutan dengan dengung adzan di mushalla-mushalla. Indramayu melahap kontradiksi. Indramayu adalah negeri santri, pun negeri dangdut yang menyuguhkan potensi erotisme lugu di tiap sisinya. Datang dan mampirlah, sapa, nikmati segala sajiannya. Buat desahmu mendalam, lenguhmu menghujam.
Profile Image for Yoyovochka.
312 reviews7 followers
February 12, 2023
Baca buku ini bikin saya kesal karena orang-orang yang begitu, yah, begitu nyata. Nasib Safitri yang pernah saya baca sebelumnya di buku kedua penulis akhirnya terungkap di bagian ini. Sial banget memang jadi orang cantik kayak dia, fitnahnya banyak banget. Busuknya, oknum-oknum yang berlagak suci itulah yang menyebarkan fitnah dan melenggang dengan bebas dan santainya sementara masih terus dibela masyarakat sekitar. Baca ini bikin saya naik pitam, tetapi begitulah masyarakat Indonesia ya, ada gelar keagamaan sedikit langsung dipercaya. Sementara jika punya masa lalu buruk, sudahlah, jangan berharap apa pun. Selalu saja bakalan dipersalahkan.
Buku ini menurut saya bagus banget, salah satu buku favorit saya tahun 2023.
Profile Image for Tresna Putri.
71 reviews
January 5, 2018
Kedung Darma Romansha dalam buku ini berusaha menyajikan kisah Safitri dengan latar Indramayu -yang terkenal dengan penyanyi dangdut-. Kalau di awal kisah banyak disinggung soal Mukimin, tapi di akhirnya hanya diceritakan soal Safitri dan itu pun dengan ending yang pembaca harus menyimpulkan sendiri atau kalau mau lebih nekad melakukan saran yang dianjurkan penulis untuk menanyakan ke penyanyi dangdut pantura "kemana perginya Safitri". Novel ini banyak mengisahkan karakter sosial masyarakat dan mengandung pesan moral.
Profile Image for Satria.
20 reviews4 followers
October 6, 2020
Tentang kisah paling keparat yg pernah diceritakan.

Safitri seorang anak Telembuk yg dipandang hina oleh masyarakat tak tau lagi harus berbuat apa. Menjelang hari-hari remajanya ia kesepian, sering jadi bahan gunjingan sampai ia kemudian hamil yg ia sendiri tak tau siapa yg menghamilinya.
Profile Image for Safara.
413 reviews69 followers
November 30, 2020
Bagus banget parah. Aku ngerasa lagi di dalam desa itu juga, mulai dari background pemandangan sampe cara bergosip ibu-ibunya khas banget 😁 Ga heran kalo menang penghargaan.
Profile Image for Deta Ariesandy.
48 reviews
October 6, 2019
Sesungguhnya bagaimana persepsi lingkungan bisa mengubah seorang individu adalah perihal yang mengerikan. Bagaimana kesalahan terus menerus diputar, disebarluaskan sebagai gosip-gosip penuh cekikikan.

Buku ini menceritakan tentang Safitri, anak seorang pelacur. Ia tumbuh menjadi gadis baik-baik. Berkerudung, rajin sekolah bahkan menjadi anggota kasidahan di kampungnya. Suaranya yang merdu, dengan nyaring melantunkan lagu-lagu Islami keseluruh penjuru kampung. Hingga akhirnya membuat Mukimin jatuh hati padanya. Saban hari Mukimin dengan setia mengintip Safitri lewat kaca nako masjid demi mendengar suara pujaan hatinya. Masalah dimulai sebab Mukimin adalah anak seorang kiayi di kampung itu. Bagaimana mungkin anak seorang kiayi menjalin hubungan dengan anak seorang pelacur? Padahal rasa suka di antara mereka berdua bahkan tumbuh tanpa ada pengaruh orang tua. Saritem, ibu Safitri, rajin sekali mendoakan agar anaknya memiliki masa depan cerah dan ia sangat bangga dengan anaknya yang tumbuh menjadi gadis yang cantik rupanya pun hatinya. Namun ternyata apapun kebaikan yang ada di putrinya itu selalu kalah dengan identitas Saritem sebagai pelacur. Padahal ada banyak pelacur di kampung itu, namun nama Safitri rajin disebut-sebut. Entah karena prestasinya sebagai penyanyi qasidahan entah karena hubungan asmaranya dengan Mukimin. Bagi warga disana, Safitri menyalahi kodrat. Anak pelacur harusnya tahu diri. Bukan berlagak seperti manusia suci, lebih-lebih berusaha menjadi bagian dari keluarga suci kiayi.

