“Just like a dream I ’ve found on the street—tak peduli kau arsitek atau bukan, arsitektur paling agung tetaplah bangunan bernama kehidupan. Penari atau DJ, rapper atau pembalap liar, apa pun, all is good, jadilah arsitek untuk kehidupanmu sendiri... Seperti pepohonan evergreen yang selalu hijau, waktu dan musim bisa mengubah segalanya, tapi tidak dengan siapa dirimu sebenarnya...” - Sean Walker
Menyimpan mimpi untuk mengubah dunia dengan kejujuran, jutawan muda Sean Walker mengubur masa lalu gelapnya di balapan liar hutan evergreen bersama kisah misterius lenyapnya Billy. Ketika kehidupan barunya sebagai pembalap nasional sekaligus mahasiswa biasa di departemen arsitektur malah mempertemukannya dengan sahabat-sahabat tak biasa:
Nathan Evan—mahasiswa miskin nyaris dropped-out yang berjuang menjadi DJ berbekal sepasang turntable tua, di tengah trauma akan kematian adiknya yang tertembak dengan kepala pecah dalam perkelahian gangster di club kota. Rachel Scott—mahasiswi arsitektur teladan yang tak pernah percaya pada mimpi. Hingga George Thomas—mahasiswa Departemen Musik yang membawa handgun kemana pun, rapper mantan penghisap ganja yang lahir dari kerasnya kehidupan kumuh ghetto penuh kriminalitas.
Cerita anak-anak muda yang mempertaruhkan sebuah keyakinan, mengejar mimpi, dan mencari arti kejujuran yang akhirnya malah mereka temukan di jalan-jalan pinggiran kota. Mulai dari kisah imigran gelap yang menjadi pembalap kriminal di pinggir pelabuhan, corat-coret pemberontakan dalam graffiti ilegal di dinding lorong-lorong kota, cinta seorang stripper, hingga penari dan rapper-rapper jalanan yang mengejar mimpi di bawah garis kemiskinan. Mulai dari nyaris terbunuh berandal-berandal kota yang berjuang bertahan hidup, anak kecil buruh perkebunan yang mengajarkan makna terbang tanpa sayap, hingga cerita kakek tua yang menjadi penyanyi jalanan di atas kursi roda.
Semua akhirnya menguak filosofi indah di balik kisah lenyapnya Billy serta mimpinya dan Sean yang tak pernah berubah: mimpi untuk mengubah dunia... dengan murninya sebuah kejujuran hati.
Angel G. is an ordinary girl who has taken her bachelor's degree in architecture yet chose to make a big decision to change directions and follow her passion to be a fiction writer. Previously being a musician and raised among struggling urban artists such as DJs, rappers, street dancers and graffiti artists in the local hip-hop movement has inspired her to write her first street-lit novel, A Street Dream: The Evergreen Architecture. She dedicated the novel as a part of the evergreen honesty campaign, to motivate people who are still brave enough to chase dreams and those who were lost but come back to live their purest passions. You can find her many times crossing the city behind the steering wheel, sucking lollypops. Or most of the time, behind her laptop.
Sebelum memulai menulis review, saya ingin minta maaf pada penulis karena saya bacanya lama banget. Kebetulan saya lagi sibuk dan belum sempat menulis review. Terima kasih juga sudah dikasih buku ini. Hehe...
Buku ini cukup tebal dan terutama tulisannya penuh sekali, spasi antara paragrafnya juga rapat-rapat. Yah, nggak pentinglah itu. Yang penting isinya. Dan menurut saya, cerita ini sangat menginspirasi untuk tetap bermimpi di tengah banyaknya kegagalan.
Ceritanya tentang mahasiswa di Evergreen University. Tokoh utamanya adalah Sean Walker. Dia adalah pembalap terkenal yang sangat kaya. Bayangkan. Masih muda dan kaya. Dia kuliah juga sih, cuma asal-asalan karena dia sudah sukses sebagai atlet. Rasanya semua orang pasti pengen jadi seperti dia. Tapi ternyata dia kesepian karena kedua orang tuanya sudah meninggal. Dia menemukan persahabatan dengan orang-orang di jurusan arsitektur. Dua di antaranya adalah Nathan dan Rachel.
