Jump to ratings and reviews
Rate this book

Perempuan Berkalung Sorban

Rate this book
Aku tidak mau menjadi budak. Pun masa depan yang kerontang bukanlah impianku, juga impian siapapun. Tetapi, kepada siapa aku harus mengadu? Setelah bapak dan ibu juga bukanlah seseorang yang merupakan tempat aku dapat bertanya dan mengutarakan isi hatiku.

309 pages, Paperback

First published January 1, 2001

50 people are currently reading
397 people want to read

About the author

Abidah El Khalieqy

18 books29 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
74 (26%)
4 stars
61 (21%)
3 stars
87 (31%)
2 stars
44 (15%)
1 star
14 (5%)
Displaying 1 - 30 of 43 reviews
Profile Image for Jatining Siti.
37 reviews6 followers
January 13, 2009
Gara-gara melihat poster iklan film "Perempuan Berkalung Sorban" di perempatan Cililitan, saya jadi tergoda menggali ingatan saya tentang novel berjudul sama yang saya baca 7 tahun lalu.

Ya, film ini memang diangkat dari novel karya penulis perempuan, Abidah el Khalieqy, yang besar di lingkungan pesantren. Tak heran jika novel ini mengisahkan kehidupan dengan latar belakang serupa.

Secara narasi atau teknik penceritaan, kelihaian Abidah cukup diacungkan jempol. Ia bisa membawa pembaca pada penghayatan cerita. Deskripsinya juga detil. Hanya saja, novel ini jauh dari label "novel Islami". Karena memang isinya jauh dari nilai-nilai Islam. Mulai dari cara penceritaannya yang vulgar hingga representasi Islam itu sendiri, menurut saya sangat jauh dari nilai-nilai Islam. Bahkan di sebuah resensi ada yang menyebutnya sebagai "sastra lendir".

Sebagai muslim, saya menyayangkan novel ini tidak mensyiarkan nilai-nilai Islam yang sesungguhnya. Ia malah menampilkan kontroversi yang alilh-alih mendiskreditkan Islam. Lebih parahnya lagi, mengajarkan hal-hal yang sebenarnya malah bertentangan dengan nilai Islam.

Novel ini berkisah tentang seorang anak seorang Kyai bernama Annisa yang hidupnya terlunta-lunta lantaran dipaksa menikah dengan anak seorang Kyai yang ternyata bromocorah. Perceraian akhirnya menjadi gerbang kebebasan bagi Annisa. Pada episode kedua kehidupan Annisa, ia diceritakan jatuh cinta pada paman jauhnya, Khudori, yang sedari kecil mengajarkannya banyak hal. Nah, episode inilah yang saya kritisi, karena proses pdkt keduanya sangat jauh dari nilai-nilai Islam, bahkan mendekati zina. Ironinya, dalam novel ini, cinta mereka berdua justru digambarkan sebagai cinta yang sesungguhnya, yang benar, yang sejati, dll. Gawat!

Dalam novel ini, Abidah juga mengkritisi kewajiban berjilbab bagi muslimah. Ia mengibaratkan muslimah berjilbab itu seperti guling yang tertutup rapat. Selain itu, banyak lagi hal-hal yang kontroversial dalam novel ini.

Saya belum menonton versi layar lebarnya. Saya hanya berharap. Semoga film ini menampilkan Islam yang rahmatan lil 'alamin dan bukan sebagai ajaran yang 'mengekang' dan bertentangan dari hak-hak asasi manusia.

Semoga juga, versi filmnya bertutur jauh lebih santun, bahkan mendekonstruksi novelnya.
Profile Image for Ari.
Author 5 books18 followers
May 16, 2009
Buku ini mengangkat isu kekerasan terhadap perempuan, bahkan dalam rumah tangga-- yang dianggap tabu dan tidak sesuai dengan ajaran agama. Khalieqy telah memberikan pandangan lain tentang rendahnya kaum wanita di mata hadis-hadis yang patriarkhal. Pandangan feminin yang memberi harapan kepada kaum wanita: tubuh dan hidupmu adalah milikmu, bukan milik orang yang menjadi "suamimu"
Profile Image for Ordinary Dahlia.
284 reviews
February 14, 2009
bagi g buku ini berada d pertengahan antara bagus dan nggak. Makanya g kasih nilai pertengahan 2,5. Bonus 0,5 karena buku pinjaman dan g berhasil menyelesaikannya dalan waktu cepet (heheh!ngalahin maxride bow!)

Nggak karena :
1. Buku ini terkesan sangat menggurui, malah bikin g rada bosen pas mendekati akhir. Klimaknya kurang berasa (ato nggak ada klimak ya?)
2. G menemukan buanyak salah cetak
3. Ga jelas si Nisa ini Islami atau tidak, mungkin g lebih setuju ini buku feminis dibanding Islami

Bagus karena :
1. Nisa kecil sangat kritis, g rasa bagian awal adalah yg terbagus dari buku ini
2. Berani mempertanyakan hal-hal yang tabu dan memang g pikir seharusnya dipertanyakan
3. Hurufnya guede guede...menyenangkan hahahahahaha...


