Jump to ratings and reviews
Rate this book

Sarongge

Rate this book
Buku ini mengandung banyak ide dan ideal, mengenai perjuangan dan manusia. Ke-gentle-an Husin, sekalipun dalam kenyataannya sangat sulit ditemukan di kalangan lelaki tradisional agraris, toh konsisten dengan posisinya sebagai penjaga dan perawat domestik. Keberanian Karen yang menakjubkan pun harus ditebus dengan keterpisahan, apapun bentuknya. Huslin adalah pahlawan keluarga. Dan keduanya sama penting. Itu barangkali salah satu pesan yang ada dalam buku ini, sekaligus ideal yang dijunjung pengarangannya dalam kehidupannya. Buku ini sangat menyentuh hati saya... (Ayu Utami, Novelis).

Sarongge mempertautkan sejarah perjalanan hidup penulisnya yang telah berulangkali mengalami transformasi. Dengan membaca novel ini kita bisa faham mengapa sudah lima tahun terakhir sektor pangan mengalami defisit dan mengapa nasib petani tak kunjung menggembirakan. Menyembul pula kemiripan kisah cinta dua anak manusia dengan cinta lingkungan. Ini bukan sekedar novel. (Faisal Basri, dosen UI).

384 pages, Paperback

First published September 1, 2012

6 people are currently reading
48 people want to read

About the author

Tosca Santoso

4 books2 followers

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
13 (30%)
4 stars
15 (35%)
3 stars
12 (28%)
2 stars
2 (4%)
1 star
0 (0%)
Displaying 1 - 10 of 10 reviews
Profile Image for Indri Juwono.
Author 2 books307 followers
March 10, 2014
Satu setengah tahun yang lalu, aku melihat buku ini di lantai basemen Blok M Square. Pertama melihat aku langsung tertarik, berjudul Sarongge, karya Tosca Santoso, dengan sampul sebuah pohon besar yang rindang, dengan pengantar Ayu Utami. Saat itu aku tidak menanyakan harganya, karena takut mahal dan belum tahu harga aslinya. Dan lagi, jumlah buku yang belum kubaca di rumah juga menumpuk banyak, sehingga aku tidak berniat menambah timbunanku itu.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba aku ingat lagi dengan buku itu, ketika daerah Sarongge mulai diperbincangkan di twitter. Baru aku tahu, bahwa Sarongge itu nama daerah di kawasan Puncak, di mana di sana ada program adopsi pohon dari Green Radio. Aku mulai mencari lewat toko buku online yang ternyata sudah tidak ada stok dan akhirnya menanyakan ke penulisnya langsung @toscasantoso via twitter. Ternyata di toko-toko buku di Jakarta sudah tidak ada, dan masa iya aku keliling seluruh toko buku? Jakarta itu kan propinsi, sehingga agak sulit dicapai ujung satu dengan satunya lagi. Bisa berhari-hari kalau keliling.

Untunglah, dengan pertemananku dengan pencinta-pencinta buku, ada yang memberi tahu kalau buku ini masih ada di Toga Mas Semarang. Aku langsung menitip pada rekan BBI Tezar dibelikan dan kubilang nanti kuambil kalau aku ke Semarang. Tetapi buku dikirimkan lewat seorang teman pada bulan September 2013, ke Jakarta, dan belum ketemu juga denganku sampai aku ke Semarang di Oktober 2013 (Kubilang juga apa, Jakarta itu propinsi, bikin janji temu aja susah!). Akhirnya buku itu sampai di tanganku pada bulan Desember 2013, bersama dengan Tezar ke Jakarta, dan bertemu juga dengan Essy yang dititipi bukunya. Oh iya, pada bulan Nopember ketika aku berjalan-jalan ke Toga Mas Depok, aku menemukan 2-3 eksemplar juga buku Sarongge ini. (laahh, tahu ada di sini ngapain nitip?)