Selamat membaca!
Profile Image for Johanes Jonaz.
12 reviews5 followers
July 9, 2018
Kelir Sindet adalah potret masyarakat Cikedung yang rumit dalam keluguannya. Penulis mampu menyajikan kehidupan masyarakat Cikedung dengan hidup. Penokohan setiap karakter begitu khas, tentu saja dengan seting pedesaan yang terlukis dengan detil.
Safitri, tokoh utama yang kebingungan dengan jalan hidupnya adalah cerminan masyarakat yang kurang beruntung dengan mimpi setinggi langit. Kepolosan dan ketidaktahuan menuntunnya ke jalan yang lebih rumit, lebih rumit dari hidup nenek moyangnya. "Nyungsep" meskipun pada awalnya dipuja dan digandrungi banyak orang. Kecantikan saja tidak cukup untuk mengubah nasib, apalagi jika salah melangkah.
Yang kurang dari cerita ini adalah akhir yang mengambang, tanpa petunjuk di tengah atau di akhir cerita. Di samping itu, kehadiran tokoh dalam cerita ini terlalu banyak dan tidak berarti.
Profile Image for Ayu Ratna Angela.
215 reviews8 followers
November 24, 2020
Udah lama penasaran pengen baca buku ini sejak tau Telembuk diterbitkan ulang oleh Buku Mojok. Sejak awal saya penasaran sama arti dari judul-judul novel trilogi telembuk ini, mulai dari kelir slindet, telembuk, sama rab(b)i. Dan akhirnya tau artinya setelah baca kelir slindet hahaha...walaupun saya ga begitu paham jg sih kenapa buku pertama ini mengambil judul kelir slindet, padahal terkait si slindet ini sendiri cuma disebut 1 kali dalam cerita. Apakah ada maksud tersembunyi penulis dalam memilih judul ini?hmm...memang gak bisa nggak harus baca buku lanjutannya.

Saya suka sekali dengan gaya kepenulisan kedung yang segar, kocak, dan sama sekali jauh dari membosankan. Sangat terasa kalau kisah Safitri di Cikedung ini sangat dekat dengan pengalaman penulis yang memang asli Cikedung. Sebuah novel tipis namun sarat arti.

Kehidupan masyarakat Indramayu dengan bauran kehidupan santri dan tarling dangdut yang kental digambarkan dengan sangat baik dan mendetil sehingga pembaca seolah-olah ikut berada di Cikedung yang riuh. Isu utama yang diangkat dalam novel ini menunjukkan bahwa kemiskinan dapat mendorong manusia ke dalam jurang kehidupan yang paling kelam sekalipun. Bagaimana spiritualitas menjadi tidak lebih dari simbol dan cara untuk mengangkat posisi dalam masyarakat. Bagaimana kemelaratan dan kekacauan ini akan terus diwariskan kepada generasi-generasi selanjutnya.

Novel ini sedikit mengingatkan saya pada novel The Way I Used to Be yang diterbitkan oleh Penerbit Spring. Yang pernah baca pasti tau di mana kesamaannya.

