Love is the Wine presents an intoxicating mix of essays to satisfy the spiritual thirst of those with long experience in Islam, as well as those encountering Sufism and the meaning of spiritual love for the first time. Themes including generosity, faith, self-knowledge, patience, and love are developed with stories and teachings by Turkish Sufi master Sheikh Muzaffer Ozak. A mesmerizing storyteller, master teacher, and prolific author in his native country, he was ideally suited to bring the richness of the Sufi tradition to the West. The chapters of this book, skillfully edited and compiled by the psychologist and Sufi teacher Dr. Robert Frager, were derived from talks given during Sheikh Muzafffer’s visits to New York and California over the last years of his life. Sheikh Muzaffer Ozak understood Westerners as almost no Sufi master before him has. His religious bookshop in Istanbul attracted hundreds of Western seekers visiting Turkey. In his travels, he initiated hundreds of Americans and Europeans into the Halveti Jerrahi Order, interpreted their dreams, and answered their questions about everything from theology and mysticism to marriage and earning a living. These stories and teachings are memorable, yet highly enigmatic, and meant to be told and retold. Like great spiritual parables, the themes are universal and their applications ageless. The astute reader will appreciate new levels of meaning in these profound teaching tales with each reading. Love is the Wine is a treasury filled with priceless items of Sufi wisdom.
Muzaffer Ozak was one of the head sheikhs of the Halveti-Jerrahi order of Dervishes, a traditional muslim Sufi order (tarika) from Istanbul (Turkey). In western countries he is well known because of his visits to Europe and the United States of America where he celebrated public dhikrs (Remembrance of God; in Turkish "zikrullah") with his dervishes. He is also well known in Turkey for his "ilahis," religious Sufi hymns. Ozak also ran a bookstore in the Sahaflar Çarşısı in Istanbul. Works
Irşad English: Irshad – Wisdom of a Sufi Master Aşk Yolu Vuslat Tariki English: The Unveiling of Love Spanish: La Develación del Amor Envar-ül-Kulub English: Lights of the Hearts Ziynet-ül-Kulub English: Adornment of Hearts Gülsar-i Arifan Hazret-i Meryem (not published in Turkish) English: Blessed Virgin Mary German: Die gesegnete Jungfrau Maria im Islam Spanish: Mariam Sofiyye Sohbetleri (not published in Turkish) English: Garden of Dervishes Love is the Wine (edited by Robert Frager) German: Der Wein der Sufis (zusammengestellt von Robert Frager) (Title of first edition: Liebe ist der Wein) Spanish: El Amor es el Vino (recompilado por R. Frager) Audiorecordings[edit]
LP Halveti-Jerrahi-Dhikr Journey To The Lord Of Power CD Chant des Derviches de Turquie La Cérémonie du Zikr (5. Festival des Arts Traditionnels 1978, Rennes, France) CD Garden of Paradise Sufi Ceremony of Remembrance (recorded April 5, 1983 in Istanbul, Turkey) CD Reunion Ceremonial Music of the Sufis (recorded April 16, 1984 in New York City, USA)
PADA periode akhir sembilan puluhan, saya baru menyadari bahwa istilah “Islam” bukanlah sekadar sebuah label penamaan, seperti misalnya kata “Sudirman” ketika digunakan semata-mata untuk mempermudah pengidentifikasian sebuah jalan. Tidak ada keterkaitan antara makna kata “Sudirman” dengan jati diri sebuah jalan beraspal yang menyandang namanya itu. Demikian pula, kata “Sudirman” sama sekali tidak mengandung apa pun yang bisa menerangkan perihal jalan itu.
Ketika itu saya dibuat merenung, waktu menyadari bahwa kata “Islam” bermakna keberserahdirian, berasal dari kata “aslama” yang bermakna “berserah diri” atau “sepenuhnya tunduk”. Kata ini bukan berfungsi sebagai identifikator untuk membedakannya dengan agama lain—agama itu tidak dinamai Diinul-Muhammadi, Muhammadian atau Muhammadanisme. Kata ini, yang saya yakini sungguh dalam maknanya, ternyata berfungsi untuk menerangkan jati diri agama yang dinamainya itu.
