Jump to ratings and reviews
Rate this book

Saya tidak pernah minta ampun kepada Soeharto: Sebuah memoar

Rate this book
Autobiography of retired Indonesian army general M. Jasin.

356 pages, Hardcover

First published January 1, 1998

Loading...
Loading...

About the author

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (66%)
4 stars
0 (0%)
3 stars
1 (33%)
2 stars
0 (0%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Nanto.
702 reviews104 followers
April 24, 2008
Buku seorang dari penandatangan Petisi 50. Buat saya yang waktu itu masih SMP-SMA sedang senang dengan sejarah yang identik dengan pertempuran. Buku ini suara seorang jenderal, pasti ada cerita pertempurannya. Ternyata...selain itu ada cerita lain tentang penguasa di waktu itu. Kritik yang diterjemahkan oleh penguasa sebagai pembangkangan. Dilanjutkan dengan kematian perdata kelompok yang dianggap membahayakan.

Waktu itu, berawal dari berita koran, ketika Habibie sebagai Menristek dalam salah satu headline koran diberitakan mengundang kelompok ini untuk datang ke IPTN. (konon ia urung menjadi Wapres dan yang menjadi Wapres lebih dipilih Tri Soetrisno. Masa itu yang seru adalah pemilihan Wapres. Ingat kasus H.J. Naro ketika Sudharmono naik jadi Wapres?) Dari koran itulah bacaan saya berlanjut kepada buku-buku sejenis ini dan majalah tua, seperti Tempo, Editor, di perpustakaan Pemda Kab. Tangerang yang ada di belakang sekolah. Lumayan kalo lagi bosen di kelas hehehe Bolos bermanfaat. Jadi tahu berita yang muncul saat itu, walaupun sangat halus. Serta tidak lupa iklan produk jadul di majalah itu. Jadi tahu rokok Ardath, Comodore (Lucky Strike generik hehehe), dan kamera Kodak. Tidak cuma berita yang didapat tapi juga bisa merasuk ke jaman itu. That was late 70s, the time i feel so alive!

Semoga kritik bisa tetap menjadi kritik.
Displaying 1 of 1 review