Jerry Aurum buka-bukaan tentang fotografi dalam bahasanya sendiri. Dilengkapi dengan lebih dari 70 foto terbaiknya, yang sebagian belum pernah dipublikasikan, Jerry berbicara tentang aturan fotografi dan bagaimana cara melanggarnya, pendekatan terhadap subyek foto, tekad berkarya, mengkonsep tanpa bikin otak berasap, komposisi, selebriti, seluk beluk berpameran, uang, media sosial, fotografi jalanan, bahaya digital imaging, kecantikan yang enggak usang, asyiknya hunting, ganasnya fotografi iklan, jurus foto bareng, kamera pas-pasan, takdir, ketelanjangan dan hal-hal paling penting dalam dunia fotografinya.
Sebelum baca buku ini saya benar-benar nda tau siapa itu mas Jerry Aurum. Karena memang nda mengikuti perkembangan fotografi di Indonesia. Paling tau yang sering2 muncul di TV aja, Mas Darwis, Mas Arbain Rambey, atau mas Fauzi Helmi (karena pernah ikut workshopnya foto mainan), Sisanya blank. Hehe. Tapi beberapa bulan lalu tertarik sama buku ini, cuma urung terus buat beli karena lumayan mehong. Iya, buku fotografi sama desain emang mehong2 (biasanya karena full color dan kertasnya bagus).
Hal yg membuat saya tertarik adalah bagaimana mas Jerry ini membicarakan fotografi seseru itu, setidak kaku itu. Saya yag baca dan awam dengan fotografi kayak diajak ngobrol dan dibawa sama dia ke dunia fotografi yang dia tekuni. Hitam, putih, abu-abu dan warna warninya dunia fotografi. Mungkin kenapa judulnya Hampir Fotografi karena isinya tidak fotografi-fotografi amat. Haha
Kayaknya seru sih kalo semua profesi ada buku semacam ininya. Haha jadi orang tuh paham cara pandang dan hal-hal menarik dan mungkin tidak menariknya. Nah di buku ini begitulah yang saya dapet. Asik sekali. Meskipun tiap bahasan tidak panjang-panjang, tapi sangat jujur dan kerasa sekali unek-uneknya, serunya justru di situ. Kalo buku ini 'Hampir Fotgrafi', kalo saya ini Hampir Fotografer. Tapi hampirnya jauh. Haha
Saya baru saja menyelesaikan bacaHector and Secrets of Love (tapi belom bikin resensi) dan menyadari saya tak memiliki bahan bacaan di jam ngawas kedua. Cus ke perpus bentar dan pinjam ini. Bacanya pas hingga ngawas selesai. Bukunya ringan saja dan foto-fotonya keren. Pas banget dengan saya yang lagi belajar menulis tokoh yang menyukai fotografi.
Mau tahu makna memotret dan dipotret tanpa harus berkerut kening? Bacalah buku ini. Foto memfoto (eh bener begini nulisnya?) di sini mulai dari tidak resmi, resmi sampai komersial. Bagaimana ide dicari, dijalankan, dan sekaligus jadi penyempalan dari arus besar, kemudian bagaimana segala susah payah itu sampai kepada orang yang penting tapi tidak mengerti atau berselera payah. Semua ada di sini. Melalui fotografi, Jerry Aurum mengajak kita mengingat-ingat lagi cara kita menjalani hari dan menyusun makna di atasnya sebelum kemudian itu menjadi foto yang begitu kita ingini dan begitu cepat kita lupakan.
Easy reading. Very light. I admire the photographer to be so productive in making a book. This time with more words than pictures. I am not really fond of choice of paper, layout and language but I enjoy his perspective, insight and the way he makes deep observation into such light tone.
The kind of book that you don't always read from cover to the back but more as a book that you can read from time to time whenever you feel like reading something fresh about takig picture and some other things
Tadinya saya akan memberikan nilai tiga untuk buku ini karena saya kurang suka dengan gaya bahasa Jerry Aurum di dalam buku ini yang niatnya ingin nyeleneh dan lucu tapi jatuhnya malahan garing.
Untungnya buku ini diselamatkan dengan adanya foto-foto yang indah dan cantik yang membuat saya memberikan nilai empat.
Lebih merupakan filosofi fotografi alih-alih teknik fotografi. Pemikiran Jerry mendalam dibungkus dengan cara bercerita yang humoris. Buku ini beneran keren!