Selain itu membaca novel kelir slindet membuat pembaca penasaran akan apa yang sebenarnya terjadi pada Safitri, siapa yang telah menghancurkan kehidupan anak gadis 14 tahun artis kasidah yang akhirnya banting setir menjadi artis tarling dangdut ini. Jadi, ada sisi misterinya juga. Komplit pokoknya. Sangat direkomendasikan untuk dibaca!!
Profile Image for Dessy Priyatna.
40 reviews
April 4, 2018
Jujur, saya tidak pernah tahu apa makna dari frase Kelir Slindet sebelumnya, dari KBBI dan sedikit dibahas di catatan kaki novel ini, kelir artinya topeng, sementara slindet adalah sejenis kerang hijau, entahlah mungkin saya harus bertanya pada orang-orang Indramayu dulu (FYI, novel ini bercerita tentang potret mayarakat desa Cikedung, Indramayu) 😊
.
.
Cerita diawali oleh Mukimin, ramaja desa anak Haji Nasir, yg mengendap-endap di jendela mushola untuk mengintip kecantikan bibir berwarna kepundung milik Safitri yg tengah berlatih kasidah. Safitri tak lain adalah anak dari seorang mantan telembuk (pelacur) dan ayah yg seorang pemabuk dan gemar nelembuk.
.
.
Mukimin yang urakan, konyol, kikuk dan Safitri yg lugu saling jatuh cinta, tapi toh cinta mereka adalah cinta yg mustahil. Tak mungkin anak seorang haji terpandang bersanding dengan anak mantan telembuk. Terlebih banyak pemuda2 desa yang kebanyakan adalah santri berlomba mempersunting Safitri karena kecantikannya.
.
.
Namun suatu malam jahanam telah mengubah arah hidup Safitri. Dia bukan lagi gadis lugu yg diharapkan bisa berdakwah lewat kasidah, dia lebih memilih menjadi artis dangdut organ tunggal dengan goyangan yg aduhai. Sekampung Cikedung geger dan heboh menggunjingkannya tatkala Safitri kedapatan hamil 5 bulan. Siapa yang menghamilinya? Hanya Safitri, sang lelaki, dan Tuhan lah yg tahu. Hal ini masih menjadi misteri. Kabarnya kisah Safitri dan Mukimin ini akan dilanjutkan di novel sekuel berjudul Telembuk, wah jadi penasaran 😁
Profile Image for Ariel Seraphino.
Author 1 book52 followers
November 28, 2020
Saya suka Kelir Slindet karena karakter tokohnya yang kompleks luar biasa. Mengangkat kisah cinta santri yang absurd di tengah kampung yang lumrah dengan kemiskinan, lokalisasi pelacuran dan dangdut pantura benar-benar menjadi resep yang menarik disajikan. Saya sendiri heran mengapa baru sempat baca buku ini lama setelah punya bukunya dengan cover lain dari yang sudah ada sekarang di pasaran. Kelir Slindet adalah buku kesatu dari trilogi kisah yang ada. Saya baru terpantik baca ini karena buku keduanya muncul lagi dengan penerbit berbeda, di Buku Mojok. Telembuk jadi buku keduanya, dengan judul kecil: Dangdut dan Kisah Cinta yang Keparat. Buku keduanya yang dari penerbit IBC juga sejak 2018 saya punya tp baru sempat baca sekarang. Karena itu harus baca Slindet ini dulu. Cikedung di Indramayu memang akrab dengan prostitusi, dangdut pantur dan kemiskinan, ini adalah potret buram kampung di Jawa Barat yang dikisahkan penulisnya: "kalo musim lebaran lewat, penduduknya berbondong-bondong ke Ibukota mencari pekerjaan atau menjadi TKI di luar negeri."
Saya juga kagum dengan cara penulis meramu tokoh Safitri yang lugu dan punya suara merdu kemudian "banting setir" menjadi penyanyi dangdut yang manggung di kampung-kampung. Kisah cintanya dengan Mukidin juga gak kalah menarik. Belum tragedi masa lalu keluarganya yang amburadul. Sayang sekali buku ini hanya menang Sayembara Roman Tabloid Nyata pada masanya.
Profile Image for Happy Dwi Wardhana.
244 reviews39 followers
August 24, 2018
Ah, seharusnya saya membaca buku ini dulu sebelum membaca Telembuk. Memang, rasanya ada potongan-potongan kisah yang ganjil di dalam Telembuk, yang hanya bisa digenapi jika membaca buku pertamanya: Kelir Slindet. Meski latar belakang Safitri sekilas dirangkum oleh penulisnya di buku kedua, tetap saja pembaca lebih bisa meneguk kenikmatan kisahnya jika membaca berurutan.