Nathan Evan adalah tokoh yang paling bikin saya simpatik. Impiannya sederhana. Dia ingin menjadi DJ dan ditentang orang tuanya. Dia kuliah malas-malasan sampai diancam dikeluarkan dari sekolah karena terlalu banyak mata pelajaran yang tidak lulus. Dia tidak suka arsitektur seperti keinginan ayahnya. Saking pengennya jadi DJ, Nathan rela keluar dari rumah dan hidup di daerah kumuh dan tidak aman yang uang sewa rumahnya rendah. Dia bahkan tidak mau menerima bantuan dari Sean. Namun kesialan terus menimpa Nathan. Saya sampai greget sendiri. Kenapa sih nasib sial amat? Walaupun begitu, ada banyak sisi Nathan yang saya tidak suka. Orangnya agak plinplan dan suka bingung nggak jelas sendiri. Tapi karakternya sangat nyata buat saya.
Rachel adalah si sempurna yang selalu meraih kejuaraan di bidang arsitektur. Tapi dia merasa menemukan kebebasan setiap kali menggunakan mobil balap Sean dan berpacu gila-gilaan di sirkuit yang sulit. Sayangnya, dia kerap menyangkal passion-nya itu karena arsitektur lebih menjanjikan masa depan. Yah, mungkin inilah yang banyak dihadapi banyak orang di luar sana. Impiannya apa, tapi tidak berani mengambil jalan menuju impian tersebut karena terlalu bahaya. Cari aman, ceritanya. Hanya saja, saya lebih suka tokoh yang ingin berjuang daripada orang normal seperti Rachel ini.
Para tokohnya bukan orang Indonesia. Mungkin itu satu alasan saya tidak begitu suka buku ini. Saya selalu lebih suka orang Indonesia menulis tokoh orang Indonesia lagi. Memang, penulis sangat pandai menggambarkan budaya, kebiasaan, cara bicara, dan juga deskripsi tempat di luar negeri sehingga cerita terasa hidup. Tapi tetap saja saya lebih suka yang lokal gitu. Eh, tapi jangan salah. Saya tetap menganggap ceritanya keren. Beneran. Saya suka sekali cara penyampaiannya. Banyak deskripsi settingnya yang asyik banget. Banyak kata-kata bijaknya pula. Kebetulan si Sean mantan murid filosofi, jadi suka mengeluarkan kalimat-kalimat bagus yang bikin kesel si Nathan. Selain itu, buku ini banyak tulisan miringnya, alias bahasa Inggris. Kalau mau baca buku ini, setidaknya harus bisa bahasa Inggris sedikit-sedikit dan tahu beberapa kata gaul yang digunakan. Bahasanya juga agak kasar karena dunianya mencakup dunia bar, prostitusi, kaum kelas bawah, dan dunia malam. Tapi di situlah letak kehebatan penulis yang bisa menuliskan cerita penuh warna ini.
Sebenarnya tokoh-tokohnya cukup banyak. Tapi saya tidak terlalu peduli sama mereka karena porsi mereka hanya sedikit di cerita ini. Dari semuanya, anehnya saya paling suka kisah ayah dan ibu Sean. Sedih dan tragis, uy. Yah, maklum. Saya memang suka yang sedih-sedih gitu. Dan ternyata ada rahasia di balik identitas Sean. Keren gila ini orang. Tapi agak nggak masuk akal, nggak mungkin ada orang kayak begitu soalnya.
Secara keseluruhan, ini buku yang sangat menginspirasi. Pesan moralnya memang sangat idealis, tapi penting buat mereka yang tetap ingin menggapai impiannya masing-masing.
