"Elien Utrecht (1921) melukiskan jalan hidupnya dengan tekanan utama pada periode Indonesia yang baru merdeka. Ia menulis dengan cara yang sangat terkendali dan berimbang, sebagai seorang pengamat yang cerdas, dan tidak berpikir hitam-putih. Dalam genre kenang-kenangan tentang Hindia Belanda, buku ini tergolong bermutu, juga karena kehidupan di masa pemerintahan Soekarno yang jarang dilukiskan, serta menampilkan potret Ernst Utrecht secara memikat."
Dr. Harry A. Poeze Sejarwan dan Direktur KITLV Press
"Kenangan hidup Elien Utrecht adalah sebuah kado yang tak bernilai bagi generasi sekarang. Sebuah cerita bagaimana seorang perempuan Indonesia, membuat pilihan-pilihan yang sulit dalam masa-masa yang sulit, menganyam kehidupan kehidupan berkeluarga sebagai seorang ibu dan istri, berinteraksi dengan perkembangan dan pergolakan politik di sekitarnya, mencoba mengatasi dalam tindakan kesehariannya kecurigaan antar ras dan agama, jurang pemisah antara miskin dan kaya. Tantangan-tantangan yang dihadapi Elien di masa lalu masih relevan pada saat sekarang."
Melintasi 2 Jaman merupakan catatan kenangan atas Indonesia dari perspektif wanita Belanda. Elien lahir dan dibesarkan di Hindia Belanda. Ibunya orang Belanda totok sementara Ayahnya merupakan Indo,campuran Belanda-Indonesia. Asal usul keindonesiaannya dari pihak Ayah yang campuran antara Belanda,Tionghoa,dan Bugis. Eilen memulai cerita dari masa kanak-kanaknya yang berpindah-pindah dari satu onderneming gula ke onderneming lainnya. Pergaulannya terbatas dan hampir tidak mengenal sisi pribumi.
Roda kehidupan berputar. Dari keluarga yang nyaman di onderneming berubah menjadi 'warga kelas dua' ketika Jepang masuk ke wilayah Indonesia. Eilen dan Ibunya terpisah dari Ayahnya yang diangkut menuju kamp internir khusus orang-orang Eropa. Orang Jepang menjadi penguasa. Setiap perempuan di kamp harus mematuhi perintah kepala kamp. Selama 2 tahun,mereka bekerja di kamp di Semarang. Eilen dan Ibunya berhasil bertahan di kamp hingga Jepang menyerah kepada sekutu. Mereka keluar dari kamp dan dibawa ke Surabaya yang bertepatan dengan peristiwa 10 Nopember. Disinilah sejarah bersifat relatif. Di satu sisi dipandang pejuang disebut pemberontak,di satu sisi ia dipuja sebagai pahlawan. Bagi orang Belanda, Sutomo sama saja dengan teroris. Di tengah hiruk pikuk kemarahan orang Indonesia, orang-orang Belanda termasuk Eilen dan ibu berangkat 'pulang' ke negara asal mereka.
Pergaulan dan lingkungan keluarga Eilen yang terbatas di hindia Belanda membuatnya tidak menyadari perkembangan nasionalisme pada orang Indonesia. 'Aku hampir tidak tahu apa pun tentang gerakan nasional Indonesia',tulisnya. Leiden membuat ia bertemu dengan orang-orang yang memandang serius perjuangn kemerdekaan Indonesia. Eilen bertemu dengan calon suaminya, Ernst Utrecth di Leiden. Mereka sepakat setelah menikah akan kembali ke Indonesia dan menjadi warga negara Indonesia.
Setelah kembali ke Indonesia,suaminya Ernst ikut aktif dalam kegiatan pendidikan,politik,dan menjadi anggota Dewan Pertimbangan Agung (DPA) Presiden Soekarno. Ernst mengajar ilmu hukum. Sebagai dosen terbang,ia mengajar dari kota ke kota mulai dari Bandung, Makassar, Jember,hingga Ambon. Kemerdekaan Indonesia masih belum bisa diterima Belanda. Selain menghadapi ancaman luar negeri,pemerintah juga menghadapi pergolakan di daerah-daerah. Presiden Soekarno digantikan oleh Soeharto. Pendapat Ernst bahwa negara hendaknya dipimpin oleh orang sipil dan sekuler bukan dari militer menuai kecaman. Ernst sempat beberapa kali ditahan oleh militer.
Pada tahun 1969, Ernst berbicara di radio Australia mengecam pemerintahan Indonesia. Waktu itu Ernst dalam perjalanannya menuju Belanda. Sementara Eilen dan Arntje masih di Indonesia,rencananya mereka hendak menyusul ke Belanda. Karena pernyataan Ernst yang kontraversial di dunia Internasional membawa dampak disitanya paspor istri dan anaknya. Ernst pun dihimbau untuk pulang ke Indonesia. Setelah setahun berlalu barulah Eilen dan Artnje memperoleh kembali paspor. Keadaan membuat Eilen dan keluarga mengganti warga Negara dan tinggal di Belanda. Mereka berharap bisa kembali menginjak Indonesia untuk berlibur suatu saat nanti.
Saya sendiri belum pernah mendengar nama Ernst Utrecth dan Eilen Utrecth sebelum membaca buku ini. Namun dari aktifitas Ernst yang berhubungan dengan tokoh-tokoh nasional yang terkenal mungkin ia berperan penting. Awalnya saya merasa nothing special dari kenangan Eilen. Tentu saja saya tidak menyukai perspekstif Eilen yang berada di pihak kolonial dan ia sendiri kurang membaur dengan orang-orang Indonesia. Yang menjadi menarik adalah di bagian proses kreatifnya. Karena setelah berada di Belanda,ia merasa asing, Eilen merasa lebih dekat dengan Indonesia. Ia menjumpai generasi tua dan konservatif di Belanda yang marah ketika 'surga rimah lipah roh jinawi' Hindia Belanda terenggut dari bagian kerajaan Belanda. Banyak juga yang telah merencanakan hari tua mereka di Hindia Belanda. Sementara ada generasi yang lebih muda yang menghargai perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia.
Sebuah kenangan sejatinya tidak akan pernah hilang dari dalam diri seseorang. Apalagi jika berkenaan dengan kenangan mengenai tempat tinggal yang kemudian berubah status. Bisa dibilang Elien Utrecht adalah salah satu contoh seseorang yang mengalami perubahan status dari seseorang yang termasuk golongan penjajah atas sebuah negeri yang dinamakan Hindia-Belanda menjadi orang asing karena negeri itu akhirnya merdeka dan menjadi Indonesia.
Buku yang membahas kisah kehidupan yang cukup runut dari masa kecil di Hindia-Belanda (Indonesia) lalu mengalami masa Perang Dunia ke-2 dengan menjadi tawanan Jepang. Kemudian ke Belanda bertemu dengan Ernst Utrecht yang kelak menjadi suaminya, memutuskan menjadi warga negara Indonesia dengan kembali ke tempat ia lahir dan besar tersebut, lalu mengalami repatriasi akibat sentimen Irian Barat, kemudian ke Belanda lagi, tetapi mengalami kesulitan karena Ernst Utrecht dihambat proses keimigrasiannya oleh Pemerintah Indonesia.
Sebuah kisah yang menyiratkan akan hubungan pascakolonial seseorang yang merindukan tanah kelahirannya. Meskipun ada kebencian yang juga terselip.
Buku ini untuk memenuhi New Author Reading Challenge 2015 dan Yuk Baca Buku Non Fiksi 2015
3,3 dari 5 bintang!
Buku ini mengisahkan perjalanan Elien Utrecht yang mengalami masa-masa kecil dan dibesarkan di Indonesia hingga akhirnya ia mengalami ketidakjelasan mengenai politik di Indonesia.. Apalagi suaminya yang bernama Ernest adalah anggota dari Partai Nasional Indonesia yang diketuai oleh Presiden Soekarno.. Ibu Elien ini juga mengalami masa-masa keluarganya ditangkap saat jaman penjajahan Jepang dan harus bertahan hidup di kamp tahanan Jepang persis seperti cerita The Little Captive by Lise Kristensen yang pernah saya baca sebelumnya
Situasi politik yang memanas di ibukota makin dirasakan ibu Elien setelah di tahun 1960an ada perseteruan antara Partai Nasional Indonesia dan Partai Sosialis Indonesia sehingga pada akhirnya Ia memutuskan kembali untuk ke negeri Belanda
Saya merekomendasikan buku ini jika kalian penasaran dengan situasi politik di Indonesia saat peralihan kekuasaan Jepang, Belanda dan jaman pemerintahan Soekarno.. :)
Data buku ini harus dilengkapi lebih lanjut. Pertama dengar dulu waktu di kampus. Cerita dosen hukum Universitas Jember. Makanya sempat tanya kawan kakak gue yang anak FH Unej. Pas baca ternyata nama kampus gue juga kebawa.
Cerita kaum nasionalis kiri di peralihan jaman Orla-Orba. Ceritanya menambah pengetahuan tentang kampus gue pas kisaran jaman itu. Gak nyangka banyak tokoh Nasionalis ngendon di kampus dulu. Pantesan ada seorang nasionalis dari Jabar yang terlempar dari kursi DPR yang ceramah pas masih Mapram.
Gave me a lot of insight to Indonesia's history around independence, from the eyes of a Holland and Indonesia mix, a mother, and a wife. Indonesia has just gained freedom and still finding the right ideology. The searching of this ideology often caused clashes and power conflicts.