Jump to ratings and reviews
Rate this book

Ruang Temu

Rate this book
Mungkin di antara ragu dan bahagia, justru dialah yang jatuh hati kepada kesedihan...
Bagaimana bila seorang lelaki menyatakan ia jatuh hati kepadamu? Buat dia ini justru meresahkan. Waktu yang berdetak seperti derak roda kereta di atas jalanan berdebu yang memerihkan mata. Seperti mata lelaki itu yang selalu memancarkan kesedihan hingga dia ragu mampu menciptakan bahagia di sana.

Mungkin, di antara cinta yang menunggu, justru waktulah yang datang tak tepat...
Bagaimana bila dia yang jatuh hati kepada seorang yang lain? Buat dia, ini terasa seperti menemukan pada waktu yang tak pas meskipun mereka saling mengutuhkan. Harapan yang dipendam menjelma menjadi mimpi. Tinggal itu satu-satunya ruang temu untuk dia berbagi rindu dengan cintanya yang telat tiba.

Mungkin, di antara cinta yang terlihat dan yang terlambat, selalu ada ruang temu rahasia...
Dan día cukup memejamkan mata untuk sampai di sana.

239 pages, Paperback

First published June 1, 2012

5 people are currently reading
46 people want to read

About the author

Maradilla Syachridar

8 books41 followers
"The cut of a garment speaks of the colour of artistic temperament." Her adaptation of that famous Thomas Carlyle quote probably best describes Maradilla Syachridar, whose outlook on life strives to expand everyone's perspective. This open-minded, eager observer has a voracious curiosity, especially when it comes to literature and left-field music.

Maradilla published her debut novel "Ketika Daun Bercerita" in 2008, with the follow-up "Turiya" in 2011. In 2012, she has contributed a short story to the Seno Gumira Ajidarma tribute anthology "Perkara Mengirim Senja", and another anthology pieces, "Menujuh", "Memoritmo". Due to her love of music that is a constant companion during the creative process, Maradilla also lends her talents as a backing vocalist, synthesizer player and songwriter to the electronic pop collective Homogenic.

As a result, music and literature becomes the embodiment of a modern and contemporary personality that channels the creative impulses that emanate directly from Maradilla's soul. She dreams of one day combining all those elements into a cohesive work of performance art.

There's a lot on Maradilla's plate, then. But what else would you expect from someone whose personal mantra is "I'm against living in status quo"?

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
4 (4%)
4 stars
20 (21%)
3 stars
39 (42%)
2 stars
18 (19%)
1 star
10 (10%)
Displaying 1 - 17 of 17 reviews
Profile Image for Aulia Prameswari.
5 reviews2 followers
June 20, 2024
Beli buku ini mungkin pas jaman SMP atau SMA ehehe
Karena cukup tertarik dengan covernya, tapi tanpa melihat sinopsis buku
Lagi pingin baca buku ini yang sudah dibeli lama banget diantara buku-buku yang masih terbungkus rapih

Novel ini menceritakan kisah antara Deanna, Rajasa, dan Mielka. Deanna dan Rajasa merupakan sahabat yang menjalin relasi romantis. Sampai pada suatu hari Deanna bertemu sahabat Rajasa yaitu Mielka yang merupakan seorang seniman. Deanna yang mudah jatuh cinta dengan pria merasa tertarik dengan Mielka. Hingga mereka juga merasakan hal yang sama. Ya.. terjadilah pengkhianatan dalam suatu hubungan.

Buku ini tidak terlalu membuat bosan. Hanya saja banyak teori mengenai wine dan seni yang menjadi kesulitan dalam memahami cerita dengan baik. Istilah-istilah yang digunakan juga membuat bingung (untuk aku orang awam hehe)
Alur yang terkesan mendadak alias tiba-tiba banget justru bikin bingung. Terburu-buru...
Bahkan sampai ending saya merutuki diri saya.. ini saya yang tidak paham atau bagaimana.
Yah bingung karena alurnya jugaa...

Jadi saya kasih bintang dua.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Profile Image for Ira Booklover.
688 reviews45 followers
October 31, 2014

Romance...oh...romance....