Profile Image for Artha.
82 reviews6 followers
June 5, 2010
untuk keberaniannya dan untuk keblak-blakannya....3 bintang.
Profile Image for Roos.
391 reviews
February 14, 2009
Sepertinya sudah bukan topik yang baru lagi yah. Mengenai emansipasi atau kesetaraan gender, tapi mengingat buku ini saja ditulis tahun 2001 yah masih memungkinkan untuk dibahas waktu itu. Kalau sekarang semuanya sudah bergeser dan pengertian Kaum Adam terhadap Kaum Hawa sudah lebih besar.

Oke, karena aku nonton filmnya dulu daripada baca bukunya berikut ceritanya kenapa banyak pertanyaan bermunculan saat menontonnya. Film bercerita mengenai kegigihan Annisa kecil yang ingin belajar naik kuda, yang akhirnya berhasil karena diajari Lek Khudorie(Pamannya) , meski sesudah itu dia dimarahin habis-habisan ma Abinya, Kyai Hanan. Kemudian kegigihan Annisa yang ingin berkuliah di Perguruan Tinggi, tapi digagalkan oleh Abi-nya dengan meresmikan perjodohan dalam ikatan perkawinan Annisa dengan Samsudin, anak seorang Kyai teman Abinya yang notabene penyokong dana untuk Pesantren Al Huda. Dan berlanjut kehidupan rumah tangga yang penuh dengan kekerasan karena Samsudin yang gila seks.

Ada satu yang menjadi perhatianku adalah Buku Pram yang Bumi Manusia, buku pemberian Leknya, buku yang membuat Annisa bersemangat lagi dalam membela hak-hak kaumnya. Tapi yang lucu, kemudian bermunculan buku-buku yang membuat anak-anak perempuan di Pesantren Al Huda menjadi gemar membaca dan menulis. Tapi beberapa hasil tulisan mereka malah akhirnya dibakar oleh guru-guru di Pesantren tersebut karena dianggap tidak sesuai dengan ajaran pesantren. Dan lagi-lagi bikin salut adalah kegigihan Annisa yang ingin mewujudkan Perpustakaan Di Pesantren Al Huda. Yang akhirnya berhasil, meskipun tidak semudah yang dia pikirkan. Yah memang kalo film harus ada yang didramatisir supaya cerita lebih menarik dan tidak monoton melulu dengan dialog. Seperti saat Abi Hanan meninggal sehabis menyaksikan hukuman rajam lempar batu Annisa dan Khudorie. Bahkan teman yang ikut menonton sampai menitikkan air mata saat Annisa bermimpi bertemu dengan Abinya dan mengucapkan kata maaf pada Abinya. Mengharu birulah...hehehehe.

Yak, sekarang bicara mengenai bukunya, baru kali ini aku merasa beruntung karena melihat filmnya dulu dan kemudian merasa penasaran membaca bukunya. Dibuku, aku lebih suka dialog-dialog Annisa kecil dengan Lek Khudorie-nya yang memang patut dijadikan lelaki idaman wanita-wanita tergambar jelas kedalaman ilmu agamanya selain ke-gantengannya juga. Tapi mungkin jarak umurnya dengan Annisa jadi si Lek ini memang lebih ngemong dan Annisa juga merasa nyaman dengannya. Ohya Hukum Rajam yang bikin penasaran karena Peran Widyawati difilm juga tidak ada di buku ini. Buku ini malah datar-datar saja klimaks biasa-biasa saja. Tapi dialognya yang bikin aku salut cukup informatif karena pendeskripsian yang lengkap. Abidah mengenal betul kehidupan pesantren, berikut kritikannya terhadap Kyai-kyai yang kolot tidak tanggap terhadap perubahan zaman. Tergambar jelas dibuku ini bahwa penulis juga ingin membuka mata bahwa Pesantren juga harus bisa menjadi agen perubahan. Ohya dibuku tidak ada cerita kegigihan Annisa untuk membangun Perpustakaan di Pesantrennya lho. Jadi Film dan buku ada plus minusnya yah.

