Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pembawa Kabar dari Andalusia

Rate this book

368 pages, Paperback

First published January 1, 2005

3 people are currently reading
35 people want to read

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (11%)
4 stars
1 (5%)
3 stars
8 (44%)
2 stars
4 (22%)
1 star
3 (16%)
Displaying 1 - 3 of 3 reviews
Profile Image for Ophan Bunjos.
Author 8 books36 followers
June 7, 2013
Jumaat adalah waktu yang kita dapati sesuai dengan penghabisan. Ia hari yang dimuliakan.

Namun aku baru saja mengakhiri kemabukanku dengan payah. Mengheret kakiku di sepanjang-panjang denai syair Arab-Sepanyol yang lebih memabukan. Apakah kelegaan Barbar melihat Cordova kembali berpaling sama dengan kelegaanku menghabisi buku ini? Jawapannya sangat menyedihkan sebagaimana kesedihan telah menyelubungi seluruh Andalusia kerna kealpaan bangsa dan generasi khalifah-khalifah yang tersesat.

Berwaspadalah pada fitnah. Kekejaman fitnah adalah api-api kecil di dalam jerami yang kering. Ia membakar dengan cepat dan menyingkirkan kedinginan. Selamanya kelompok yang di antaranya ada fitnah tidak akan tercium harum penyatuan.

Buku ini demi cinta, demi cita-cita mulia, demi dendam, demi dengki, demi kejahatan peranan wanita dalam dunia fitnah. Tidak lah aku bias mengatakan fitnah berasal dari wanita namun sebahagian besar kesedihan dalam buku ini kerna datang dari cinta dan fitnah wanita. Hanya kewaspadaan bagi mereka yang mengetahuinya.

Aku telah membebaskan diriku dari semua kemabukan yang diberikan dari dalam piala-piala berisi syair dan kata pujangga. Mungkin sehingga kini aku menghalalkannya sendiri demi sebuah pengertian.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,033 reviews64 followers
October 15, 2016
“… Permusuhan dan kebencian datang di balik kepentingan tertentu. Musuhilah aku sebagaimana musuh-musuh yang merongrong kekayaan, pangkat, dan jabatanmu. Itu semua adalah naluri, wahai Tuan Putri! Engkau akan melihatnya pada manusia sebagaimana kau menyaksikannya pada hewan-hewan. Hamparkanlah semangkuk biji-bijian di antara ayam-ayam. Perhatikanlah, apa yang akan engkau perbuat?”
(h. 216)

Novel ini bercerita tentang intrik politik dan konflik cinta. Awal cerita banyak berkisah tentang kehidupan penyair dan syair-syair yang agak sulit saya cerna. Tokoh utama, Ibnu Zaidun adalah seorang penyair yang diidamkan dua wanita dengan kekuatan politis yang besar di Andalusia. Salah satunya, Aisyah, yang ternyata seorang mata-mata Spanyol. “Aisyah binti Ghalib?! Dia adalah seorang wanita yang terpelajar. Para tokoh dan pemuka masyarakat maupun para seniman sering menghadiri pertemuannya. … Dari sebagian isu yang beredar, dia adalah mata-mata Ibnu Azvonus.” (h.21)

Kalau saya tidak salah menangkap dari latar sejarahnya, periode kisah Ibnu Zaidun berlangsung pada masa pemerintahan Abu al-Hazm ibn Jahwar, seseorang yang menghapuskan khilafah dikarenakan tidak ada sosok yang layak mendudukinya. “Wahai Wilada, orang-orang Cordova sebenarnya tidak rela satu sistem pemerintahan selain sistem kekhalifahan. Mereka mencintai kekhalifahan, menghormati kedudukannya, dan menaati kebijakannya. …Mereka sungguh rela dengan kepemimpinan pada masa Al Manshur bin Abu Amir sekalipun diktator. … yang padahal pemerintahan ini dianggap batal oleh Ibnu Jahwar.” (h.48)

"Sesungguhnya Ibnu Jahwar tengah memercayakan pada Ibnu Zaidun untuk mengantarkan dirinya ke singgasana kementrian dalam waktu dekat.” (h.53) Ibnu Zaidun, seorang penyair dan cendikiawan yang mendapatkan kepercayaan menyampaikan pesan ke luar negeri karena syairnya yang dipandang sangat cerdas. Kesempatan ini membuat Aisyah binti Ghalib semakin berkeras untuk mendapatkan Ibnu Jahwar, meski sudah ditolak. Latar belakang Aisyah juga diungkap mulai dari Kakeknya, tapi saya tidak melihat sisi pentingnya dalam alur cerita.

Wilada, adalah perempuan satu lagi yang menyukai dan disukai oleh Ibnu Zaidun, tapi situasi tidak banyak mendukung keduanya. Wilada binti Al Mustakfi dan Naila Al Dimasykia, dua orang yang berusaha melindungi Ibnu Zaidun dari jebakan-jebakan yang digelar oleh Aisyah dan memohonkan ampun. Di dalam pemerintahan sendiri Ibnu Zaidun memiliki musuh yang selalu bersemangat menjatuhkannya, hingga suatu ketika jebakan berhasil membuat Ibnu Jahwar kehilangan kepercayaan dan memenjarakannya.

Sayangnya, penggambaran narasi tentang Ibnu Zaidun yang cerdas tidak terlalu saya tangkap, selain dari syair-syairnya (yang juga tidak terlalu say abaca), penilaian saya sendiri tentang Ibnu Zaidun, tipe yang lemah dan ceroboh, bahkan munafik. Surat-surat Ibnu Zaidun kepada Aisyah di awal cerita, malah berisikan cacian kepada sosok dan pemerintahan Ibnu Jahwar dan sempat akan digunakan Aisyah untuk mengancamnya. “Satu surat ini sebenarnya cukup untuk mengancam darahku dan menghapus namaku dari daftar kehidupan.” (Ibnu Zaidun ~ h.176) Beruntung ada Naila Al Dimasykia yang berhasil mengambil surat-surat tersebut dengan siasatnya. Aisyah tetap tidak menyerah untuk mendapatkan Ibnu Zaidun, meski harus menghadapi pengusiran dari Ibnu Jahwar. Jika diperhatikan, tokoh-tokoh perempuan dalam novel inilah yang menjadi sosok tangguh.

Hampir semua syair saya lewati karena kurang memahami isinya, lebih fokus pada alur cerita. Segalanya terasa nanggung, kisah cintanya, sejarahnya, intrik politiknya, menurut saya menjelang akhir cerita, ada kesan terburu-buru menutup kisah, sejak kepindahan Ibnu Zaidun. Pertemuan terakhirnya dengan Wilada pun tidak terlalu menyentuh, mengingat inilah momen yang dinanti-nanti oleh Ibnu Zaidun.

http://yukbacabukuislam.blogspot.co.i...
1 review
Want to read
April 2, 2019
i need this book, because in my faculity this book it's so important for my duty.
Displaying 1 - 3 of 3 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.