Kenapa ya saya dengan romance kok tidak pernah akur? Ini romance terlama yang saya baca. Persis satu bulan sejak saya meminjam buku ini dari perpustakaan kota Banjarbaru. Jadi gugup lagi ketemu kakak pustakawan. Maaf kakak, telat lagi mengembalikannya :'(


Jujur, buku ini terlalu berat bagi saya yang bukan penggemar romance. Terutama di bagian ending-nya. Saya tidak ngeh sama sekali bagaimana ending-nya.


Tapi ceritanya unik. Tentang kisah cinta rahasia antara Rajasa, Deanna dan Mielka. Siapa nih yang main rahasia-rahasian? Silakan dibaca sendiri bukunya, huehehehe :D


Nah, yang terlibat cinta rahasia ini mempunyai ruang temu mereka sendiri. Salah satu dari tokoh cowok kita ini adalah pelukis. Setiap mereka bertemu di ruang temu, pertemuan itu dia abadikan dalam lukisannya. Romantis sekali. Seperti apa sih bentuk ruang temu mereka? Saya rasa dari sinopsisnya juga bisa ditebak ya.


Jadi ngiri deh. Enak ya mereka bisa bertemu di ruang temu mereka sendiri. Firasat mereka oke banget. Bisa tahu perasaan masing-masing tanpa harus kikuk menyatakan perasaan. Halangan mereka cuma satu, si tokoh cewek sudah punya kekasih yang tidak bisa dia tinggalkan begitu saja.


At last, saya tidak bisa menulis banyak. Seperti saya bilang sebelumnya, buku ini terlalu berat untuk saya. Saya tidak mengerti ending-nya. Dan butuh waktu lama sekali untuk menamatkan buku ini. Ga srek deh pokoknya. Tapi mungkin saja sih ini karena akhir-akhir ini saya lagi drop karena kabut asap yang melanda kota selama berminggu-minggu. *ga ada hubungannya kali Ra*. :D


And, 3 dari 5 bintang deh untuk Ruang Temu, terutama untuk konsep ceritanya. Oh ya, buku ini juga seolah-olah menegur saya untuk jangan lelah menunggu cinta sejati. Bersabar mungkin lebih baik, karena cinta yang sanggup membuat debar di hati itu akhirnya akan datang. Tidak perlu terburu-buru mencari cinta sehingga tidak menyadari kalau debar itu tidak ada.  So, I liked it.



Profile Image for Ursula.
302 reviews19 followers
March 6, 2014
Sebenarnya saya mau memberi satu bintang saja, karena sejujurnya saya sangat tidak suka novel ini. Tapi, mengingat cara penceritaan yang bagus, saya hargai dengan menambahkan satu bintang lagi.

Buku ini pertama kali saya ketahui keberadaannya dari blog seorang penyiar yang saya kagumi, dan nampak-nampaknya, pengarang dari novel ini adalah teman dari penyiar tersebut. Mengingat review yang diberikan oleh penyiar tersebut terhadap buku ini cukup baik, saya jadi tertarik untuk membelinya. Mengapa tidak? Toh saya juga sedang kekurangn bacaan bagus. Saat melihat buku ini di Gramedia, langsung saya ambil dan bawa ke kasir. Saya tidak sabar untuk menyelami dunia novel satu ini.

Saya ternyata salah. Jangankan menyelami, membacanya saja diperlukan usaha dan niat yang luar biasa.

Ceritanya ternyata standar, tentang seorang perempuan muda galau, Deanna, yang jatuh cinta pada sahabat kekasihnya. Saya mengharapkan akan ada satu momen berkesan yang menunjukkan awal mula mereka jatuh cinta, tapi tidak ada. Sejak awal Deanna memang tertarik pada Mielka, tapi tidak ada proses yang berarti, tiba-tiba mereka saling jatuh cinta dan sering chatting di messenger dan memulai "hubungan gelap" mereka. Karena di dunia nyata Deanna adalah kekasih Rajasa, sahabat Mielka, maka mereka berdua bertemu di suatu dunia buatan di alam mimpi yang bernama Absurd Paradiso . Selanjutnya cerita berlanjut tentang kegalauan Deanna dan Mielka, disertai kecurigaan Rajasa.