Tapi kata adalah kata. Mendengar kata “manis” tidak membuat kita mengalami manis maupun mengerti apa itu manis. Belum lagi, seberapa manis? Jadi, jika esensi Islam adalah berserah diri, apa itu “berserah diri”? Seperti apa? Apa yang membedakannya dengan, misalnya, “pasrah”? Ketika itu, saya ingin mengerti nama agama saya dengan lebih akurat dan presisi. Pengertian istilah yang menjadi namanya itu, bagi saya, bisa menjadi kunci untuk memahami agama saya ini dengan benar, apa adanya dan tanpa distorsi.
Maka pergilah saya ke sebuah kota di Jawa Barat, menemui seorang sufi di sana. Saya hanya membawa satu pertanyaan: apa ‘“berserah diri’” itu sebenarnya. Beliau, setelah menerima saya dengan sangat baik dan bertanya apa yang bisa beliau bantu untuk saya, mengangguk-angguk setelah saya mengutarakan pertanyaan itu, satu-satunya maksud kedatangan saya. Dan jawaban beliau ketika itu—dengan sungguh-sungguh, “Seandainya saja arti keberserahdirian bisa diterangkan dengan kata-kata, sudah sejak dulu sekali saya menerangkannya.”
Tidak ada susunan kata-kata yang mampu menjelaskan keberserahdirian, istilah yang menamai sebuah cara menempuh kehidupan yang diwahyukan Allah kepada junjungan Muhammad s.a.w.. Seseorang hanya bisa mengerti apa makna sebuah keberserahdirian jika ia telah diijinkan Allah untuk mengalaminya. Keberserahdirian adalah sebuah kondisi diri yang hanya bisa dirasakan, bukan dilisankan. Dan agama Islam, agama keberserahdirian kepada Allah, adalah sebuah metode yang dibawa Rasulullah untuk mendudukkan manusia dalam kondisi itu, titik ketika seseorang sudah sepenuhnya menjadi seorang hamba Allah.
Seperti itu pula, semakin kita mempelajari dan mendalami jalan hidup yang dibawa Rasulullah, semakin banyak pula kita menemukan poin-poin penting yang, meski sangat mudah untuk dilisankan, namun sulit untuk diterangkan. Kesabaran, misalnya. Apa sebenarnya “sabar” itu? Bagaimana menerangkan “sabar”?
Ketika Allah memerintahkan siapa pun yang ingin meraih kebenaran sejati untuk senantiasa sabar, syukur, ikhlas, dan tawakkal, maka pada hakikatnya ini juga berarti bahwa mereka harus “mengalami” sabar, syukur, ikhlas, dan tawakkal. Ini tidak melulu berarti bahwa ia harus membaca atau bertanya tentang itu terlebih dahulu.
Seseorang yang telah masuk ke dalam pendidikan Allah ta’ala, jika Allah menghendaki ia memiliki sifat sabar, misalnya, maka Allah—karena kemahakuasaan-Nya—akan ‘“memakaikan padanya jubah kesabaran’”, dan ini sama sekali terlepas dari suka atau tidaknya orang tersebut terhadap prosesnya. Ini artinya, jika Allah menghendaki seorang hamba untuk memiliki sifat sabar, maka Allah—secara paksa atau sukarela—akan merancang kehidupannya sedemikian rupa sehingga akan merangsang tumbuhnya kesabaran sejati dalam diri orang tersebut. Demikian pula untuk kebaikan-kebaikan lainnya, yang memang dikehendaki-Nya untuk dimiliki seseorang.
Inilah keunikan buku ini. Kekhasan Syaikh Muzaffer Ozak dalam menerangkan tentang cinta, kesabaran, kepemurahan, pendidikan sufi dan semacamnya kepada para pendengarnya di Amerika tidaklah berbentuk doktrin dan definisi—bisa jadi itu adalah tugas hamba Allah yang lain setelah beliau. Sebagaimana semua mursyid lain yang pernah ada, jika Allah memang telah menghendaki seorang muridnya untuk memiliki suatu kebaikan, misalnya sifat sabar, maka sang mursyid semata-mata hanya menjadi alat Allah untuk membuat muridnya “mengalami kesabaran”. Ia bisa merancang sebuah pengalaman nyata bagi si murid untuk dibuatnya “menelan kesabaran”, atau berdoa kepada Allah supaya membentuk kehidupan muridnya itu sehingga menjadi lahan yang subur untuk menumbuhkan kesabaran.
