Kurnia Effendi, lahir di Tegal, 20 Oktober 1960. Ia menulis cerpen dan puisi untuk publik pertama kali tahun 1978, melalui majalah Gadis, Aktuil dan surat kabar Sinar Harapan, ketika masih sekolah di STM Pembangunan Semarang. Sepanjang tahun 80-an aktif mengikuti pelbagai sayembara fiksi dan puisi. Sejak itu berbagai penghargaan telah diraihnya. Ia merupakan penulis nasional yang sangat produktif. Karyanya, cerpen maupun novelet yang tak terbilang jumlahnya telah dipublikasikan oleh berbagai penerbit nasional.
Bersama Donatus A. Nugroho (penulis asal Solo), Dharmawati Tst. (penulis asal Jakarta), Aan Almaidah Anwar (penulis asal Bogor), Ryana Mustamin dan Rahmat Taufik RT. (penulis asal Watampone), ia salah satu cerpenis paling gemilang di eranya karena kerap memenangi LCCR (Lomba Cipta Cerpen Remaja) Anita Cemerlang, yang kala itu menjadi barometer kehandalan seorang pengarang remaja.
Kegiatan menulis dimulai di Semarang, dengan tema-tema remaja. Berlanjut di Bandung, dan akhirnya merasa matang di Jakarta, dengan memasuki wilayah sastra yang ‘serius’. Lulusan Jurusan Desain Interior, Fakultas Seni Rupa dan Desain ITB, tahun 1991 ini ketika masih kuliah aktif di Grup Apresiasi Sastra ITB (GAS-ITB). Tahun 1986, ia menjadi Presiden GAS, setelah Nirwan Dewanto (1984) dan M. Fadjroel Rahman (1985). Semasa mahasiswa tergabung dalam Grup Apresiasi Sastra ITB itu dan bergaul dengan Forum Sastra Bandung. Selama itu, karya-karyanya dipublikasikan berbagai media massa baik lokal maupun nasional. Di Jakarta bergabung dengan Komunitas Sastra Indonesia sejak tahun 1996 hingga sekarang.
Puisinya bisa ditemukan dalam berbagai antologi, yakni Pesta Sastra Indonesia (Kelompok Sepuluh, Bandung, Juli 1985), Sajak Delapan Kota (Kompak, Pontianak, 1986), Malam 1000 Bulan (Forum Sastra Bandung, 1990 dan 1992), Potret Pariwisata dalam Puisi (Pustaka Komindo, 1991), Perjalanan (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1992), Gender (Sanggar Minum Kopi Denpasar, 1994), Bonzai’s Morning (Denpasar, 1996), Dari Negeri Poci III (Yayasan Tiara Jakarta, 1996), Trotoar (Roda-roda Budaya Tangerang, 1996), Mimbar Penyair Abad 21 (Dewan Kesenian Jakarta, 1996), Antologi Puisi Indonesia (Komunitas Sastra Indonesia, 1997), Jakarta dalam Puisi Indonesia Mutakhir (Dinas Kebudayaan Provinsi DKI, 2000), Gelak Esai & Ombak Sajak Anno 2001 (Penerbit Kompas, Juni 2001), Puisi Tak Pernah Pergi (Penerbit Kompas, Juli 2003), Bisikan Kata, Teriakan Kota (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Mahaduka Aceh (Pusat Dokumentasi Sastra HB Jassin, 2005), Antologi puisi tunggal bertajuk “Kartunama Putih” (Penerbit Biduk, Bandung, 1997).
Buku antologi cerpen, novel, dan kumpulan esai yang telah terbit, yakni Senapan Cinta (Penerbit KataKita, Jakarta, April 2004), Bercinta di Bawah Bulan (Penerbit Metafor Publishing, Mei 2004), Aura Negeri Cinta (Lingkar Pena Publishing House, Juli 2005), Kincir Api (Gramedia Pustaka Utama, Agustus 2005), Selembut Lumut Gunung (Cipta Sekawan Media, Januari 2006), Burung Kolibri Merah Dadu (C Publishing, Februari 2007), Interlude-Jeda (Lembaga Pemerhati Kebijakan Publik, September 2007). Sedangkan cerpen-cerpen yang lain berserak dalam pelbagai antologi bersama, antara lain 20 Tahun Cinta (Senayan Abadi Publishing, Juli 2003), Wajah di Balik Jendala (Lazuardi Publishing, 2003), Kota yang Bernama dan Tak Bernama (DKJ dan Bentang, Desember 2003), Addicted 2U (Lingkar Pena Publishing House, 2005), Jl. Asmaradana (Penerbit Buku Kompas, 2005), Ripin (Penerbit Buku Kompas, 2007).