Bahasa yang digunakan si penulis sebenarnya bagus. Mengalir dan tidak ribet. Tapi tempo penceritaannya kacau. Terlalu cepat, jadi tidak ada kesan yang tercipta. Terlalu banyak "hah" yang melintas di otak saya saat membaca. Rasa-rasanya baru begini, kenapa tiba-tiba sudah begitu? Tema filsafat yang coba diangkat (dan seharusnya menarik) pun jadi terkesan cuma pelengkap, sama seperti si pelukis misterius pujaan Deanna yang ternyata adalah... BAH! Seharusnya bisa lebih baik, tapi jadinya gantung.

Membaca Ruang Temu ini ibarat memakan adonan yang setengah matang. Belum saatnya, tapi sudah disajikan.
Profile Image for Sinta Nisfuanna.
1,022 reviews64 followers
November 24, 2013
Benar, kalau pembaca menyukai sebuah buku, dia akan cenderung untuk membeli buku yang ditulis dengan orang yang sama. Sama halnya dengan saya yang dulu terkesan dengan novel Ketika Daun Bercerita, karya Maradilla Syachridar, maka saat menemukan Ruang Temu muncul rasa penasaran.

Benar, bahwa tidak selalu buku dengan penulisnya yang sama, akan memberikan sensasi senada saat membacanya. Sama halnya dengan pendapat saya tentang Ruang Temu yang tidak semenarik Ketika Daun Bercerita. Ruang Temu lebih banyak bercerita tentang kegalauan Deanna yang jatuh cinta dengan sahabat kekasihnya, Rajasa. Mielka, sang pelukis memesona Deanna sejak pertama kali bertemu, dan ternyata bersambut.

Cerita berlangsung dengan nuansa yang agak mistis karena pertemuan Deanna dan Mielka yang banyak terjadi di alam mimpi. Tak lazim, tapi saya sendiri kurang tahu apakah hal seperti itu memang terjadi. Tapi fiksi adalah fiksi, bukan sebuah kehidupan nyata sehingga kita tidak bisa bermain-main dengan jalan hidup, seperti yang disampaikan penulis di bagian pengantar.

Alur cerita yang lambat dan dipenuhi kegalauan, membuat saya agak bosan. Tapi saya memutuskan untuk melanjutkan membaca karena rasa penasaran dengan si tetangga yang menjadi 'penenang' Deanna saat menatap jendela. Mengingat ceritanya yang penuh dengan ilusi, saya pikir sosok tetangga itu adalah perwujudan dari obsesi Deanna, ndalalah imajinasi saya salah besar.

Meski semuanya hampir terasa minus di mata saya, tapi akhir cerita yang mengambil tiga sudut pandang tokoh [Deanna, Rajasa, dan Mielka] menjadi penutup yang apik.
Profile Image for Afina.
10 reviews1 follower
December 28, 2014
Saya pinjam ini dari sepupu, untuk bacaan dalam perjalanan naik kereta api. Sampulnya bagus, artistik, tapi saya selalu percaya jangan nilai buku dari sampulnya. Buktinya setelah beberapa halaman pertama, saya tidak tertarik untuk mengetahui ceritanya lebih lanjut, namun saya membacanya juga sampai akhir.

Ruang Temu adalah sebuah kisah romansa, chic-lit banget, tapi bukan tipikal cerita cinta remaja karena penulis banyak memasukkan wacana-wacana filsuf, seni sampai pengetahuan wine, dan meskipun tidak ada peringatan batasan usia, anda setidaknya harus melewati usia-usia SMA untuk memahami novel ini, karena novel ini berkisah tentang segitiga cinta, perselingkuhan, diselingi wacana-wacana tentang minuman anggur. Ya, novel ini tentang cerita cinta dewasa. Bahkan, saya jadi tahu introduction to wine dari membaca novel ini, haha.. Itu nilai plus nya, tapi keseluruhan cerita, saya tidak menikmati.
Profile Image for Jihan Kalista.
1 review
July 31, 2012
Saya membaca buku ini dan langsung penasaran sama versi aslinya, Turiya. Setelah susah payah nyari akhirnya dapet, nitip teman di Bandung.