Rasa lokalitas yang kental dan kritik sosial yang tajam benar-benar terasa di novel ini. Kidung harus diberi apresiasi karena berani "menelanjangi" daerah asalnya sendiri.

Saya selalu suka dengan novel open ending dan penuh rasa lokal seperti ini. Pertama, menggugah jiwa traveling saya untuk napak tilas setting novel tersebut. Dalam novel ini, tentu saja Indramayu dan Jalur Pantura. Kedua, novel ini seakan-akan meminta saya untuk urun rembug bagaimana kisah itu harus diakhiri.
Profile Image for Vanda Kemala.
233 reviews68 followers
November 7, 2019
Mencari di iPusnas dan membaca Kelir Slindet karena merasa tak afdol untuk tidak tahu cerita awal sebelum membaca Telembuk.

Cukup suka cara penulis menggambarkan kondisi Indramayu dan penduduk yang tinggal di wilayah Pantura. Safitri dengan cita-cita menjadi penyanyi dangdut. Saritem, ibu Safitri, yang hidup sebagai telembuk. Sukirman, bapak Safitri, yang doyan main telembuk, tapi malah bukan sama Saritem yang istrinya sendiri.

Kemudian diramu sedemikian rupa, lewat cerita cinta Safitri dan Mukimin, juga lelaki pemuja Safitri yang lain.

Sayangnya, narasi terlalu panjang dan bertele-tele. Bikin capek. Pun males, bahkan nyaris berhenti di tengah jalan.

Endingnya entah sengaja dibikin penasaran perihal siapa yang menghamili Safitri, entah pula bakal dijawab di Telembuk.

Semoga aja terjawab, soalnya kasihan Safitri yang menanggung beban sendirian.
Profile Image for Fadhlan.
7 reviews
April 2, 2023
Kedung Darma Romansha berhasil membawa pembaca ke kehidupan pedesaan yang terlilit kemiskinan. Isu-isu sosial ikut dihadirkan secara halus dan tidak menggebu-gebu tapi berhasil menyadarkan pembaca atas apa yang sebenarnya terjadi di masyarakat. Perjudian, mabuk, dangdutan, agama, dan cinta menjadi satu tema besar berupa pelarian masyarakat atas kemiskinan yang mereka hidupi. Safitri, menjadi salah satu korban dalam roda kehidupan itu. Digambarkan dengan menarik bahwasanya masyarakat secara sistematis berhasil menarik nasib Safitri yang mulanya adalah seorang gadis polos artis kampung, menjadi orang terbuang yang najis dan berdosa. Buku ini tidak memberikan ending yang melegakan, karena pada kenyataannya, tidak ada yang melegakan dari kemiskinan.
Profile Image for Tika.
9 reviews
January 28, 2021
Sebelum membaca Telembuk, ada baiknya membaca ini terlebih dahulu. Tapi jika tidak berurutan seperti yang saya lakukan, tidak apa-apa, tidak banyak mengurangi kualitas dari pemahaman jalan cerita.

