Sudahkah Anda tahu kedudukan penting Mandat Sosial Alkitab: "Beranakcuculah dan bertambah banyak ...," di antara perintah-perintah di Alkitab? Sudahkah Anda tahu hubungan eratnya dengan asmara dan keluarga serta faedah besarnya bagi Anda, bagi bangsa, dan bagi Gereja? Jika belum, buku ini cocok sekali untuk Anda baca.
Lewat Hei, Kata Tuhan, "Beranakcuculah"!, Sam Tumanggor mengajak Anda menggali lebih dalam gagasan Alkitab seputar asmara dan keluarga sambil berpikir mandiri-kritis terhadap sejumlah isu atau ide mengenainya yang berkembang di kalangan Kristen. Kaum muda dan dewasa akan mendapati buku ini unik, bermanfaat, mencerahi, dan membangun kehidupan.
Seperti biasanya, pemikiran Sam Tumanggor selalu mandiri, mencerahkan, dan Alkitabiah. Belum pernah ada buku tentang hubungan asmara yang semendarat ini dengan konteks Indonesia. Sam, dengan gaya yang tajam sekaligus humoris, menyoroti betapa pemuda-pemudi Kristen seringkali justru mempersulit diri dalam Taurat-taurat baru dalam berasmara, dan cenderung mengabaikan perintah Tuhan yang gamblang, jelas, dan agung: Beranakcuculah.
Namun, pembahasan buku ini tidak dipusatkan pada prinsip-prinsip dasar pacaran Kristen. Ada baiknya pemahaman mendasar dalam berasmara dipahami terlebih dahulu sebelum membaca buku ini, seperti pentingnya mencari pasangan yang seiman, bahayanya pacaran hanya untuk menyenangkan perasaan, dan pentingnya kedewasaan. Dengan begitu, banyak poin dalam buku ini pun jadi bening.
Ya, aku mendorong supaya setiap pemuda-pemudi Kristen di seluruh Indonesia membaca buku bagus ini!
Buku yang bagus untuk membuka wawasan yang lebih holistik terkait perintah pertama Allah bagi umat manusia: "Beranakcuculah." Banyak sudut pandang yang menangkis realita maupun pemahaman yang kita miliki selama ini. Bahasa yang sangat mudah dipahami, gaya menulis yang unik, diselingi guyonan khas Bang Sam membuat buku tidak membosankan.
Saya merekomendasikan buku ini bagi siapa saja, tak hanya kaum single, tapi juga yang sudah berkeluarga untuk tidak memahami setengah-setengah amanat agung tersebut. Selamat membaca, menikmatinya, dan diberkati.
Pemuda Kristen, khususnya yang melibatkan diri dalam lembaga pelayanan paragereja sering menerapkan Birokrasi Asmara. Buku ini menyinggung tentang taurat baru yang secara sadar atau tidak menjadi bahan baku -bukan menjadi alat bantu.
Semoga pemimpin kelompok dalam pelayanan paragereja dapat membaca dan menerapkan isi buku ini kepada peserta kelompoknya.