Jump to ratings and reviews
Rate this book

Pledoi Sudisman: Kritik Oto Kritik Seorang Politbiro CC PKI

Rate this book
Plea of Sudisman in his own defense as a general secretary of the Indonesian Communist Party to the Special Military Tribunal, Jakarta, July 21, 1967; and his critic on the Indonesian Communist Party.

148 pages, Paperback

First published January 1, 2000

1 person is currently reading
12 people want to read

About the author

Sudisman

3 books

Ratings & Reviews

What do you think?
Rate this book

Friends & Following

Create a free account to discover what your friends think of this book!

Community Reviews

5 stars
2 (25%)
4 stars
2 (25%)
3 stars
3 (37%)
2 stars
0 (0%)
1 star
1 (12%)
Displaying 1 of 1 review
Profile Image for Willy Alfarius.
97 reviews9 followers
April 27, 2025
Sebuah pidato pembelaan yang dalam penilaianku ditulis dengan amat puitis namun tegas dan jernih. Tegas dalam menentukan sikapnya, keyakinannya, dan keteguhannya sebagai salah seorang pimpinan pusat Partai Komunis Indonesia (PKI). Jernih dalam memberikan uraian, penjelasan, dan analisis mengenai jalannya Peristiwa Gerakan 30 September (G30S) 1965 yang menjadi sebab dihancurkannya sekaligus ditumbalkannya PKI sebagai pelaku tunggal oleh Angkatan Darat, juga betapa problematiknya tuduhan dan vonis itu terhadap partai secara keseluruhan. Saat membaca pleidoi ini di hadapan Mahkamah Militer Luar Biasa (Mahmilub), saya merasakan betapa Sudisman meski tidak pernah tahu menahu tentang rencana aksi pada malam 1 Oktober 1965 itu, ia sebagai salah seorang dari lima pimpinan Comite Central berani dan bersedia mengambil tanggung jawab. Dalam uraiannya, meski PKI sebagai partai tidak terlibat, bahkan ia sendiri sebagai salah satu pimpinan sama sekali tidak mengetahui rencana operasi militer itu, dalam moral komunisnya ia memilih untuk tetap menerima segala konsekuensi untuk sebuah tindakan yang bahkan ia tidak lakukan.

Saya merasa tergetar dalam bagian “Mereka berempat adalah saya dan saya adalah mereka berempat. Sehingga solidaritas Komunis mengharuskan saya untuk menunggalkan siap saya dengan mereka berempat dan memilih jalan mati”. Praktis, dari lima sekawan ini, hanya Aidit seorang yang didadati beradad di Lapangan Terbang Halim Perdanakusuma pada malam yang begitu memilukan itu. Tapi sebagai panca kawan yang telah bersama-sama membangun kembali PKI sejak 1951, pasca dihantam telak pada Madiun 1948, Bung Disman akhirnya memilih untuk menempuh jalan yang telah merenggut keempat kawannya; “jalan mati”.

Terkait identitas buku dan naskah, tertulis bahwa ketikan pleidoi ini didapatkan dari Benedict Anderson. Lantas kemudian, naskah ini terbit menjadi buku baru setelah Reformasi bergulir. Selain memuat uraian tanggung jawab Sudisman, buku ini sekaligus menggabungkan uraian panjang analisis Sudisman mengenai kegagalan PKI pada 1965, kesalahan apa yang ada pada organisasi dan pimpinan, serta jalan apa yang akan mereka ambil untuk ke depannya. Tentu saja naskah pembelaan dan otokritik ini dalam masa Orde Baru menjadi barang haram bagi publik, karena selain memuat pembelaan yang lugas dari seorang tokoh elite PKI, juga memuat analisis terkait G30S yang berbanding terbalik dengan apa yang selama ini menjadi versi resmi negara maupun terutama Angkatan Darat. Hanya saja, terdapat banyak saltik dalam naskah ini yang masih perlu diperbaiki dan disunting ulang andai suatu saat akan terbit lagi, setelah untuk pertama kalinya beredar untuk publik secara luas pada November 2000.
Displaying 1 of 1 review

Can't find what you're looking for?

Get help and learn more about the design.