Akan tetapi, ketika mengunjungi Amerika Syaikh Muzaffer Ozak tidak hanya memberi pengajaran pada para muridnya, namun juga kepada masyarakat awam yang baru tertarik, atau ingin tahu tentang Islam maupun tashawwuf. Maka, bagaimana cara beliau untuk memberikan sense tentang kesabaran, keberserahdirian, atau cinta, misalnya, kepada para pendengarnya? Ia menerangkan kesabaran melalui kisah-kisah ketika sebuah episode kehidupan sedang dibuat-Nya “mencekokkan kesabaran” kepada seorang hamba Allah, alih-alih melalui definisi atau doktrin-doktrin tentang sabar. Sedemikian rupa sehingga para pendengar umum masih mampu “menangkap” seperti apa makna kesabaran yang dimaksudkan dalam Islam dan tashawwuf.
Itulah isi buku ini. Ada sebelas bab yang mengulas tentang tashawwuf, cinta, keyakinan, pendidikan sufi, sampai pada masalah godaan dan kepemurahan. Semuanya merupakan topik-topik penting dalam jalan Islam dan tashawwuf, yang akan menjadi pembahasan yang sangat sulit dan membosankan seandainya semua itu diterangkan melalui teori dan definisi.
Melalui lisan Syaikh Muzaffer Ozak, pembahasan itu menjelma menjadi kisah-kisah teladan yang sangat indah dan begitu menyentuh, sehingga siapa pun, bahkan mereka yang baru mulai belajar tentang Islam, akan mampu menangkap seperti apa esensi dari istilah-istilah seperti “pendidikan sufi”, “pengetahuan diri”, “Al-Qur’anul Karim’” dan semacamnya. Seluruh kisah dalam buku ini merupakan tradisi lisan yang terus diriwayatkan turun-temurun dari seorang guru sufi kepada para muridnya, dan telah berlangsung sepanjang ratusan tahun lamanya.
Sebagaimana di Amerika, buku ini pada akhirnya berfungsi sebagai sebuah buku pengantar yang sangat baik untuk memahami agama, memahami esensi Islam maupun tashawwuf. Kisah-kisahnya—yang disampaikan dengan indah—mampu membuat pembaca langsung menangkap makna, tanpa perlu berkutat terlalu lama di wilayah doktrin dan definisi.
Atas dasar pertimbangan itulah maka Pustaka Prabajati, yang bercita-cita mengangkat karya-karya yang mengantarkan pembaca pada pengenalan diri sejati, menerbitkan buku ini.
Saya sungguh-sungguh mengucapkan ini kepada anda: selamat menikmati buku ini.
“The essence of God is love and the Sufi path is a path of love. It is very difficult to describe love in words. It is like trying to describe honey to someone who has never tasted or even seen honey, who doesn’t know what honey is. Love is to see what is good and beautiful in everything. It is to learn from everything, to see the gifts of God and the generosity of God in everything. It is to be thankful for all God’s bounties. This is the first step on the road to the love of God. This is just a seed of love. In time, the seed will grow and become a tree and bear fruit. Then, whoever tastes of that fruit will know what real love is.”
― Sheikh Muzaffer Ozak al-Jerrahi, Love Is The Wine: Talks of a Sufi Master in America
Bahagia bisa baca buku ini, banyak cerita-cerita bijaksana yg layak di teladani. Belajar berperilaku karena cinta, karena cinta kepada Sang Pecipta cinta.
An excellent book which one will read and reread again at different junctures of one's life due to the continued relevance of its deep teachings and teaching stories. I highly recommend it.
I got this book from a friend and I'm grateful he gave me this book! Able to relate with almost all stories that been told in this book. Can't believe from this book, I feel I'm in a right track to find my purpose in life
There's no instant enlightenment that works as thoroughly as the talks of a Sufi master. This lovely collection of teaching stories from the Turkish Sheikh aim straight for the divine heart within every human who is open to the lessons. Highly recommended
Love is the wine. Quote beberapa kalimat dari buku Cinta bagai anggur, ini : Cinta berarti memandang kebaikan dan keindahan dalam segala sesuatu. Cinta adalah sebuah penderitaan unik yg menyenangkan. Semua orang suci yang menempuh jalan ini memang 'harus berjalan di atas paku'