Mikka dan Cheri jadi pacar di saat yang salah: waktu Mikka lulus SMA. Cheri tetap di Jakarta dan Mikka kuliah di Melbourne. Kalau dulu Cheri kangen, maka Mikka tinggal naik vespa bututnya ke rumah Cheri. Kalau dulu Cheri mau nelepon, dia tak perlu bergantung sama koneksi internet untuk Skype dengan Mikka. Kalau dulu Cheri kesepian, akan selalu ada Mikka di sampingnya.
Masalahnya sekarang yang di samping Cheri adalah Ebran. Ebran, cowok baru di sekolah, yang mau melakukan apa saja demi Cheri. Semakin Cheri berusaha menjauh, semakin Ebran nekat mendekat.
Cheri jadi pusing. Ternyata masalah utama LDR bukan cuma rindu beda waktu atau rindu yang ribuan kilometer jauhnya. Masalah utamanya cuma satu: siapa yang benar-benar Cheri butuhkan?
"Seseorang tidak akan pernah berhenti mencintai karena dia memang tidak punya alasan untuk tidak lagi mencintai. Kalau ada orang yang bilang bisa berhenti mencintai, itu karena dia memang tidak mau mencintai, tapi hanya ingin dicintai." – halaman 216
Cheri dan Mikka menjalani hubungan jarak jauh. Cheri di Jakarta, bersiap-siap menghadapi ujian nasional, sedangkan Mikka di Melbourne, mempelajari ilmu bisnis. Mereka berkomunikasi secara rutin lewat Skype tapi sering terhalangi oleh perbedaan waktu dan koneksi internet. Selama Mikka pergi, Cheri, yang sudah mendapatkan tempat di keluarga Mikka di Bandung, diundang ke acara ulang tahun mama Mikka. Di sana dia berkenalan dengan Ebran, cowok yang kagum dengan selera makan Cheri yang tak kira-kira.
Kembali ke Jakarta, Cheri menemukan bahwa Ebran adalah murid baru di sekolahnya. Cowok itu mulai sering bergabung bersama Cheri dan teman-temannya, Thomas, Dodi, Kenny dan Andi. Dia bersedia melakukan apapun untuk bisa dekat dengan Cheri, mulai dari jalan-jalan pakai angkutan umum, membayar pesanan makanan mereka, dan berkunjung ke rumah Cheri untuk memenangkan hati kakek nenek. Ebran juga mulai mengoyahkan perjuangan Cheri menjalani hubungan LDR. Tapi dia lupa kalau dia juga berencana berkuliah di luar negeri. Jika dia berhasil memenangkan Cheri, dia juga akan menjalani hubungan LDR dengannya.
--
Cherish Cheri punya cerita remaja yang ringan dan cukup menghibur. Dengan gaya penulisan yang pas, kegalauan LDR-nya jadi tidak terlalu berlebihan, pas. Hubungan cinta antara Cheri dan Mikka terbilang sehat dan positif. Mereka saling mendukung dan berusaha untuk jujur agar hubungannya tetap bertahan. Selain itu, cerita juga penuh dengan keseruan anak sekolah bersama teman-temannya di penghujung tahun ajaran. Cheri dan teman-teman cowoknya punya kebiasaan yang sama, makan banyak dan saling comot punya orang hahaha. Nama berbagai makanan, dan porsinya yang nggak kira-kira, terus muncul. Dari yang sederhana seperti mie rebus di tenda pinggir jalan sampai pesta bakar berbagi jenis seafood di pantai.
Selipan makanan dalam cerita biasanya menggodaku untuk ikut makan juga, minimal jadi ngiler lah. Tapi yang ini tidak terlalu. Mungkin karena mereka kebanyakan makan fast food. Selama ini, aku gak pernah mesen dan makan fast food lebih dari paket nasi atau kentang atau porsi kecil yang terjangkau. Ngebayangin mereka makan paket standar ditambah menu-menu lain, membuatku enek sendiri. Kurangnya deskripsi tentang makanan itu juga sepertinya membuat nafsu makanku menolak untuk muncul. Tak hanya soal makanan, penjelasan untuk hal-hal lain juga minim. Sepanjang cerita, dialog lebih mendominasi. Jadi ceritanya terasa sangat cepat.
2.5 bintang dari aku. Temanya bagus. Beberapa humor juga lucu. Tapi aku harus bilang kalo aku nggak cocok sama gaya penulisan mbak Nita. Maaf ya, mbak.
Typo masih ada. Humornya lebih sering garing sih menurutku. Mungkin aku emang udah mulai nggak cocok sama bacaan remaja yang kayak gini.
Eh, tapi adegan Cheri-Mikka di bab 8 itu seru banget lho menurutku. Aku suka dan terhibur bacanya. Meski sebenernya menurutku bab itu cuma buat selingan aja di novel. Nggak ada banyak pengaruhnya buat bab-bab lain. Tapi justru bab itu yang paling seru dan aku suka :D
Ceritanya simpel. Ga lebay apalagi alay. Gaya penuturannya sangat mengalir. Yah, meskipun garis besar ceritanya sangat klise. Tapi buku ini cukup enak dinikmati :)