“Just like a dream I ’ve found on the street—tak peduli kau arsitek atau bukan, arsitektur paling agung tetaplah bangunan bernama kehidupan. Penari atau DJ, rapper atau pembalap liar, apapun, all is good, jadilah arsitek untuk kehidupanmu sendiri... Seperti pepohonan evergreen yang selalu hijau, waktu dan musim bisa mengubah segalanya, tapi tidak dengan siapa dirimu sebenarnya...” - Sean Walker
Kadang, saya menemukan sebuah buku yang membuat saya berhenti dan berpikir: bagus sekali sampulnya! Ya, saya biasanya bukan tipe orang yang menghakimi sebuah buku hanya dari sampulnya, tapi jelas bahwa sebuah sampul buku akan bisa memengaruhi apakah seseorang akan membacanya atau tidak. Dan sampul buku ini–hal pertama yang saya lihat–sangat memukau.
Sebelum saya mulai, saya harus mengakui bahwa buku ini saya peroleh sejak lebih dari sebulan yang lalu. Saya sudah berjanji untuk mengulasnya dalam jangka waktu kurang dari tiga puluh hari. Saya membacanya, mendapati isinya begitu menarik dan mengalir, dan saya menyelesaikannya pada tanggal 28 Juni (saya ingat, soalnya H+3 pasca wisuda saya tuh!) dengan pikiran untuk segera membuat ulasannya. Tentu saja, rencana yang paling ingin dilakukan terkadang justru paling telat. Sayang sekali. Satu-satunya pembelaan yang dapat saya lakukan hanyalah ini: crazy workhour. I’ve just gotten myself a new teaching job, also there’s a new ongoing project from a publishing house…
Jadi, untuk menyingkat ini, akan saya katakan satu hal terlebih dahulu: buku ini unik. Berikutnya, saya beritahukan juga: buku ini bagus. Sangat saya rekomendasikan. 4/5 stars. Ulasan lengkap? Silakan dibaca di sini! Selamat membaca!
Cerita nya Nathan yang hampir mau nyerah, oke aku bosen dan capek. Bagian Rachel yang mahasiswi terpintar se kampus tapi, nggak nemu passion sama sekali di bagian bidang arsitekstur, aku gregetan. Lalu, si Mary seorang stripper demi ibunya yang sakit, WOW brave banget dia, dua jempol yah walau caranya aku kurang rada' suka sih, G dengan rambut cornrows nya, Belle dengan sejarah kampus .. Awal yang berat tapi, diakhiri dengan cerita hebat. Aku merinding pas baca bagian si Nate akhirnya punya semangat untuk bangkit lagi.. Yh, walau harus capek2 dulu sih. Tapi, overall aku berhasil menyelesaikannya dengan tanpa perasaan pengen muntah..
Sean?? Yah, inilah SUPERHERO dalam buku ini. Filsafat dalam setiap jam, detik, menit atau kapanpun dia menemukan saat yang biasanya orang pengen nangis dan pengen misoh-misoh nggak jelas, ia datang dengan kalimat LUAR BIASANYA. Richie Rich nya, memang bener tapi, hatinya ternyata jauh dari kata kaya. Mungkin, super-duper-kaya kali ya? atau apapun lah namanya, dia keren. Tokoh yang mampu membangkitkan semangat juang teman-temannya dalam menembus tembok beton mimpi dan mampu mengmbangkan sayap-sayap emas mereka.
Untuk lebih lengkap, nanti aku akan posting di blog ku ... :D
Terima kasih banyak buat free copy A Street Dream: The Evergreen Architecture :)
Butuh waktu yang lama buat baca novel ini. Salah satu faktornya adalah bahasa Inggris yang banyak terdapat di percakapan dalam novel ini. Jujur sebenarnya jadi kurang fokus bacanya dan harus buka kamus dulu (kosa kata bahasa Inggris gue payah :'( ) Di awal emang agak susah ikutin alurnya tapi lama-kelamaan jadi bisa dan makin ke belakang cerita dalam novelnya makin bikin penasaran buat diabisin :P Di akhir juga ada kejutan yang gak terduga tentang salah satu tokoh di dalam novel ini. Bahasanya yang gaul dan ala jalanan bikin novel ini pantes banget dikasih judul "A Street Dream", mimpi-mimpi anak jalanan yang gak pernah padam dan di jalanan mereka belajar banyak hal.
Secara keseluruhan gue kasih 8 dari 10 termasuk didalamnya nilai tambahan buat novel gratis dari giveaway-nya hehe
Terima kasih sekali lagi buat kak Angel dan ditunggu karya-karya selanjutnya! :D
.hemmm....menurut aku tentang buku ini yaa....awalnya agak susah sih, untuk ngerti ini bercerita tentang apa, dan aku sempat bingung dengan pemerannya..ituu tuh cewek atau cowok, hehehe.... .setelah membaca semuanya, mungkin bab bab awal itu sebuah potongan cerita dari novel ini "mungkin" .tapi menuju ke tengah jadi ngerti alurnya gimana, tokohnya seperti apa, dan jadi ikut ke suasana di dalamnya... .walaupun novel ini, merupakan novel dewasa, tapi tanpa melihat adegan-adegan dewasa di dalam novel ini, ada kedewasaan di setiap bab nya yang mengandung makna / pesan yang membangkitkan kita tentang arti sebuah Mimpi .dan yang paling berkesan dalam novel ini adalah endingnya, endingnya penuh dengan kejutan "aku sampai baca berkali-kali di bagian ending" .okeeyy...mungkin cuma ini saja yang bisa aku sampaikan, aku tunggu lagi novel novel lain yang gak kalah seru :)
Good book, although I took a long time to read it because I had to pinch between studies, organizations, and so on and so forth.
I personally like Sean Walker (yay Sean!) who takes everything easy. He's a man after my own heart. He does what he wants but still somehow being responsible.
Nathan and Rachel, well, they make good secondary characters. So does Belle.
This book is full of meanings, good quotes, and also a good fictional city (although I'm still confused, is the city in CA or AZ?)
I don't think I really enjoyed the English parts in this book. I felt like I have to switch my mind's gear from reading Indonesian then back to English and then back again to Indonesian. The minus side of this book is maybe the editing. It still needs editing in some parts. But overall, I like it very much.
Terima kasih banyak buat free copy A Street Dream: The Evergreen Architecture :) Pada awal cerita masih menebak-nebak ini kisah tentang apa, rasanya baru ditengah-tengah baru paham ceritanya tentang apa. Ceritanya benar gak tertebak dengan endingnya yang mengejutkan. Karakter cerita banyak dengan masalahnya Masing-masing. Ceritanya sendiri tentang anak muda dengan upaya untuk mencapai mimpinya yang cukup bagus meski bukan untuk komsumsi semua orang. Mengapa demikian? Penggunaan bahasa yang campuran Inggris Ghetto dengan gaya bahasa slang. Selain itu font yang digunakan di buku juga membuat mata lekas lelah. akhirnya kenikmatan membaca berkurang. Secara umum saya beri 3/5 bintang untuk buku ini
This is an amazing book!! Omg the first time you gave me this book , I quickly fell in love with the characters♥♥ I love it how the plot is and the unpredictable characters' background! This book teach how to never stop dreaming even though people call you feeak , weird , or a nerd. This novel gave me a lot of inspirations and motivation♥ thank you for the wonderful book , Angel! Hope to read more of your stories~~ And I hope you will help me to finish my on-going novel ^^ I love Walker hahaha .... he such an angel lol. For those who need some motivations and inspirations , you guys should really check this book!!^^
Lumayan lama aku baca novel ini. Bukan karena ceritanya ngebosenin, tapi karena hurufnya kecil-kecil.. hehe.. Ceritanya sih asyik.. dengan racikan yang agak beda dari novel biasa. Ini review lengkapnya, di blog aku http://perpustakaan-linda.blogspot.co...