Sepertinya masih banyak yang harus aku pelajari,dan setuju kalo buku ini disebut sebagai buku Feminisme Islami.
Profile Image for Rika.
51 reviews
March 3, 2009
Aku bingung memberi bintang buat buku ini. Menurut logika, buku ini seharusnya hanya mendapat 1 bintang, atau maksimal 2..tetapi aku tidak bisa menafikan kenyataan bahwa ini adalah buku pertama setelah kurun sekian lama yang kutamatkan dengan cepat, dan dengan mood yang terjaga.
Mungkin untuk adilnya kuberi bintang 2,5 sajalah
Buku ini awalnya diniatkan sebagai sebuah media alternatif kampanye gender dan hak-hak reproduksi perempuan, jadi sebenarnya tak aneh bila keterbacaannya sebagai sebuah buku sastra agak tanggung, atau malah bisa dibilang kurang. Tak aneh juga bila buku ini terasa begitu menggurui dan dialog-dialognya terbangun dengan agak tidak wajar, lebih mirip monolog atau tanya jawab antara orang awam dan pakar.
Hal lain yang mengganggu adalah typo yang bertebaran di hampir setiap halaman. Padahal aku bukan termasuk orang yang rewel soal kesalahan ketik macam ini, tapi percayalah, kesalahan yang ada di PBS itu jauh di atas ambang kewajaran. Hal yang sungguh mengherankan, karena buku ini sudah masuk cetakan ke … entah ke berapa.. di atas lima yang pasti, jadi cukup banyak waktu untuk membenahi kesalahan yang mungkin ada sejak edisi pertama.
Yang aneh malah adalah ketertarikanku untuk terus membaca buku ini, yang baru tersendat ketika buku sudah memasuki halaman-halaman menjelang akhir, ketika Nisa sudah menikah untuk yang kedua kalinya.
Kemungkinan besar ketertarikanku adalah karena novel ini cukup membangun suasana pesantren yang kuingat, cukup untuk membuatku bernostalgia sesaat, cukup untuk memunculkan atmosfer asing yang, anehnya, terasa akrab di sekitarku selama aku membaca buku ini.
Tetapi aku harus meluruskan, tidak semua penggambarannya tentang dunia pesantren akurat, minimal menurut pengalamanku pribadi. Misalnya saja di pesantren, setahuku qiraah atau tilawah merupakan kegiatan yang “legal”, bahkan diwajibkan, minimal bukan sesuatu yang harus dilakukan dengan sembunyi-sembunyi. Agak aneh juga bagiku bila Annisa yang puteri kyai harus melakukan tugas-tugas kerumahtanggaan, karena setahuku, anak-anak kyai adalah anak-anak yang sangat dimanjakan :-P (tapi ini mungkin cuma kasus di beberapa keluarga kyai yang kutahu). Oh, tambahan lagi, aku tidak ingat bahwa di Jombang orang lazim berkuda ke mana-mana
Dalam konteks lain, yang sangat menggangguku adalah penggambaran hubungan Khudlori dan Annisa di awal-awal cerita. Aku sampai mendapat kesan Khudlori mengidap pedofilia. Ayolah, lelaki dewasa normal mana zaman sekarang yang jatuh cinta temehek-mehek pada anak perempuan yang masih berusia di bawah sepuluh tahun?
Yah, kalau mau menyebutkan segala hal yang kurasa mengganjal dari buku ini, bisa-bisa aku menghasilkan tulisan yang sama panjangnya dengan PBS sendiri hihihi..
Jadi, kusudahi dululah.. 
Profile Image for Embun.
98 reviews4 followers
November 17, 2019
Sebuah buku yang mencoba untuk memotret bagaimana jeritan seorang perempuan yang haknya dirampas oleh aturan-aturan yang justru lebih menonjolkan peran laki-laki dibandingkan dengan perempuan. Aturan tersebut seringkali terbungkus dengan dalil-dalil agama yang satu arah, tanpa untuk mencoba membuka penafsiran baru dalam memperlakuan seorang perempuan. Menariknnya dalam buku ini, teriakan perempuan tersebut justru berasal dari seorang putri dari seorang kyai pengasuh pondok pesantren di lereng gunung Sundoro.

Ia, meskipun merupakan putri dari seorang kyai. Perlakuan yang didapatkan justru malah merendahkannya. Hal itu terlihat dari keinginannya untuk belajar berkuda dengan Lek Khudori ditentang oleh ayahnya, ambisinyaa untuk terlihat unggul dibandingkan dengan laki-laki dipupus oleh nasihat dari ibunya. Dan Keinginan untuk mengejar mimpi, terpaksa harus dikubur oleh keinginan kedua orang tuanya dengan menikahkan dirinya pada seorang yang justru kelakuannya lebih buruk daripada hewan, pada saat ia masih usia belasan tahun.

Perjuangan untuk meraih keadilan tampak terlihat dalam buku ini. Beberapa dialog dan perenungan coba untuk ditampilkan dan membuka mata kita sebagai pembaca tentang perlakuan kita sebagai seorang perempuan. Annisa, meskipun sebagai seorang muslim yang taat, tidak menerima begitu saja penafsiran dan perlakuan dari sebuah kitab-kitab maupun adat istiadat yang turun menurun yang pada kenyataan justru mensubodinasikan perempuan. Oleh bantuan Lek Khudori dan teman-temannya yang di kuliah, Annisa bersama kita sebagai pembaca berhasil membuka cakrawala baru dalam memperlakukan perempuan.

Kesukaan saya, terhadap dialog dan perenungan pencerahan tersebut seringkali ternodai dengan beberapa bagian yang menceritakan hubungan antar suami-istri, yang seringkali ditampilkan secara vulgar. Sehingga dalam membacanya, seakan-akan sedang membaca cerita dewasa. Selain itu, latar belakang cerita yang berasal dari pesantren. Seringkali beberapa kosakata Arab muncul dari buku ini, hanya saja lema bahasa asing tersebut tidak dibarengi terjemahan dengan terjemahan bahasa Indonesia. Sehingga membuat saya sebagai pembaca perlu bertanya kepada yang ahli untuk mengurai pemaknaan dalam buku ini.
Profile Image for Khairul Muhammad.
Author 15 books68 followers
February 22, 2016
Naskah ini saya anggap naskah terbaik yang pernah difilemkan. Saya mencari buku ini selepas menonton filemnya. Kisah Annisa yang 'rebel' dari awal remaja. Kemudiannya berkahwin dan akhirnya kembali ke pesantren milik keluarganya.