Pada November 1996, ia diundang oleh Dewan Kesenian Jakarta sebagai penyair untuk acara “Mimbar Penyair Abad 21”. Pada Juli 2003, diundang Teater Utan Kayu untuk membaca cerpen dalam “Panggung Prosa Indonesia Mutakhir”. Pada akhir tahun 2003, kembali diundang DKJ untuk membaca cerpen dalam “Temu Sastra Kota”. Sehari-hari ia bekerja pada perusahaan otomotif Suzuki Mobil. (http://takashinreisa.blogspot.com/201...)
Nama Kurnia Effendi saya kenal sejak tahun 1980-an lewat cerpen-cerpennya yang ramai menghiasi majalah remaja yang ngetop masa itu, seperti Gadis dan Anita Cemerlang.
Berbarengan dengannya, ada beberapa nama cerpenis lain, misalnya : Leila S.Chudori (sekarang di majalah Tempo), Adek Alwi (ke mana ya dia?), dan Sannie B.Kuncoro (ini masih sesekali saya lihat cerpennya di Femina) dll. Dengan kerakusan seorang remaja SMP, saya melahap karya-karya mereka meski majalahnya saya dapat dengan cara meminjam. Tulisan-tulisan mereka menemani masa remaja saya dan secara tidak langsung telah turut menumbuhkan minat dan kecintaan saya pada sastra (fiksi).
Sayangnya, beberapa dari nama yang saya sebut di atas, kini nyaris tak lagi bisa saya jumpai cerpen-cerpennya. Kurnia Effendi salah satu yang masih setia bertahan dan tetap produktif hingga kini di bidang yang dicintainya sejak berpuluh tahun lalu itu.
Bercinta di Bawah Bulan adalah bukti betapa ia, Kef, demikian para sahabatnya memanggil, masih terus berkarya. Buku ini memuat sebelas cerpen yang ditulisnya selama tahun 2002-2004 (kecuali Romantic Agony bertahun 1991) dan pernah dimuat di Femina, Media Indonesia, Republika, dan lain-lain.
Tak mengangkat tema-tema baru memang, namun di tangannya kisah cinta biasa saja bisa jadi kisah yang indah memesona. Lihat saja misalnya pada ke tiga cerpen pembuka di buku ini, yaitu : Aku Mulai Mencintaimu, Anggur, Pikiran, dan Cinta, Rumah Senja). Ketiga cerpen tersebut bicara tentang cinta lama dan perselingkuhan dan Kef mengolahnya sedemikian menarik sehingga yang hadir ke hadapan kita adalah sebuah kisah cinta penuh makna.
Kef menulis dengan kelembutan seorang wanita dan tampaknya ia percaya betul pada kekuatan cinta. Tak terlalu salah jika selama bertahun-tahun saya menyangka penulis ini berjenis kelamin perempuan. Padahal ternyata Kef lelaki asli!
Cerpen-cerpen Kef dalam buku ini membawa saya pada sebuah nostalgia dan kerinduan akan karya sastra yang santun, lembut, namun meninggalkan kesan dalam setelahnya. Kef memercayakan kekuatan cerita-ceritanya pada narasi dan keindahan gaya bahasa metafora, bahkan untuk melukiskan adegan persetubuhan yang dahsyat dalam cerpen yang rada-rada surealis seperti Bercinta Di Bawah Bulan, tanpa terjerumus menjadi vulgar :
Oh, mana mungkin ada kesabaran dalam sebuah percintaan yang bergelora? Tentu tiada yang lebih tabah dari hujan bulan Juni, bagi percumbuan yang mirip geliat hiu mengitari mangsanya, sebelum mencabik-cabik korban dengan taringnya, sampai menjadi sayatan-sayatan penuh hamburan warna merah (hal 48)
Dan saya sepenuhnya setuju dengan apa yang Arswendo katakan tentang buku ini, bahwa di tengah banyaknya kumpulan cerpen yang membuka diri soal hubungan manusia, khususnya masalah seks, Kef memikat justru karena keintiman dengan yang selama ini terabaikan : bagaimana menghidupkan kembali narasi inti sebuah cerita.
Satu hal yang menarik dari cerpen-cerpen Kurnia Effendi adalah ide cerita yang segar, yang dikemas dengan bahasa yang renyah dan mengalir. Selalu jatuh cinta pada cerpen Om Keff.