Jump to ratings and reviews
Rate this book

Song of the Wind

Rate this book
Cannon Hill Park, Birmingham. Kali Pertama aku bertemu dengannya.

El Kim. Cowok Korea satu ini kaku, nggak banyak bicara, dan dingin. Tapi, entah kenapa, ada sesuatu di dalam dirinya yang menarikku untuk mendekat. Mungkin karena latar belakang yang sama, tentang masa lalu kami.

Aku terus berusaha mendekatinya, meski dia tak menghiraukanku. Meski orang-orang menganggapnya aneh. Aku yakin, El nggak seperti yang mereka pikirkan. Jujur saja, aku kebingungan saat Julian, sahabat baikku, sangat membencinya. Seperti ada dendam yang belum terbalaskan. Kejadian sebelum aku mengenal mereka mungkin?

Aku merasa harus menyelesaikan masalah yang disembunyikan Julian dan El. Sebelum segalanya terlambat.

Paperback

First published January 1, 2013

Loading...
Loading...

About the author

Aiu Ahra

17 books40 followers
Ordinary woman with ordinary life.
Half Author, Half Dreamer.
Sky. Star.

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
18 (32%)
4 stars
16 (29%)
3 stars
15 (27%)
2 stars
5 (9%)
1 star
1 (1%)
Displaying 1 - 4 of 4 reviews
Profile Image for Daniel.
1,180 reviews861 followers
June 20, 2013
Dua setengah bintang rating sebenarnya.

Waktu saya baca ringkasan ceritanya di linimasa Twitter Bentang Pustaka, saya berpikir keras. Ini ceritanya bakalan kayak cerita Korea-Korea yang akhir-akhir ini sering beredar bak narkoba, tapi latar tempatnya bukan di Korea, tapi di Birmingham. Barat dan timur yang saling bertemu, dua budaya yang saling berbeda, bisa jadi bagus atau aneh hasilnya.

Jadi, waktu saya di toko buku, saya memikir-mikirkan mau beli buku ini atau tidak. Lalu saya mikir kenapa enggak? Saya sudah kenal tulisan Aiu Ahra di Autumn Sky yang saya suka kejagoan (apa itu kejagoan?) Mbak Aiu ini dalam merangkai alur ceritanya sehingga setiap kejadian itu bisa sambung-menyambung menjadi satu.

Berhasilkah Mbak Aiu dalam latar Birmingham dan cowok Korea di sini?

Aleyna adalah seorang mahasiswi asal Indonesia yang berkuliah di Birmingham University yang entah mengambil jurusan apa. Bahasa sesuatu ya kayaknya? Kurang dijelaskan secara gamblang di sini. Orang tua Aleyna adalah komposer ternama di Indonesia. Meski berpisah jauh dari orang tuanya, Aleyna enggak sendirian karena ia ditemani Sarah, teman sekamarnya yang luar biasa baik. Kawan-kawannya: Elice, Gary, dan Sarah juga tak kalah baiknya dengan Sarah. Apalagi ada Julian, cowok ketje berambut cokelat, yang memberinya perhatian lebih. Pertemuannya dengan seorang cowok Korea dingin bernama El Kim di Cannon Hill Park membuat kehidupan Aleyna menjadi lebih rumit. Mulai dari iPod cowok itu yang jatuh yang membuat Aleyna berkenalan dengan El Kim sampai persaingan sengit antara Julian dan El Kim yang Aleyna sendiri tak mengerti apa sebabnya. Sebenarnya apa yang terjadi?

Saya ini fans dunia barat garis keras dan anarkis, tapi bukan berarti saya jijique dengan budaya timur. Nope. Saya sama-sama suka dengan kedua budaya dari barat dan timur, cuma saya lebih condong ke barat.

Udah cuma mau bilang gitu doang.

Masih sama dengan Autumn Sky, saya suka Mbak Aiu Ahra yang memilin tiap scene dalam cerita ini menjadi satu. Ada hukum sebab-akibatnya kenapa ini bisa begini, ini bisa begitu. Bisa saya bilang, setiap adegan ada konsekuensi yang harus ditanggung dan berpengaruh ke dalam jalan cerita. Makanya saya suka. Buat jalan ceritanya sendiri, sih, menurut saya masih biasa dalam standar novel YA, si cewek bingung siapa yang harus ia pilih dan bisa ditebak sekali dengan siapa si Aleyna ini akan berakhir. Saya belum menemukan sesuatu yang spesial dari jalan cerita di sini.

Soal karakter, well, menurut saya karakter di sini enggak sekuat karakterisasi di Autumn Sky. Entah kenapa saya ngerasa begitu, terutama Julian yang karakternya mbeleber ke mana-mana.

