History of Islam and politics in Indonesia; correspondence between Nurcholis Majid, Indonesian scholar, and Mohamad Roem, Indonesian statesman & politician.
Nurcholish Madjid (Cak Nur) merupakan ikon pembaruan pemikiran dan gerakan Islam di Indonesia. Gagasannya tentang pluralisme telah menempatkannya sebagai intelektual Muslim terdepan, terlebih di saat Indonesia sedang terjerumus di dalam berbagai kemorosotan dan ancaman disintegrasi bangsa.
Sebagai tokoh pembaharu dan cendikiawan Muslim Indonesia, seperti halnya K.H Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Nurholish Madjid sering mengutarakan gagasan-gagasan yang dianggap kontroversial terutama gagasan mengenai pembaharuan Islam di Indonesia. Pemikirannya diaggap sebagai sumber pluralisme dan keterbukaan mengenai ajaran Islam terutama setelah berkiprah dalam Yayasan Paramadina dalam mengembangkan ajaran Islam yang moderat.
Bermula dari tulisan Amien Rais dalam Panji Masyarakat (no 376/1982) berjudul 'Tidak Ada Negara Islam' dan dijawab oleh Mohamad Roem (no 386/1983) dengan judul yang sama, Nurcholish Madjid menghantar sepucuk surat yang panjang kepada Mohamad Roem. Cak Nur ketika itu dalam peringkat akhir pengajian kedoktoran di Universiti Chicago, berusia 30-an dan terpandang sebagai seorang pemimpin yang berkarisma, terpanggil membahaskan isu yang menarik baginya, yang pernah berlegar-legar dalam kepalanya namun tidak terdaya dibahaskan sendirian. Sembilan pucuk surat yang saling dihantar oleh Cak Nur dan Roem awalnya berkisar tentang ada atau tidak negara Islam, kemudian beranjak kepada isu politik yang memang menjadi makanan kedua pemimpin ini. Kedua-duanya bersetuju bahawa 'negara Islam' memang tidak pernah wujud, malah nabi Muhammad sendiri tidak pernah menyatakan perlunya kewujudan 'negara Islam', namun mereka sepakat mengatakan bahawa konsep-konsep akan pembinaan 'negara Islam' itu sudah dibina oleh Nabi sendiri, dengan jelas dapat dilihat pada Piagam Madinah yang menjadi perlembagaan bertulis yang tertua di dunia.
Perbincangan tentang negara Islam menjadi satu perbincangan yang menarik sekiranya kita tahu menanganinya dengan betul, apatah lagi ia melibatkan sensitiviti agama juga pemimpin politik yang menjadikan ia modal berkempen dan berpolitik bagi menagih simpati masyarakat. Namun jika dilihat dari sudut yang berbeza, dengan kecenderungan menafsir ayat al-Qur'an dengan cara yang salah dan bermotifkan peribadi, dapatlah lihat kesalahan-kesalahan yang wujud pada gerakan radikal dan keganasan seperti IS, ISIS, Daesh yang cuba mewujudkan negara Islam menerusi darah dan muncung senjata. Cak Nur dan Roem telah membincangkan perkara ini lebih awal dan telah nampak kesan-kesan yang bakal menjadi barah pada suatu masa nanti, iaitu masa kita berada kini.
Kiriman surat ini berakhir apabila Mohamad Roem meninggal dunia pada September 1983 dan kiriman terakhir Cak Nur tidak sempat dibalas (atau diterima?) oleh Roem. Meskipun awalnya Roem tidak mahu surat-surat ini dibukukan, Cak Nur telah meminta izin agar salinan surat disebarkan kepada teman-teman terdekat. Atas keizinan Roem dalam kiriman terakhirnya, maka surat-surat ini diterbitkan dengan sisipan transkipsi forum yang diadakan sewaktu peluncuran buku ini pada November 1997, tidak lama sebelum reformasi yang menjatuhkan Suharto pada Mei 1998.
Ini buku yang saya baca serius saat di SMA. Semula karena tertarik dengan wacana negara Islam, lalu menemukan buku yang 'tidak menarik' ini. Saya senang membaca pemikiran dua tokoh yang bertukar isi kepala lewat surat -dan dengan begitu saya pun akhirnya belajar untuk menulis surat. Bukan surat sekadar cinta, tapi surat intelek dengan berderet pemikiran yang saya ditabur dari salam pembuka sampai tandatangannya.
Meski saya tahu, bisa saja saya di-'terkam' karena membaca buku ini. Tapi, saya tak pernah takut dicap liberal atau apapun. Toh, Cak Nur dan M Roem menyampaikan berita pemikirannya dengan alur yang runut dan jernih. Terlepas dari kontroversi mereka berdua, saya pikir ini merupakan sumbangan pemikiran yang laik ditengok. Meski pada akhirnya, kita juga harus mmeberikan kritisi yang tepat bagi buku ini.
Walaupun banyak dihujat, saya masih menghormati Cak Nur dengan segala pemikirannya yang "progresif". Kumpulan surat beliau dengan M Roem akan membuat pikiran Anda lebih terbuka tentang Islam. Jangan takut. Cak Nur itu guru kita...
buku ini mengurai dengan jernih tentang issue apa negara islam, bagaimana para founding fathers memaknainya yang dilanjutkan oleh generasi setelahnya terutama amien rais dan nurcholish madjid.
keunikan indonesia yang jauh dari tempat kelahiran islam, menjadikan ikhtiar menafsirkan negara islam menjadi relevan, sejak jaman pra kemerdekaan hingga saat ini (20 tahun sejak reformasi).
Dalam keadaan terdesak, determinasi berperan penting dalam kelanjutan permainan. Apabila dirasa terlalu mudah, hasil akhir tetap memihak kepada tuan rumah.
This entire review has been hidden because of spoilers.
Salah satu diskusi terbaik antar generasi yang pernah ada di Indonesia. Mendiskusikan tentang peran intelektual islam "sekolahan" yang mewarnai di masa awal republik berdiri.
merupakan buku kumpulan berisi surat-menyurat antara cak nur dengan mohammad roem,jaman itu belom ada email kali ya...penuh dengan diskusi yang menarik bahwa tentang perlu atau tidaknya negara islam berdiri secara formal atau cuma cukup sendi-sendinya saja yang mengilhaminya... menarik buat orang-orang yang selama ini memperjuangkan perlunya syariat islam diformalkan hehehehe
setidaknya yang ini lebih jauh lebih baik drpd buku Ilusi Negara Islam yang terlalu asal jeplak. Buku ini jernih dan runut, meski tetap ada beberapa bagian yang dirasa mengganjal bagi saia. lagian kemasan buku ini tidak menarik *gakpenting.com*
Mengharukan membaca korespondensi dua tokoh pembaharu Islam ini. Dan fakta bahwa 9 hari setelah surat terakhir dari Cak Nur ditulis, M. Noer wafat. Jadi di bulan-bulan terakhir, beliau masih sempat menulis begitu banyak tentang pelurusan sejarah. Buku yang wajib dibaca buat pemerhati gerakan-gerakan politik Islam di masa revolusi dan sesudahnya.
dulu saya dapat email perdebatan antara Ulil dan seorang Ulama seputar fatwa mati terhadap Ulil. Sayang waktu saya mendapat email berbalas pantung itu, saya baru mengenal teknologi disket. leungit entah dimana. Mungkin perdebatan itu bisa jadi buku yang semenarik buku ini kali yah. :D