Jika Telembuk fokus pada jalan kehidupan Safitri saat menjadi penyanyi ternama. Maka Kelir Slindet adalah kehidupan awal sebelum Safitri terjun dalam dunia dangdut. Pergolakan batin dari beberapa tokoh dikisahkan dengan alur yang mulus dan membuat buku cepat habis tanpa disadari 😅

Untuk karya lain dari penulis ini, saya sangat berminat sekali karena memang gaya menyampaikannya tidak membosankan sama sekali.

♥♥♥♥♥
Profile Image for pat.
65 reviews2 followers
December 14, 2024
Begitu baca buku ini aku langsung teringat lirik lagunya Hindia yang Membasuh.

Bisakah kita tetap memberi walau tak suci?
Bisakah terus mengobati walau membiru?

Persis seperti kehidupan Saritem yang mau nggak mau masih harus menyandang title "telembuk" sampai ke anaknya, padahal dia sudah pensiun menjadi telembuk. Dengan title itu dia harus hidup diiringi stigma dari warga sekitar, seolah dia nggak dibiarkan untuk diampuni dan menjadi "suci" kembali.

Berawal dari Safitri sebagai penyanyi kasidah dan berakhir menjadi penyanyi dangdut. Menurutku, Safitri dan Saritem di sini berusaha buat membersihkan diri tapi nyatanya nggak semudah itu melawan stigma orang-orang. Mereka kalah telak.
Profile Image for Indriyani Santoso.
48 reviews1 follower
September 28, 2017
Coba hitung, ada berapa kata 'setan' dalam novel ini.
Dari sinopsisnya, nggak salah kalau membayangkan novel ini penuh adegan-dan deskripsi dari suasana Kota Indramayu yang mengumbar kemaksiatan yang ironis dengan berkembangnya mushala-mushala dan pesantren.
Namun, maaf saja (dan maaf juga karena Saya membandingkan dengan novel Eka Kurniawan), konflik yang diusung standar, romansa kurang greget rasanya, percakapan juga kurang mendalam, namun memang rentetan kata dapat membuat pembaca menjadi bervisualisasi tentang suasana.
Profile Image for Deny.
58 reviews4 followers
December 16, 2025
Membaca buku Kelir Slindet seperti melihat kehidupan sehari - hari di depan mata. Nyata memang banyak kehidupan masyarakat yang kita alami, seperti yang tertulis di sini. Dari dunia pergosipan, disuruh cepat2 nikah, bahkan tentang kemiskinan, dan pendidikan. Semua lengkap di sini. Pada akhir tulisan, pembaca dibuat menebak2. Menggantung yang bikin penasaran.
Profile Image for Umar Qadafi.
Author 3 books1 follower
December 26, 2017
Buku ini (kalau tidak salah) merupakan novel pertama Mang Kedung. Cerita yang disajikan terasa sangat lokal dan alur cerita berjalan lumayan mulus. Tetapi banyak sekali paragraf yang berupa deskripsi ketimbang narasi. Sehingga jalan cerita harus berhenti sejenak untuk menyelesaikan deskripsi (yang biasanya menghabiskan satu paragraf) untuk kemudian melanjutkan kisah ke paragraf selanjutnya. Semoga bukan karena novel ini merupakan novel untuk memenangkan sayembara sehingga kualitasnya pun sekadarnya (tapi ia melanjutkan ceritanya di novel ke dua yaitu "Telembuk" yang sepertinya mengasyikkan!).
Profile Image for Arfan Putra.
139 reviews3 followers
September 7, 2018
"Mereka hanya ikut-ikutan saja, cari sensasi baru, atau kepedulian-kepedulian yang dirancang untuk kepentingan tertentu. Kejahatan bisa tumbuh karena kecerobohan, ketidaktahuan, dan lepas dari kewajiban mencari tahu:

