Sindrom sekolah telah mengalir ke seluruh peredaran darah dan menekan otakku. Merampok kebahagiaanku. Aku semakin tidak betah di sekolah. Ditambah lagi dengan keberadaan guru penghancur mental. Guru yang merendahkan martabat murid di depan umum. Guru yang tidak mempergunakan jangka sebagai alat mengajar, melainkan sebagai alat menghajar. Guru yang membuat kelas jadi sesunyi kuburan dengan dalih menciptakan suasana kondusif.
Sekolah seperti memenjarakanku dalam ketidakpastian dan hanya mengotori otakku, menghambat impianku. Sekolah itu seperti susah payah menimba air dari dalam sumur, lalu mengguyurnya ke tempat semula. Sebagai seorang remaja yang ingin terus belajar dalam arti sebenarnya, aku tidak ingin tersesat di sekolah.
Oleh sebab itu, aku memutuskan untuk keluar dari sekolah formal dan menciptakan sekolahku sendiri. Aku memilih melawan arus secara frontal; membebaskan diri sepenuhnya, tapi juga harus berani mendapat tantangan berat dari luar. Yaitu, dari orang-orang yang menganggap anak yang tidak ingin sekolah, tetapi ingin belajar adalah lelucon; sedangkan anak yang sekolah, tetapi tidak belajar adalah biasa.
Kuduga buku ini hanya upaya pamer kalau pengarang bisa tampil beda dengan pemikiran yang spectakuler dan revolusioner tanpa disadari malah membuat pembaca seperti g jatuh kasihan plus muak. Hahaha...ayo jujur sajalah nak, sebenernya ini hanya usaha pembenaran atas ketidakmampuan kamu untuk survive di dunia pendidikan formal yang membosankan dan menekan sajakan?
Sebenernya ada banyak hal yang ingin g katakan tapinya setelah g pikir-pikir percuma...apa coba yang bisa g harapkan dari anak putus sekolah yang sudah mencap sekolah itu hambatan dan malah menghindarinya dibanding menghadapinya? Buang waktu saja...ikh' padahal dek izza ini baru 15 tahun! *rolling eyes*
Hmm...bukannya...eksistensi dan kemampuan harus diakui dulu oleh khalayak baru dihalalkan mengatakan tidak perlu itu sekolah atau kursus atau apalah yang berkaitan dalam proses pengakuan itu. Tidakkah dek izza ini sedikit keliru menukar urutannya?
Dahlia Naga yang tiba2 curiga : kalau pembunuh berantai memuja buku The Catcher in the Rye jangan2 anak putus sekolah memuja buku Quantum Learningyah???
Akh' sial! tuh buku g lempar kemana yah *sibuk nginget2*
NB : Itu sebenernya bintang 1,5 untuk keberanian nerbitin aja dah
Dari judulnya. Sebuah kisah inspiratif tentang kegelisahan mantan seorang peserta didik yang merasakan langsung pengalaman bersekolah yg mencengkram dan sistem kurikulum yang menyesakkan
Selanjutnya....
Dari isinya. Sebuah kisah yang penuh ambisi dan arogansi dari seorang anak yang kesulitan dalam memahami pelajaran (eksak dan sains), hanya menonjol di bidang sosial dan bahasa, merasa sudah cukup tau dan sekolah tidak bisa menambah pengetahuan baru apa-apa. Daripada direpotkan dengan memaksa diri memahami pelajaran yang tidak diminati, lebih baik keluar dari sekolah. Oh.
Tak ada yang gratis Nak dalam hidup inih. Bahkan Nabi pernah bersabda, "pahalamu tergantung kadar lelahmu".
Sistem pendidikan di Indonesia memang bisa dikatakan kebanyakan jelek. Bahkan sering terjadi kecenderungan mematikan potensi peserta didik. Lagipula, pendidikan tidak menjamin kesuksesan (secara finansial? si penulis menyempitkan makna suskes dari segi ini saja). ketika selesai menempuh pendidikan, toh akan jadi penganggur yang melamar kerja, jadi buat apa sekolah?
Tidak semua makanan menyehatkan. bahkan banyak yg beracun. Lagipula, sebanyak apapun kita makan, toh akhirnya kita akan lapar lagi. jd buat apa makan? Meh
O O siapa dia Buku apaan sih ini Aiiih, tinggi hati sekali nih anak
Kurasa saya tak akan panjang lebar mereview buku ini. Semua review dari teman-teman goodreads berbintang kecil sangat mewakili apa yang saya rasakan ketika membacanya.
Satu pesan buat si adik penulis buku ini, rendah hati itu sangatlah perlu.