Sempat membandingkan dengan Turiya, tapi akhirnya saya ngerasa dua buku ini memang berbeda walaupun inti ceritanya sama. Saya masih jatuh cinta dengan gaya penulisan dan narasi yang ditulis oleh Maradilla. Gak ribet dan beberapa kali merasa ada getaran karena dia menulis tentang fase umum yang dialami manusia, yaitu fase nanggung menuju manusia dewasa. Ada yang ganjil sih memang, karena mungkin Maradilla berusaha untuk merubah buku ini setelah dia sendiri mengalami pendewasaan kali ye. Jadi tulisan-tulisannya ada yang belang.

Tapi penasaran sama karya penulis potensial yang satu ini. Langkah-langkah yang ditempuhnya unik. Ruang Temu adalah Bacaan wajib!
Profile Image for Ninditya Nareswari.
17 reviews1 follower
September 13, 2013
tahu buku ini pertama dari cewek-cewek yang bilang novel ini so sweet sampai menguras air mata. entah. aku liat covernya juga sepertinya memang bagus sih.

tetapi setelah satu halaman, dua halaman, tiga halaman, satu bab, mulut saya mulai menguap lebar-lebar. serius, saya gak paham dari segimana sih bagusnya? mungkin karena kata-kata yang dirangkai penulis ini super duper niat kayak puisi jadinya pada bilang bagus, padahal kalo dari segi cerita sih .. maaf sebelumnya. basi.

inti ceritanya sih cuma si tokoh utama, deanna, jatuh cinta sama sahabat pacarnya, terus mereka kayak bisa berkomunikasi batin gitu, dan lewat "Turiya", entah sih gak paham juga ceritanya saya cuma baca sekali, terus gak tertarik lagi buat memahami ceritanya ._.v

well, mungkin novel ini cocok buat kalian yang suka sama filsafat kali ya.
Profile Image for Titi Sanaria.
202 reviews37 followers
Read
February 11, 2016
Ini bukan tema favoritku. Aku tidak pernah suka tema selingkuh, apalagi jika pelakunya adalah kekasih dan sahabatmu. Seperti menikammu dari belakang. Hanya saja, agak sulit untuk membenci si tokoh kekasih Karena dia adalah tokoh central dari cerita yang menggunakan POV1 di sebagian besar buku ini. Pergulatan batinnya membuat kita bersedia bersabar untuknya meski tetap membencinya. Pengen rasanya menjambaknya dan bilang, "Demi Tuhan, kekasihmu itu mencintaimu, mengapa harus melempar diri pada kesemuan tak mapan karena perintah hormon? Gunakan kepalamu." Tapi hormon memang kadang mengalahkan logika.

Yang membuatku bertahan membacanya adalah diksinya meski sedikit kecewa pada endingnya yang membuatku mengira dan meraba, serta harus puas dengan dugaanku sendiri.
Profile Image for Ayrine.
37 reviews5 followers
August 3, 2012
walaupun ide cerita masih kurang dan cenderung dangkal serta kekurangan adegan dan situasi, namun gaya bahasa, metamorfosa kata, dan penulisannya cukup cantik. saya ga bisa bilang suka dan enjoy membacanya, namun banyak nilai dan pengetahuan yang disampaikan melalui buku ini. mungkin karena saya membacanya dalam kondisi ingin sebuah cerita yang dalam, menyentak hati, membuat berpikir. namun pada kenyataan bukan kedua hal ini yang di berikan dari buku 'ruang temu' ini hal- hal abstrak dan ganjil yang dipaparkan dibiarkan melayang- layang tanpa tonggak dan benang pengikat sempurna yang membuat buku ini seperti karya yang belum matang.
but yeah. it was okay.
:)
Profile Image for Qonita .
306 reviews100 followers
July 27, 2024
Keparalelannya dengan Turiya otomatis membuat saya membaca sambil membanding-bandingkan dan sayang sekali, Ruang Temu tidak lebih baik. Tidak seutuh Turiya dalam menggambarkan fasa, tidak semulus Turiya dalam membangun karakter, alur terlalu buru-buru, dan kesalahan kecil yang amat disayangkan, di satu titik, Deanna memanggil Gilang Fro, membuat pembaca tentu berpikir bahwa cerita ini diketik ulang di atas naskah Turiya. Kecil, tapi mengganggu. Selain itu, pengulangan terus-menerus di bagian mimpi mereka, absurd paradiso, membuat saya bosan.