Pertama, soal Aleyna. Karakter Aleyna di sini persis sekali dengan Chika di Autumn Sky. Seorang cewek yang kelihatan strong outside, delicate inside. Kuat di luar, rapuh di dalam. Saya enggak terlalu masalah dengan karakter Aleyna karena karakternya lumayan konsisten dari awal sampai akhir. Tapi enggak bikin saya jatuh cinta sama Aleyna juga, sih. Satu hal yang saya sayangkan dari Aleyna adalah cerita masa lalu Aleyna yang gelap itu rasanya cuma jadi sekadar tempelan buat saya, sedikit memaksa biar klop sama El Kim yang latar belakangnya sama-sama gelap. Kalau latar belakang Aleyna ini dijadiin konflik sendiri, menurut saya bakalan lebih bagus. Eh, tapi entar jalan ceritanya yang melebar ke mana-mana kayak sinetron, ya? Enggak, ah, kalau dari awal sudah ditentuin mau fokus di mana jalan ceritanya.

Kedua, soal El Kim yang saya lupa siapa nama aslinya. Seorang cowok bule blasteran dengan Korea. Iya, lagi. Kalau ingat Min Hyun di Autumn Sky, ia juga blasteran Korea dengan Jepang. Ya ya, deh. Saya maklum. Apalagi memang budaya Korea lagi ngetren banget di Indonesia, dan penulis sendiri juga fans berat Korea garis keras, saya enggak masalah. Si El Kim adalah tipe cowok gloomy yang beranggapan bahwa semua masalah di dunia ini: ebola, AIDS, kelaparan, perang disebabkan olehnya sehingga ia harus menyendiri dari semua orang. Bisa dimaklumi kenapa dia bisa segelap itu. Dan yah, itu alasan yang cukup kuat. Chara development cowok ini bolehlah. Sedikit kecepetan ketika karakter ini berkembang, tapi enggak masalah.

Nah, yang bermasalah si Julian ini. Julian-entah-siapa-nama-belakangnya. Semua karakter manusia kayaknya numplek di cowok ini. Saya enggak tahu ini orang mau dibawa ke mana. Orangnya baik, tapi picik dan egois, karena dia enggak ngebolehin Aleyna ketemu sama El Kim , terus temperamental buruk. Enggak begitu jelas. Di bagian awal ia baik sama Aleyna karena well dia naksir. Tapi karakternya out of character ke mana-mana setelah ketemu sama El Kim. Ia awalnya benci banget sama El Kim, terus setelah dikasih wejangan sekali-dua kali, konfliknya dengan El Kim ini tahu-tahu kelar terus mereka akur kembali seperti saudara kandung. Ia awalnya naksir Aleyna, tapi karena sadar Aleyna itu out of his league, si Julian ini tahu-tahu ngalah. Mana harga diri situ sebagai cowok, Jul? Sayang banget si Julian begini anaknya. Padahal dia bisa bikin konflik cinta Aleyna jadi lebih ruwet. Wuhuhu~

Berikutnya, soal gaya bercerita. Saya bukan penganut show, don't tell fanatik karena toh buat saya, show sama tell itu sama-sama pentingnya. Tapi, beberapa bagian di sini cukup banyak tell-nya, jadi sayang banget.

Dialognya buat saya masih sedikit kaku di lidah. Waktu saya coba ngomong dialog ini di mulut, rasanya agak aneh. Terlalu berstruktur. Orang ngomong kan sebenarnya udah enggak peduli lagi apa kalimatnya berpola S-P-O-K atau enggak, kan? Saya ambil contoh di halaman 75 sekaligus saran perbaikan kalau dari saya:

"Apa sudah selesai?" Aleyna bingung. Ia membolak-balik kertas itu dan sama sekali tak ada isinya.
El mendengus pelan.
"Aku belum menyelesaikannya," akhirnya ia bicara. Aleyna menoleh dan masih memasang wajah bingungnya.


Ini masih terlalu terstruktur. Kalau menurut saya enaknya gini:

"Sudah selesai?" Aleyna bingung. Ia membolak-balik kertas itu dan sama sekali tak ada isinya.
El mendengus pelan.
"Belum/Belum selesai," akhirnya ia bicara. Aleyna menoleh dan masih memasang wajah bingungnya.


Kenapa begitu? Status El Kim di situ masih cowok dingin. Agak aneh, kan, kalau cowok pendiam itu bicara lumayan panjang dan berstruktur. Dan kata yang digunakan juga masih sama-sama baku. Saya senang sekali karena Mbak Aiu Ahra ini berusaha keras menggunakan bahasa baku dalam novelnya. Mungkin ada beberapa yang miss sedikit. Kata 'nekad' seharusnya 'nekat', dan ada kata rujukan 'ibu' yang enggak diawali dengan huruf kapital.

