Setiap perjalanan menyimpan cerita: kepedihan, kekecewaan, kehangatan, ataupun kebahagiaan. Begitulah kisah-kisah yang terangkum dalam buku ini. Mereka meninggalkan rumah untuk mencari kepastian, mencari cinta, menemukan jati diri, atau bahkan untuk kabur dari hiruk-pikuknya hidup.
Beberapa perempuan menempuh jarak dan waktu, demi cinta. Di sudut Jakarta, Lina harus menabung keberanian untuk kembali pulang dengan sekoper kesedihan. Sementara Clara menemukan dirinya kembali di negeri antah-berantah. Perempuan lainnya sibuk membuang masa lalu dan mulai mengoleksi kepingan-kepingan masa depan.
Kisah-kisah dalam buku ini akan mengantarkanmu menjelajah waktu dan menelusuri kenangan, karena setiap perjalanan menyimpan cerita.
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Kesan pertama setelah membaca adalah: menarik. Kukira isinya akan menceritakan tentang perjalanan para perempuan sebagai traveler fisik. Ternyaa bukan. Journey yg dimaksud disini adalah journey kehidupan. Bagaimana para perempuan itu bangkit setelah menemukan dirinya sendiri. Bermacam cara mereka tempuh. Ada yang melalui kesedihan, adapula yang melalui kesedihan. Sudut panadng yg ditawarkan pun beragam. Ada seorang ibu, anak, istri, bahka selingkuhan ahahahh, Menariknya, semuanya pasti melakukan satu hal: traveling. Meskipun esensi yg ditawarkan bukan travelingnya, tapi traveling inner journey nya.
Overall, this is good. Bukunya bisa bikin aku attached untuk terus membaca. Meskipun, genre buku ini bukan aku banget.
Membaca kaver depan buku ini, yang ada dalam pikiran saya adalah perjalanan- perjalanan para wanita, ke suatu tempat yang tentu saja indah, dengan pengalaman yang beraneka ragam. Ternyata saya salah. Isi buku ini lebih dalam dari perjalanan dalam artian fisik, seperti perkiraan saya sebelumnya.Ada 13 cerita yang tersunting cantik di buku setebal 168 halaman yang diterbitkan oleh Stiletto.Sebagian besar pengarangnya bukan orang asing di dunia penulisan. Jadi secara tehnik dan kefasihan bertutur, tidaklah diragukan.
Ternyata perjalanan menurut kumpulan cerita di sini, adalah perjalanan tentang diri sendiri. Tentang menentukan pilihan, tentang memutuskan yang terbaik, juga tentang menjadi bahagia tanpa kesedihan di hati orang lain. Juga tentang banyak hal yang berujung pada menjadi diri sendiri.Masing- masing cerita punya keunikan tersendiri, juga masalahnya sendiri, jadi sulit untuk memilih salah satunya atau salah duanya untuk jadi favorit.
Tapi kalau pun diharuskan memilih, favorit saya antara lain Ibu di Hatiku( Nimas Aksan), Jodoh Dari Hongkong(Judith Hutapea), I am Leaving(Lala Purwono) dan Life is about Choices( Icha Ayu).Ibu di Hatiku bertutur tentang kenyataan yang harus dihadapi oleh Eliana, beberapa waktu sebelum pernikahannya. Suatu rahasia besar terkuak bahwa dia bukanlah anak kandung dari keluarga yang telah mengasuhnya selama 25 tahun. Demi memenuhi rasa penasarannya, Eliana bermaksud bertemu dengan ibu kandungnya, yang ternyata adalah seorang artis ternama. Lantas, bagaimanakah pada akhirnya Eliana harus bersikap, ada jawaban manis di akhir cerita.