[caption id="attachment_2119" align="aligncenter" width="500"] sarongge (sumber : toscasantoso.tumblr.com) sarongge
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]

Ekspektasiku tidak salah. Aku terharu membaca bab-bab awal buku ini. Bercerita tentang kawasan petani di Sarongge yang terdesak oleh hutan Perhutani yang mengakibatkan mereka tidak bisa berladang lagi. Berebut cahaya matahari antara pepohonan hijau dengan sayuran yang ditanam petani. Disalahkan atas berpindah-pindahnya lahan berladang. Dan petani yang terdesak oleh pemodal besar yang menguasai pertanian komoditas tertentu yang sedang 'in' sehingga berebut pasokan air dari sumber bersama. Dan mereka selalu kalah karena kurangnya pengetahuan sehingga sering dikelabui oleh pasal-pasal buatan penguasa.

Meskipun mengambil bentuk novel, tapi buku ini menjejali kita tentang pengetahuan tentang tanaman-tanaman tropis, kehidupan petani Indonesia yang terkena dampak besar oleh salah guna olah lahan oleh pemerintah, dari sisi pengetahuan Husin, seorang Sarjana Pertanian yang mengabdikan harinya untuk membantu masyarakat desa Sarongge memaksimalkan daerahnya di bidang pertanian. Juga dari sisi Karen, pejuang lingkungan yang mempertahankan hak tanah ulayat yang semena-mena diaku menjadi tanah pemerintah untuk ‘dijual’ kepada perusahaan pemegang HPH atau pemilik izin tambang.

Mengikuti perjalanan Husin, seperti berada di sampingnya saat ia menjelaskan tanaman ki hujan, cecenet, rasamala, saat langkahnya satu per satu mendaki Gunung Gede menyusuri jalur ritual penduduk menuju makam Eyang Suryakencana, sedih melihat gambaran edelweiss yang lama kelamaan berkurang karena ratusan pendaki menghancurkan proses hidupnya. Menghidupkan pertanian organik dengan bahan alam untuk pupuk dan pembasmi hamanya. Memaksimalkan potensi-potensi hutan untuk dinikmati bersama oleh warga di kaki gunungnya. Menikmati alam dengan sederhana.
Tiap kali di bawah tenda seperti ini, saya merasa alangkah sedikitnya sebetulnya ruang yang dibutuhkan manusia.
[h.83]


Bersama Karen yang menyerang pengusaha hutan di Riau yang ingin mengubah hutan gambut menjadi kelapa sawit, dan bertahan dari pengusaha tambang di Sumba, hingga pengejarannya di Papua, membuat gemas. Kenapa orang demikian serakah ingin memperkaya dengan menggali terus menerus dari bumi yang subur ini, yang sudah memberikan secukupnya untuk masyarakat yang ada di sekitarnya dan merawatnya kembali, kemudian jatuh ke tangan orang-orang yang mengaku pintar, namun hanya bisa mengeksploitasi, meraup sebesar-besarnya, tanpa berpikir untuk mengembalikan kondisi itu sehingga bisa bermanfaat untuk sekitarnya? Masyarakat sekitar menjadi miskin, kehilangan tempat mencari bahan makanannya karena sudah berubah menjadi tambang, dan memaksakan penggantinya sesuai caranya seolah-olah itu adalah yang benar untuk penduduk setempat.

Di Papua, ratusan pohon sagu ditebang untuk diubah menjadi kebun kelapa sawit, sementara penduduk yang terbiasa makan sagu diminta mengganti makan beras, yang juga harus diimpor dari luar Papua. Jangan tanya tentang perusahaan tambang tembaga yang menemukan emas ketika mereka mendapat hak untuk 'merusak' gunung suci yang berada dalam wilayah ulayat suku Amungme. Gunung tembaga ini adalah duku-duku sebutan untuk gunung suci yang dianggap sebagai tempat kembalinya arwah setelah mati. Ketika gunung sudah hilang ditambang, ke mana arwah mereka pergi? Kepercayaan ini diingkari begitu saja. Diabaikan.
Misalnya tambang tembaga itu ditemukan di bawah Tembok Ratapan Yerusalem, apakah orang Yahudi akan membiarkan tempat suci mereka digusur buldoser penambang? Kalau tanah Emas ada di bawah Ka'bah di Mekah, apa ada yang berani menambang di sana? Atau kalau sumber uranium ada di bawah bait Allah di Yerusalem, siapa yang akan membongkar tempat suci itu tanpa membangkitkan perlawanan orang Kristen? Agama-agama besar punya pembelanya sendiri. Sedangkan kepercayaan Amungme akan lenyap, bersama gunung mereka yang setiap hari dikeruk buldoser.
(h.300)