Banyak drama, kisah dan sinis-sinis kehidupan dalam naskah ini. Mengalir juga air mata dibuatnya. Memegang erat naskah ini semasa dibaca di dalam komuter buat orang-orang lain juga terpandang-pandang saat kita menarik balik air hidung ke dalam. Dan mengelap dua belah mata, hilang jantan.

Jika ada 10 bintang, saya beri 10 bintang.
6 reviews
Read
January 23, 2009
seorang wanita bukan hanya duduk di rumah menunggu suami pulang, tapi dia juga punya hak yang sama dgn laki2, kita sebagai perempuan, surga ada di telapak kaki kita, kita jgn hanya mw berlindung diketiaknya lelaki saja, tunjukkan kalau kita tidak selalu lemah..
18 reviews2 followers
May 24, 2010
٩(-̮̮̃-̃)۶ nice
1 review1 follower
Want to read
June 12, 2014
i want to read
Profile Image for Emira.
30 reviews
October 8, 2025
Beberapa bagian dalam buku ini membuat kening mengernyit. Tema yang diangkat tentang kesetaraan gender cukup lantang dituliskan dalam alur cerita, namun ada beberapa alur yang cenderung memburamkan tema tersebut. Seperti hubungan antara kedua tokoh utama yang di beberapa waktu justru menenggelamkan tema utama buku. Bahkan cenderung dilukiskan sebagai hal yang lumrah dan turut membentuk perspektif yang salah pada tokoh utama.

Latar belakang lingkungan, menonjolkan kesetaraan gender yang bersilangan dengan ajaran agama. Isu yang hingga kini masih cukup hangat di tengah masyarakat kita. Kuatnya paham patriark bahkan mampu menghilangkan keinginan perempuan untuk merdeka dan meraih haknya. Buku ini dengan jelas menggambarkan kondisi tersebut melalui tahap kehidupan yang dilalui tokoh utama yang bersilangan dengan tokoh-tokoh perempuan lainnya yang bahkan tidak menyadari bahwa ia memiliki hak dalam setiap peran yang ia miliki, bukan hanya kewajiban yang selalu wajib ia jalankan.

Tokoh utama memang diceritakan memiliki banyak pertanyaan tentang kesetaraan gender, namun ia terkesan tidak melalui jalur yang benar untuk mendalami isu ini sepanjang hidupnya. Mungkin jika buku ini dibaca remaja akan membangkitkan semangat kesetaraan gender (meski beberapa cerita cinta tokoh harus di sensor) namun bagi kalangan yang telah jauh melewati masa remaja, buku ini tidak menggali cukup dalam isu tersebut.
Profile Image for Shahrill Ramli.
36 reviews1 follower
November 29, 2017
I would say this is a brave novel. A book that surpasses its own contemporary peers. Coming from Indonesia, a country with predominant Muslim population, it is noted that the Indonesian (as well as Malaysia, Singapore, Brunei) cultures are embroidered with Islamic values. Hence, occurrences of abusing the religion for personal gains are inevitable. This novel chronicles such issue as one of its plot. As the daughter of a religious teacher, Annisa's life was all trained to be submissive to the patriarchal system. But she defied the antiquated style by seeking knowledge and knows her rights as a Muslimah; as guaranteed by Islam - but refused to be acknowledged by wolves in the Islamic sheep clothing.

More of my review in my blog at https://undomiel84.wordpress.com/2017....
Profile Image for Kania Putri.
3 reviews
March 29, 2025
I really like this book karena buku ini relate dan sometimes kita temui di lingkungan sosial di mana pendapat dari seorang perempuan ga pernah didengarkan, menjadi seorang perempuan harus nurut aja, kemudian ruang perempuan untuk bergerak dibatasi. From this book, I feel like I was taught to be a brave and assertive woman. Di buku ini juga disinggung tentang kodrat seorang perempuan yaitu hamil, melahirkan, dan menyusui. Banyak banget persoalan perempuan di lingkungan yang patriaki dibahas di buku ini dan juga di buku ini disinggung kalau kedudukan suami istri itu setara. Sama sama memiliki hak dan kewajibannya sesuai akal pikiran, perasaan, dan hatinya.
Profile Image for Nur Wulan Nugrahani.
80 reviews5 followers
April 16, 2020
Nisa mengalami pengalaman subordinasi perempuan yang tidak tanggung-tanggung: terjebak urusan domestik, putus sekolah karena dinikhkan dini, dan mengalami KDRT. Ketika keadaan terlihat baik, ada saja kejadian buruk mengikuti. Novel yang menguras emosi dan juga mengingatkan kita ketidakadilan perempuan sudah dinormalisasi dan mengakar kuat dalam budaya Islam di Jawa.