Syukurlah, Mbak Aiu Ahra ini menjunjung tinggi trope translation convention. Jadi, enggak banyak istilah Inggris yang bertaburan di sini. Jadi, translation convention ini adalah trope yang paling sering digunakan buat cerita fantasi atau berlatar di negara asing. Buat yang udah nonton Man of Steel, penasaran kenapa orang planet Kripton bisa ngomong bahasa Inggris? Bukan karena les di EF, tapi karena trope ini. Trope ini bilang bahwa semua dialog yang dilakukan para karakter itu udah diterjemahin, makanya enggak perlu ngedumel kalau enggak ada percakapan berbahasa asing. "Tapi, Kak, kalau gitu mana rasa asingnya?" Menurut saya, enggak perlu pakai bahasa asing. Bikin latar tempat dan suasananya semirip mungkin dengan negara yang dipakai.

Yang sayang banget, belum seberhasil latar Jepang di Autumn Sky.

Birmingham ini sering dijuluki Black Country yang diawali sejak revolusi industri Inggris membuat Birmingham tak henti-hentinya mengepulkan asap hitam. Ini berarti bahwa sebenarnya Birmingham kota besar, yang memang kenyataannya begitu. Tapi, saya ngerasa kalau Birmingham ini kota kecil yang damai dan sepi. Entah memang disengaja begitu, tapi menurut saya kehidupan kota besar enggak sedamai yang dijelaskan di sini. Budaya Inggris juga kurang dieksplorasi di sini, seperti budaya minum teh saat jam empat sore atau apalah, saya juga belum pernah ke Inggris. Saya justru ngerasanya bahwa Aleyna dan El Kim ada di Korea, sementara Julian yang numpang hidup di sini.

Saya enggak akan nitpicky soal hal-hal kecil macam aturan minum alkohol di Inggris yang tahu-tahu keselip di sana atau apakah ada penerbangan langsung dari Birmingham ke Seoul . Namun, ada satu hal yang harus disoroti soal penyebutan orang yang lebih tua. Cuma ada dua orang tua yang disebut di sini: Mr. Frank dan Mrs. Jane (yang satu lagi: karena ada di Inggris, harusnya cuma Mr dan Mrs tanpa titik. Ingat, penulisan Mrs Weasley di Harry Potter?) Teorinya, gini: Mr. dan Mrs. atau Mr dan Mrs enggak bisa diterjemahkan literally jadi Pak dan Bu dalam bahasa Indonesia karena Mr. dan Mrs. ini harus diikuti nama belakang atau surname. Orang Indonesia memang enggak mengenal istilah nama belakang, jadi lumayan kaget juga dengan budaya nama belakang ini. Frank dan Jane ini nama depan. Kalau mau pakai Mr atau Mrs, bisa pakai nama belakang plus nama depan. Contoh: Mr Frank Longbottom, misalnya. Semacam itu.

Well, secara keseluruhan, ini novel dengan alur cerita yang sangat baik. Mungkin ini lebih cocok buat para pembaca yang menggemari budaya Korea, bukan yang menggemari budaya barat seperti saya. Buat Mbak Aiu, terus berkarya. Selamat membaca. :)
Profile Image for Nidaulazkiya.
18 reviews
December 7, 2019
Saya tertarik beli buku ini pas liat lagi diskon, terus cek rating di goodreads lumayan bagus. Bacanya aja yang barusan setelah mendem di laci novel-novel beberapa tahun.
Kalau baca dari blurb-nya, jujur, nggak begitu tertarik. Waktu mulai baca juga pesimis bakal nyelesaikan buku ini padahal begitu tipis -mungkin dibaca satu jam jugak bakal kelar. Tapi pelan-pelan ceritanya mulai rame, meski pun bisa menebak kemana arah cerita ini. Positifnya, penulis bisa membuat apa yang dirasakan tokohnya berhasil membuat Saya can relate seandainya dalam posisi yang sama.
Lalu ketika melihat nama 'El' dan nama korea-nya adalah 'Myung Soo', jadinya mikir, apa ini adalah L yang sama kayak Saya pikirkan? Wwkkwkwkwkkk
Profile Image for Ikao.
65 reviews14 followers
May 28, 2014
Saya beli buku ini tanpa tahu apa-apa soal cerita atau penulisnya. Waktu itu lagi di book fair dan buku ini dapet diskon sekian % jadi asal beli aja XD Ternyata Song of The Wind bersetting di Birmingham dengan 2 tokoh cowok yang ga ada Indonesia-Indonesianya sama sekali. Well saat saya kepingin baca buku lokal sebenernya saya mengharapkan buku bersetting Indonesia dan dan tokoh-tokoh lokal, tapi ternyata buku ini serba luar negri.