Aku seperti mencintai negeri ini sekaligus membenci pengelolanya. “Bumi, air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.” itu tak lebih dari jargon yang ditanamkan semasa sekolah. TANPA adanya penanaman mental yang cukup bahwa kita HARUS menjaga negeri ini, maka negeri ini akan jatuh pada mental serakah seperti masa penjajah yang dijilat oleh kerajaan yang mau daerahnya aman. Seharusnya tidak begitu. Seharusnya dengan berbagai macam disiplin ilmu yang membuat jumlah intelektual muda meningkat negeri ini dan sadar tingkat kritisnya negeri ini. Seharusnya pengusaha-pengusaha ini sudah waktunya berpindah generasi yang lebih melek lingkungan. Seharusnya belajar dengan musnahnya budaya, pemukiman, akan mengakibatkan berkurangnya kekayaan negeri ini, yang tidak sekadar dijadikan tontonan, tapi membiarkan hidup dengan kebiasaan-kebiasaan budayanya. Berpikir global tidak melupakan yang lokal.

Biarkan zamrud itu berkilau lagi...

Inilah saat kita
menjemput embun dan matahari
Tanpa kata. Tanpa peta
Tak perlu janji hari nanti
[h.125]


minggu panas : 23.02.2014 : 17.02 : menanti hari bumi 22 april

[caption id="attachment_2120" align="aligncenter" width="500"] program adopsi pohon (sumber : toscasantoso.tumblr.com) program adopsi pohon
(sumber : toscasantoso.tumblr.com)[/caption]


hutan, cinta, dan keyakinan untuk menyelamatkan. a must read book untuk memupuk cara menyelamatkan bumi.
kalau dapat buku ini lagi, mau untuk giveaway hari bumi, ah!

review lengkapna menyusul!
Profile Image for Melodya Apriliana.
4 reviews
October 21, 2012
Novel ini tidak hanya menawarkan kisah cinta yang unik, namun juga beragam realita yang dihadapi bumi dewasa ini. Lewat sajak lembut Husin dan surat yang dikirimkan Karen kala mereka saling rindu, Sarongge membuka mata, hati dan telinga kita tentang apa-apa yang telah merenggut keindahan keanekaragaman hayati negeri ini. Perjuangan bukan hanya tentang Karen yang rela bertahan berjam-jam di atas buldoser demi menggagalkan perusakan hutan gambut, atau Husin yang dengan berbagai cara berusaha meyakinkan petani kampungnya untuk beralih ke pertanian organik yang ramah lingkungan. Perjuangan adalah bagaimana Karen dan Husin bertahan dari badai rindu kala mereka terpisah jauh, sambil mewujudkan mimpi atas pilihan mereka masing-masing. Perjuangan, karena satu: cinta. Seperti yang ditulis Husin dalam sebuah sajaknya:

Mencintaimu

adalah liku menyusuri kali di pegunungan

kian lama kian sempit dan sunyi

Tapi tak pernah kulepas harapan

Membaca buku ini, sejenak akan mengalihkan pikiran kita dari hiruk-pikuk perkotaan, menelusuri hutan Sarongge di bawah guguran bunga Ki Hujan. Di antara pepohonan Puspa yang daunnya mulai memerah, di sanalah kita akan meretas janji. Menjaga hutan dan seluruh isinya. Demi kita, demi anak cucu kita. Seperti yang telah dilakukan Karen dan Husin.
Profile Image for Chintara Audyna.
3 reviews9 followers
March 15, 2022
pertama kali baca buku ini tahun 2016. Husin & Karen banyak menginspirasi tentang cinta dan keberanian terhadap hidup.
Profile Image for Rudiansen.
6 reviews
March 25, 2013
Idealisme Penulis terhadap aksi penyelamatan lingkungan dapat tergambar dari Buku ini. Memang akan selalu ada persinggungan apabila kita membicarakan pemanfaatan lahan untuk kepentingan perekonomian dan juga kelestarian lingkungan. Seperti pembukaan lahan gambut untuk perkebunan sawit, pembukaan hutan untuk pertambangan dan sebagainya. Di satu sisi hal tersebut dapat menjalankan roda perekonomian tetapi di sisi lain akan selalu ada warga lokal yang tersingkirkan dan juga perusakan lingkungan.

Buku ini tidak hanya berupa cerita fiksi biasa, tetapi di dalamnya memuat juga berbagai informasi mengenai peristiwa atau sejarah aksi perusakan lingkungan yang pernah terjadi di Indonesia. Mulai dari pembukaan sejuta hektar lahan gambut di Kalimantan pada zaman Orde Baru, Pembukaan lahan peternakan di Tapos, Pembukaan hutan untuk perkebunan sawit, pembebasan lahan untuk pertambangan sampai mega proyek MIFEE (Merauke Integrated Food & Energy Estate) yang ada di Papua sana.

Selain itu, buku ini juga diperkaya dengan informasi beragam spesies tumbuhan yang ada di Sarongge. Perkampungan yang berada di kaki Gunung Gede Pangrango. Daerah yang dijadikan sebagai reforestasi melalui penanaman pohon Sahabat Green dan juga perkebunan sayuran organik oleh masyarakat lokal.

Profile Image for Aqmarina Andira.
Author 3 books10 followers
November 24, 2012
Despite the cheesy romance, the book was actually pretty good. It gave me so much information about the damages in the soil, water, and air of the mother nature that happened around our country. The damages that is done by greedy cooperation and corrupt governor. It made me angry and sad to read it. Earth will be so much better when there's no human and there's no technology. Other living creatures only take what they need from the earth. It creates balance. Human takes everything as much as they can. Even though they don't need it. They destroy the balance. They made other creatures suffer.
Profile Image for Aipf.
6 reviews
December 19, 2012
Buku ini sangat mewakili suara petani Indonesia pada umumnya yg menjadi tamu di daerah sendiri. Dan mengangkat isu Lingkungan hidup yang tidak hanya di daerah sarongge, Gunung Gede tapi Isu lingkungan hidup di Indonesia. Bagaimana bobroknya para pemegang kebijakan yang sangat berpihak ke Keuntungan pengusaha besar semata tanpa peduli dampak yang sangat besar bagi lingkungan Hidup di Negri ini. Buku ini juga memberikan wawasan pendidikan tentang hutan dan kehutanan di Indonesia. Very recomended book. Salam Lestari!
206 reviews
December 28, 2012
Rasanya seperti membaca novel-novel zaman dulu, romantis dan bertujuan serta membawa pesan. Tidak neko-neko. Penerbitnya cocok Dian Rakyat karena membuat kesan buku sastrawan Indonesia zaman dulu makin kuat. Untung saya anti-kindle karena buat saya buku ini mesti dibaca dalam bentuk kertas
Profile Image for Windhu.
2 reviews
February 7, 2014
Alam telah mencukupkan segalanya bagi kita. Tosca menuturkan realitas manusia, korporasi dan pemerintah yang serakah. Memperbaikinya membutuhkan tanggung jawab yang domestik dan yang keluar sekaligus. Dan hanya satu yang menguatkan perjuangan merawat dan meruwat bumi, CINTA.
Profile Image for Frans Panjaitan.
4 reviews2 followers
July 31, 2013
Karena buku ini saya penasaran sama cecenet. Dan sepertinya cecenet itu mungkin tomatillo
Displaying 1 - 10 of 10 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.