Drama ini adalah kritik terhadap kekuasaan setan sehari-hari; kekuasaan ekonomi, kekuasaan ilmu, kekuasaan teknologi, kekuasaan birokrasi, dan sebagainya karena kekuasaan itu cenderung menjadi sihir; sebuah kekuatan mempesona yang, celakanya, cenderung bersifat jahat.
Kuntowijoyo was born at Sanden, Bantul, Yogyakarta. He graduated from UGM as historian and received his post-graduated at American History by The University of Connecticut in year 1974, and gained his Ph.D. of history from Columbia University in year 1980.
His father was a puppet master (dalang) and he lived under deep religious and art circumstances. He easily fond of art and writings and became a good friend of Arifin C. Noer, Syu'bah Asa, Ikranegara, Chaerul Umam, and Salim Said.
His first work was "Kereta Api yang Berangkat Pagi Hari".
beberapa bagian bikin ngakak, as expected lah dari kuntowijoyo, humor keringnya kena. tapi secara keseluruhan ternyata otak aku ga nyampe dan sense aku terlalu jongkok buat baca yang model-model naskah drama avant garde begini haha rip
"Topeng Kayu" karya Kuntowijoyo bukanlah sekadar naskah drama biasa; ia adalah sebuah kritik tajam terhadap kekuasaan sehari-hari yang seringkali tak kasat mata namun begitu mencengkeram. Kuntowijoyo dengan cerdas menyoroti berbagai bentuk kekuasaan ini – mulai dari kekuasaan ekonomi, ilmu pengetahuan, teknologi, hingga birokrasi. Semua kekuatan ini, dalam pandangan Kuntowijoyo, memiliki kecenderungan untuk bermetamorfosis menjadi sihir; sebuah daya pikat yang mempesona, namun sayangnya, berujung pada kejahatan. Keunikan buku ini terletak pada cara penulis mengemas pemikirannya. Kuntowijoyo tidak menuntut pembaca untuk menelan mentah-mentah ide-idenya. Sebaliknya, ia menyajikan gagasan-gagasannya secara terbuka, seolah mengundang kita untuk merangkainya kembali dalam bingkai pemikiran dan ideologi yang kita anut. Ini adalah ajakan untuk berdialog dengan teks, bukan sekadar menerima doktrin. Pembaca diberikan ruang untuk merenung, menafsirkan, dan bahkan mengembangkan pemikiran Kuntowijoyo sesuai dengan lensa pandang masing-masing, sehingga tidak "tersesat" dalam labirin pemikiran tunggal.
"Tanpa impian kenyataan tak terasa. Tanpa larangan kebolehan tak terasa. Tanpa ikatan kemerdekaan tak terasa. Tanpa kejahatan kebaikan tak terasa. Tanpa hitam putih tak terasa. Ternyata kita tersesat!" (hal.120)
"Wah, itulah kesalahan umum. Disangka segalanya berhubungan. Tidak selalu harus. Perbuatan tidak selalu harus berhubungan dengan hasilnya. Pohon tidak selalu berhubungan dengan buahnya. Itu mesin. Itu nalar. Itu pikiran. Kekuasaan yang sempurna di luar semua itu." (hal. 219)