Jodoh Dari Hongkong bercerita tentang pertemuan tak sengaja( dua kali malahan) Silvie dan Rizki di Hongkong. Kedua- duanya dengan kejadian yang nyaris sama, Rizki menabrak Silvie yang kerepotan dengan barang bawaannya. Lalu untuk menebus rasa bersalahnya, Rizki mentraktir Silvie makan. Sebuah kisah yang sepertinya biasa, dengan ending yang tidak biasa.
I am Leaving bertutur tentang Lina, seorang perempuan matang baik dari segi usia, karier dan materi yang memutuskan untuk meninggalkan kotanya, demi seorang Bima yang memikat hatinya. Sayangnya, karena Bima sudah berkeluarga, Lina hanya bisa bertemu secara sembunyi- sembunyi di akhir pekan. Semua itu dijalaninya karean Bima berjanji untuk mengurus perceraiannya segera. Tapi ternyata kenyataan tak seindah harapan. Istri Bima malah hamil dan Bima mulai menjauh. Padahal saat itu Lina yang biasanya mapan, sudah pindah dari tempat kerjanya yang lama dan bekerja dengan gaji kurang dari sepersepuluh gaji di tempat semula.Lina merasa tak punya siapa- siapa lagi dan akhirnya dia mengambil sebuah keputusan paling penting dalam hidupnya.
Sedangkan Life is About Choices bercerita tentang Katia, seorang anak tunggal dari sebuah keluarga yang punya segala- galanya. Sayangnya, sepertinya bahkan sebelum dilahirkan, Katia tidak memiliki hidupnya sendiri. Orang tuanya nyaris menentukan semua hal penting dalam hidupnya, hal- hal yang seharusnya menjadi keputusannya sendiri. Di tengah kegalauannya, Katia pergi ke Bali.Suatu saat, Katia berkendara dan menerima 2 orang bule yang sedang mencari tumpangan di mobilnya. Dari percakapan yang terhitung singkat itu, Katia mendapat banyak pencerahan dari Marcin dan Natacha( nama pasangan itu). Keasadaran yang membawa Katia pada banyak pemahaman baru tentang menjadi diri sendiri.
Kumpulan tulisan ini, sebaiknya dibaca pelan- pelan dan diresapi lembar demi lembar. Ada banyak hikmah yang ingin dibagi para penulisnya buat anda. Karena kisah- kisahnya adalah kisah yang mungkin anda alami, telah..sedang atau akan....Oh ya, Quotesnya juga manis- manis lho
tahu sama Mbak Lala ini dari jamannya aktif di milis yah kalau gak salah, mbak Lala itu kalau nulis sesuatu di milis selalu menarik, dan sempet beberapa kali baca blognya. dan baru kali ini baca buku yang ada nama dianya (iya, ke mana aja si ais tea)
buku ini bercerita 13 cerita yang ditulis oleh 13 wanita yang inti ceritanya tentang perjalanan. tapi jangan berharap ceritanya akan mengisahkan tentang keindahan suatu kota. karena kumpulan cerita di sini bukan kumpulan cerita traveler. tapi 'perjalanan perasaan' ... er... bukan berarti gak ada yang bercerita tentang suatu kota yah. tapi lebih ke 'rasa' mengenai suatu kota, atau daerah. bukan deskripsi tentang suatu daerah atau suatu kota.
tapi.. maaf yah beberapa ceritanya gak gitu bekas di hati. impress nya cuman bentar doang. gak bikin hati deg deg ser gitu loh.tapi teteup ada beberapa tulisan yang menyentuh. salah satunya yah karyanya mbak Lala Purwono yang i'm leaving, sama Life is about Choices( Icha Ayu).
dua-duanya menceritakan cerita yang awam dan keseharian banget, jadi serasa dekat dengan kita.
rekomendasiin gak nih buat dibaca?
lumayan kok, buat jadi referensi kalau lagi kehabisan bahan menulis. karena di beberapa part (buat yang suka nulis) bikin kita pengen buka laptop dan duh pengen nulis tentang ini nih..
