dengan menggunakan sudut pandang seorang juru tulis/ bekel juru pawekas (juru tulis kerajaan) buku ini mengisahkan lahirnya kerjaan majapahit. dikemas menjadi sebuah roman sejarah.
di dalamnya selain memuat tentang akhir perjalanan kerajaan singasari, pemberontakan jayakatwang, dalam buku ini juga kental kisah cinta si "bekel" dengan seorang gadis buta dan kembarannya (pudak wangi dan kembang menur). pudak wangi memiliki kelebihan dalam menangkap isyarat, namun tdk mampu mengartikannya.
Pandangan pertama buku Tusuk Sanggul Pudak Wangi karya Pandir Kelana, bukunya kecil tipis warna hijau. Ketika ku buka bukunya, mata ku melihat huruf-huruf kecil yang padat, aku tidak menyukai buku yang font hurufnya kecil. Buku ini mempunyai 175 halaman, jika font huruf itu diperbesar bisa menjapai 300 halaman.
Saya sangat kesulitan mencerna kata-kata dalam bahasa jawa khas nusantara kuno. Jadi saya membaca dengan hati-hati agar tidak salah mencerna informasi.
Sinopsis buku bercerita tentang seorang arkeolog yang ketemu cewek cantik dan masuk ke dunia "Isekai" sebagai seorang Kebo Umbaran juru tulis kerajaan Singasari.
Karena menceritakan dari sudut pandang orang pertama (Kebo Umbaran), kejadian-kejadian penting yang seharusnya menjadi nilai tambah, justru tidak tertulis karena Kebo Umbaran tidak berada di tempat itu. Seperti matinya Kartanegara, raja Singasari dan bagaimana hancurnya Kediri di tangan Mongol, tidak ditulis secara detail.
Cabul, saya tidak suka aksi cabul yang dilakukan Kebo Umbaran dengan 2 istrinya, menurut ku imajinasi liar itu tidak etis di tulis.
Pendalaman karakter kurang, bagaimana bentuk fisiknya dan sifat-sifatnya. Banyak karakter yang datang dalam satu kejadian seperti peluru AK-47, sehingga saya tidak bisa terhubung dengan karakter itu, jadi mudah dilupakan.
Tapi ketika peperangan, justu menjadi nilai lebih, karena digambarkan dengan detail. Pasukan darimana bergerak, ketemu dimana, senjata apa dan lain-lain.
Jika kamu mencari sejarah bagaimana kerajaan Majapahit berdiri, buku ini bisa menjadi rujukan. Walaupun buku fiksi, banyak fakta sejarah yang ditulis.
Cerita yang menarik. Menghadirkan kisah berdirinya kerajaan Majapahit melalui perjalanan Pandir Kelana yang mengarungi kembali kehidupan di kehidupannya yang sebelumnya, sebagai juru tulis Singasari.
Diselingi pula guyonan-goyonan yang agak dewasa. Tidak disarankan untuk anak SMP.