hlm 227
1 review
January 18, 2022
Buku yang menampilkan kehidupan masyarakat secara realistis, begitu terbuka namun tidak terkesan vulgar. Bagaimana kehormatan menjadi yang utama, meski hal tersebut harus merendahkan harkat dan martabat orang lain.
8 reviews
December 31, 2019
Buku ini frontal dan berani. Sangat relate dengan apa yang ada di negeri.
163 reviews
April 8, 2021
Sebenarnya ceritanya menarik,tapi saya kurang suka dengan gaya penulisannya. Terkadang berulang dan juga terkesan tidak runtut. Jadi terasa kurang mengalir saat membaca
Profile Image for dini.
239 reviews1 follower
October 4, 2025
seru banget sedih liat safitri dan aku yakin banyak safitri2 lain di Indonesiaaa
Profile Image for Teguh.
Author 10 books333 followers
May 16, 2014
Jujur di awal saya sedikit meremehkan buku ini. Buku dengan euforia tidak sehebat buku-buku lain. Tetapi seorang kawan baik, yang ternyata dia seperguruan dengan KEdung Darma Romansa, menyaranku untuk membacanya. Jadilah dibeli buku dengan sampul kuning (my beloved color) dan ilustrasi sampul yang cantik.

Kisah Safitri di daerah Cikedung, yang dianugerahi bibir semerah kepundung, cantik, dan berusara enak di dengar, menjadi titik fokus pembicaraan novel sepanjang 250 halaman ini. Safitri ternyata menjadi perbincangan banyak orang, bukan karena ia adalah keturunan pelacur dan berbapak tukang main perempuan dan suka menjilat haji caca saat ada perhelatan dangudt tarling. Tetapi karena dia cantik dan disukai banyak orang. Mulai kakak beradik Mustafa dan Mukimin (namanya asli Muhaimin), lalu banyak guru-guru ngaji yang menyukai Safitri. Tejadilah cinta segitiga.

Ternyata konflik itu bukan hanya masalah cinta. Ada pengkutuban antara dua dunia yang dalam pikiranjamak orang saling berseberangan, Dangdut Tarling dengan Kasidah, antara dunia pelacuran dnegan dunia santri dan kaji, antara dunia hitam dan dunia putih. Sehingga seperti penulis ingin menjabarkan dunia sekaran yang sudah chaos dan agak menghitam-putihkan kehidupan.

Lalu Safitri tiba-tiba sangat terpuruk dan menghilang. Dan tanpa dinyana Safitri muncul di konser dangdut tarling dengan memaerkan perutnya yang sudah isi. Dengan siapa Safitri hamil? Tidak akan diketahui sampai halaman terakhir novel ini.

Penulis sepertinya ingin membuat pembaca menyimpulkan sebenarnya mana yang benar dan mana yang salah? Apakah keluarga Safitri? Atau keluarga Haji Nasir? Lalu apa sebenarnya kebenran itu diterjemahkan dalam novel ini?

Mungkin kalimat untuk menjawabnya ada pada bagian ini: Sebab kebenaran itu bukan pada pikiran, melainkan kenyataan.

Novel ini berseting desa atau bahkan desit. Terbukti dari konfliknya yang sangat desa banget. Bergosip, budaya melabrak, budaya dangdut, budaya kasidah, dan desas-desus pesugihan terhadap orang kaya yang masih sangat kuat.
Saat usai membaca jadi ngaca sebenere konflik seperti ini masih sangat sering terjadi bahkan di desaku. Mungkin sepanjang pantura, daerah pegunungan, atau pesisir pantai takkan asing dengan konflik dalam Kelir Slindet.

