Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sembilan Wali & Siti Jenar

Rate this book
Legenda tentang Sembilan Wali atau Walisanga di Jawa sudah sangat dikenal, tetapi fakta sejarahnya tidak selalu mendukung legenda tersebut. Buku ini adalah penelusuran kembali fakta-fakta sejarah sekitar Walisanga, sejauh ditemukan dalam kajian ilmiah, dengan ilustrasi foto-foto. Menjadi semacam ziarah pustaka dan ziarah fotografi atas para wali, termasuk Syekh Siti Jenar.

208 pages, Paperback

First published September 1, 2007

Loading...
Loading...

About the author

Seno Gumira Ajidarma

101 books850 followers
Seno Gumira Ajidarma is a writer, photographer, and also a film critic. He writes short stories, novel, even comic book.

He has won numerous national and regional awards as a short-story writer. Also a journalist, he serves as editor of the popular weekly illustrated magazine Jakarta-Jakarta. His piece in this issue is an excerpt from his novel "Jazz, Parfum dan Insiden", published by Yayasan Bentang Budaya in 1996.

Mailing-list Seno Gumira fans:
http://groups.yahoo.com/group/senogum...

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
9 (29%)
4 stars
8 (25%)
3 stars
11 (35%)
2 stars
1 (3%)
1 star
2 (6%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
1 review1 follower
June 29, 2020
Sembilan Wali di Masa Kini

Ziarah ke makam para wali atau tokoh keramat menjadi ritual agama yang penting bagi sebagian kaum Muslim di Indonesia. Penulis buku ini menggambarkan, “Sepanjang hari sepanjang musim sepanjang tahun, suatu ziarah terus menerus berlangsung selama 24 jam, membuat tanah Jawa jika dipandang dari satelit memperlihatkan prosesi tanpa henti dari ujung barat ke ujung timur dan kembali lagi. Para peziarah ini, bahkan ada yang berjalan kaki dari Jawa Barat ke Jawa Timur, dan nantinya akan kembali berjalan kali lagi.”

Di kompleks pemakaman para wali itu senantiasa tersedia buku-buku riwayat sang wali, yang dijual bersama kembang, minyak wangi, menyan, tasbih, dan kitab doa Majmu Syarif. Namun buku riwayat sang wali itu isinya adalah khayal campur mitos belaka, wajahnya tak sedap dipandang, tata letaknya amburadul, dan pencetakannya menyedihkan.

Dengan hadirnya buku ini, para penggemar peziarah boleh tersenyum lebar. Kini tersedia buku tentang kehidupan para wali yang informatif, dengan isi yang jauh lebih dapat dipertanggungjawabkan kebenaran –atau kebingungan– historisnya, memiliki tata letak yang sedap dipandang, dan dihiasi 137 foto yang menawan. Yang tak kalah penting, penulisnya adalah Seno Gumira Ajidarma, seorang penulis mumpuni yang ditimbuni penghargaan di bidang sastra, yang kemudian mencapai tingkat pendidikan tertinggi di dunia akademis: doktor.

Namun Seno menyatakan buku ini bukan kajian ilmiah, melainkan himpunan seri “artikel ringan” dari majalah Intisari. Berdasarkan pengalamannya ketika menyusun buku ini, Seno sampai pada kesimpulan bahwa bukan keberadaan historis para wali yang penting, melainkan keberadaan eksistensialnya. Karena itu tulisan dalam buku ini bersifat historik (historic), yakni mencari makna dari penafsiran subjektif yang berlangsung di sini dan sekarang dari suatu peristiwa sejarah; bukan melulu historis (historical), yakni usaha mencapai pengetahuan objektif pada masa lalu (hlm. viii).

Tentu saja ini pilihan yang tepat, lantaran kebenaran historis –misalnya saja nama tulen seluruh wali– tidak dapat dipastikan. Bagi mereka yang menekuni ilmu sejarah, kesimpangsiuran historis ini bukan barang baru, tetapi di mata orang awam, kesimpangsiuran itu bisa jadi mengejutkan.

Mengingat riwayat historis para wali itu membuat pening kepala, Seno senantiasa menyuguhkan beberapa versi historis tentang mereka, sejauh penelusuran data yang ia dapatkan. Seno juga menelusuri aneka versi itu. Umpamanya, ia menelusuri empat lokasi yang disebut makam Sunan Bonang, yakni: (1) di belakang Masjid Agung Tuban; (2) di bukit di pantai Utara Jawa, antara Rembang dan Lasem; (3) di Tambak Keramat, Pulau Bawean; (4) di Singkal di Tepi Sungai Brantas, Kediri.

Paduan unsur historis dan historik mengenai para wali tersebut membuat buku ini nyaman dibaca. Secara historis misalnya, terdapat tiga orang yang disebut sebagai Sunan Kudus dan tidak satupun di antara mereka yang bisa dipastikan sebagai Sunan Kudus sejati. Toh secara historik, sampai hari ini kita temukan ciri khas Kota Kudus yakni banyak orang menjual soto kerbau dan sate kerbau. Inilah peninggalan wejangan Sunan Kudus, yang mewanti-wanti nenek moyang warga Kudus agar jangan menyembelih sapi untuk keperluan pesta. Soalnya, pada zaman itu banyak orang beragama Hindu, yang meyakini bahwa sapi adalah hewan suci. (hlm. 105).

Kiranya inilah buku yang dapat memuaskan dahaga pengetahuan mengenai riwayat para wali dan makamnya. Sedikit catatan yang dapat diberikan adalah, pertama, unsur historik yang dianggap begitu penting oleh penulis buku ini, ternyata mendapat porsi lebih kecil ketimbang unsur historisnya. Ada baiknya buku ini memasukkan penjelasan dari Jamhari mengenai arti penting ziarah –sebagai unsur historik– bagi kaum muslim. (Jamhari, “The Meaning Interpreted: The Concept of Barakah in Ziarah”, Studia Islamika, 8: 87-128, 2001).

