“Orang-Orang Kampus” tak lain menceritakan kehidupan kawan-kawan aktivis mahasiswa dalam meruntuhkan kekuasaan Orde Baru. Ada mahasiswa yang aktif turun ke jalan, mengangkat tangan, mengibarkan pamflet; demonstrasi. Ada yang bergiat pada ranah diskusi kelompok yang pada masa itu disebut diskusi bawah tanah. Ada pula yang aktif melakukan advokasi-advokasi melalui tindakan nyata di masyarakat ataupun tulisan-tulisan yang tersebar di media umum, kampus, atau bawah tanah.
Cerita dari “Orang-Orang Kampus” tidak berhenti sejurus dengan berhentinya rezim Orde Baru. Justru klimaks cerita terletak pada aktivitas mantan aktivis mahasiswa ketika mereka berkarya pada berbagai profesi pasca-runtuhnya Orde Baru. Apakah mereka masih tetap menjunjung tinggi idealisme seperti dulu ditunjukkan dengan paripurna ketika mereka berdiri pada garda depan dalam melawan rezim Orde Baru? Atau justru larut dengan kekuasaan orde berikutnya dengan menjadi tokoh ‘hitam’ seperti koruptor atau makelar proyek?
Editor’s Note Kumpulan cerpen dewasa bertemakan kehidupan kampus
Ada satu cerita dalam buku ini yang mungkin sejalan dengan rasa skeptis gua. idealisme seorang mahasiswa aktivis yang dengan lantang meneriakan keadilan untuk rakyat. Namun ketika naik dibangku pemerintahan dan berhadapan dengan birokrasi, semua ide yang digaungkan ketika menjadi aktivis tiba-tiba hilang begitu saja...
Meski katanya cerita tentang mahasiswa aktivis kampus, ternyata ngga begitu mengulik mendalam tentang aktivisnya itu. Ekspektasi saya tentang isinya karena judulnya semacam itu, ternyata kurang terpuaskan. Konfliknya juga kurang tajem, jadi rada garing. Bagusnya di novel ini cuma dialog2 para tokohnya yang kelihatan 'wow' dan intelek banget. Pake segala mengutip Machiavelli lah, Nietszche lah, dan bla bla tokoh lainnya. Oke well... yeah.
Satu lagi yang mengganggu dan bikin agak gak suka. Terlalu banyak kalimat snapshot. Dalam satu paragraf, ada kali snapshot sampe lima atau delapan kalimat. Kebanyakan. Dan, sesuatu yang kebanyakan jadinya malah enggak banget. Awalnya menikmati bacanya, karena habis titik, snapshot, habis titik, snapshot, jadi capek dan ngos2an sendiri bacanya. Entah itu disengaja pake banyak snapshot apa gara2 ga diedit dengan baik. Hmmm....