Thanks Bang Kedung...!
Profile Image for fara.
280 reviews43 followers
August 19, 2022
Novel lokal ini bisa dibilang adalah novel yang frontal, eksplisit, dan berani. Mengisahkan kehidupan masyarakat Cikedung yang masih berada dalam kubangan kemiskinan. Saya suka bagaimana penulis menarasikan soal warga desa dan ciri khasnya yang bar-bar, ceplas-ceplos, suka bergosip, dan lebih percaya pada klenik daripada akal sehat. Benar-benar merepresentasikan gambaran orang-orang desa yang terbelakang. Penokohannya juga baik, terlebih latar belakang Safitri si anak mantan telembuk (pelacur) yang jatuh cinta pada anak seorang Haji, Mukimin. Endingnya bisa dikatakan terbuka karena penulis menyerahkan sendiri soal siapa yang menghamili Safitri, tapi karena ternyata ada kelanjutan dari cerita ini, saya rasa saya akan menyimpulkannya ketika sudah baca Telembuk. Meski pengulangan frasa parfum murah, gincu tebal, dan semacamnya agak mengganggu di tengah cerita, saya rasa Kelir Slindet punya daya tariknya sendiri yang membuatnya berbeda dengan novel lokal berlatar desa yang lainnya.
Profile Image for Mandewi.
574 reviews10 followers
April 21, 2016
Indramayu tahun 1997. Isu yang diangkat bagus banget. Penasaran apa sampai sekarang masih seperti itu?

Rasanya, apa yang terjadi pada Saritem dan keluarganya juga terjadi pada banyak keluarga di daerah lain selain Indramayu yang jadi setting cerita novel ini.

Masyarakat belum bisa menerima dengan lapang dada keberadaan bekas pelacur di lingkungan mereka. Masyarakat masih memandang rendah si mantan pelacur, bahkan tak jarang mengaitkan si anak ke masa lalu ibunya. Yang kedua, efeknya bisa lebih parah. Bagi anak yang lemah pendirian, barangkali akan seperti Safitri (anak perempuan Saritem). Kentara sekali ia lelah dengan omongan tetangga yang memandang rendah keluarga mereka. Sehingga bukannya ia membuktikan bahwa omongan tetangga itu salah, Safitri maah membenarkan dengan perbuatannya yang tidak terpuji.

Benar, kita takkan pernah tahu seberapa buruk efek yang dapat ditimbulkan kata-kata terhadap orang lain.
Profile Image for Nufira S..
56 reviews22 followers
Read
December 20, 2015
Sebenarnya 2.5 bintang, dibulatkan menjadi 3 untuk lokalitas yang mendalam, tema yang kuat serta kritik sosial yang tajam.

Sekalipun ada beberapa hal yang mengganjal.
Pertama, nyaris semua bab dibuka dengan penggambaran setting berupa suasana atau cuaca yang jujur saja membosankan.
Kedua, di tengah tiba-tiba muncul sosok "aku".
Ketiga, setidaknya ada di tiga halaman (salah satunya hal 93) ada kalimat langsung lebih dari dua tokoh dalam satu paragraf, bukannya ini haram hukumnya ya?
Keempat, tokoh yang terlalu banyak dan hanya dibicarakan sekilas, tidak mendalam.

But, well, saya suka tema dan budaya yang diangkat. Penulisnya begitu mangprang mengkritik kondisi sosial tanah kelahirannya.

Untuk novel debut dari seseorang yang sesungguhnya penyair, ini langkah awal yang bagus.
Profile Image for M Adi.
174 reviews18 followers
March 2, 2021
Novel mengenai bagaimana manusia terjebak dengan lingkungannya dan pilihan untuk melanjutkan fase kehidupan terbatas. Pada titik ini kita bisa mengikuti alur narasi yang menarik, kisah cinta, manipulasi, pergulatan batin, kepasrahan, dsb. yang membuat pembaca tidak nyaman dan barangkali kesal (setidaknya saya). Pada titik itu pula kita bisa mencoba melihat bagaimana kemiskinan struktural menggerogoti kehidupan dan masyarakat (kemudian menjadi kritis terhadapnya).

Selain cerita yang kuat dan konflik yang kaya. Setiap di akhir bab, si penulis cukup lihai untuk menyudahi. Sebuah bacaan yang layak dijadikan rekomendasi.
Displaying 1 - 30 of 37 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.