Gelombang pasang globalisasi dan modernisasi menerjang dunia Islam dan 200 juta umat Muslim di Indonesia menghadapi itu dengan mengekspresikan keyakinannya dalam cara yang rumit (kalau tidak dapat disebut aneh bin ajaib). Di tengah situasi krisis yang dampaknya tidak juga hilang dan menaiknya kebobrokan akhlak yang begitu seronok dipertontonkan kekuasaan tumbuh gairah besar masyarakat Indonesia untuk mendapatkan kesalehan. Seketika dakwah dan bisnis pun jadi persis gigi dengan gusi, dekat sekali. Bisnis moral menjadi lahan perniagaan raksasa dengan konsumen yang selalu lapar dahaga santapan ruhani. Stasiun TV, radio berlomba-lomba mencomot para ustadz, kyai dan ulama seraya menyulapnya menjadi sosok yang sohor disebut Ustadz Seleb. Berbusana muslim jadi tren yang secara cepat menyambungkannya dengan industri mode seraya membawa perempuan-perempuan muslim tampil gaya dalam aneka ragam majalah tabloid glamor busana muslim.
Namun, di balik keglamoran dan wajah menawan nan saleh itu Islam tampil kian agresif dan mendekatkan diri pada citra agama perang. Terlalu sering terlihat pengerahan massa Islam ke jalan-jalan berpawai, malah melaksanakan razia moral. Jihad menjadi kata ampuh yang menempatkan Indonesia wilayah Islam garis keras yang terkait dengan gerakan terorisme internasional. Tetapi surga bukan menjadi bayangan umat Islam yang di garis keras saja, juga umumnya di Indonesia sehingga meramaikan bisnis media alam akhirat. Cara beragama yang terkesan kaku pun berevolusi seiring kecanggihan teknologi dan muncullah layanan fatwa online, pemberian infaq via telepon selular dan layanan elektronik bank syariah, pengobatan medis secara Islam.
Buku ini tidak hanya mencoba memaknai perkembangan terkini dari sikap umat Islam Indonesia saat berinteraksi dengan dunia modal yang konsumeristik dan kadang-kadang menggantikan ekspresi lain atau yang lebih tradisional dari keyakinan mereka. Lebih jauh meneliti beberapa dari ribuan cara dimana Islam diekspresikan dalam kehidupan kontemporer dan politik Indonesia.
Isi buku ini sungguh sangat menarik karena membahas dinamika politik, sosial-budaya, ekonomi dll yang berhubungan dengan perkembangan Islam di Indonesia. Ada pembahasan yang memiliki kesamaan dengan isi buku "Politik Jatah Preman" yaitu mekarnya politik identitas Islam pasca orde baru dan itu menjadi babak baru dalam kehidupan bermasyarakat di Indonesia. Hal-hal kontemporer telah lahir seperti fenomena "hijrah" anak-anak muda, lahirnya bank-bank syariah, fashion muslim-muslimah yang semakin digemari dll. Buku ini begitu baik menghubungkan masa lalu dengan masa sekarang dunia Islam di Indonesia yang begitu komplek hingga saya sebagai pembaca harus jeli mengenai mana yang "betul-betul Islam" dan mana yang pura-pura memanfaatkan situasi euforia Islam untuk mengambil keuntungan sesaat (pragmatis). Buku ini sungguh sangat baik direkomendasikan bagi siapa pun yang ingin memahami perkembangan Islam di Indonesia pasca Orba. Tapi kalo yang selalu berprasangka buruk pada Islam mah yahh mungkin dia akan dangkal hanya akan mengambil sudut pandang yang buruk tentang Islam yang dia ambil dari buku ini