Bahasanya sebenarnya bagus untuk anak seumuran Izzah tapi kok bacanya jadi penuh dengan emosi...... banyak juga anak sekolah yang punya bakat menulis yang akhirnya berhasil jadi penulis terkenal. Justru dengan sekolah saya pikir izza bisa mendapat banyak inspirasi dari teman-temannya.
Izza, mungkin seperti saya pada saat masuk pada tingkat pertama kuliah. Ada pergolakan batin untuk meninggalkan dunia formal. Sebab waktu itu, idealis sekali ingin menerbitkan karya. Agar fokus untuk menulis novel. Walau saya tidak seekstrim Izza pada akhirnya. Apalagi usia saya saat itu sudah 19 tahun. Terlalu banyak konsekuensi untuk mengambil keputusan. Walau banyak juga teman-teman saya yang berani mengambil langkah lain. Dan saya sangat menghargai keputusan itu.
Izza terkungkung dengan dunia sekolah yang tidak cocok dengan pola pikirnya. Sekolah yang begitu-begitu saja. Yang menekan sehingga membuat penat kepala. Saya bisa berempati dengan perasaan itu. Walau bagi saya sendiri, sekolah memiliki arti penting untuk membuka cakrawala lain. Memang tiap orang punya pengalaman yang berbeda.
Buku ini cukup menggunggah saya, mengamini pula beberapa hal tentang sistem pendidikan di negara ini yang sejak Izza menulis beberapa tahun lalu, ternyata tetap saja sama polanya. Dan banyak lagi.
Kendati pun tidak sepenuhnya saya setuju dengan satu-dua hal mengenai opini Izza tentang sekolah, saya sangat mengapresiasi keberaniannya untuk mengambil keputusan sendiri. Dan, ada satu kutipan yang sangat merasuk teramat dalam di hati saya.
"Yang melandasi langkahku menuju impian itu adalah dengan nama Allah, untuk Allah, dan karena Allah."
Tidak ada yang salah dengan cita-cita maupun pilihan. Bahkan keputusan Izza untuk mengundurkan diri dari lembaga formal seperti sekolah. Yang lebih penting ia tidak kehilangan Allaah. Ia tidak kehilangan imaan. Belajar di mana pun, yang penting mampu membawa kita kepada Yang Maha Memiliki Ilmu di semesta ini. Belajar di mana pun, yang penting imaan di dada-dada lebih kuat daripada sebelumnya. Belajar di mana pun, yang penting keberadaan kita memberikan kebermanfaatan seperti yang Rasulullah anjurkan. Wallahu'alam wa astagfirullah.
Saya kira kita harus belajar menghargai pendapat penulis tentang fakta sekolah yang ada dalam perspektif pandangannya.
Semua sepakat bahwa sekolah harus direform, dan buku ini adalah salah satu cambuk pemicu agar kita (guru dan ortu) tidak berpangku tangan melihat parahnya sistem pendidikan yang ada.
Sejatinya semua anak adalah juara dalam bidangnya masing2, bisa jadi bidang minatnya tidak ada di 9 mata pelajaran yang dipaksakan diajarkan itu.
Dan kesuksesan belajar tidak diukur dari rata2 nilai jumlah pelajaran, seolah semua harus tahu semua. Kesuksesan belajar adalah ketika anak bahagia menjalaninya sesuai minat dan passionnya.
Guru dan Ortu bukanlah hakim yang bisa menentukan masa depan seseorang dengan merata2kan nilai lalu menyebut rangking 1, 2 dstnya, si bodoh 1, si bodoh 2 dstnya,
hahah...saya netral dalam menanggapi buku ini,tidak pro dan kontra saya sih setuju2 saja meski ada beberapa yang saya tentang kita semua mempunyai dunia masing-masing,kita mempunyai kepribadian yang berbeda terus terang saya sudah membaca komen-komen negatif para goodreaders menanggapi buku ini dan pikiran saya menjadi lebih terbuka Saya tetap acungkan jempol buat Izza,menerbitkan buku di usia seperti itu merupakan prestasi yang jarang orang bisa melakukannya dan buat keberaniannya menentukan jalan yang dia pilih saran saya:berani kritik,berani kasih solusi,so gak asal nyeplos aja gan.. bravo dah!
aku waktu baca buku ini bener2 terkesima sama izza. ada gtu anak kecil yang seberani kayak dia.. hebat,, aku suka dengan pemikirannya dan sikapnya tentunya..
idealismenya pemikiran semalam saja, tapi yang dia sampaikan benar2 matang dan maju. aku seneng dia jadi anak indonesia, semoga pemikirannya bisa jadi inspirasi untuk orang lain dan juga generasi selanjutnya..
yah, saya netral aja deh, memang pendidikan formal yg gua alami nggak beda jauh ama Izza.. dan itu juga berlaku bagi sebagian temen2 ana, tapi ana juga nggak sampe kepikiran buat ngelakuin hal tersebut "out of the box", karena selama saya masih bisa membaca, menulis, dan berbicara... saya rasa pendidikan yg formal bukan hambatan atau dalih yang tepat, untuk melakukan sesuatu yang kita senangi ...
