Pada masa Khalifah Harun al-Rasyid (786-813 M) baghdad ekah menjadi pusat perbukuan dunia. Di Khizanah al-Hikmah - sebuah pusat perbukuan dan perpustakaan besar - berkumpul banyak sekali sarjana, sastrawan, penyalin naskah, ahli kaligrafi, ahli ilustrasi, dan lain-lain. Perdana mentri Baginda, Yahya al-barmaki ditunjuk menjadi duta besar untuk India. Tugas khususnya ialah mengundang para Sarjana India datang ke Baghdad dan bekerja sebagai penerjemag dengan imbalan yang besar. Dalam memilih penerjemah, Khalifah Harun al-Rasyid tidak memandang ras, kebangsaan, dan agama. Bahkan beliau mengangkat I'yan al-Syu'ubi, seorang Persia yang anti-Arab, menjadi kepala perpustakaan istana...
--- Masa Keemasan Islam Masa Keemasan Buku
Buku ini memaparkan sisi-sisi kebudayaan Islam dengan topik yang beragam, khususnya masalah sastra, hikmah, hermeneutika, sejarah, estetika, seni rupa, dan musik. Di tengah sedikitnya karangan dan buku mengenai hal ersebut, buku ini diharapkan dapat memberikan kesegaran ersendiri, sera relevan dan bermanfaat bagi para mahasiswa, peneliti, cendekiawan, dan pemerhati kebudayaan Islam.
saya pikir buku ini akan sangat berat, ternyata isinya cukup informatif. Kumpulan karangan yang pernah ditulis untuk keperluan artikel koran, naskah kuliah, naskah seminar ini sangat sarat dengan informasi. Kedalaman mengenai susastra dan tasawuf dalam rentang panjang tradisi islam dipaparkan dengan cara yang mudah.
Naskah pembukanya adalah persoalan syair dalam islam. Syair yang dengan gampang dikaitkan dengan kecaman terhadap penyair dibantah oleh Abdul Hadi WM. Demikian juga dengan tradisi tasawuf yang diidentikan dengan eskapis dan bid'ah. Bukankan syair yang benar mengandung hikmah yang membuat pembacanya tercerahkan? Serta tasawuf banyak yang berkutat pada reformasi budaya (akhlak), serta perlawanan dan pembelaan kaum tertindas?
Yang menggelitik saya adalah puisi berjudul asli De Laatste Dag der Hollanders op Java (Hari Terakhir Orang Belanda di Jawa). Dalam bab berjudul "Latar Islam Perang Diponegoro", Abdul Hadi menuliskan penulis sajak itu adalah Multatuli. Sedangkan dalam sumber lain, menyebukan nama S.E.W. Roorda van Eysinga sebagai penulisnya. Ingatan saya juga mengarah kepada van Eysinga berdasarkan buku Bianglala Sastra: Bunga Rampai Sastra Belanda tentang Kehidupan di Indonesia. dooh jadi pengen baca buku Bianglala Sastra lagi...
Oh iya, buku ini dibeli dengan harga 12 ribu saja... second-an, tempatnya di BMS yah.. :D