Karena ini kumpulan cerpen, maka aku meratingnya secara keseluruhan dari berapa banyak cerpen yang aku suka, apakah lebih banyak yang disuka atau malah lebih sedikit dari total? Dan sayangnya aku cuma suka dan menikmati benar-benar, tiga dari total 13 cerpen. Coba saja baca Ibu di Hatiku, My Vegas (Un)wedding, dan Life is about Choices. Yang lainnya tidak bisa dibilang jelek, sih, tapi ada yang tanggung penceritaannya, aku nggak ngerti jalan ceritanya, atau isu tentang wanita sebagai pihak ketiga dalam sebuah rumah tangga yang lumayan sering dibahas. Membuat image wanita jadi jelek menurut saya, padahal saya kan wanita juga. -__- Oh ya, beberapa tempat yang sama juga lumayan sering dibahas di beberapa cerpen berbeda, sebut saja Surabaya dan Yogyakarta, jadi jujur saja saya bosan juga kalau kota itu-itu melulu yang disebut. Well, anyway itu pendapat saya saja sih, resensi di blog menyusul, ya. :)
Setiap perjalanan menyimpan cerita. Seperti 13 cerita dalam buku ini yang ditulis oleh 13 penulis perempuan. Ada 13 kisah, 13 gaya bercerita, 13 tokoh utama yang masing-masing memiliki masalah sendiri-sendiri hingga mengharuskan mereka menempuh perjalanan.
Ada yang "harus" melakukan perjalanan untuk menemui ibu kandungnya sebelum dia menikah, ada yang pergi ke luar kota demi seseorang yang sangat dicintainya namun ternyata harus gigit jadi (hiks), ada yang harus pergi ke tempat antah-berantah untuk 'buang sial', dan masih banyak lagi.
Buku ini sangat kaya; beberapa bikin air mata menetes, beberapa bikin tersenyum, dan banyak yang membuat kita jadi merenung, "Apa aku harus melakukan perjalanan seperti tokoh ini, ya?" :D
Ada 13 cerpen dalam buku ini yang kesemuanya tentang perjalanan. Perjalanan mencari jawaban atas pertanyaan, perjalanan menemukan cinta, dan perjalanan menemukan diri. Ketiga belas cerpen itu memiliki gaya yang beragam, ada yang ceritanya klise, namun ada pula yang cenderung berat seperti Zelmania.
Saya paling suka dengan cerpen Perjalanan Kenangan karya Eva Sri Rahayu. Cerita semacam itu jamak dialami oleh cowok maupun cewek, dan cerpen itu mewakili perasaan banyak orang, saya yakin.
"tak jarang aku gagal menjadikan diriku the one and only untuk seseorang." (hal.84)" "Selalu ada cinta yang tak selesai di balik kenangan," (hal.81)
2.5 bintang dari aku. Seingetku aku cuma suka cerpen pertama di kumcer ini. Cerpen soal ibu itu bener-bener bikin nyess.. Ternyata penulisnya, mbak Nimas Aksan, pernah menang lomba Femina.
Dan ternyata penulis lain di kumcer ini ada yang jadi dosen di kampusku dulu. Bisa nih kapan-kapan minta tanda tangan atau sekadar ngajak ngobrol :p
Sesuai dengan judulnya, buku ini memuat cerita terkait dengan perjalanan hidup para "ladies". Ditulis oleh 13 penulis berbeda, buku ini berisi beragam cerita pendek dengan sudut pandang para perempuan yang belum menikah. Cita-cita dan asmara merupakan topik yang diangkat pada sebagian besar cerita. Mulai dari cerita sederhana karena ditinggal kekasih, sampai cerita tentang perempuan yang akhirnya kembali pada pelukan sang ibu setelah cukup lelah menjadi WIL pria beristri. Singkat kata, beragam sisi cerita berkaitan dengan perempuan lajang tapi bukan remaja, ada dalam kumpulan cerpen ini.