Saat baca buku ini saya melakukan research sedikit tentang trend untuk teenlit jaman sekarang. Ternyata selain meliputi setting luar negri, mesti ada cowok Korea lalu lalang. Muncul El Kim, cowok Korea super galau yang dibayangi rasa bersalah di masa lalu. Saya suka dengan perkembangan karakter El, meskipun di akhir-akhir rasa bersalahnya seperti disulap pergi. Meski begitu menurut saya Aiu berhasil menciptakan karakter cowok Korea dengan baik.

Di lain pihak, Julian yang katanya asli Birmingham, sangat berasa kaya cowok-cowok biasa di negara kita ini. Saat mulai nulis review ini, saya baru ingat dia itu orang barat, sepanjang buku saya ingatnya dia orang Indonesia. Cowok ini emosian sepanjang El menampakan diri, baik dengan bentakan atau lirikan maut. Nasibnya kurang baik sebagai korban friendzone, padahal El yang merasa bersalah atas segala yang terjadi, tapi kayaknya Julian yang selalu disalahkan sama yang lain karena dia benci El. Padahal, coba renungkan nasibnya. Sama buruknya kayak El, tapi hanya karena dia ga emo dan menyendiri bukan berarti dia baik-baik saja. Tidak sampai di situ nasib jelek Julian, perkembangan karakter ini juga jelek. Setelah sekian lama memendam benci, penyelesaiannya cuma dengan beberapa petuah lalu mendadak dia berubah drastis, segalanya begitu indah, semua orang adalah teman. Aneh. Saya melalui beberapa WTH momen terhadap perkembangan Julian ini.

Aleyna sendiri biasa saja, saya bingung hal menarik tentangnya yang bisa saya bagi. Karakternya tidak dikembangkan lebih jauh. Kisah kelam masa lalunya juga cuma biar samaan kayak El mungkin.

Settingnya sendiri? Saya ga merasa ada di Birmingham sama sekali. Settingnya hanya sekedar menyebut nama tempat, nggak ada detail unik sama sekali soal tempatnya. Penjelasannya yang diberikan hanya secara umum, kampusnya juga sama aja kayak mereka kuliah di sini. Entah authornya pernah ke Birmingham atau sekedar nekat aja karena pingin setting luar negri. Bahkan unsur makanan yang bagi saya punya daya tarik hebat untuk setting luar malah disebut seadanya, seperti minuman kesukaan Aleyna di suatu restoran yang hanya disebut 'latte', entah kaya apa rasanya dan apa yang membedakan dari latte lokal. Saya benar-benar seperti berada di Indonesia yang ditambah salju.

Untungnya bahasanya ga nyampur indo-inggris jadi konsisten. Cuma ada bagian bahasa inggris yang ikut campur di lirik lagu dan grammarnya salah. El harus banyak belajar lagi.

Ceritanya sendiri sebenarnya enak dinikmati. Lumayan lelet dan lebih banyak menceritakan ketimbang dialog sehingga menghabiskan 2 minggu untuk 250 halaman ini, tapi adegan antara El dan Aleyna menyenangkan untuk diikuti dan saya senang karena ga ada insta-love di sini. Yang paling disayangkan adalah penyelesaian masalahnya, berasa mendadak dan gak masuk akal.

2.5/5 stars

Originally posted here : http://skyduck.weebly.com/books/book-...
Profile Image for Putri Ananta.
Author 1 book12 followers
January 1, 2021
Aku pinjem buku ini sama temen. Ceritanya menurutku bagus. Aku suka. Cuma, menurutku bahasanya terkadang terlalu kaku. Entah kenapa, aku sering ketiduran waktu baca ini, mungkin karena terlalu kaku ya. Ini terlalu mengikuti SPOK. Seharusnya, kalau pas ngobrol diberi kesan agak santai begitu.
Secara ide cerita, menurutku udah banyak novel seperti ini. Dihubungkan dengan Korea yang saat novel ini terbit lagi booming. Lalu, kalau alur, aku menemukan beberapa yang menurutku "ealah" begitu. Cara menyimpan misterinya sudah bagus, hanya saja, sifat El di sini kok nyebelin banget ya? Apa dia Jaim gara-gara aku yang baca? *lupakan*
Aku suka Julian! Tapi, dia kok posesif banget ya. Gapapalah. But, ini udah keren, kok! Keep writing!
BTW, cover dan pembatasnya keren! (y)
This entire review has been hidden because of spoilers.
Displaying 1 - 4 of 4 reviews