Pandangan, sikap, dan aksi Izza--untuk sebelia usianya-- sungguh luar biasa dlm mendobrak pandangan kebanyakan orang ttg SEKOLAH! Yah, meskipun tulisannya sederhana. Wajib dibaca oleh mereka yg mabok dgn institusi bernama sekolah, selembar ijazah, dan gelar akademis.
Menuntut Ilmu tidak dimulai dari PAUD sampai Perguruan tinggi tetapi dimulai dari buaian hingga ke liang lahat. Namun sekolah adalah tempat ideal dalam menuntut ilmu, adapun kurikulum yang tidak mampu membentuk siswa menjadi insan yang terdidik tentu ini menjadi pr kita semua berkontribusi dalam perbaikan hal tersebut karena ini menyangkut pembentukan kepribadian anak cucu kita kelak.
Buku ini adalah sebuah memoar pergulatan pemikiran Izza, seorang remaja SMP, dalam mengatasi keinginannya yang begitu besar untuk menulis sebuah novel fantasi. Tumbuh di keluarga pencinta buku rupanya merangsang pikiran Izza dan memupuk minat yang menggebu untuk menjadi penulis profesional. Sungguh, sangat tidak lazim untuk anak seusianya.
Izza merasa bahwa metode sekolah formal dan kurikulumnya yang berat yang dia jalani adalah 'tidak penting' dan hanya merupakan sebuah distraksi dalam mencapai cita-cita besarnya tersebut. Menjelang Ujian Nasional SMP, diapun membuat sebuah keputusan yang radikal: berhenti bersekolah. Namun tidak mudah, dia cuma anak 15 tahun dan 'masih belum dianggap'; dia harus meyakinkan orangtuanya yang marah dan bingung dibuatnya, saudaranya, guru-gurunya, dan terutama dirinya sendiri bahwa ia telah mengambil keputusan yang benar.
Buku ini menyampaikan banyak pesan. Yang menohok tentunya ia secara jujur menampilkan coreng moreng pendidikan di Indonesia yang menurutnya membelenggu kreatifitas dan terkadang cenderung melecehkan dan meremehkan potensi siswa-siswa. Debatable, tapi saya yakin banyak guru-guru killer yang mukanya merah karena malu (atau marah) membaca kritik Izza di buku ini.
Terlepas dari kontroversi apakah izza ini 'good kid' atau 'bad kid', memoar izza ini patut diapresiasi sebagai suatu karya seorang remaja yang solid dan jauh melampaui umurnya. Perjuangan remaja lima belas tahun ini dapat memberi inspirasi dan motivasi untuk lebih bersemangat memperjuangkan impian yang belum tercapai; terutama untuk saya, manusia tiga puluh dua tahun, yang suatu saat ingin juga jadi penulis.
Saya tidak sabar membaca novel fantasinya, ayo semangat Izza!
Sejauh ini, hal yang paling bisa saya katakan tentang buku ini adalah: buku bisa tak kalah "berbahaya" daripada televisi.
Yah. Akhirnya buku ini saya dapat juga. Buku yang penulisannya dimotivasi oleh keadaan yang penuh gejolak. Buku yang landasan isinya mengutip kehidupan orang2 yang banyak memotivasi orang lain. Buku yang mungkin sudah memotivasi orang2 lain. Buku tentang seorang remaja yang sengaja putus sekolah formal karena ingin menulis buku.
Bukan tidak setuju atau bagaimana. Saya jadi bingung pada paradoks yang ada di keluarga Izza ini. Kebingungan yang mungkin kurang obyektif terkait status saya saat membaca buku ini (omong2, bisakah seseorang bingung secara obyektif? Tolong beritahu!), menyebabkan saya belum memberi bintang pada buku ini.
Review benerannya.... nanti. *kebiasaan malas berpikir serius*
This book it's really different.. The writer is brave to make the big change with him life.. And in that book.. We can learn that we must follow our heart.. But, absolutely we must think that hardly in order our big change is right to doing..