Aku cuman kurang suka gaya bahasa yang digunakan karena cukup mengganggu. Tapi ini salah satu novel dan film yang mengangkat isu gender inequality. Salut!
Profile Image for sasandhe.
23 reviews
September 2, 2022
Suka dengan novel ini, cuma entah mengapa aku lebih suka filmnya dari novelnya.

Secara keseluruhan novel ini rekomended banget buat dibaca. Di mana novel ini merupakan sebuah gebrakan bahwa, perempuan itu bukan hanya bekerja di dapur, dan selalu stay di rumah. Dan tak selamanya background keluarga yang baik dapat menghadirkan anak yang baik pula.
Aku suka banget dengan seberapa tabahnya tokoh utama menghadapi ujian yang bertubi-tubi dan perjuangannya yang luar biasa.
20 reviews
December 4, 2019
Novel Perempuan Berkalung Sorban ini merupakan karya sastra karangan Abidah El Khalieqy. Dikisahkan seorang perempuan muslimah bernama Anisa yang memiliki pemikiran yang bebas dan menganggap perlunya kesetaraan gender, serta dengan diam-diam mencintai pamannya, Lek Khudori. Suatu hari Nisa sudah menginjak masa baligh, Ayahnya pun menikahkan Nisa dengan seorang anak kyai bernama Samsudin, yang ternyata memiliki perangai yang buruk. Setelah beberapa waktu, penderitaan yang dialami Nisa dalam pernikahnnya pun diketahui orangtuany, hingga Nisa dan Samsudin pun bercerai. Setalah perceraian itu, Nisa pergi ke Yogyakarta untuk melanjutkan pendidikan tingginya. Hingga suatu hari Lek Khudhori meminang Nisa meskipun membutuhkan waktu yang lama untuk Nisa menerima Lek Khudori. Dengan berjalannya waktu Nisa mengandung seorang anak yang diberi nama Mahbub. Namun, cobaan tak berhenti begitu saja. Lek Khudhori mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Nisa kini mulai mencoba ikhlas akan kepergian sang suami dan mulai meneguhkan hati untuk kembali menjalani kehidupan bersama anaknya.

Dalam mengapresiasi novel Perempuan Berkalung Sorban ini dengan pendekatan literasi kritis dapat diketahui bahwa Abidah El Khalieqy mampu menggambarkan permasalahan sosial melalui novel ini dengan apik dan kreatif. Sebab dalam kehidupan sosial, banyak ditemui permasalahan antara orang tua dan anak yang seperti tergambarkan pada tokoh Nisa dengan Ayah Nisa. Seorang Ayah kerapkali bersikap otoriter terhadap anaknya, meskipun hal tersebut dilakukan demi kebaikan anaknya. Namun, orangtua juga perlu memberikan ruang bagi anaknya untuk mengembangkan dirinya sendiri. Selain itu, masalah sosial yang diangkat dalam novel ini adalah mengenai kesetaraan gender, yang mana dalam novel ini diambil dari sudut pandang religius.

Jika ditinjau dari judul novel ini yaitu Perempuan Berkalung Sorban, Sorban di sini digunakan sebagai sebuah lambang bagi tokoh, dalam memperjuangkan hak-haknya sebagai wanita. Dalam kehidupan sosial ini, wanita dianggap sebagai pihak yang harus mengurus segala keperluan rumah tangga, kemudian perempuan tidak boleh berpendidikan, hingga harus selalu berada di rumah. Abidah El Khalieqy dengan berani mendobrak kesetaraan gender khususnya wanita muslimah melalui tokoh Anisa.