Kedua, buku ini memperlakukan sumber sejarah tanpa mempertimbangkan otoritas penulisnya. Karya maha pakar sejarawan seperti de Graf dan Pigeaud, diperlakukan sejajar dengan dengan karya spekulatif Sumanto Al Qurtuby.

Ketiga, ada sumber yang dikutip dalam buku, tapi tidak tercantum dalam bibliografi, yakni Umar Hasyim, Sunan Muria, antara Fakta dan Legenda, 1993 (hlm 163).

Toh sebagai sumbangan pengetahuan dan bahan perbincangan yang saling mencerdaskan, demikian harapan Seno atas karyanya ini, tentu saja buku ini berhasil melampauinya.*** (Edi Sudarjat)
Profile Image for Wikupedia.
65 reviews28 followers
December 28, 2008
Jika kita lebih sering mendengar majalah Intisari dari pada penerbit Intisari, tentu bukanlah pembaca yang patut disalahkan, namun penerbit Intisari memang hanya beberapa kali menerbitkan buku, masyarakat tentu lebih mengenal Intisari sebagai majalah yang berbentuk saku yang mirip dengan Reader Diges't.
Buku ini adalah buku yang menyatukan tulisan-tulisan Seno Gumira tentang Sembilan wali & Siti Jenar yang pernah dimuat dalam majalah Intisari. Buku yang dilengkapi foto, yang juga karya Seno Gumira Ajidarma ini dicetak dengan kualitas kertas cetakan yang yahud, setidaknya untuk ukuran buku.
Seno Gumira Ajidarma membawa kita dengan tulkisan dan cara pandangnya yang khas dalam membahas tentang bahasan yang serius. Kisah Sembilan wali yang sudah melekat dalam kehidupan rakyat Indonesia itu diceritakan oleh Seno dengan sudut pandang yang tidak biasa, meskipun sebagai tulisan ilmiah, buku ini memang ditulisa dengan gaya yang serius.
Kutipan literatur dari para ahli melengkapi kisah Sembilan Wali & Siti Jenar ini, tentu dibumbui dengan sudut pandang unik Seno Gumira Ajidarma. Dan mengenai foto-foto seputar makam para Wali dan lingkungang sekitarnya juga menjadi menarik, selain mendukung teks yang dipaparkan, foto-foto Seno bisa juga berdiri sendiri dan dinikmati sebagai karya fotografi, terlepas dari teks yang ada di sekitarnya.
Tidak jarang memang Seno Gumira menulis esei, namun baru beberapa buku yang ditulisa olehnya yang memuat dua karya sekaligus, foto dan teks. Buku ini selain bisa menjadi sumber sejarah lainnya tentang Sembilan Wali & Siti Jenar, juga bisa dijadikan plesir dongeng dan sejarah yang cukup menghibur dus memberi informasi.
Profile Image for Anggi Hafiz Al Hakam.
335 reviews5 followers
September 16, 2011
Perbincangan seputar mitos dalam kehidupan para Wali penyebar agama Islam di tanah Jawa seringkali diwarnai oleh perdebatan mengenai jejak-jejak peninggalan mereka. Terlebih lagi, mengenai tafsiran dari ajaran para Wali sehingga dikhawatirkan terjadinya taqlid buta dan pengkultusan terhadap ajaran maupun tokoh Wali itu sendiri. Maka, diperlukan adanya semacam telaah pustaka atas dasar sejarah faktual mengenai keberadaan mitos-mitos Walisongo yang beredar di masyarakat. Dengan demikian, kesimpangsiuran atas hal tersebut bisa dihindari atau diminimalisir sekecil mungkin.

Dalam pengantarnya, penulis lebih suka untuk menamai pengembaraan dalam proses pencarian berbagai keterangan yang diperlukan sebagai ziarah pustaka. Barangkali mengacu pada kegiatan yang senantiasa dilakukan masyarakat pada umumnya untuk 'menengok' dan napak tilas para Wali. Ziarah diartikan sebagai suatu kegiatan yang mengandung makna lahiriah dengan mengunjungi kuburan atau makam seseorang yang telah meninggal.

Maka dari itu, Ziarah Pustaka dapat diartikan sebagai ziarah yang dilakukan dengan bantuan perantaraan media untuk melakukan telaah kajian historis melalui beberapa koleksi pustaka yang menulis tentang Walisongo. Sangat dimungkinkan adanya keterwakilan lahiriah dalam kaitannya untuk mewakili makna langsung ziarah itu sendiri. Demi memaknai kembali keberadaan eksistensial para Wali.

Makna tersebut justru menjadi bahan perbincangan yang produktif ketika dibongkar keberadaannya sebagai mitos, untuk mendapat gambaran bagaimana kebudayaan bekerja. Tanpa mengalami pembongkaran, mitos akan hadir secara tidak produktif. Bahkan bisa menjebak pada suatu kebutaan mitologis semata.
Profile Image for Sasanaputra celebrity.
2 reviews
Read
May 1, 2011
Legenda tentang Sembilan Wali atau Walisanga di Jawa sudah sangat dikenal, tetapi fakta dan sejarahnya serta tujuan mereka mereka menyebarkan islam masih sangat sedikit yang mengetahuinya. Buku ini adalah penelusuran kembali fakta-fakta sejarah, sejauh ditemukan dalam kajian ilmiah, dengan ilustrasi foto-foto.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews