Kisah Revolusi “Pagar Kawat Berduri” ini digubah pengarang berdasarkan sebuah cerita pendek dengan judul serupa yang termuat dalam berkas sepuluh cerpennya; Laki-laki dan Mesiu, terbitan PT Pembangunan (1958 dan mengalami cetakan kedua dalam tahun 1962). Pada 1960 kumpulan cerpen ini menggondol hadiah BMKN dengan didahului sebagai cerita bersambung dalam surat kabar Suluh Indonesia
Pendidikan terakhirnya adalah SMA (1947). Ia pernah menjadi anggota Pasukan 40 Tentara Rakyat Mataram di Yogya (1946), Korps Mahasiswa di Magelang Jombang (1947-1948), TNI Divsi Siliwangi (1950-1953). Tahun 1949 dipenjarakan di Ambarawa selama 10 bulan, tetapi berhasil melarikan diri ketika dirawat di RSU Semarang. Ia pun pernah menjadi redaktur Cinta (1955), redaktur harian Pikiran Rakyat, dan Direktur Penerbit Granesia di Bandung.
Ia pernah menulis cerpen di Majalah Kisah pada tahun (1953-1956). Karya-karyanya penuh ketegangan dengan latar masa revolusi dan kehidupan dilingkungan militer. Aspek kemanusiaan sangat menonjol dalam karyanya, terutama kisah mengenai korban perang dan akibat yang ditimbulkan oleh perang bagi rakyat.
Cerpennya, "Tingul", mendapat Hadiah Pertama majalah Kisah tahun 1956; kumpulan cerpennya, Laki-laki dan Mesiu (1957), Mendapat Hadiah Sastra Nasional BMKN 1957/1958; sedangkan novelnya, Pagar Kawat Berduri (1961), memperoleh Hadiah Sastra Yayasan Yamin tahun 1964 (tahun 1963 novel ini difilmkan Asrul Sani).
Karyanya yang lain: Angin Laut (kumpulan cerpen, 1958), Di Medan Perang (kumpulan cerpen, 191962), Bulan Madu (novel, 1962), Kisah-Kisah Revolusi (1965), Biarkan Cahaya Matahari Membersihkan Dulu (1966), Surat-Surat Cinta (novel, 1968), Peristiwa-Peristiwa Ibukota Pendudukan (1970), dan Petualang (novel, 1981).
Di samping pengarang dan wartawan, Trisnoyuwono juga dikenal sebagai penerjun payung.
Buku ini menceritakan suasana yang mengharukan, saat penulis mengalami sendiri bagaimana suasana ketika revolusi kemerdekaan berkecamuk di tanah-air dalam usaha melawan penjajahan Belanda. Dalam setiing alur cerita, penulis berusaha membawa kita para pembacanya untuk mengerti bagaimana kondisi saat itu, suasana suka dan duka yang dialami oleh rakyat dan pemuda dalam mengarungi masa perjuangan fisik melawan pendudukan tentara Belanda. Cerita yang sederhana, namun sangat sarat makna. Tentunya memberikan nilai plus dan sangat direkomendasikan untuk para generasi muda membacanya. Ohya penulis yang sudah almarhum ini juga merupakan guru terjun payung yang handal dimasanya.