Abidah El Khalieqy dalam menciptakan sebuah tokoh atau karakter dalam novelnya tidaklah berlebihan dan menggebu-gebu. Misalnya tokoh Anisa pada novel tersebut yang digambarkan seagai wanita muslimah yang tidak radikal, bersifat plural dan terbuka. Hal tersebut dapat dibuktikkan dari percakapannya dengan Mbak Kalsum, istri kedua Samsudin mengenai asal sifat buruk Samsudin. Sifat Samsudin yang digambarkan sebagai seseorang yang bengis, kasar, dan bernafsu sebab sikap otoriter ayahnya sewaktu kecil dan seringnya ia membaca majalah dewasa milik ayahnya. Dalam kehidupan sosial ini, manusia harus selalu memahami manusia lainnnya, seperti Anisa yang menginginkan manusia untuk tidak menyalahkan orang lain, tetapi melihat sumber permasalahannya.
20 reviews
December 5, 2019
Novel yang diangkat menjadi film ini sangat terkenal di Indonesia. Kisahnya yg menceritakan seorang anak kiyai terkenal di pesantren tsb. Ia memiliki pemikiran yang berbeda dari santriwati lainnya. Banyak perubahan yg telah ia dapatkan semenjak pergi kuliah dijogja.
Profile Image for Mirza Ifronziah.
2 reviews2 followers
Read
April 15, 2011
Buku Perempuan Berkalung Sorban ini menceritakan tentang hidup seorang wanita bernama Anisa. Anisa adalah putri seorang kyai disebuah pondok pesantren. Dia mempunyai hobby berkuda, dan dia sering diajari oleh leknya yaitu lek Khudhori. Namun orang tuanya selalu marah-marah kalau mengetahui purtinya menunggangi kuda, karena Anisa adalah putri seorang kyai. Pada saat lek Khudhori mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan kuliah di Mesir, maka tidak ada lagi yang mengajari Anisa untuk menunggang kuda.
Setelah Anisa beranjak dewasa orang tuanya segera menikahkan Anisa dengan seorang laki-laki bernama Syamsudin, tetapi Anisa tidak mau karena dia hanya mau menikah dengan lek Khudhori. Namun orang tuanya tetap memaksanya. Setelah Anisa menikah dengan Syamsudin, dia sering mendapatkan perilaku tidak baik dari suaminya. Anisa sering di pukul serta dipaksa menuruti kemauan suaminya dan ternyata Syamsudin juga telah berselingkuh dengan wanita lain.
Setelah lek Khudhori pulang dari Mesir, dia menemui Anisa. Anisa menceritakan tentang hubungan rumah tangganya dengan Syamsudin. Dan lek Khudhori menyarankan kepada Anisa agar berbicara pada orang tuanya dan meminta cerai dari suaminya. Dan pada saat itu Syamsudin tau kalau Anisa dan lek Khudhori sedang berduaan, dan dia mengadu kepada orang tua Anisa dan para santri pondok pesantren kalau Anisa dan lek Khudhori sedang berzina. Ketika Syamsudin dan para santri pondok pesantren hendak merajam Anisa dan lek Khudhori, penyakit jantung pak kyai kambuh dan akhirnya beliau meninggal dunia. Setelah itu mereka mengusir lek Khudhori dari pondok pesantren.
Setelah Anisa bercerai dengan Syamsudin dan sepeninggalan lek Khudhori dari pondok pesantren dia memutuskan untuk melanjutkan kuliah di Solo. Disana ternyata dia bertemu dengan lek Khudhori, akhirnya mereka menjalin hubungan yang serius dan lek Khudhori beriktikad untuk menikahi Anisa.
Setelah mereka menikah, mereka mendapatkan banyak cemooh dari tetangganya karena Anisa belun juga hamil, mereka menuduh Anisa mandul. Tetapi beberapa waktu kemudian Anisa hamil dan dikaruniani seorang putra.
Pada saat lek Khudori hendak berangkat kerja, dari belakang dia diikuti oleh sebuah mobil, dan mobil tersebut menabraknya. Saat itu Anisa didatangi dua orang polisi dan memberikan kabar bahwa suaminya kecelakaan. Ketika Anisa menemui suaminya ternyata suaminya telah meninggal dunia.
Sepeninggalan ayahnya dan suaminya, Anisa mulai mengelola pondok pesantren bersama kakak laki-lakinya. Namun kondisi keuangan semakin hari semakin menurun, dan dia memerlukan donatur untuk bekerjasama dengan pondok pesantren. Donatur tersebut adalah Syamsudin mantan suami Anisa, karena sebenarnya dia masih menginginkan Anisa. Akhirnya Anisa mengetahui bahwa suaminya meninggal dunia karena ditabrak oleh mobil Syamsudin mantan suaminya.
Dari cerita tersebut memberikan banyak pelajaran bagi kehidupan yang tidak mudah, kadang kita harus mendapat fitnah dari oarang lain bahkan harus berpisah dari orang yang kita sayangi. Namun dalam cerita ini banyak memberikan gambaran tentang orang dewasa yang telah berumah tangga, jadi buku ini lebih baik hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja.
3 reviews
May 21, 2012
Annisa sedang bermain bersama kakanya Rizal. Nisa yang hendak keluar untuk belajar pacu kuda itu seurius sekali untuk menatap hari, namun restu orang tua tak kunjung mengijinkan anaknya tersebut untuk belajar berkuda.
Sepulang di rumah Nisa langsung dipergoki oleh orang tuanya karena bermain tanpa izin.
Hingga pada suatu hari dimana Nisa sudah mencapai masa baligh, Nisa belajar qir’ah dan berpacu kuda secara sembunyi-bunyi, belajar qir’ah ke maemunah dan berpacu kuda kepada lek Khudori.
Lek Khudorilah yang mengjari nisa sepeti itu, di masa yang baligh itu Nisa sudah mengalmai rasanya dilema cinta, Nisa sadar jika mengutarakannya makan akan terjadi salah paham, Nisa akan rindu terhadap pujianya tiap sore ketika berlatih kuda, rindu memancing bersamanya, karena kurang lebih 2 minggu lagi lek khudori akan pergi ke Kairo, setelah mendengar kabar itu Nisa tak kuat menahan air mata karena akan berpisah dengan lek Khudori.
Setelah Nisa khatam Al-Qur'an, ia mendapatkan hadiah kenang-kenangan dari Lek Khudori. Hadiah lukisan dengan seorang putri budur menaiki buraq.
Pada suatu malam Nisa mendengarkan bahwa dia akan di jodohkan dalam usia belasan tahun. Mendengar hal tersebut Nisa sangat sedih.
Bertahun-tahun berlalu hingga dia hanya tamat SD dan langsung dinikahkan dengan laki-laki bernama Samsudin, tiap malam Nisa hanya merintih karena harus mau mengikuti nafsu dari suaminya itu. Hingga datang pada suatu hari seorang janda bernama Kalsum datang untuk meminta pertanggung jawabannya. Dan terjadilah poligami antara Samsudin dengan Kalsum dan Annisa.
Bertahun-tahun kini akhrinya tiba juga lek Khudori kembali ke pesantren dan menemui annisa.
Setelah Annisa menceritakan semua kelakuan Samsudin kepada orang tuanya, akhirnya terjadilah perceraian antara Samsudin dan Annisa.
Setelah hubungan lek khudori dan Annisa semakin dekat orang tua Annisa menikahkan mereka karena takut terjadi fitnah.
Pernikahan annisa dan khudhori akhirnya telah terjalin dengan indah, dimana tak ada kekurangan sama sekali, harta, tauladan, dan sikap yang baik.
Akhirnya mereka dikaruniai seorang anak bernama Mahbub. Aktivitas mereka sangat indah karena hari-hari mereka dihiasi oleh seorang anugrah harta terindah dalam dunia ini.
Saat akan mengunjungi pesantren, di tengah perjalanan motor Khudori masuk ke dalam jurang dan akhirnya dia meninggal dunia. Mendengar kabar tersebut Annisa sangat sedih.
Profile Image for Windy hapsari.
54 reviews9 followers
May 18, 2009
baru saja nonton perempuan berkalung sorban di dvd, saya jadi tertarik membaca novelnya.
tapi ternyata sedikit mengecewakan, saya pribadi lebih menyukai versi filmnya. di Novel, awalnya memang bagus dan cukup menyentuh. tetapi semakin kebelakang, saya kurang suka dengan cara penceritaannya. terkadang terkesan cheesy dan corny. dan juga karakter Khudori yang digambarkan di film (menurut saya Oka Antara memerankan nya dengan bagus)punya perbedaan yang signifikan dengan apa yang digambarkan di novel. menurut saya karakter khudori di film lebih realistis, karena seorang muslim yang taat tak akan menyentuh wanita yang bukan muhrimnya
Tapi di novel kok kayanya si Khudori ini agak agak pecicilan hehe.
ada beberapa bagian yang memang lebih bagus di novel seperti sebab perceraian Annisa dengan Samsudin, yang lebih make sense. dibandingkan dengan yang di film, soap opera abis bow yang di film.
overall novel ini cukup menyentuh sisi feminisme dari bagian yang masih dianggap daerah rawan oleh kebanyakan orang karena berbenturan dengan agama mayoritas yang dianut Indonesia.
cara Abidah El Khalieqy menggambarkan ketimpangan dalam hubungan suami istri antara hak & kewajiban pria dan wanita digambarkan dengan sangat ekstrim disini. dan mungkin somewhere out there masih terjadi di masyarakat kita.
no need controversy lah dalam hal ini, saya rasa orang sudah cukup pintar untuk menilai mana ajaran yang ekstrim dan mana yang tidak. tergantung dari cara kita melihatnya.
yang agak membingungkan ending di novel ini Khudori akhirnya meninggal atau koma sih ?? kalo di film kan endingnya meninggal..

Bacaan yang cukup lumayan ...
4 reviews
April 7, 2011
Dalam pesantren Salafiah putri Al Huda diajarkan bagaimana menjadi seorang perempuan muslim dimana pelajaran itu membuat Anissa beranggapan bahwa Islam membela laki-laki, perempuan sangat lemah dan tidak seimbang

Tapi protes Anissa selalu dianggap rengekan anak kecil. Hanya Khudori (Oka Antara), paman dari pihak Ibu, yang selalu menemani Anissa. Menghiburnya sekaligus menyajikan ‘dunia’ yang lain bagi Anissa. Diam-diam Anissa menaruh hati kepada Khudori. Tapi cinta itu tidak terbalas karena Khudori menyadari dirinya masih ada hubungan dekat dengan keluarga Kyai Hanan (Joshua Pandelaky), sekalipun bukan sedarah. Hal itu membuat Khudori selalu mencoba membunuh cintanya. Sampai akhirnya Khudori melanjutkan sekolah ke Kairo. Secara diam-diam Anissa mendaftarkan kuliah ke Jogja dan diterima tapi Kyai Hanan tidak mengijinkan, dengan alasan bisa menimbulkan fitnah, ketika seorang perempuan belum menikah berada sendirian jauh dari orang tua. Anissa merengek dan protes dengan alasan ayahnya.

Akhirnya Anissa malah dinikahkan dengan Samsudin (Reza Rahadian), seorang anak Kyai dari pesantren Salaf terbesar di Jawa Timur. Sekalipun hati Anissa berontak, tapi pernikahan itu dilangsungkan juga. Kenyataan Samsudin menikah lagi dengan Kalsum (Francine Roosenda). Harapan untuk menjadi perempuan muslimah yang mandiri bagi Anissa seketika runtuh

Dalam kiprahnya itu, Anissa dipertemukan lagi dengan Khudori. Keduanya masih sama-sama mencintai.…
Profile Image for Depoy.
32 reviews9 followers
April 27, 2009
dikasih bintang 3 Karena nggak ada rating bintang 2,5
bonus 0,5nya : karena tema n pesan moralnya ttg kesetaraan gender yang belum lazim diangkat pada waktu novel ini ditulis

sebenarnya buku ini bukan tipikal buku saya. Tapi karena adik sudah meminjamnya dari rentalan buku, dan saya masih belum tidur ... maka apa boleh buat, pukul 3-5.30 tadi pagi buku ini habis juga saya lalap....hahaha

sejak halaman pertama, buku ini sudah menunjukkan pesan moral apa yang mau disampaikan. Untuk saya pribadi jalan ceritanya terlalu datar dan mudah di tebak. Tapi afterall saya suka narasi awalnya juga teknik penceritaannya... (meski sebagian orang bilang niovel ini termasuk "karya sastra lendir" yang sama sekali nggak islami)

yang aneh dari novel ini :
anak kelas 5 sd sudah merasakan cinta2an (pas kelas 5, aku sih kemana2 masih pakai celana kolor pendek, main layangan) ahahahaha
penokohan : yg protagonis (spt khudori) - digambarkan perfect bgt sementara yang antagonis di gambarkan secara Lebay...(dalam novel / sastra hypersex activity/ sadomasokis sebenarnya justru bisa memancing curiousity kalau nggak digambarkan scr vulgar...)


94 reviews45 followers
February 19, 2010
mel gak terlalu mampu menilik-komentar dari buku ini, karna sebenarnya belum baca.. namun yang dapat ditilik dari film-nya memang cenderung pada ketidakpuasan seorang perempuan dengan keberadaan muasalnya. hidup dalam lingkungan pesantren yang ia rasa mengungkung 'kebebasannya' sebagai perempuan..
padahal annisa, tokoh dalam film/buku ini, belum memahami makna kebebasan yang sebenarnya..kalau dianalogikan, ia ingin menjadi mobil yang bebas menderu kemanapun, tanpa satupun rambu yang menghalangi..
maka pada hakikatnya, ia hanya tinggal menunggu, apa ia akan menabrak atau ditabrak...

hhe..maf terlalu sentimentil soal film/buku ini,
karna secara pribadi mel cukup tersindir soal buku ini, seakan-akan agama hanya memberikan kungkungan bagi seorang perempuan, padahal semua batasan punya makna dan nilai mulia..
izzah...
Profile Image for Annisa Pratyasto.
46 reviews8 followers
September 3, 2013
Setelah melihat media visualnya, saya mencoba untuk membaca karya tulisnya. Sedikit banyak imajinasi saya agak terkungkung dari film yg digarap Hanung tersebut. Ternyata filmnya memang sedikit berbeda dan penuh "bumbu", mungkin untuk memenuhi tuntutan artistik.
Pembahasan yg diulas mengenai jender dan feminitas memang topik yg tak pernah usai dan penuh dg kontroversial, apalagi dengan sudut penceritaan pesantren. pantas saja buku inj banyak disandingkan menjadi referensi ilmiah. Buku ini saya rasa cukup berani untuk mengambil opini dan 'agak' terkesan menggurui di beberapa bagian. Namun saya terlanjur jatuh hati pada sosok Khudori, yang mengerti benar posisi pria termasuk hak dan kewajibannya. :)
Profile Image for Wayan.
29 reviews2 followers
September 11, 2007
Yeah, sebuah buku yang ditulis dan di buat oleh kaum feminis. sebuah karya yang mengangkat tema klasik tentang kejelekan kawin ala Siti Nurbaya dan mengagungkan kehidupan perkawinan yang diperoleh melalui pilihan sendiri. Bleh! lumayan lah gaya penceritaaannya walaupun maksud dan tujuannya subyektif (maksud gw ini dapat dijadikan contoh khas pembelaan anak-anak muda sok tahu yang tidak menghargai orang tuanya).
Sedikit saran : jauhkan dari anak2 SMP dan SMU agar tidak membawa pengaruh buruk! hanya umtuk orang dewasa (21 tahun keatas) yang sudah mampu memilah mana yang baik dan buruk
Profile Image for Norak Kamis.
7 reviews
April 13, 2009
Buku yang mengajar kita tentang kesabaran, keteguhan dan hak yang perlu kita kuatkan sebagai seorang wanita.

Cara penulisan Abidah memang bagus cuma ade seberapa adegan saya rasakan terlalu singkat dan terlalu ringkas meninggalkan rasa tidak puas menikmati buku ini. Lebih-lebih lagi bagaimana kisah cerita ini ditamatkan, jikalau beliau dapat menulis dengan penuh teliti pasti bukunya akan memuaskan para peminat sastera.



Displaying 1 - 30 of 43 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.