Secara penulisan Ruang Temu adalah tulisan yang masih patut diapresiasi, tapi secara pribadi, saya pikir setelah Turiya, buku ini tidak perlu dibuat.
Profile Image for Rusa.
20 reviews18 followers
March 17, 2013
tipikal love story. aku benci pengkhianatan demi cinta mereka. cinta itu salah jika terjadinya pengkhiatan. dan ada antara absurd paradiso yang mielka alami aku rasakan penulis mengilhamkan mimpi itu dari lagu yellow-Coldplay.
Profile Image for Syifa.
19 reviews10 followers
October 25, 2025
covernya bagus, dalemnya bagus, keren deh. :D
Asli, cerita segitiga yang sulit ditebak.
1 review
October 20, 2014
Sebuah novel romansa yang rumit, beberapa storyline predictable dan endingnya kurang menarik. Bahasa yang digunakan sangat bagus dan mudah dicerna namun tidak standar.
Profile Image for Rani Rachman.
93 reviews4 followers
August 11, 2017
Judul: Ruang Temu antara denting rahasia
Penulis: Maradilla Syachridar


Membutuhkan waktu yang sedikit lama untuk menyelesaikan buku ke 4 ini, tidak ada waktu untuk menyempatkan membaca dan butuh pemahaman ekstra untuk membaca novel ini, karena penulis terlalu banyak menggunakan filosofi dalam mengambarkan perasaan dari tiga tokohnya, Rajasa, Deanna dan Mielka kisah dua pria dan satu wanita, menceritakan ikatan persahabatan yang terdistorsi oleh sebuah perselingkuhan. Deanna di gambarkan sebagai sosok yang mudah sekali jatuh cinta, memutuskan untk menjalin hubungan pacaran dgn Rajasa yg bermula dari ikatan persabatan, dan kemudian jatuh cinta pada Mielka sahabat dari Rajasa sendiri yg di kenalnya baru beberapa hari, yah sosok seperti Mielka pun juga akan membuat saya jatuh cinta Tipe laki-laki kesukaan saya (hehe) , novel ini lebih banyak bercerita kegalauan dari Deanna sih emang. Dua sosok pria Mielka dan Rajasa yang menurut saya di gambarkan oleh penulis untuk menyadarkan perempuan" dalam memilih pasangan idealis atau realistis. Tapi kembali lagi seperti kata Gilang tokoh pendukung dlm novel ini yang mengatakan bahwa kau akan" Menemukan orang yang membuatmu mabuk tetapi tetap realistis." (hal:144).
Novel ini di awal menjelaskan tentang kisah paralel dari "Turiyah" kata yg baru saya dengar dan sangat asing. Ternyata Turiya adalah sebuah eksibisi kenangan". Pada halaman 239 mungkin bisa memeberikan penjelasan arti dari kata "Turiyah"
“Setiap orang memiliki kisah absurd paradiso yg berbeda dengan versi mereka masing-masing. Pada akhirnya, mungkin ini hanyalah satu dr sekian fase, yang akan segera terhapus oleh fase-fase berikutnya. Jika kemudian sang waktu menjadi pengingat, suatu hari nanti, kita akan menganggap segala yang terjadi hari ini- dan semua yg kita yakini- tak lebih sebagai kenangan masa lalu yg selalu bisa diam-diam kita tertawakan. (hlm. 239).
Intinya novel ini menceritakan kisah dalam menjalin pershabatan yg kemudian menciptakan 'ruang temu' rahasia untuk sebuah perselingkuhan.
Displaying 1 - 17 of 17 reviews

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.